KERTAS PERCERAIAN ITU DICAMPAKKAN KE ARAH WAJAHKU KETIKA PEREMPUAN SIMPANANNYA BERDIRI DI DALAM
Bunyi enjin kereta berhenti di hadapan rumah kira-kira lima belas minit selepas Rendy mencampakkan dokumen perceraian itu ke arahku. Aku […]
Bunyi enjin kereta berhenti di hadapan rumah kira-kira lima belas minit selepas Rendy mencampakkan dokumen perceraian itu ke arahku. Aku […]
Kirana merenung tandatangan itu begitu lama sehingga huruf-huruf di atas kertas mula kelihatan kabur di matanya. “Ini bukan tandatangan aku.”
Nama yang tertulis di belakang foto itu membuat napasku seperti berhenti. “Rendra Pratama.” Aku membacanya sekali lagi, berharap mataku salah
Namaku Arif. Aku tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran Yogyakarta, tempat hampir semua orang saling mengenal. Di desa kami,
Aku baru saja ditarik keluar dari danau setelah seseorang mendorongku, tetapi suamiku bahkan tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Raka
Pak Damar mencengkeram pergelangan tanganku begitu kuat hingga jemariku hampir terlepas dari touchpad. “Jangan dibuka di sini.” Aku menatapnya tajam.
“Jangan lanjutkan.” Suara Raka terdengar berbeda. Bukan lagi suara laki-laki yang beberapa menit lalu duduk dengan angkuh di samping perempuan
Tanganku menyentuh lipatan terakhir foto itu. Entah kenapa, selembar kertas tua yang begitu ringan terasa seperti batu di antara jemariku.
Tanganku gemetar ketika membuka lipatan terakhir surat itu. Raka berdiri beberapa langkah dariku. Wajahnya yang sejak tadi berusaha terlihat tenang
Tanganku menyentuh lipatan terakhir surat itu, tetapi sebelum sempat membukanya, Dimas melangkah maju. “Alya, tunggu.” Nada suaranya membuatku berhenti. Untuk