SEORANG BUDAK PEREMPUAN MENYELITKAN BUNGA KERTAS KE DALAM BEG TANGANKU, KEMUDIAN TERPANDANG CINCINKU….
Jangan cari Ratri di rumahnya. Bram sudah pergi mencarinya terlebih dahulu. Aku membaca ayat itu berulang kali sehingga huruf-huruf di
Jangan cari Ratri di rumahnya. Bram sudah pergi mencarinya terlebih dahulu. Aku membaca ayat itu berulang kali sehingga huruf-huruf di
Suara besi yang digesek dari luar pintu membuat darahku seolah berhenti mengalir. Rafael berdiri tepat di depanku, sementara Nina bersembunyi
“Rosa… kenapa kau menyimpan ini dariku?” Suara Kakek Manuel Ortega pecah di tengah halaman rumahnya yang sempit. Kedua tangannya gemetar
“Aku tidak takut lagi kepada kalian.” Kalimat itu keluar dari bibir Sofia Monteiro dengan suara bergetar, tetapi cukup jelas untuk
“Anak yang baru saja kau banggakan itu bukan darah dagingmu, Adrian.” Kalimat tersebut tertulis di bagian bawah hasil tes DNA
Tanganku menggigil ketika melihat tandatangan pada skrin telefon. Bentuk hurufnya hampir sempurna. Malah, lengkungan kecil pada huruf terakhir namaku turut
“Rumah ini sudah dijual, Bu Elena. Dan yang menandatangani surat penjualannya adalah putri Ibu sendiri.” Kalimat Arman membuat dunia di
Aku menatap angka pada dokumen itu berkali-kali, berharap aku tersalah baca. RM1.5 juta. Itulah nilai projek jalan konkrit yang kononnya
“Kalau aku mati malam ini, jangan biarkan perempuan itu menyentuh anakku.” Kalimat itu terus berputar di kepalaku ketika aku berdiri
Ketukan pertama terdengar pukul dua lewat tujuh belas menit. Aku masih duduk di tepi tempat tidur, menatap SMS misterius yang