ADIK LELAKIKU MEMPERSENDAKAN PENGABDIANKU, MENCENGKAM PERGELANGAN TANGANKU YANG BERP…
Aku masih memandang pintu restoran ketika Kapten Al Merah bersuara. “Jangan kejar dia.” Aku menoleh pantas. “Tapi, Tuan, Aryo mungkin […]
Aku masih memandang pintu restoran ketika Kapten Al Merah bersuara. “Jangan kejar dia.” Aku menoleh pantas. “Tapi, Tuan, Aryo mungkin […]
Hujan semakin lebat ketika suara Budi bergema dari pembesar suara telefon saya. “Sekarang kita mulakan.” Saya menggenggam stereng sehingga buku
Aku masih memegang gelas wine ketika udara di ruang makan tiba-tiba berubah dingin. Bukan dingin karena pendingin ruangan. Aku mengenal
Suara Anton di ujung telepon mendadak hilang. Bukan karena sambungan terputus. Aku masih bisa mendengar suara pendingin udara dari kantornya
Enam tahun berlalu sejak Adrian Villareal terakhir kali memeluk Lara. Namun pagi itu, di tengah hiruk-pikuk jalanan Jakarta, ia menemukan
Aku memasukkan kedua tangan ke celah kasur. Kemudian, dengan seluruh keberanian yang masih tersisa, aku menarik robekan itu hingga terbuka
Pesan dari Sari itu hanya muncul beberapa detik di layar ponsel Arjuna, tetapi rasanya cukup untuk menghancurkan enam tahun hidupku.
Aku tidak pernah menyangka bahwa pertanyaan sederhana tentang sertifikat tanah peninggalan Ayah akan membuat wajah empat orang di lorong rumah
Hujan semakin lebat ketika aku berlari di sepanjang jalan di hadapan universiti. “Ayah!” Suaraku tenggelam dalam bunyi hon kereta dan
Stella berdiri kaku di ambang pintu. Dua anggota polis di hadapannya memandangnya sebelum salah seorang daripada mereka menunjukkan kad pengenalan.