AYAH KANDUNGNYA SENDIRI MENJUALNYA KEPADA LANDLORD PALING KEJAM DI KOTA DEMI MELUNASI UTANG RP100 MILIAR! NAMUN TAKDIR TERNYATA MENYIAPKAN RENCANA YANG SAMA SEKALI TAK TERDUGA!

Hujan masih menghantam jendela-jendela tinggi mansion ketika Alya menatap kontrak di hadapannya.

Tangannya belum berhenti gemetar.

Kurang dari satu jam lalu, ayah kandungnya sendiri menyerahkannya kepada seorang pria asing demi melunasi utang Rp100 miliar. Kini pria yang selama ini dijuluki monster oleh dunia bisnis justru menawarkan sesuatu yang bahkan ayahnya sendiri gagal berikan kepadanya.

Masa depan.

“Aku mau membaca semuanya dulu,” kata Alya.

Arka mengangguk. “Silakan. Kalau ada satu klausul yang menurutmu merampas kebebasanmu, jangan tanda tangan.”

Alya menatapnya curiga.

“Kau benar-benar tidak menginginkan apa pun selain aku bekerja di perusahaanmu?”

“Kalau yang kau takutkan adalah aku akan menyentuhmu karena ayahmu menyerahkanmu kepadaku, buang pikiran itu.”

Nada Arka tetap dingin, tetapi kata-katanya tegas.

“Manusia bukan jaminan utang.”

Kalimat itu menghantam Alya lebih keras daripada yang ia duga.

Karena malam ini, seorang asing memperlakukannya lebih manusiawi daripada ayah kandungnya sendiri.

Alya akhirnya menandatangani kontrak tersebut.

Sejak malam itu, hidupnya berubah.

Arka memberikan sebuah kamar di lantai dua mansion kepadanya. Bukan kamar pelayan, melainkan kamar luas dengan meja belajar, rak buku, dan jendela yang menghadap taman.

Namun hubungan mereka tetap berjarak.

Arka hampir selalu meninggalkan rumah sebelum pukul tujuh pagi dan baru pulang larut malam. Mereka jarang berbicara kecuali saat sarapan atau ketika Alya membutuhkan sesuatu berkaitan dengan kuliahnya.

Sebaliknya, Alya memusatkan seluruh energinya pada pendidikan.

Ia diterima di salah satu universitas swasta terbaik di Jakarta dan segera dikenal sebagai mahasiswa berbakat.

Dua tahun berlalu.

Alya mulai memenangkan berbagai kompetisi desain.

Pada tahun ketiganya, rancangan hunian vertikal ramah lingkungan miliknya memenangkan kompetisi nasional mahasiswa arsitektur.

Ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama, seluruh auditorium bertepuk tangan.

Alya berdiri di atas panggung sambil memegang penghargaan.

Matanya mencari seseorang di antara ratusan orang yang hadir.

Arka.

Namun kursi yang ia sisakan kosong.

Alya mencoba tersenyum.

Entah sejak kapan, ketidakhadiran pria itu mulai mengecewakannya.

Malamnya, Alya pulang ke mansion hampir pukul sebelas.

Lampu ruang makan masih menyala.

Di atas meja terdapat sebuah kotak kecil.

Alya membukanya.

Di dalamnya terdapat pena arsitek edisi terbatas dan secarik kertas.

Desain yang bagus tidak hanya membuat orang kagum. Desain yang hebat membuat hidup manusia lebih baik. Jangan berhenti di penghargaan pertama.

Alya mengenali tulisan tangan itu.

Arka.

Tanpa sadar, ia tersenyum.

“Kau tersenyum sendiri sekarang?”

Suara Arka terdengar dari belakang.

Alya segera berbalik.

“Kau tahu aku menang?”

“Aku tahu.”

“Kenapa tidak datang?”

“Ada rapat.”

“Rapat lebih penting?”

Arka terdiam.

