AYAHKU PINGSAN SAAT MENGANGKUT PANGGUNG WISUDA, DAN DI SAKUNYA KUTEMUKAN NOTA SETELAN ATAS NAMAKU SERTA SATU NOMOR PESANAN YANG TIDAK KUKENAL.

Ayahku hampir kehilangan nyawanya demi membeli jas yang akan kupakai saat wisuda. Namun, ketika aku menemukan nama adikku pada nota pembayaran, aku menyadari ada pengorbanan lain yang selama ini disembunyikan keluargaku.

Pagi itu, aku sedang memasang nomor kursi di aula kampus ketika suara benturan keras terdengar dari belakang panggung.

Brak!

Disusul teriakan seseorang.

“Tolong! Ada pekerja pingsan!”

Aku berlari bersama dua panitia lain. Di samping tumpukan rangka besi, seorang lelaki tua tergeletak dengan kemeja basah oleh keringat. Telapak tangannya lecet, sementara napasnya terdengar pendek dan berat.

Langkahku mendadak terhenti.

“Bapak?”

Lelaki itu adalah ayahku, Seno Pradana.

Seharusnya pagi itu beliau sedang memperbaiki becak motor di bengkel kecil dekat Pasar Gede, Solo.

Aku berlutut, mengangkat kepalanya perlahan.

“Pak, ini Raka. Bapak dengar suaraku?”

Kelopak matanya bergerak, tetapi tak terbuka.

Koordinator pekerja mendekat dengan wajah pucat.

“Mas kenal beliau?”

“Ini ayah saya! Kenapa Bapak bekerja di sini?”

Lelaki itu tampak terkejut.

“Pak Seno mengambil pekerjaan bongkar pasang panggung sejak tadi malam. Katanya sedang butuh uang tambahan.”

Dadaku terasa sesak.

Besok adalah hari wisudaku.

Dua minggu sebelumnya, Ayah berkali-kali menanyakan ukuran jas dan sepatuku. Aku selalu menjawab bahwa aku bisa meminjam dari teman.

Namun, Ayah hanya tersenyum.

“Sekali seumur hidup, Ka. Bapak ingin melihat kamu naik panggung dengan pakaian yang pantas.”

Aku menganggapnya sekadar ucapan seorang ayah yang terlalu bersemangat.

Ternyata aku salah.

Ketika petugas medis memindahkan Ayah ke tandu, sebuah dompet kain lusuh terjatuh dari saku celananya.

Aku memungutnya.

Di dalamnya terdapat uang Rp430.000, kartu identitas, dan selembar nota toko pakaian.

Nama pemesan tertulis jelas.

Raka Pradana.

Setelan jas hitam, kemeja putih, dan sepatu pantofel.

Total Rp1.850.000.

Sudah dibayar Rp1.400.000.

Tanganku gemetar.

Aku meminta koordinator memperlihatkan daftar pekerja. Nama Ayah tercatat dalam dua giliran kerja.

Shift malam Rp325.000.

Shift pagi Rp325.000.

“Beliau bekerja dua shift berturut-turut?”

Koordinator mengangguk.

“Sudah saya larang, Mas. Tapi beliau bilang harus bertahan sampai siang.”

Mataku tertuju pada kolom konsumsi. Di samping nama Ayah terdapat tanda silang.

“Kenapa Bapak tidak mendapat makan?”

“Beliau meminta jatah makan diganti uang. Tapi kami tidak bisa memenuhi permintaan itu.”

Aku menunduk.

Ayah bahkan mengorbankan makan demi menambah tabungan.

Ponselnya masih menyimpan pesan yang dikirim kepadaku pukul 04.17.

“Besok jangan lupa senyum waktu foto wisuda.”

Aku mengira Ayah baru bangun untuk salat Subuh.

Ternyata saat itu beliau sedang mengangkat rangka panggung tempat aku akan menerima ijazah.

Namun, sebuah tulisan kecil pada bagian bawah nota membuatku terdiam.

“Pelunasan oleh pemesan kedua. Kode 7714.”

Aku segera menelepon toko pakaian.

“Saya Raka Pradana. Mau menanyakan pesanan nomor 7714.”

Pegawai toko memeriksa catatannya.

“Oh, pesanan itu sudah lunas, Mas. Tadi pagi ada perempuan muda yang membayar kekurangannya sebesar Rp450.000.”

“Siapa namanya?”

“Dinda Pradana.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Dinda adalah adik perempuanku.

Tiga bulan lalu, dia mengatakan tidak bisa pulang untuk menghadiri wisudaku karena tidak punya uang.

Aku bahkan sempat kesal kepadanya.

Kupikir dia terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri di Semarang.

Sekarang namanya justru muncul sebagai orang yang diam-diam melunasi pakaian wisudaku.

Aku menelepon Dinda.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Panggilan kedua tersambung setelah beberapa saat.

“Kak Raka?”

Suaranya terdengar lelah.

“Dinda, kamu sekarang di mana?”

“Di kos. Kenapa, Kak?”

“Jangan bohong. Kamu tadi pagi ke toko pakaian di Solo?”

Keheningan panjang menyusul.

“Kakak tahu dari mana?”

“Kenapa kamu membayar jas Kakak?”

Dinda tidak langsung menjawab.

Kemudian terdengar suara isakan tertahan.

“Karena Bapak belum punya cukup uang.”

Aku memejamkan mata.

“Dinda, Bapak pingsan.”

“Apa?”

“Beliau pingsan waktu bekerja memasang panggung wisuda.”

Terdengar bunyi sesuatu terjatuh dari ujung telepon.

“Kak, Bapak sekarang di mana?”

“Sedang dibawa ke rumah sakit.”

“Aku berangkat sekarang!”

“Dinda, kamu sebenarnya ada di mana?”

“Aku di Solo, Kak.”

Aku terdiam.

“Bukannya kamu bekerja di Semarang?”

“Aku sudah pulang sejak tiga minggu lalu.”

“Kenapa tidak bilang?”

Tangisnya semakin keras.

“Nanti aku jelaskan. Tolong jaga Bapak dulu.”

Telepon terputus.

Di rumah sakit, dokter menjelaskan bahwa Ayah mengalami kelelahan berat, dehidrasi, dan penurunan tekanan darah. Pemeriksaan lanjutan juga menunjukkan kadar hemoglobinnya rendah.

Untungnya, beliau segera mendapat pertolongan.

Aku duduk di samping ranjang sambil memperhatikan wajahnya yang semakin tirus.

Sejak Ibu meninggal enam tahun lalu, Ayah membesarkan kami berdua seorang diri.

Beliau memperbaiki becak motor, sepeda, hingga mesin pompa air. Apa pun dikerjakan selama menghasilkan uang halal.

Aku memperoleh beasiswa kuliah, tetapi biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi tanggungan keluarga.

Selama ini aku merasa sudah cukup membantu dengan bekerja paruh waktu.

Aku tidak pernah benar-benar menghitung berapa banyak uang yang harus Ayah keluarkan agar aku bisa menyelesaikan pendidikan.

Menjelang siang, Dinda tiba.

Aku nyaris tidak mengenalinya.

Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Wajahnya pucat, rambutnya diikat asal, dan seragam kerja berwarna biru masih melekat di tubuhnya.

“Kamu kerja di mana?”

Dinda menatap lantai.

“Di tempat laundry dekat Kartasura.”

“Bukannya kamu bekerja sebagai staf administrasi di Semarang?”

“Aku diberhentikan empat bulan lalu, Kak. Perusahaan mengurangi karyawan.”

“Kenapa tidak cerita?”

“Karena waktu itu Kakak sedang menyusun skripsi.”

Aku menggeleng tak percaya.

“Lalu kenapa kamu tidak pulang ke rumah?”

“Aku pulang, Kak. Tapi Bapak bilang jangan sampai Kakak tahu.”

“Kenapa?”

Dinda menggigit bibir.

“Karena Bapak takut Kakak berhenti kuliah untuk membantu kami.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi kalian berdua sengaja menyembunyikan semuanya?”

Dinda mengangguk.

“Aku kerja di laundry pagi sampai sore. Malamnya kadang bantu mengemas makanan di usaha katering. Uangnya untuk kebutuhan rumah dan obat Bapak.”

“Obat apa?”

Pertanyaanku membuat Dinda membeku.

Saat itulah aku menyadari ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada biaya jas wisuda.

“Dinda, Bapak sakit?”

Air matanya kembali mengalir.

“Tiga bulan lalu Bapak sempat pingsan di bengkel. Dokter menemukan anemia dan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut. Bapak juga sering mengeluh sakit perut.”

“Kenapa tidak dibawa kontrol?”

“Sudah dua kali, Kak. Tapi setelah itu Bapak tidak mau. Katanya masih kuat bekerja.”

Aku menoleh ke arah ranjang.

Ayah masih tertidur.

Lelaki yang selalu mengatakan dirinya sehat ternyata menyembunyikan rasa sakit agar aku tidak kehilangan fokus belajar.

Aku merasa marah.

Bukan karena mereka berbohong.

Melainkan karena aku telah hidup begitu dekat dengan penderitaan mereka tanpa menyadarinya.

Sore itu, dokter kembali memanggil kami.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Ayah membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk mencari penyebab anemia dan keluhan perutnya. Kondisinya sudah stabil, tetapi dokter menyarankan agar beliau tidak kembali melakukan pekerjaan fisik berat sebelum penyebabnya diketahui.

Aku mengangguk dan berjanji akan mendampingi semua pemeriksaan.

Ketika kembali ke kamar, Ayah sudah sadar.

Hal pertama yang beliau tanyakan bukanlah kondisi kesehatannya.

“Raka, jasmu sudah diambil?”

Aku berdiri mematung.

“Pak, Bapak hampir meninggal, masih memikirkan jas?”

Ayah tersenyum lemah.

“Kalau belum, nanti Bapak ambilkan.”

“Sudah, Pak. Sudah lunas.”

Wajahnya berubah bingung.

“Lunas? Bapak belum bayar sisanya.”

“Dinda yang bayar.”

Ayah menoleh kepada adikku.

“Dinda, uangmu kan buat bayar kos.”

Dinda menangis.

“Aku sudah enggak ngekos lagi, Pak.”

Ayah menghela napas panjang.

Aku duduk di tepi ranjang.

“Kenapa Bapak melakukan semua ini?”

Beliau tidak menjawab.

“Kenapa Bapak harus bekerja sampai pingsan cuma untuk membelikan aku jas?”

Ayah memandang kedua tangannya yang penuh luka.

“Karena Bapak pernah berjanji kepada ibumu.”

Aku terdiam.

“Sebelum meninggal, ibumu bilang dia ingin melihat kamu wisuda. Waktu itu kamu masih kelas dua SMA.”

Suara Ayah mulai bergetar.

“Bapak bilang sama ibumu, kalau dia tidak sempat melihatnya, Bapak akan melihat untuk kami berdua.”

Air mataku jatuh.

“Tapi Ibu enggak pernah minta Bapak menyiksa diri.”

Ayah mengangguk perlahan.

“Iya, Ka. Bapak salah.”

Itulah pertama kalinya aku mendengar Ayah mengakui kesalahannya dengan suara begitu rapuh.

“Sejak ibumu pergi, Bapak selalu takut kalian kekurangan sesuatu. Bapak pikir selama Bapak masih bisa bekerja, semuanya akan baik-baik saja.”

Dinda menggenggam tangannya.

“Pak, kami lebih butuh Bapak sehat daripada apa pun.”

Ayah menunduk.

Namun, ketika aku hendak memasukkan dompet kainnya ke laci, selembar kertas terlipat terjatuh dari balik lapisan dompet.

Kertas itu bukan nota pakaian.

Melainkan surat dari pihak kampus.

Namaku tercetak di bagian atas.

Aku membacanya dengan bingung.

Surat itu berisi pemberitahuan bahwa aku terpilih sebagai salah satu lulusan berprestasi penerima bantuan pendidikan lanjutan dari yayasan alumni.

Aku belum pernah melihat surat tersebut.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan penerima dokumen.

Seno Pradana.

“Pak, ini apa?”

Wajah Ayah langsung berubah.

“Raka, itu…”

“Kenapa surat ini ada pada Bapak?”

Ayah terdiam cukup lama.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa dua minggu sebelumnya, petugas administrasi kampus menelepon nomor kontak keluarga yang kucantumkan dalam berkas mahasiswa.

Mereka mengabarkan bahwa aku termasuk calon penerima bantuan pendidikan pascasarjana dan meminta keluarga membantu memastikan aku hadir dalam sesi pengarahan setelah wisuda.

Namun, Ayah salah memahami isi pemberitahuan itu.

Beliau mengira bantuan tersebut adalah beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah.

“Bapak pikir kamu akan sekolah lagi, Ka. Mungkin sampai luar negeri.”

Aku membaca ulang surat itu.

Program tersebut ternyata hanya memberikan bantuan sebagian biaya pendidikan, dengan seleksi lanjutan yang belum tentu berhasil.

“Bapak belum tahu hasil akhirnya, Pak.”

Ayah tersenyum.

“Bapak tahu. Tapi Bapak senang sekali membayangkannya.”

Aku menatap wajahnya.

“Lalu apa hubungannya dengan jas?”

Ayah mengusap matanya.

“Bapak ingin kamu datang ke pengarahan itu dengan percaya diri. Bapak takut kamu minder kalau melihat teman-temanmu.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Selama ini aku mengira Ayah hanya ingin aku terlihat rapi di foto wisuda.

Ternyata beliau sedang membayangkan masa depan yang bahkan belum berani kubayangkan sendiri.

Malam itu aku menelepon dosen pembimbingku, Bu Ratna.

Setelah mendengar kejadian yang menimpa Ayah, beliau terdiam beberapa saat.

“Raka, kamu tahu kenapa namamu diusulkan untuk bantuan pendidikan itu?”

“Karena nilai saya, Bu?”

“Itu salah satunya. Tapi ada hal lain.”

Beliau menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya, Ayah pernah datang ke kampus untuk menyerahkan dokumen yang tertinggal ketika aku mengikuti seminar penelitian.

Saat menunggu, Ayah berbincang dengan seorang staf fakultas.

Beliau bercerita bahwa aku sering memperbaiki perangkat elektronik bekas untuk membantu mahasiswa lain yang tidak mampu membeli peralatan baru.

Cerita itu kemudian sampai kepada Bu Ratna.

“Awalnya saya hanya ingin tahu apakah kamu memang melakukan kegiatan tersebut. Setelah saya periksa, ternyata kamu sudah membantu banyak mahasiswa tanpa pernah melaporkannya sebagai kegiatan pengabdian.”

Aku terdiam.

“Prestasi akademikmu baik, Raka. Tapi kepedulianmu terhadap orang lain juga menjadi pertimbangan kami mengusulkan namamu.”

“Jadi Bapak yang membuat Ibu tahu?”

“Beliau tidak pernah meminta penghargaan untukmu. Beliau cuma bercerita dengan bangga tentang anaknya.”

Setelah telepon ditutup, aku menangis sendirian di koridor rumah sakit.

Aku selalu menganggap Ayah tidak memahami dunia perkuliahan.

Ternyata beliau memperhatikan jauh lebih banyak daripada yang kukira.

Keesokan paginya, aku mengambil setelan jas dari toko.

Pemilik toko, seorang perempuan paruh baya, menyerahkan sebuah kantong pakaian besar.

“Ini pesanan Pak Seno.”

Aku mengucapkan terima kasih.

Namun, sebelum pergi, perempuan itu memanggilku.

“Mas Raka, boleh saya cerita sesuatu?”

Aku mengangguk.

“Awalnya ayah Mas mau membeli jas bekas. Beliau datang membawa ukuran badan Mas yang ditulis di kertas kecil.”

Perempuan itu membuka buku catatannya.

“Setelah mencoba beberapa pilihan, beliau memilih setelan ini. Katanya bahannya lebih nyaman dan bisa dipakai Mas untuk melamar kerja nanti.”

Dadaku kembali sesak.

“Beliau bilang apa lagi?”

Perempuan itu tersenyum sedih.

“Beliau bertanya apakah jasnya cukup bagus untuk seorang sarjana.”

Aku menunduk.

“Menurut Ibu?”

“Saya bilang bagus sekali.”

Perempuan itu berhenti sejenak.

“Lalu ayah Mas bilang, yang penting anaknya tidak merasa lebih rendah daripada siapa pun.”

Aku membawa kantong pakaian itu keluar dengan mata basah.

Sore harinya, aku kembali ke rumah sakit.

Ayah sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya stabil, dengan jadwal kontrol dan pemeriksaan lanjutan yang harus kami patuhi.

Aku membantu beliau mengenakan kemeja bersih.

“Besok Bapak ikut wisuda, ya?”

Ayah menggeleng.

“Bapak istirahat saja di rumah. Nanti Dinda yang datang.”

“Tidak, Pak.”

“Raka, Bapak masih lemas.”

“Kalau dokter mengizinkan Bapak duduk sebentar, kita pergi bersama. Kalau tidak, aku akan langsung pulang setelah acara.”

Ayah menatapku lama.

“Kamu jangan sampai melewatkan wisuda gara-gara Bapak.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bapak juga jangan sampai melewatkan hidup gara-gara wisudaku.”

Beliau terdiam.

Kemudian mengangguk perlahan.

Pada hari wisuda, Ayah akhirnya datang menggunakan kursi roda yang dipinjam dari rumah sakit, setelah dokter mengizinkan beliau menghadiri acara sebentar dengan pendamping.

Dinda mendorong kursinya memasuki aula.

Aku mengenakan jas hitam pemberiannya.

Ukurannya pas.

Ketika namaku dipanggil, aku berjalan menuju panggung dengan jantung berdebar.

Dari atas sana, aku melihat Ayah duduk di barisan belakang.

Beliau bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.

Dinda berdiri di sampingnya, mengangkat ponsel untuk merekam.

Aku menerima ijazah, lalu menoleh ke arah mereka.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami arti perjalanan yang telah kutempuh.

Aku bukan satu-satunya orang yang berjuang mendapatkan gelar itu.

Ada tangan Ayah yang terluka karena mengangkat besi.

Ada malam-malam Dinda yang dihabiskan melipat pakaian pelanggan.

Ada makan siang yang dilewatkan, keinginan yang ditunda, dan rasa sakit yang disembunyikan.

Setelah acara selesai, Bu Ratna menghampiri kami.

Beliau menyalami Ayah dan mengucapkan selamat.

Kemudian beliau menyerahkan sebuah amplop kepadaku.

“Raka, yayasan alumni sudah menyelesaikan penilaian akhir.”

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Aku dinyatakan lolos sebagai penerima bantuan pendidikan lanjutan.

Bukan beasiswa penuh seperti yang dibayangkan Ayah, tetapi jumlahnya cukup besar untuk membantuku memulai studi magister apabila aku memutuskan melanjutkan pendidikan.

Aku menunjukkan surat itu kepada Ayah.

Beliau membacanya perlahan.

“Bapak enggak begitu paham isinya, Ka.”

Aku tersenyum.

“Artinya aku punya kesempatan sekolah lagi.”

Wajahnya langsung berbinar.

“Alhamdulillah.”

“Tapi aku belum akan mengambilnya sekarang, Pak.”

Senyumnya memudar.

“Kenapa?”

“Aku mau bekerja dulu. Aku ingin memastikan Bapak mendapat pengobatan yang diperlukan dan Dinda bisa melanjutkan rencananya.”

Dinda segera menggeleng.

“Kak, jangan karena aku.”

“Bukan karena kamu. Ini keputusanku.”

Bu Ratna menjelaskan bahwa program tersebut memungkinkan penerima menunda penggunaan bantuan selama satu tahun dengan persetujuan yayasan.

Aku merasa lega.

Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti perlombaan yang harus kumenangkan sendirian.

Kami berfoto di depan aula.

Ayah duduk di kursi roda, Dinda berdiri di sebelahnya, sementara aku berjongkok di tengah agar wajah kami sejajar.

Tepat sebelum kamera mengambil gambar, Ayah merapikan kerah jasku.

“Kamu ganteng sekali, Ka.”

Aku tertawa kecil.

“Karena jas pilihan Bapak.”

Ayah menggeleng.

“Bukan. Karena kamu anak Bapak.”

Beberapa minggu kemudian, setelah menjalani pemeriksaan lanjutan dan memulai pengobatan sesuai anjuran dokter, kondisi Ayah perlahan membaik.

Aku mendapat pekerjaan sebagai teknisi di sebuah perusahaan elektronik di Solo. Dinda mendaftar kursus administrasi perkantoran sambil tetap bekerja.

Kami mulai menyusun keuangan keluarga bersama.

Ayah tidak lagi mengambil pekerjaan bongkar muat.

Suatu malam, ketika kami sedang makan bersama, beliau mengeluarkan dompet kain lusuhnya.

Dari dalamnya, Ayah mengambil selembar foto wisuda yang sudah dicetak.

Foto kami bertiga.

Beliau memasukkannya ke bagian dompet yang biasanya digunakan untuk menyimpan uang.

“Pak, nanti fotonya rusak kalau dilipat begitu.”

Ayah tersenyum.

“Biar saja. Bapak mau bawa ke mana-mana.”

Aku tertawa.

“Tapi kenapa harus disimpan di dompet?”

Ayah menatapku dan Dinda bergantian.

“Dulu Bapak selalu menghitung berapa uang yang masih tersisa untuk membesarkan kalian.”

Beliau mengusap foto itu dengan ibu jarinya.

“Sekarang, setiap buka dompet, Bapak mau ingat bahwa ada hal yang jauh lebih berharga daripada uang.”

Dinda menyandarkan kepala di bahunya.

Aku memperhatikan tangan Ayah yang mulai pulih, meski bekas lukanya masih terlihat.

Di tangan itulah aku pernah melihat seluruh beban hidup kami.

Namun, malam itu aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.

Orang tua tidak selalu membutuhkan anak yang paling sukses.

Kadang mereka hanya membutuhkan anak yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan keluhannya, dan mengatakan bahwa mereka tidak harus menanggung semuanya sendirian.

Dan setiap kali aku melihat jas hitam yang tergantung rapi di lemari, aku tidak lagi teringat pada hari ketika namaku dipanggil di atas panggung.

Aku teringat pada seorang lelaki tua yang terbaring di belakang panggung, tepat di tempat aku hampir kehilangan orang yang paling ingin menyaksikan keberhasilanku.

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku sendiri.

Aku tidak akan membiarkan Ayah mempertaruhkan nyawanya lagi hanya untuk memastikan aku terlihat berhasil di mata dunia.

Sebab keberhasilan terbesarku bukanlah gelar yang tertulis di ijazah.

Melainkan kesempatan untuk pulang, membuka pintu rumah, dan masih bisa memanggil seseorang dengan sebutan Bapak.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang