TAIKUN HARTANAH TERBESAR DI INDONESIA MENGHINA ANAK PEREMPUANNYA DI HADAPAN 50 TETAMU…
Aku tidak berhenti berjalan walaupun suara Fernando memanggil namaku berkali-kali dari belakang. “Mariana! Berhenti!” Pintu utama kediaman mewah itu tertutup
Aku tidak berhenti berjalan walaupun suara Fernando memanggil namaku berkali-kali dari belakang. “Mariana! Berhenti!” Pintu utama kediaman mewah itu tertutup
Pak Tian mengangguk lalu berjalan ke arah palet yang baru keluar dari bahagian pensterilan. Dengan sarung tangan pelindung masih terpasang,
“Ibu… kenapa barang milikku juga mau dibawa?” Suara kecilku membuat kamar itu mendadak terasa sesak. Ibu berdiri membeku di samping
Pintu keberangkatan di Stasiun Gambir sudah tertutup ketika Ayah menarik tangan petugas itu. “Tolong hentikan keretanya.” Petugas perempuan itu terlihat
Aku menekan butang hantar, kemudian meletakkan telefon di atas kaunter dapur. Tidak sampai sepuluh saat, satu tanda biru muncul di
Tanganku terasa sejuk ketika memegang helaian dokumen itu. Bunyi hon kereta, suara petugas hotel dan hiruk-pikuk Kuala Lumpur di sekelilingku
Dua garis merah itu seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan dalam hidup Laras. Namun pagi itu, ia justru berdiri membeku di
“Sekarang juga.” Dua perkataan itu keluar daripada mulutku dengan tenang, tetapi kesannya seolah-olah guruh meledak di tengah-tengah tingkat dua puluh
“Rani?” Suara Sutrisno terdengar lagi dari halaman. “Kenapa pintunya terbuka?” Wajah Ibu seketika kehilangan warna. Tangannya refleks meraih lenganku. Dari
Tiga hari kemudian, Aditya pulang ke Kuala Lumpur dengan satu keyakinan yang masih utuh bahawa Amara pasti akan berada di