Alya sendiri terkejut dengan pertanyaannya.

“Aku cuma…”

“Maaf.”

Alya membeku.

Itulah pertama kalinya ia mendengar Arka meminta maaf.

“Aku seharusnya datang,” lanjutnya.

Sejak malam itu, jarak di antara mereka perlahan berubah.

Mereka mulai berbicara lebih banyak.

Alya mengetahui bahwa Arka tidak sedingin yang dikatakan orang-orang. Ia hanya sangat sulit mempercayai manusia.

Arka juga mulai memperlihatkan sisi yang hampir tidak pernah dilihat siapa pun.

Ia hafal kopi kesukaan Alya.

Ia tahu Alya tidak suka petir.

Ia bahkan diam-diam meminta staf mansion mengganti lampu ruang belajar ketika mengetahui Alya sering mengerjakan desain sampai dini hari.

Namun ada satu hal yang selalu mengganggu Alya.

Sebuah ruangan kecil di belakang ruang kerja Arka.

Pintunya selalu terkunci.

Suatu malam, ketika Arka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya, Alya masuk ke ruang kerjanya untuk mengambil dokumen perusahaan yang sudah mendapat izin.

Saat mencari dokumen itu, ia melihat pintu kecil tersebut terbuka sedikit.

Alya ragu.

Namun rasa penasaran mengalahkannya.

Ia mendorong pintu.

Ruangan itu gelap.

Di dalamnya hanya ada sebuah lemari arsip dan brankas.

Di atas meja kecil terdapat sebuah foto lama.

Alya mengambilnya.

Napasnya seketika berhenti.

Seorang perempuan muda tersenyum di dalam foto.

Wajah perempuan itu sangat mirip dengannya.

Alya mengenal wajah tersebut.

“Ibu…”

Itu adalah Laras, ibunya yang meninggal ketika Alya masih kecil.

Tangannya gemetar ketika membalik foto tersebut.

Di belakangnya tertulis sebuah kalimat.

Aku akan menjaga putrimu jika suatu hari kau tidak bisa melakukannya sendiri.

Arka.

Alya merasa seluruh tubuhnya dingin.

Terdengar suara dari belakang.

“Kau tidak seharusnya masuk ke sini.”

Alya berbalik cepat.

Arka berdiri di ambang pintu.

Wajahnya pucat.

“Kau kenal ibuku?”

Arka tidak menjawab.

“Jawab aku!”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak aku masih remaja.”

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

“Jadi semua ini sudah kau rencanakan?”

“Tidak.”

“Jangan bohong!”

Alya melempar foto itu ke meja.

“Kau memberikan pinjaman Rp100 miliar kepada perusahaan Ayah. Lalu ketika dia gagal membayar, aku dibawa ke sini. Setelah itu kau membiayai kuliahku. Semuanya terlalu sempurna untuk disebut kebetulan!”

Arka menutup mata sesaat.

“Ibumu menyelamatkan hidupku.”

Alya terdiam.

Arka kemudian menceritakan sesuatu yang selama bertahun-tahun disimpannya sendirian.

Enam belas tahun sebelumnya, ketika Arka berusia dua belas tahun, ayahnya meninggal dan keluarga besarnya berebut aset perusahaan. Arka yang masih anak-anak hampir kehilangan seluruh hak waris karena manipulasi beberapa kerabat.

Laras saat itu bekerja sebagai staf hukum di perusahaan keluarga Arka.

Dialah yang menemukan dokumen pemalsuan tersebut.

Laras menyerahkan bukti kepada pengacara keluarga dan memastikan hak Arka terlindungi.

Namun tindakannya membuat Laras kehilangan pekerjaan.

Sebelum pergi, Laras hanya meminta satu hal kepada Arka yang masih remaja.

“Kalau suatu hari kau menjadi orang besar, jangan pernah menggunakan kekuasaanmu untuk menghancurkan orang yang tidak bersalah.”

Bertahun-tahun kemudian, Arka menjadi miliarder.

Ketika mengetahui Laras telah meninggal dan putrinya hidup bersama Baskoro, ia diam-diam mengikuti perkembangan Alya.

“Aku tidak pernah berniat mengambilmu dari ayahmu,” kata Arka.

“Lalu kenapa kau memberikan pinjaman sebesar itu?”

“Karena perusahaan Baskoro sebenarnya memiliki proyek yang layak.”

“Bohong.”

“Awalnya memang layak.”

Arka menatapnya.

“Tapi ayahmu mengalihkan sebagian besar dana proyek ke rekening lain.”

Alya membeku.

“Apa?”

“Utang itu tidak menghancurkan perusahaan ayahmu. Ayahmu sendiri yang menghancurkannya.”

Arka membuka brankas.

Ia mengeluarkan sebuah map tebal.

Di dalamnya terdapat laporan transaksi, bukti transfer, dan dokumen perusahaan.

Baskoro ternyata telah memindahkan puluhan miliar rupiah ke sejumlah rekening pribadi.

Bahkan sebelum membawa Alya ke mansion malam itu, ia telah menyiapkan tiket penerbangan untuk melarikan diri ke luar negeri.

“Dia tidak bangkrut total?” suara Alya nyaris tak terdengar.

“Tidak.”

“Jadi dia menjualku padamu padahal dia masih menyimpan uang?”

Arka mengangguk perlahan.

Alya terduduk.

Selama bertahun-tahun, ia mengira ayahnya mengorbankannya karena putus asa.

Kenyataannya jauh lebih menyakitkan.

Baskoro mengorbankannya karena serakah.

Beberapa bulan kemudian, kasus itu memasuki penyelidikan resmi.

Baskoro akhirnya ditangkap ketika mencoba kembali ke Indonesia menggunakan identitas berbeda.

Namun kejutan terbesar datang ketika pengacara Arka menyerahkan dokumen kepemilikan perusahaan lama Baskoro kepada Alya.

“Apa ini?”

“Baca.”

Alya membukanya.

Ternyata sebagian saham perusahaan konstruksi tersebut bukan milik Baskoro.

Saham itu adalah warisan dari Laras.

Dan secara hukum, ahli warisnya adalah Alya.

Nilainya memang tidak lagi mencapai puluhan miliar setelah perusahaan runtuh, tetapi kepemilikan itu memberikan Alya hak atas beberapa aset dan proyek yang belum diselesaikan.

“Aku tidak mau perusahaan itu,” kata Alya.

Arka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin membangun sesuatu dengan namaku sendiri.”

Untuk pertama kalinya, Arka tersenyum.

“Jawaban yang bagus.”

Empat tahun kemudian, Alya lulus dengan predikat terbaik.

Ia menepati kontraknya dan mulai bekerja di perusahaan Arka.

Namun bukannya langsung menjadikannya arsitek utama, Arka menempatkannya sebagai arsitek junior.

Alya marah besar.

“Kau bilang aku akan menjadi arsitek utama!”

“Setelah kau layak.”

“Aku lulusan terbaik!”

“Nilai akademis tidak membuatmu otomatis mampu memimpin proyek bernilai triliunan.”

Alya membanting map di mejanya.

“Aku benci kau.”

Arka tetap membaca dokumen.

“Antre. Banyak orang juga begitu.”

Namun dua tahun kemudian, Alya akhirnya memimpin proyek pertamanya.

Ia merancang kompleks hunian terjangkau untuk keluarga berpenghasilan rendah di pinggiran Jakarta.

Proyek itu sukses besar.

Bukan karena bangunannya paling mewah, tetapi karena Alya berhasil membuat hunian yang nyaman, hemat energi, memiliki ruang hijau, dan tetap terjangkau.

Pada hari peresmian, Arka berdiri di sampingnya.

“Kau ingat hadiah setelah kompetisi pertamamu?”

Alya tersenyum.

“Desain hebat membuat hidup manusia lebih baik.”

“Sekarang kau akhirnya melakukannya.”

Alya menoleh.

“Berapa utangku sekarang?”

Arka mengerutkan kening.

“Utang?”

“Rp100 miliar itu.”

Arka terdiam.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Alya, utang itu tidak pernah menjadi utangmu.”

Senyum Alya menghilang.

“Apa maksudmu?”

“Kontrak yang kau tanda tangani malam itu tidak pernah menyebutkan bahwa kau bertanggung jawab atas utang ayahmu.”

Alya mengingat kembali dokumen tersebut.

Saat itu ia terlalu syok untuk memahami semua detailnya.

“Pemotongan penghasilanku?”

“Program investasi karyawan.”

“Apa?”

“Semua uang yang dipotong dari gajimu masuk ke rekening investasi atas namamu sendiri.”

Alya menatap Arka seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang gila.

“Kau menipuku?”

“Secara teknis, kau yang tidak membaca kontraknya dengan teliti.”

Alya memukul lengannya.

Arka tertawa.

Namun kemudian wajahnya berubah serius.

“Aku tidak pernah menerima tawaran ayahmu malam itu.”

“Tapi kau bilang menerima pembayaran.”

“Aku berbohong agar dia meninggalkanmu.”

Alya terdiam.

“Kenapa?”

Arka memandang gedung-gedung yang berdiri di hadapan mereka.

“Karena aku ingin tahu apakah dia benar-benar sanggup meninggalkan anaknya demi menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Dan ternyata dia sanggup.”

“Ya.”

Arka mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Bukan cincin.

Melainkan foto lama Laras.

“Aku sudah memenuhi janjiku kepada ibumu.”

Ia menyerahkan foto itu kepada Alya.

“Sekarang kau tidak berutang apa pun kepadaku.”

Alya memandang foto ibunya cukup lama.

Air matanya perlahan jatuh.

“Kalau begitu kontrak sepuluh tahunku?”

“Kau bebas membatalkannya kapan saja.”

Alya menatap Arka.

“Dan kalau aku pergi?”

“Aku tidak akan menghentikanmu.”

“Kalau aku mendirikan perusahaan sendiri dan menjadi pesaingmu?”

“Aku akan mengalahkanmu secara profesional.”

Alya tertawa di antara air matanya.

Setahun kemudian, Alya benar-benar mengundurkan diri.

Ia mendirikan firma arsitekturnya sendiri.

Banyak orang mengira Arka akan marah.

Sebaliknya, ia menjadi klien pertama Alya.

Proyek pertamanya adalah pembangunan pusat pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat masalah ekonomi.

Di pintu masuk gedung itu, Alya tidak memasang nama Arka.

Tidak juga namanya sendiri.

Ia hanya menuliskan satu kalimat sederhana.

Harga sebuah bangunan dapat dihitung dengan uang, tetapi harga masa depan seseorang tidak pernah bisa dihitung.

Pada hari peresmian, Alya berdiri di depan gedung sambil memandang langit Jakarta yang cerah.

Bertahun-tahun lalu, ia memasuki mansion Arka dengan keyakinan bahwa hidupnya telah dijual seharga Rp100 miliar.

Namun akhirnya ia memahami kenyataan yang jauh berbeda.

Malam itu bukanlah malam ketika seorang ayah berhasil menjual putrinya.

Itu adalah malam ketika Alya mengetahui siapa yang rela menjualnya dan siapa yang justru menolak membelinya.

Dan dari semua hal yang ia pelajari sebagai seorang arsitek, pelajaran terbesar ternyata tidak pernah ia dapatkan di ruang kuliah.

Bangunan yang runtuh masih bisa dibangun kembali.

Begitu pula kehidupan.

Asalkan seseorang masih memiliki keberanian untuk menggambar ulang masa depannya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang