Batu Giok 52 Miliar Direbut di Depan Mataku, Aku Membeli Batu Penyangga Meja—Saat Dipotong, Keluarga Wijaya Langsung Membisu

Tawa Nadine masih terdengar ketika aku meminta pengelola lelang mengangkat meja tua itu.

“Serius, Ayu?” katanya sambil menutup mulut, seolah berusaha menahan tawa. “Setelah kehilangan batu lima puluh dua miliar, sekarang kamu mau membeli ganjal meja?”

Beberapa orang ikut terkekeh.

Ayah berdiri beberapa meter dariku dengan wajah kaku. Raka menyilangkan tangan di dada. Tatapannya sulit kubaca. Mungkin ia sedang mencoba memahami apakah aku benar-benar bodoh atau sedang menyembunyikan sesuatu.

Aku tidak memedulikan mereka.

Perhatianku hanya tertuju pada batu kekuningan sebesar dua kepalan tangan yang terjepit di bawah kaki meja.

Begitu meja diangkat, batu itu seperti menghela napas lega.

“Akhirnya! Pinggangku hampir patah!”

Aku hampir tertawa.

Pengelola gudang, Pak Hendra, menggaruk kepalanya.

“Batu ini bukan barang lelang, Nona Ayu. Sepertinya sudah ada di sini sejak gudang direnovasi.”

“Boleh saya beli?”

Pak Hendra menatap batu itu, lalu menatapku.

“Kalau memang mau, bayar saja satu juta rupiah.”

“Dua juta.”

Suara Raka terdengar dari belakang.

Aku menoleh cepat.

Dia tersenyum tipis.

“Kenapa?” tanyanya. “Bukankah dunia bisnis tidak pernah benar-benar adil?”

Dadaku langsung terasa panas.

Ayah tidak berkata apa-apa.

Nadine justru mendekati Raka dan memegang lengannya.

“Sudahlah, Kak. Jangan buang uang lagi. Batu jelek begitu bahkan tidak pantas dijadikan pemberat pintu.”

Raka masih menatapku.

Aku tahu apa yang sedang dia lakukan.

Dia tidak tertarik pada batu itu.

Dia tertarik pada pilihanku.

Kesalahan yang sama seperti sebelumnya.

Kalau aku menunjukkan sedikit saja kegugupan, dia akan terus menaikkan harga.

Aku mengangkat bahu.

“Silakan ambil.”

Lalu aku berbalik.

Baru tiga langkah, batu itu menjerit panik di kepalaku.

“Jangan tinggalkan aku!”

Aku menggigit bibir agar tidak tertawa.

Raka terdiam.

“Kenapa berhenti menawar?” tanyanya.

Aku menoleh santai.

“Karena aku hanya ingin membeli ganjal meja. Kalau kamu bersedia membayar miliaran untuk itu, silakan.”

Beberapa orang mulai berbisik.

Raka akhirnya menggeleng.

“Aku bercanda.”

Aku kembali kepada Pak Hendra.

“Satu juta?”

Pak Hendra mengangguk.

Transaksi selesai kurang dari satu menit.

Aku memegang batu itu dengan kedua tangan.

Dingin.

Berat.

Tidak ada kilau sedikit pun di permukaannya.

Nadine terkekeh.

“Enam puluh miliar diberikan kepadamu, dan akhirnya kamu pulang membawa batu satu juta.”

Aku menatapnya.

“Setidaknya yang satu ini benar-benar milikku.”

Senyumnya langsung menghilang.

Semua orang tahu apa maksud kalimat itu.

Batu pertama pilihanku telah direbut Raka.

Dan meski Raka adalah tunanganku, selama tiga hari terakhir aku mulai memahami satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan batu giok.

Pertunanganku dengannya bukan tentang cinta.

Raka telah mengenal Nadine sejak kecil.

Mereka belajar bersama, menghadiri pesta bersama, bahkan pernah bersekolah di Singapura pada waktu yang sama.

Sementara aku?

Aku hanya perempuan asing yang tiba-tiba muncul membawa hasil tes DNA dan mengambil kembali nama Wijaya.

Hubungan pertunangan yang sebelumnya direncanakan antara keluarga Hartono dan keluarga Wijaya seharusnya melibatkan putri kandung keluarga.

Ketika semua orang mengira Nadine adalah putri kandung, Raka tumbuh dengan keyakinan bahwa perempuan yang kelak akan dinikahinya adalah Nadine.

Kemudian aku muncul.

Dan semuanya berubah.

“Aku mau memotong batu ini,” kataku.

Ruangan kembali riuh.

Ahli senior yang tadi memeriksa batu milik Raka mendekat. Namanya Pak Gunawan. Ia telah bekerja di industri giok selama lebih dari empat puluh tahun.

Ia mengambil batu itu dari tanganku, menyinari permukaannya dengan senter, lalu menggeleng.

“Tidak ada tanda bagus.”

“Bisa dipotong?”

“Tentu. Tapi Nona Ayu harus siap kecewa.”

Aku menyentuh permukaannya.

Batu itu langsung berbisik.

“Potong tipis dari utara. Jangan banyak-banyak. Kulitku tebal.”

Aku menunjuk salah satu sisi.

“Dari sini. Dua sentimeter saja.”

Pak Gunawan menatapku cukup lama.

Mungkin dia teringat bahwa beberapa menit sebelumnya aku juga mengetahui arah pemotongan batu senilai puluhan miliar.

Kali ini ia tidak membantah.

Mesin dinyalakan.

Suara pisau berputar memenuhi ruangan.

Semua orang berkumpul.

Nadine berdiri di samping ayah. Raka berada paling depan.

Pisau mulai menyentuh batu.

Satu sentimeter.

Dua sentimeter.

Potongan pertama terlepas.

Tidak ada warna.

Hanya putih kusam.

Nadine langsung tertawa.

“Sudah kubilang.”

Aku diam.

Pak Gunawan membasahi permukaannya.

Lalu tangannya berhenti.

Ekspresinya berubah.

Ia mengambil senter.

Cahaya ditempelkan pada permukaan batu.

Cahaya itu menembus.

Bukan hijau.

Bukan ungu.

Bukan kuning.

Bening.

Begitu bening sampai bagian dalam batu terlihat seperti air yang membeku.

Pak Gunawan menarik napas panjang.

“Tidak mungkin.”

Ayah melangkah maju.

“Ada apa?”

Pak Gunawan tidak menjawab.

Ia justru meminta semua lampu di sekitar meja dimatikan.

Ruangan menjadi sedikit gelap.

Kemudian ia menyalakan senter dari belakang batu.

Cahaya menembus hampir seluruh tubuhnya.

Suasana mendadak senyap.

“Glass jade,” gumam seseorang.

Pak Gunawan menggeleng perlahan.

“Bukan glass jade biasa.”

Tangannya mulai gemetar.

“Tidak ada kapas. Tidak ada retakan. Transparansinya nyaris sempurna.”

Nadine berhenti tersenyum.

Raka maju satu langkah.

“Berapa nilainya?”

Pak Gunawan tidak langsung menjawab.

Ia meminta pemotongan kedua dilakukan.

Kali ini lebih hati-hati.

Setelah lapisan kulit dibuang, kejernihan batu semakin terlihat.

Seorang pedagang dari Surabaya langsung mengangkat tangan.

“Lima belas miliar!”

Orang lain menyahut.

“Dua puluh!”

“Dua puluh lima!”

Aku menatap mereka terkejut.

Pak Gunawan membentak.

“Jangan menawar dulu! Batunya belum selesai diperiksa!”

Ruangan kembali diam.

Setelah hampir dua puluh menit, sebagian besar kulit batu berhasil dibersihkan.

Bentuk aslinya muncul.

Tidak besar.

Namun hampir seluruh bagian dalamnya adalah giok tanpa warna dengan kualitas luar biasa.

Pak Gunawan akhirnya meletakkan alat pemeriksanya.

“Kalau dibuat menjadi gelang dan liontin dengan pengerjaan terbaik, nilai konservatifnya bisa di atas enam puluh miliar.”

Wajah Nadine langsung pucat.

Seseorang di belakang berbisik.

“Dia membeli satu juta.”

“Untung enam puluh ribu kali lipat?”

Ayah menatap batu itu seolah tidak percaya.

Sementara Raka menatapku.

Bukan lagi dengan meremehkan.

Melainkan curiga.

“Ayu.”

Ia berjalan mendekat.

“Bagaimana kamu tahu?”

Pertanyaan yang sama.

Aku tersenyum.

“Keberuntungan.”

“Dua kali?”

“Kenapa? Keberuntungan hanya boleh datang sekali?”

Raka tidak bisa menjawab.

Nadine tiba-tiba maju.

“Tunggu.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Ada yang aneh.”

Ia menunjuk batu di tanganku.

“Batu seperti itu tidak mungkin dijadikan ganjal meja bertahun-tahun tanpa diketahui siapa pun. Mungkin Ayu sudah mengetahui informasi tentang batu itu sebelumnya.”

Aku menatapnya.

“Maksudmu aku curang?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi itu yang ingin kamu katakan.”

Nadine menoleh kepada ayah.

“Papa, kompetisi ini harus adil. Kalau Ayu mendapat informasi dari orang dalam gudang, hasilnya tidak bisa dihitung.”

Aku tertawa pelan.

Menarik sekali.

Ketika Raka merebut batu pilihanku dengan menaikkan harga sampai lima puluh dua miliar, itu disebut kemampuan bisnis.

Ketika aku menemukan batu yang mereka abaikan, itu disebut kecurangan.

Ayah terdiam cukup lama.

Lalu berkata, “Kita periksa rekaman CCTV.”

Pak Hendra langsung menyetujuinya.

Rekaman empat tahun terakhir tentu tidak tersimpan seluruhnya, tetapi catatan inventaris gudang masih ada.

Hampir satu jam kemudian, seorang staf membawa dokumen renovasi.

Batu tersebut ternyata berasal dari tumpukan material lama yang dibeli gudang enam tahun lalu dari sebuah rumah penyimpanan di Kalimantan.

Nilainya bahkan tidak pernah dicatat sebagai batu giok.

Hanya limbah batu.

Tidak ada seorang pun yang pernah memeriksanya.

Nadine kehilangan alasan.

Namun kejutan berikutnya justru datang dari Pak Gunawan.

Ia memandang ayah.

“Pak Wijaya, saya rasa kompetisi ini sudah selesai.”

Ayah mengerutkan kening.

“Belum. Batu Nadine belum dipotong.”

“Justru itu.”

Pak Gunawan berjalan menuju batu besar pilihan Nadine yang sejak tadi belum dibelah.

“Kalau mau membandingkan, kita harus membukanya.”

Nadine tampak percaya diri lagi.

Batu pilihannya dibeli seharga empat puluh delapan miliar.

Dari penampilan luar, hampir semua ahli menilai peluang menghasilkan giok berkualitas tinggi sangat besar.

Mesin kembali menyala.

Potongan pertama dilakukan.

Tidak ada hijau.

Nadine masih tenang.

Potongan kedua.

Muncul warna hijau tipis.

Ia tersenyum.

Namun Pak Gunawan tidak.

Ia menyiram permukaannya.

Garis-garis putih terlihat di mana-mana.

Retakan.

Banyak sekali.

Potongan ketiga memperlihatkan sesuatu yang lebih buruk.

Warna hijau hanya berada di lapisan tipis dekat permukaan.

Bagian tengahnya penuh kristal kasar dan retakan.

Nilainya mungkin tidak sampai tiga miliar.

Nadine mundur satu langkah.

“Tidak mungkin.”

Ia mengambil senter sendiri.

Tangannya gemetar.

“Raka bilang batu ini bagus.”

Aku menoleh kepada Raka.

Wajahnya berubah.

Nadine tampaknya baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

Ruangan kembali hening.

Ayah menatap mereka bergantian.

“Apa maksudmu Raka bilang batu ini bagus?”

Nadine tidak menjawab.

Raka mencoba berbicara.

“Om, saya hanya memberikan pendapat.”

“Pendapat?”

Ayah berjalan mendekat.

“Kamu membantu Nadine memilih batu?”

Tidak ada jawaban.

Ayah langsung meminta rekaman CCTV hari itu.

Kali ini semuanya jelas.

Dua jam sebelum aku tiba di gudang, Raka dan Nadine sudah berada di area penyimpanan khusus.

Mereka memeriksa beberapa batu bersama.

Bahkan terlihat Raka memberikan catatan kepada Nadine.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Jadi kompetisi yang katanya menguji kemampuan kami sejak awal memang tidak pernah setara.

Nadine memiliki pendidikan dua puluh tahun.

Ia juga memiliki bantuan Raka.

Sedangkan aku diberi waktu beberapa hari untuk belajar.

Ayah terlihat marah.

Namun anehnya, aku tidak merasa puas.

Aku hanya merasa lelah.

Aku mengambil kartu bank dari tas dan meletakkannya di meja.

“Papa.”

Ayah menoleh.

“Aku tidak mau sepuluh persen saham itu.”

Semua orang membeku.

“Ayu…”

“Aku juga tidak mau menjadi penerus hanya karena berhasil memenangkan permainan seperti ini.”

Aku menunjuk layar CCTV.

“Kalau keluarga ini benar-benar ingin tahu siapa yang pantas menjadi penerus, jangan mengujinya dengan siapa yang paling pandai merebut batu.”

Aku memandang Nadine.

Matanya merah.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat seorang pesaing.

Aku melihat perempuan yang ketakutan.

Selama dua puluh dua tahun, ia dibesarkan sebagai putri Wijaya.

Lalu suatu hari aku datang.

Aku membawa DNA yang membuktikan bahwa darah dalam tubuhku adalah darah keluarga ini.

Tanpa melakukan apa pun, keberadaanku telah membuat seluruh identitasnya goyah.

“Aku tidak datang untuk mengambil hidupmu, Nadine.”

Bibirnya bergetar.

Aku melanjutkan.

“Rumahmu tetap rumahmu. Orang tua yang membesarkanmu tetap orang tuamu. Tapi jangan mengambil milikku hanya karena kamu takut kehilangan milikmu.”

Air matanya jatuh.

Ayah menunduk.

Raka mencoba mendekatiku.

“Ayu, soal pertunangan kita…”

Aku melepas cincin dari jariku.

Lalu meletakkannya di samping kartu bank.

“Tidak perlu dibahas.”

Wajahnya berubah.

“Ayu, dengarkan dulu.”

“Aku sudah cukup banyak mendengarkan.”

Termasuk suara batu.

Dan ternyata batu jauh lebih jujur daripada manusia.

Aku berbalik hendak pergi ketika suara Pak Hendra menghentikanku.

“Nona Ayu!”

Aku menoleh.

Ia berdiri di dekat meja tua tempat batu tadi ditemukan.

“Ada sesuatu di bawah meja.”

Aku kembali mendekat.

Setelah ganjal batu diambil, kaki meja menjadi miring. Ketika staf mencoba memperbaikinya, mereka menemukan sebuah pelat logam kecil menempel di bagian bawah meja.

Ada tulisan yang hampir terhapus.

Pak Hendra membersihkannya.

Kemudian wajahnya berubah.

“Ini bukan meja gudang.”

Ayah mendekat.

“Apa?”

Pak Hendra membaca nama yang terukir di sana.

“Surya Hartono.”

Semua orang terdiam.

Nama orang yang ulang tahunnya menjadi alasan seluruh kompetisi ini.

Pak Hendra membuka dokumen lama sekali lagi.

Ternyata enam tahun lalu, tumpukan material dari Kalimantan itu dibeli dari gudang tua milik perusahaan yang pernah dikelola Pak Surya.

Meja tersebut ikut terbawa tanpa sengaja.

Aku menatap batu bening di tanganku.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Hadiah ulang tahun ke-85.

Aku tersenyum.

Sebulan kemudian, keluarga Wijaya datang ke pesta Pak Surya dengan membawa sebuah kotak kayu sederhana.

Bukan Nadine yang menyerahkannya.

Bukan ayah.

Aku.

Ketika kotak dibuka, sebuah liontin giok bening terletak di dalamnya.

Pak Surya yang sudah berusia delapan puluh lima tahun menatapnya cukup lama.

Lalu tangannya gemetar.

“Dari mana kalian mendapatkan ini?”

Aku menceritakan semuanya.

Tentang gudang.

Tentang meja tua.

Tentang batu yang menjadi ganjal.

Pak Surya tidak tertawa.

Ia justru menangis.

“Empat puluh tahun lalu,” katanya, “ayah saya membawa beberapa batu mentah dari Kalimantan. Beliau selalu mengatakan ada satu batu yang sangat istimewa, tetapi meninggal sebelum sempat menemukannya lagi.”

Ia memegang liontin itu erat.

“Jadi selama puluhan tahun, benda yang dicari keluarga kami ternyata menopang sebuah meja.”

Semua orang terdiam.

Pak Surya lalu menatapku.

“Berapa kamu membeli batunya?”

“Satu juta rupiah.”

Ia tertawa sampai air matanya keluar.

Kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Nilai sesuatu tidak berubah hanya karena manusia gagal mengenalinya.”

Aku membeku.

Entah kenapa, kalimat itu terasa bukan sedang membicarakan giok.

Selama dua puluh dua tahun, aku tumbuh jauh dari keluarga Wijaya.

Aku tidak belajar di sekolah mahal.

Tidak mengenal etika pesta.

Tidak memahami laporan perusahaan.

Bahkan beberapa minggu sebelumnya, aku masih dianggap gadis kampung yang kebetulan memiliki darah keluarga kaya.

Namun batu penyangga meja itu mengajariku sesuatu.

Giok terbaik bisa tergeletak di bawah meja selama bertahun-tahun.

Diinjak debu.

Diabaikan.

Dianggap tidak berharga.

Tetapi ketika kulit kasarnya dibuka, nilainya tetap ada.

Malam itu, sebelum pulang, ayah menghampiriku.

“Kalau kamu tidak menginginkan saham itu sekarang, Papa tidak akan memaksamu.”

Aku mengangguk.

“Tapi perusahaan tetap membutuhkanmu.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku akan belajar. Dari bawah. Bukan sebagai penerus.”

Ayah mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak aku kembali, ia tidak melihatku sebagai putri yang hilang atau pesaing Nadine.

Ia melihatku sebagai Ayu.

Enam bulan kemudian aku masuk perusahaan Wijaya sebagai staf pembelian junior.

Nadine memilih tetap bekerja di divisi desain.

Hubungan kami tidak langsung membaik.

Tetapi perlahan, kami belajar menjadi keluarga tanpa harus saling menggantikan.

Raka?

Pertunangan kami resmi dibatalkan.

Belakangan aku mendengar dia mencoba mendekati Nadine lagi.

Nadine menolaknya.

Katanya, ia sudah lelah menjadi pilihan seseorang hanya karena nama keluarganya.

Sedangkan batu seharga satu juta itu menghasilkan beberapa perhiasan.

Liontin terbaik kuberikan kepada Pak Surya.

Sebagian dijual.

Dan satu potongan kecil kusimpan sendiri.

Kadang-kadang, ketika aku pulang kerja dalam keadaan lelah, aku meletakkannya di telapak tangan.

Batu itu selalu mengeluh.

“Jangan simpan aku di kotak gelap terus. Aku bosan.”

Aku biasanya tertawa.

Rahasiaku tetap tidak diketahui siapa pun.

Orang-orang di industri mulai memanggilku perempuan dengan mata giok.

Mereka mengatakan aku memiliki intuisi yang tidak masuk akal.

Aku membiarkan mereka percaya begitu.

Karena hanya aku yang mengetahui kebenarannya.

Aku tidak memiliki mata yang bisa melihat isi batu.

Aku hanya mau mendengarkan sesuatu yang selama ini dianggap orang lain tidak memiliki suara.

Dan mungkin manusia juga begitu.

Kadang-kadang, orang yang paling berharga bukanlah mereka yang terlihat paling sempurna dari luar.

Melainkan mereka yang pernah diabaikan, diremehkan, bahkan dijadikan sekadar penyangga bagi kehidupan orang lain, tetapi tetap menyimpan sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh penilaian siapa pun.

Nilai mereka sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang