AKU PULANG DIAM-DIAM SETELAH ENAM TAHUN MERANTAU, TAPI IBU DITEMUKAN KELAPARAN DI GUDANG TUA—SEMENTARA RUMAH BARUNYA DITEMPATI ORANG LAIN.

Nama Rani tercetak jelas di bawah kalimat yang menyatakan bahwa perempuan dalam foto itu benar-benar Lastri Wulandari, ibuku.

Ruangan notaris terasa mendadak sempit.

Dimas mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jarinya memutih.

“Rani tahu?”

Notaris itu melepas kacamatanya.

“Saya tidak bisa menyimpulkan siapa yang mengetahui apa. Tapi berdasarkan dokumen ini, Mbak Rani hadir sebagai saksi.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Wajahnya kosong.

“Bu, Ibu ingat pernah datang ke sini?”

Ibu menggeleng perlahan.

“Tidak, Naya. Ibu bahkan tidak tahu kantor ini.”

Aku memejamkan mata.

Selama enam tahun, aku dan Dimas mengira sedang membangun kehidupan yang layak untuk Ibu.

Ternyata seseorang membangun kemewahan untuk dirinya sendiri di atas kepercayaan kami.

Kami tidak langsung menemui Tante Siska.

Aku meminta Dimas menahan diri.

Kalau kami datang sambil marah tanpa bukti lengkap, Tante Siska bisa menghilangkan dokumen, memindahkan uang, atau membuat cerita baru.

Selama tiga hari berikutnya, kami mengumpulkan semuanya.

Bukti transfer enam tahun.

Rekam medis Ibu.

Kwitansi sewa gudang.

Salinan dokumen penjualan tanah.

Percakapan WhatsApp dengan Tante Siska.

Foto-foto pembangunan rumah yang selama ini dikirim kepada kami.

Semakin diperiksa, semakin jelas kebohongannya.

Ada foto yang dikirim Tante Siska pada 2023 dengan pesan bahwa kamar baru Ibu hampir selesai.

Padahal menurut Pak Wahyu, pada tahun yang sama Ibu sudah tinggal di gudang belakang bengkel.

Ada kuitansi pembelian pendingin ruangan yang katanya untuk kamar Ibu.

Di gudang itu bahkan tidak ada kipas angin.

Yang paling menyakitkan adalah pesan Tante Siska ketika aku pernah ingin pulang dua tahun lalu.

“Jangan pulang dulu. Ibumu bilang sayang uang tiket. Dia sehat kok.”

Ternyata saat itu Ibu sempat dirawat karena tekanan darahnya melonjak.

Aku membaca pesan itu berulang kali sampai tanganku gemetar.

Dimas berdiri di balkon penginapan.

“Kalau waktu itu kita pulang…”

“Jangan.”

Dia menatapku.

“Jangan menyiksa diri dengan sesuatu yang kita tidak tahu, Mas.”

“Tapi kita seharusnya tahu.”

Kalimat itu menusuk karena aku merasakan hal yang sama.

Kami terlalu percaya.

Setiap video call dengan Ibu selalu diatur Tante Siska. Kadang hanya lima menit. Kadang kamera diarahkan dekat wajah Ibu sehingga kami tidak pernah melihat tempat tinggalnya.

Kalau Ibu tampak kurus, Tante bilang karena usia.

Kalau kami bertanya soal uang, Ibu selalu menjawab cukup.

Belakangan kami baru tahu Tante Siska berkali-kali mengatakan kepada Ibu bahwa pekerjaan kami sedang sulit.

“Jangan minta macam-macam,” katanya kepada Ibu. “Anakmu juga hidup susah di negeri orang.”

Ibu percaya.

Kami juga percaya.

Hanya kepada orang yang berbeda.

Malam ketiga, seseorang mengetuk pintu penginapan.

Aku membuka pintu.

Rani berdiri di sana.

Matanya bengkak.

“Aku mau bicara.”

Dimas langsung bangkit.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Ada.”

Rani menatap Ibu yang duduk di tempat tidur.

Begitu melihatnya, bibirnya bergetar.

“Budhe…”

Ibu justru berkata lembut, “Masuklah.”

Aku hampir protes, tetapi Ibu menggenggam tanganku.

Rani masuk lalu meletakkan sebuah tas ransel di meja.

“Aku tahu kalian menemukan dokumen itu.”

“Bagus,” kataku. “Berarti lebih mudah.”

Rani menangis.

“Aku memang tanda tangan.”

Dimas maju.

“Kamu tahu perempuan itu bukan Ibu kami?”

“Tahu.”

Aku menahan napas.

Jadi selesai sudah.

Tidak ada lagi alasan.

Namun kalimat Rani berikutnya membuatku terdiam.

“Aku tujuh belas tahun waktu itu.”

Rani membuka ranselnya.

Dia mengeluarkan sebuah ponsel lama dan beberapa lembar kertas.

“Ibu bilang Budhe sedang sakit dan tidak bisa datang. Katanya perempuan itu hanya membantu proses administrasi. Aku bodoh. Aku percaya.”

“Kamu melihat orang lain memakai identitas Ibu kami dan kamu tetap tanda tangan?”

“Aku tahu aku salah!”

Suara Rani pecah.

“Tapi aku baru tahu soal uang kalian dua tahun kemudian.”

Dia membuka ponsel lama itu.

Ada tangkapan layar percakapan dengan ibunya.

Rani rupanya pernah menemukan mutasi rekening Tante Siska.

Transfer dari aku.

Transfer dari Dimas.

Jumlahnya ratusan juta.

Rani bertanya uang siapa itu.

Jawaban Tante Siska singkat.

“Uang usaha keluarga. Jangan ikut campur.”

“Tapi kamu tetap diam,” kataku.

Rani menunduk.

“Iya.”

“Dan selama kamu diam, Ibu kami kelaparan.”

Air mata Rani jatuh.

“Aku pantas kalian benci.”

Dia tidak mencoba membela diri lagi.

Justru itu yang membuat kemarahanku terasa berbeda.

“Kenapa kamu kasih uang diam-diam?”

Rani mengusap wajah.

“Karena tiga tahun lalu aku menemukan Budhe di gudang.”

Ternyata suatu sore Rani melihat Ibu berjalan keluar dari gang belakang bengkel.

Awalnya ia mengira Ibu hanya mengunjungi seseorang.

Ia mengikuti.

Dan menemukan kenyataan.

Rani pulang lalu bertengkar besar dengan Tante Siska.

Tante Siska mengancamnya.

Kalau Rani bicara kepada kami, namanya sebagai saksi pemalsuan dokumen akan ikut terseret.

Lebih buruk lagi, Tante Siska menunjukkan dokumen yang sudah ditandatangani Rani.

“Kamu juga masuk penjara kalau ini terbongkar.”

Sejak itu Rani diam-diam membantu Ibu.

Tidak banyak.

Kadang lima ratus ribu.

Kadang satu juta.

Ia membelikan obat dan makanan.

“Tapi kenapa tidak menghubungi kami?” tanyaku.

“Aku pengecut.”

Jawabannya sederhana.

Tidak ada alasan mulia.

Tidak ada usaha membenarkan diri.

“Aku takut.”

Ibu tiba-tiba bertanya, “Rumah itu sebenarnya rumah siapa?”

Rani menutup mata.

“Atas nama Ibu.”

Aku menatapnya.

“Tante Siska?”

Rani mengangguk.

Uang pembangunan rumah berasal dari kiriman kami dan hasil penjualan tanah Ibu.

Tetapi tanah tempat rumah itu berdiri dibeli atas nama Tante Siska.

Mobil SUV yang dipakai Tante Siska juga dibeli tunai dua tahun lalu.

Usaha katering yang selalu ia banggakan ternyata berkali-kali merugi.

Kemewahan itu bukan hasil usahanya.

Itu kehidupan yang dibayar oleh kami.

Keesokan harinya, kami membuat laporan resmi.

Tante Siska mengetahui hal itu lebih cepat daripada perkiraanku.

Sore hari dia datang ke penginapan bersama suaminya.

Dia langsung berteriak dari lorong.

“Naya! Keluar!”

Aku keluar bersama Dimas.

Tante Siska menunjuk wajahku.

“Kamu tega melaporkan tante sendiri?”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

“Aku membesarkan kalian setelah bapak kalian meninggal!”

Dimas tertawa hambar.

“Berapa harganya, Tante?”

“Apa?”

“Kasih tahu. Berapa harga kebaikan Tante dulu? Biar saya bayar sekarang. Jangan ambil dari uang makan Ibu.”

Wajah Tante Siska memerah.

“Kalian tidak tahu apa-apa! Ibumu sendiri yang menyerahkan tanah itu!”

Ibu keluar dari kamar.

Tubuhnya masih kurus, tetapi suaranya terdengar jelas.

“Kapan aku menyerahkannya, Siska?”

Tante Siska membeku.

Ibu berjalan mendekat.

“Kamu bilang anak-anakku kesusahan. Kamu bilang rumah yang mereka bangun belum selesai karena uangnya kurang. Kamu bilang mereka jarang mengirim.”

Tante Siska membuka mulut, tetapi Ibu melanjutkan.

“Aku tidak marah karena tinggal di gudang.”

Air mata mulai memenuhi mata Ibu.

“Aku marah karena selama tiga tahun aku mengira anak-anakku melupakanku.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Aku memalingkan wajah dan menangis.

Selama ini kupikir hal terburuk yang dilakukan Tante Siska adalah mengambil uang.

Ternyata bukan.

Dia mengambil kepercayaan seorang ibu kepada anak-anaknya.

Tante Siska akhirnya pergi setelah Dimas mengatakan semua pembicaraan kami direkam.

Proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Pemeriksaan dokumen menemukan bahwa tanda tangan dan sidik jari dalam beberapa berkas tidak cocok dengan milik Ibu.

Perempuan dalam foto verifikasi kemudian teridentifikasi sebagai seseorang yang pernah bekerja membantu usaha Tante Siska.

Rani memberikan kesaksian dan menyerahkan ponsel lamanya.

Dari situlah terbuka transaksi-transaksi lain.

Sebagian uang telah digunakan untuk membeli tanah, kendaraan, dan membayar cicilan.

Rumah dua lantai itu akhirnya ikut menjadi objek sengketa.

Aku sempat berpikir Ibu akan meminta rumah tersebut.

Ternyata tidak.

“Jual saja kalau nanti secara hukum bisa,” katanya.

Aku terkejut.

“Itu rumah yang dibangun dari uang Ibu.”

Ibu menggeleng.

“Ibu tidak mau tinggal di rumah yang setiap temboknya mengingatkan Ibu pada kebohongan.”

Setahun kemudian, setelah sebagian aset berhasil dipulihkan melalui proses hukum dan penyelesaian perdata, kami membeli rumah sederhana di pinggir Yogyakarta.

Hanya satu lantai.

Ada tiga kamar.

Halaman kecil.

Dan jendela besar di kamar Ibu supaya cahaya pagi masuk.

Dimas memilih menetap di Indonesia dan membuka usaha makanan bersama seorang teman.

Aku masih menyelesaikan kontrak terakhirku di kapal pesiar, tetapi kali ini aku pulang setiap beberapa bulan.

Tidak ada lagi uang yang dititipkan kepada orang lain.

Suatu pagi aku melihat Ibu duduk di teras sambil menjahit.

Mesin jahit tua yang kukira hilang ternyata ditemukan di rumah seorang tetangga lama. Ibu menitipkannya sebelum dipindahkan Tante Siska.

Aku duduk di sebelahnya.

“Ibu masih kepikiran Tante Siska?”

Tangan Ibu berhenti menggerakkan kain.

“Kadang.”

“Ibu benci?”

Ibu tersenyum tipis.

“Kalau Ibu menghabiskan sisa umur untuk membenci dia, berarti dia masih mengambil sesuatu dari Ibu.”

Aku terdiam.

Beberapa bulan kemudian, sebuah amplop datang.

Pengirimnya Rani.

Di dalamnya ada bukti transfer dan sepucuk surat.

Rani menjual gelang emas dan mobil yang pernah dibelikan ibunya.

Uangnya tidak besar dibandingkan jumlah yang hilang, tetapi ia mengembalikan semuanya kepada Ibu.

Di bagian akhir surat dia menulis bahwa ia tidak meminta dimaafkan.

Ia hanya ingin mulai membayar bagian dari kesalahan yang selama bertahun-tahun terlalu takut ia akui.

Ibu membaca surat itu lama.

Lalu menyimpannya di laci.

“Tidak dibalas, Bu?”

“Nanti.”

Dua minggu kemudian Rani datang.

Tidak membawa tas mahal.

Tidak memakai gelang emas.

Dia berdiri di depan pagar dengan wajah tegang.

Ibu yang membukakan pintu.

Aku melihat dari dalam rumah.

Rani menangis bahkan sebelum sempat bicara.

“Budhe, maaf.”

Ibu tidak langsung memeluknya.

Tidak juga mengusirnya.

Ibu hanya membuka pagar lebih lebar.

“Masuk. Makan dulu.”

Begitulah Ibu.

Namun kejutan terakhir datang beberapa hari setelah itu.

Dimas menerima telepon dari penyidik yang menangani perkara.

Mereka menemukan satu rekening lama atas nama Ibu yang tidak pernah kami ketahui.

Rekening itu dibuka bertahun-tahun sebelumnya.

Saldo terakhirnya membuatku terpaku.

Lebih dari tiga ratus juta rupiah.

Yang aneh, uang tersebut tidak pernah disentuh Tante Siska.

Setelah ditelusuri, ternyata Bapak membukanya diam-diam sebelum meninggal.

Ibu menangis ketika mendengar penjelasannya.

“Ayahmu dulu pernah bilang dia takut meninggalkan Ibu sendirian.”

Aku menggenggam tangannya.

Selama bertahun-tahun, kami sibuk menghitung berapa banyak yang dicuri dari keluarga kami.

Rp1,37 miliar kiriman.

Rp640 juta tanah.

Rumah.

Mobil.

Waktu.

Kepercayaan.

Namun pagi itu aku menyadari sesuatu.

Tidak semua yang hilang harus kembali dalam bentuk uang.

Rumah bisa dibeli lagi.

Tabungan bisa dikumpulkan lagi.

Bahkan hubungan yang rusak mungkin perlahan diperbaiki.

Tetapi enam tahun ketika aku hanya mengenal keadaan Ibu melalui foto dan pesan orang lain tidak akan pernah kembali.

Sejak saat itu aku berhenti menganggap transfer uang sebagai satu-satunya bentuk bakti.

Setiap malam aku menelepon Ibu.

Kadang kami tidak membicarakan hal penting.

Ibu hanya menunjukkan bunga yang baru mekar.

Mengeluh harga cabai naik.

Atau bertanya apakah aku sudah makan.

Hal-hal kecil yang dulu terasa tidak penting justru menjadi sesuatu yang paling kujaga.

Karena akhirnya aku mengerti, orang tua tidak selalu membutuhkan rumah besar untuk merasa dicintai.

Kadang mereka hanya membutuhkan kepastian bahwa ketika mereka memanggil nama anaknya, ada seseorang di ujung sana yang benar-benar mendengar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang