Aku Mengaku Mengandung Anak Panglima yang Tewas—Tapi Lima Bayi yang Kulahirkan Ternyata Anak Serigala dan Ibunya Mengetahui Rahasianya

“Karena aku tahu persis seperti apa keturunan keluarga Adiprana saat pertama kali dilahirkan.”

Aku menatap Ratih tanpa berkedip.

Udara pagi di halaman kediaman Adiprana tiba-tiba terasa dingin.

“Apa maksud Ibu?”

Ratih tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang perutku yang tampak membesar di balik kain, lalu mengalihkan pandangan kepada para penjaga.

“Bawa perempuan itu keluar. Jangan sakiti bayinya.”

Setelah Sinta diseret meninggalkan halaman, Ratih berjalan melewatiku.

Sebelum masuk ke dalam rumah, ia berhenti.

“Laras, malam ini datanglah ke kamarku.”

Jantungku berdegup keras.

“Sendirian.”

Sepanjang hari aku tidak bisa tenang.

Lebih buruk lagi, lima anakku mulai semakin aktif.

Aku menamai mereka secara diam-diam.

Bara adalah yang paling besar. Lintang memiliki bercak putih kecil di dahinya. Awan paling suka tidur. Embun selalu mencari tanganku. Sedangkan Rimba adalah yang paling kecil, tetapi suaranya paling keras.

Menjelang sore, aku sedang menyuapi mereka susu kambing ketika terdengar ketukan pintu.

Aku buru-buru memasukkan mereka ke ruang rahasia.

“Siapa?”

“Pelayan dapur, Nona.”

Aku membuka pintu sedikit.

Seorang pelayan menyerahkan enam kendi susu.

Namun sebelum pergi, ia mengernyit.

“Nona Laras.”

“Ya?”

“Kenapa ada suara seperti anak anjing?”

Tubuhku langsung menegang.

“Itu aku.”

Pelayan itu menatapku aneh.

“Aku sedang berlatih menirukan suara binatang.”

Aku mengeluarkan suara pelan.

“Auu.”

Wajah pelayan semakin bingung.

Aku langsung menutup pintu.

Malamnya, aku datang ke kamar Ratih.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada penjaga.

Hanya sebuah lampu minyak menyala di atas meja.

Ratih duduk dengan sebuah peti kayu tua di depannya.

“Duduk.”

Aku menurut.

Ia membuka peti itu.

Di dalamnya terdapat beberapa helai kain bayi, sebuah gelang perak kecil, dan lukisan seorang perempuan cantik bersama seorang anak laki-laki.

Aku mengenali anak itu.

Raka.

“Ini Raka ketika berumur lima tahun,” kata Ratih.

Aku menatap lukisan tersebut.

“Lalu perempuan itu Ibu?”

Ratih tersenyum tipis.

“Bukan.”

Aku terdiam.

“Itu ibu kandung Raka.”

Dadaku seperti dipukul.

Ratih kemudian mengeluarkan sesuatu dari dasar peti.

Segumpal bulu berwarna hitam keperakan.

“Raka tidak lahir sebagai manusia.”

Napas tercekat di tenggorokanku.

Ratih menatapku lurus.

“Ia lahir sebagai anak serigala.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku hampir terbalik.

“Apa?”

“Duduk.”

“Tidak mungkin.”

“Kalau tidak mungkin, mengapa kau meminta enam kendi susu kambing setiap hari?”

Darahku seketika membeku.

Ratih tahu.

Tanganku spontan melindungi perut palsuku.

Ratih tidak marah.

Justru matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berapa?”

Aku tidak menjawab.

“Empat?”

Aku menggigit bibir.

“Lima?”

Air mataku jatuh.

Ratih menutup mata.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, perempuan yang selalu tampak keras itu tersenyum.

“Lima.”

Suaranya bergetar.

“Anak bodoh itu benar-benar tidak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

“Apa mereka akan tetap menjadi serigala?”

“Tidak.”

Ratih menjelaskan bahwa keluarga Adiprana menyimpan rahasia selama ratusan tahun.

Leluhur mereka berasal dari kelompok penjaga pegunungan yang memiliki darah manusia dan serigala. Anak-anak dari garis keturunan utama selalu dilahirkan dalam bentuk serigala.

Setelah beberapa bulan, mereka akan berubah menjadi manusia.

“Berapa bulan?”

“Biasanya tiga.”

Aku hampir menangis lega.

Namun Ratih melanjutkan.

“Tapi ada masalah.”

Senyumku hilang.

“Raka seharusnya tidak bisa mempunyai anak.”

“Apa?”

“Setidaknya belum.”

Menurut Ratih, laki-laki dari garis utama Adiprana baru dapat memiliki keturunan setelah melewati sebuah ritual pada usia tiga puluh tahun.

Raka baru berusia dua puluh delapan.

“Jadi mereka bukan anak Raka?”

Ratih menatapku lama.

“Itulah yang harus kita cari tahu.”

Aku merasa dunia kembali berputar.

“Tapi aku melihatnya. Malam itu Raka datang ke rumahku.”

“Ceritakan semuanya.”

Aku mengingat malam lima bulan lalu.

Hujan turun deras.

Raka datang setelah tengah malam dalam keadaan terluka.

Ada darah di bahunya.

Aku membersihkan lukanya.

Ia tidak banyak bicara.

Namun sebelum pergi keesokan paginya, ia memberiku surat.

Surat yang sekarang dimiliki Ratih.

Ratih mengambil surat itu kembali.

Ia mendekatkannya ke api.

Tiba-tiba sesuatu muncul di bagian belakang kertas.

Tulisan lain.

Tinta yang sebelumnya tidak terlihat berubah menjadi warna merah kecokelatan.

Aku membacanya dengan napas tertahan.

Jika aku tidak kembali dari Arjuno, lindungi Laras. Jangan percaya kepada siapa pun yang membawa wajahku.

Tanganku gemetar.

“Jangan percaya kepada siapa pun yang membawa wajahku?”

Ratih langsung berdiri.

“Raka sudah tahu.”

“Tahu apa?”

Bahunya menegang.

“Bahwa seseorang sedang memburunya.”

Malam itu kami memindahkan kelima anak serigala ke ruang bawah tanah kediaman.

Anehnya, begitu Ratih melihat mereka, kelima-limanya langsung diam.

Ratih berlutut.

Bara mengendus tangannya.

Kemudian ia menjilat jari Ratih.

Perempuan itu menangis.

“Persis seperti ayah kalian.”

Aku menatapnya.

“Ibu yakin?”

Ratih mengangguk.

“Bau mereka adalah darah Adiprana.”

Harapan kembali muncul dalam dadaku.

Namun sebelum kami sempat berbicara lebih jauh, terdengar suara lonceng dari gerbang.

Seorang penjaga berlari turun.

“Nyonya Besar!”

“Ada pasukan kerajaan datang!”

Ratih langsung berdiri.

“Untuk apa?”

“Mereka membawa surat perintah penggeledahan.”

Wajah Ratih berubah.

Seseorang telah melaporkan bahwa keluarga Adiprana menyembunyikan makhluk terlarang.

Aku memeluk kelima anakku.

“Bagaimana mereka tahu?”

Ratih tidak menjawab.

Tetapi aku melihat sesuatu dalam matanya.

Pengkhianatan.

Pasukan memasuki kediaman dipimpin seorang lelaki bernama Mahesa.

Ia adalah sepupu Raka.

Aku pernah melihatnya beberapa kali.

Mahesa tersenyum ketika melihatku.

“Jadi ini perempuan yang mengaku mengandung anak Raka?”

Ratih berdiri di depanku.

“Jaga ucapanmu.”

Mahesa tertawa.

“Bibi masih percaya Raka hidup?”

Ruangan mendadak sunyi.

Ratih menyipitkan mata.

“Aku tidak pernah mengatakan Raka masih hidup.”

Wajah Mahesa berubah sepersekian detik.

Cukup untuk membuatku menyadarinya.

Dia tahu sesuatu.

Penggeledahan berlangsung hampir satu jam.

Mereka tidak menemukan anak-anakku karena Ratih telah membawa mereka melalui lorong rahasia.

Sebelum pergi, Mahesa mendekatiku.

“Kalau kau pintar, tinggalkan tempat ini.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena beberapa rahasia seharusnya ikut mati bersama pemiliknya.”

Malam itu aku menceritakan ancaman tersebut kepada Ratih.

Ia tidak terkejut.

“Mahesa ikut dalam pasukan Raka di Arjuno.”

Aku membeku.

“Bukankah katanya seluruh pasukan Raka tewas?”

“Mahesa satu-satunya yang kembali.”

Semua mulai masuk akal.

Tiga hari kemudian, sesuatu terjadi pada anak-anak.

Bara berubah lebih dahulu.

Tubuh kecilnya diselimuti cahaya pucat.

Bulu hitamnya perlahan menghilang.

Kaki-kaki kecil berubah menjadi tangan dan kaki manusia.

Beberapa saat kemudian, seorang bayi laki-laki telanjang terbaring di atas kain.

Aku menangis histeris.

“Bara!”

Ratih menutup mulut menahan tangis.

Satu demi satu, empat lainnya berubah.

Tiga laki-laki.

Dua perempuan.

Semuanya manusia.

Semuanya sehat.

Namun ketika Ratih memeriksa tubuh mereka, ekspresinya berubah.

Di belakang telinga kiri setiap bayi terdapat tanda kecil menyerupai bulan sabit.

Tanda yang sama dengan Raka.

Aku teringat sesuatu.

Bekas luka di bawah telinga lelaki yang datang malam itu.

Ternyata itu bukan luka.

Itu tanda lahir.

“Mereka anak Raka,” bisikku.

Ratih menggeleng pelan.

“Tidak sesederhana itu.”

Ia kemudian menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak pernah kuketahui.

Raka memiliki saudara kembar.

Namanya Raksa.

Ketika masih bayi, Raka dan Raksa sama-sama lahir dalam wujud serigala.

Namun keluarga menganggap Raksa membawa pertanda buruk karena bulunya putih seluruhnya.

Ayah Raka menyerahkannya kepada penjaga hutan di Arjuno.

Sejak saat itu, keberadaannya dirahasiakan.

“Raksa masih hidup?”

“Aku tidak tahu.”

Ratih memandang kelima bayi.

“Tapi dia memiliki wajah yang sama dengan Raka.”

Kakiku lemas.

Lelaki malam itu.

Wajah Raka.

Suara Raka.

Tanda yang sama.

Bagaimana kalau sebenarnya Raksa?

Namun mengapa ia memiliki surat Raka?

Jawabannya datang malam berikutnya.

Api tiba-tiba membakar gudang belakang.

Di tengah kepanikan, seseorang menculik Rimba.

Aku mendengar tangisannya dari halaman.

Aku berlari tanpa alas kaki.

Seorang pria bertopeng membawa bayiku menuju hutan.

Aku mengejarnya.

“Berhenti!”

Pria itu berbalik.

Aku menerjangnya.

Topengnya terlepas.

Mahesa.

Aku menjerit.

“Kembalikan anakku!”

Mahesa tertawa.

“Anakmu?”

Ia mengangkat Rimba.

“Ini kunci menuju kekuasaan Adiprana.”

Sebelum aku bisa bergerak, sebuah bayangan besar melompat dari pepohonan.

Seekor serigala putih menerkam Mahesa.

Rimba terlepas.

Aku menangkap bayiku.

Mahesa jatuh.

Serigala putih itu berdiri di depanku.

Matanya menatapku.

Aku mengenali tatapan itu.

Beberapa detik kemudian tubuhnya berubah.

Seorang laki-laki berdiri di hadapanku.

Wajah Raka.

Aku mundur ketakutan.

“Kau siapa?”

Lelaki itu menatap bayi dalam pelukanku.

Kemudian tersenyum pahit.

“Namaku Raksa.”

Dunia seakan berhenti.

“Jadi malam itu…”

“Bukan aku.”

Aku terdiam.

Raksa kemudian mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Raka belum mati.

Penyergapan di Arjuno direncanakan Mahesa untuk merebut kepemimpinan keluarga.

Raka terluka parah dan Raksa menyelamatkannya.

Pada malam sebelum penyergapan, Raka mengetahui rencana Mahesa.

Ia pergi menemuiku karena takut tidak pernah kembali.

Lelaki malam itu memang Raka.

“Tapi Ratih mengatakan Raka belum bisa mempunyai anak.”

Raksa tersenyum.

“Ritual itu sudah dilakukan.”

“Kapan?”

“Malam sebelum dia datang kepadamu.”

Tiba-tiba suara terdengar dari belakang pepohonan.

“Seharusnya kau tidak memberitahunya.”

Mahesa bangkit.

Darah mengalir dari dahinya.

Ia mengeluarkan pisau.

Namun sebelum menyerang, beberapa serigala muncul dari kegelapan.

Di antara mereka ada seekor serigala hitam besar.

Mahesa langsung pucat.

Serigala itu berjalan mendekat.

Lalu berubah.

Aku berhenti bernapas.

Raka.

Lebih kurus.

Wajahnya penuh luka.

Tetapi itu benar-benar dia.

Matanya langsung menemukan wajahku.

“Laras.”

Aku tidak bisa bergerak.

Raka berjalan mendekat.

Lalu pandangannya jatuh kepada bayi dalam pelukanku.

Rimba tertawa kecil.

Raka mengangkat tangan gemetar.

“Anakku?”

Air mataku pecah.

“Bukan satu.”

Raka terdiam.

“Apa?”

“Lima.”

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Lima?”

Untuk pertama kalinya setelah semua ketakutan itu, aku tertawa sambil menangis.

Mahesa akhirnya ditangkap setelah para penjaga yang setia kepada Ratih datang menyusul. Dari pengakuannya terungkap bahwa dialah yang menyebarkan kabar kematian Raka dan mengirim perempuan-perempuan palsu untuk mengacaukan garis keturunan Adiprana.

Beberapa bulan kemudian, kediaman Adiprana berubah menjadi tempat paling berisik di Wirasaba.

Lima bayi yang awalnya membuatku ketakutan kini tumbuh sehat.

Kadang-kadang saat bulan purnama, telinga kecil mereka berubah berbulu ketika menangis terlalu keras.

Raka selalu panik.

“Laras!”

“Apa?”

“Bara punya ekor lagi!”

“Itu anakmu.”

“Kenapa selalu salahku?”

Dari beranda, Ratih hanya tertawa.

Suatu malam aku duduk bersama Raka memandangi kelima anak kami tidur.

Aku bertanya sesuatu yang sejak lama menggangguku.

“Kalau waktu itu aku membuang mereka karena takut, apa yang akan terjadi?”

Raka terdiam cukup lama.

Kemudian ia menggenggam tanganku.

“Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

Aku menatap lima wajah kecil di hadapanku.

Dulu aku datang ke kediaman Adiprana karena takut anakku tidak diakui.

Aku mengira nilai terbesar yang kubawa adalah darah seorang panglima.

Ternyata aku salah.

Nilai terbesar bukan terletak pada siapa ayah mereka, bukan pula pada nama keluarga yang mereka warisi.

Pada malam ketika aku melihat lima makhluk kecil yang bahkan tidak tampak seperti manusia, aku sebenarnya sudah membuat keputusan terpenting dalam hidupku.

Aku memilih mereka sebelum tahu siapa mereka.

Aku mencintai mereka sebelum tahu apa yang bisa mereka berikan kepadaku.

Dan mungkin karena itulah, ketika Ratih berdiri di ambang pintu sambil tersenyum, ia mengatakan sesuatu yang akhirnya kupahami.

“Sekarang kau tahu mengapa sejak awal aku membiarkanmu tinggal di rumah ini.”

Aku menoleh.

“Karena surat Raka?”

Ratih menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

Ratih memandang kelima cucunya.

“Karena saat kau datang ke gerbang itu, aku sudah mencium aroma lima keturunan Adiprana dari dalam perutmu.”

Mulutku terbuka.

“Jadi Ibu sudah tahu sejak hari pertama?”

Ratih tersenyum.

“Sudah.”

Aku langsung berdiri.

“Lalu kenapa Ibu membiarkanku menyembunyikan lima anak serigala selama berhari-hari?”

Ratih tertawa sambil berjalan pergi.

“Karena aku ingin tahu berapa lama kau bisa bertahan sebelum mengaku.”

Aku menatap Raka.

Raka menundukkan kepala, berusaha menahan tawa.

“Jangan tertawa.”

“Aku tidak tertawa.”

“Kau jelas tertawa.”

Saat itulah Bara terbangun dan menangis.

Dalam sekejap, empat bayi lainnya ikut menangis.

Lima suara memenuhi ruangan.

Kemudian terdengar lima suara kecil hampir bersamaan.

“Auu…”

Raka menatapku.

Aku menatap Raka.

Dari lorong, suara Ratih terdengar santai.

“Enam kendi susu kambing sudah kusiapkan.”

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari satu hal.

Mungkin rahasia terbesar keluarga Adiprana bukan bahwa mereka memiliki darah serigala.

Melainkan bahwa sejak awal, seorang ibu selalu mengenali anak-anaknya, apa pun wujud mereka ketika datang ke dunia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang