Setelah Ujian Terakhir, Sahabat Masa Kecilku Pergi Bersama Gadis Baru—Malam Itu Aku
Pesan Keisya berikutnya membuatku menutup laptop. “Aku belum baca suratnya. Ini pribadi, kan?” Aku menatap kalimat itu lama sekali sebelum
Pesan Keisya berikutnya membuatku menutup laptop. “Aku belum baca suratnya. Ini pribadi, kan?” Aku menatap kalimat itu lama sekali sebelum
Maya masih berdiri di hadapan SUV hitamnya apabila pintu utama rumah terbuka. Puan Rina muncul dengan secawan teh di tangan,
“Jadi selama ini kamu sengaja menyembunyikannya dariku?” Pertanyaan Bima terdengar ganjil di tengah ruang rapat yang membeku. Di layar masih
Siska Rahmawati memandang cincin emas yang terletak di atas tapak tangannya dengan perasaan yang sukar digambarkan. Di sekelilingnya, bau sampah
Aku tidak langsung membalas Keisya. Di layar laptop, tombol Simpan Perubahan masih menunggu. Di layar ponsel, kotak biru itu tampak
Nama Nadira Putri tercetak di bawah judul Perjanjian Pengembalian Dana Talangan. Nilainya enam ratus juta rupiah. Pada halaman terakhir, ada
“Angka itu salah.” Raka mengucapkannya begitu cepat sampai suaranya pecah. Tangannya bergerak hendak membuka map, tetapi Rendra menahannya dengan telapak
Ratih membuka pintu rumah itu dengan begitu yakin, seolah-olah dialah pemilik sebenar kediaman tersebut. Dimas pula menarik beg pakaian besar
Aku tidak terus menaiki kereta e-hailing yang baru tiba. Sebaliknya, aku berdiri di tepi jalan sambil menatap nama Maya Lestari
Keisha buru-buru menutupi pergelangan tangannya dengan tas kecil. Gerakan itu justru membuat Ayah semakin lama menatapnya. “Dimas memberikannya kepada saya,