Suara kedua itu membuat darahku seperti berhenti mengalir.
“Pokoknya jangan keterlaluan. Kita cuma perlu bikin dia kelihatan bermasalah di depan penghuni lain.”
Aku mengenal suara itu.
Pak Dimas.
Ketua paguyuban penghuni apartemen kami.
Orang yang selama hampir lima tahun selalu menyapaku ramah di lobi, menanyakan kabar, bahkan pernah menitipkan kunci unitnya ketika keluarganya pergi ke Bandung.
Aku menatap layar ponsel yang masih merekam.
Di atas, Ardi tertawa kecil.
“Tenang, Pak. Dia sudah mulai kepancing. Kemarin sampai naik lagi ke unit saya.”
“Bagus. Kalau ada rekaman dia marah atau mengancam, lebih gampang.”
“Terus soal unitnya?”
Ada jeda.

Lalu Pak Dimas menjawab pelan.
“Itu urusan nanti.”
Aku mematikan rekaman.
Tanganku dingin.
Unitku?
Apa hubungannya kantong teh dengan unitku?
Aku masuk ke dalam, mengunci pintu balkon, lalu memutar rekaman itu berulang kali.
Semakin kudengar, semakin jelas bahwa semua ini direncanakan.
Tapi aku belum tahu alasannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak gangguan itu dimulai, aku merasa marah bukan karena sampah yang jatuh ke balkonku, melainkan karena seseorang menganggap aku cukup bodoh untuk dipermainkan.
Hari itu aku tidak menghubungi pengelola.
Aku juga tidak mendatangi Pak Dimas.
Sebaliknya, aku mulai menyimpan semuanya.
Foto kantong teh.
Tanggal.
Jam.
Rekaman video.
Percakapan WhatsApp dengan Ardi ketika dua minggu sebelumnya aku pernah meminta baik-baik agar dia berhenti.
Aku bahkan membeli kamera kecil dan memasangnya menghadap balkon dari dalam ruang tamu. Posisi kameranya tidak mengarah ke bagian dalam unit Ardi. Hanya area balkonku sendiri dan bagian atas tempat benda-benda itu jatuh.
Tiga hari berikutnya, Ardi semakin berani.
Hari pertama, satu kantong teh.
Hari kedua, dua.
Hari ketiga, selain kantong teh, ada tisu basah yang jatuh ke meja balkonku.
Aku tidak bereaksi.
Setiap pagi aku hanya mengambil sampah itu dengan sarung tangan, memasukkannya ke kantong plastik bening, menuliskan tanggal, lalu menyimpannya.
Mungkin terdengar berlebihan.
Namun aku sudah belajar satu hal.
Kalau seseorang sedang mencoba membuatmu terlihat gila, hal paling berbahaya yang bisa kaulakukan adalah bertindak seperti orang gila.
Hari kelima, rencana mereka mulai terlihat.
Aku menerima surat elektronik dari pengelola apartemen.
Isinya pemberitahuan bahwa ada beberapa laporan mengenai perilakuku yang dianggap mengganggu kenyamanan penghuni.
Aku membacanya dua kali.
Menurut laporan tersebut, aku beberapa kali mendatangi unit 4B dengan nada tinggi, melakukan intimidasi, dan mengancam penghuni.
Aku hampir tertawa.
Tidak ada satu pun ancaman yang pernah keluar dari mulutku.
Yang lebih mengejutkan, terdapat dua saksi.
Salah satunya Pak Dimas.
Aku langsung memahami permainan mereka.
Mereka tidak sedang mencoba membuatku marah untuk hiburan.
Mereka sedang membangun catatan resmi tentang diriku.
Aku membalas surat itu dengan satu kalimat sederhana.
Saya bersedia menghadiri pertemuan klarifikasi. Mohon seluruh laporan, waktu kejadian, dan bukti pendukung disiapkan.
Tidak ada tuduhan balik.
Tidak ada cerita tentang kantong teh.
Belum.
Pertemuan dijadwalkan tiga hari kemudian.
Malam sebelum pertemuan, bel unitku berbunyi.
Ketika kulihat kamera pintu, Ardi berdiri di luar.
Aku tidak membuka pintu.
“Ada apa, Mas?”
Aku berbicara melalui interkom.
“Mbak, buka sebentar. Kita ngobrol baik-baik.”
“Bisa bicara dari situ.”
Dia terdiam.
Kemudian tersenyum ke kamera.
“Sebenarnya masalah kita sederhana. Mbak terlalu sensitif.”
Aku hampir kagum.
Bahkan sekarang dia masih mencoba memancingku.
“Kalau cuma itu, besok kita bicarakan di depan pengelola.”
Wajahnya berubah.
“Mbak yakin mau bawa ini ke pengelola?”
“Bukannya Mas yang melapor?”
Senyumnya hilang.
Untuk beberapa detik dia hanya menatap kamera.
Lalu dia mendekat.
“Saya cuma mau kasih saran. Kadang lebih baik tahu kapan harus pergi.”
Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat.
“Pergi ke mana?”
“Ya, siapa tahu Mbak kepikiran jual unit.”
Akhirnya.
Aku mendapat potongan yang selama ini hilang.
“Kenapa saya harus menjual?”
Ardi mengangkat bahu.
“Cuma saran.”
Dia berbalik dan pergi.
Aku menyimpan rekaman kamera pintu itu.
Besoknya, aku mulai mencari tahu.
Unitku memang bukan unit paling mewah. Luasnya hanya tujuh puluh dua meter persegi.
Tapi posisinya istimewa.
Unit 3B berada tepat di sebelah unit sudut 3A yang kosong hampir setahun.
Dan ternyata, dua bulan sebelumnya, 3A dibeli oleh sebuah perusahaan properti kecil bernama PT Reka Hunian Sentosa.
Aku mencari nama perusahaan itu.
Direkturnya seorang perempuan bernama Maya Pradipta.
Nama itu terasa familiar.
Setelah hampir satu jam mencari, aku menemukan foto lama sebuah acara penghuni apartemen.
Pak Dimas berdiri di samping seorang perempuan.
Keterangan fotonya berbunyi, Dimas Pradipta bersama adik, Maya Pradipta.
Aku bersandar di kursi.
Sekarang semuanya masuk akal.
Kalau perusahaan Maya bisa mendapatkan unitku, 3A dan 3B dapat direnovasi menjadi satu unit besar dengan luas hampir dua kali lipat. Posisi sudut, balkon lebar, dan pemandangan terbuka membuat nilainya jauh lebih tinggi.
Tiga bulan sebelumnya, seseorang memang pernah menghubungiku untuk membeli unit.
Aku menolak.
Dua minggu kemudian, Ardi pindah ke 4B.
Dan tak lama setelah itu, kantong teh mulai berjatuhan.
Pertemuan dengan pengelola diadakan pukul sepuluh pagi.
Ada manajer gedung, dua staf, Pak Dimas, Ardi, dan aku.
Ardi datang dengan wajah tenang.
Pak Dimas bahkan sempat tersenyum kepadaku.
“Mudah-mudahan hari ini kita bisa menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan.”
Aku mengangguk.
Manajer gedung membuka pertemuan dengan membacakan laporan.
Ardi mengatakan aku tiga kali mendatangi unitnya.
Benar.
Dia mengatakan aku marah.
Sebagian benar.
Lalu dia mengatakan aku mengancam akan membuat hidupnya tidak nyaman kalau dia tidak pindah.
Aku menatapnya.
“Mas punya bukti?”
Ardi terlihat tersinggung.
“Jadi Mbak bilang saya bohong?”
“Saya cuma bertanya apakah ada bukti.”
Pak Dimas langsung masuk.
“Tidak semua kejadian harus direkam. Saya sendiri pernah melihat Mbak keluar dari lift dalam keadaan emosi.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kapan?”
Dia menyebut tanggal.
Aku langsung membuka ponsel.
“Jam berapa?”
“Sekitar sembilan malam.”
Aku menunjukkan layar kepada manajer gedung.
“Malam itu saya berada di Bogor menghadiri ulang tahun ibu saya. Ini transaksi tol, pembayaran restoran, dan foto keluarga dengan data waktu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Dimas berdeham.
“Mungkin saya salah tanggal.”
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
Lalu aku mengeluarkan map.
“Sebelum kita lanjut, saya ingin menunjukkan alasan saya tiga kali mendatangi unit 4B.”
Aku meletakkan foto-foto kantong teh di atas meja.
Satu demi satu.
Kemudian noda pada handuk.
Bantalan kursi.
Tisu basah.
Ardi langsung berkata, “Itu tidak membuktikan saya yang buang.”
“Betul.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Makanya saya merekam.”
Video pertama diputar.
Terlihat tangan dari balkon atas menjatuhkan kantong teh.
Wajah Ardi langsung berubah.
Aku memutar video kedua.
Lalu ketiga.
Semua menunjukkan pola yang sama.
Manajer gedung menatap Ardi.
“Pak Ardi, ini bagaimana?”
Ardi tertawa gugup.
“Ya mungkin bercanda saja.”
Aku belum selesai.
Aku memutar rekaman pagi itu.
Suara Ardi terdengar jelas.
“Kalau dia akhirnya ngamuk, justru itu yang kita butuhkan.”
Lalu suara Pak Dimas.
Wajahnya langsung pucat.
Aku membiarkan rekaman terus berjalan sampai bagian pembicaraan tentang unitku terdengar.
Tak seorang pun bicara.
Pak Dimas akhirnya berdiri.
“Rekaman ini ilegal. Anda merekam percakapan pribadi.”
Aku menatapnya.
“Rekaman dibuat dari balkon saya ketika saya sedang merekam benda yang dijatuhkan ke area unit saya. Soal penilaian hukumnya, silakan kita serahkan kepada pihak yang berwenang.”
Dia kembali duduk.
Aku lalu menunjukkan informasi perusahaan milik Maya dan bukti bahwa perusahaan itu telah membeli unit 3A.
“Dan tiga bulan lalu saya menerima penawaran untuk menjual unit saya.”
Manajer gedung memijat pelipis.
“Pak Dimas, apakah Anda punya kepentingan dalam pembelian unit Bu?”
Pak Dimas tidak menjawab.
Ardi justru mulai panik.
“Pak, dari awal Bapak bilang cuma bikin dia nggak betah. Bapak nggak pernah bilang soal perusahaan adik Bapak.”
Semua kepala langsung menoleh kepadanya.
Pak Dimas membentak.
“Diam kamu!”
Terlambat.
Kalimat itu menjadi pengakuan paling penting pagi itu.
Ternyata Ardi bukan sekadar tetangga.
Dia menyewa 4B dengan harga murah melalui kenalan Pak Dimas. Sebagai gantinya, dia diminta membuatku tidak nyaman.
Awalnya hanya suara kursi digeser.
Kemudian puntung tisu.
Lalu kantong teh.
Tujuannya sederhana.
Membuatku marah, mengumpulkan laporan tentang perilakuku, kemudian menawarkan jalan keluar berupa pembelian unit dengan harga di bawah pasar.
Kalau aku menolak, tekanan akan terus meningkat.
Mereka hanya membuat satu kesalahan.
Mereka mengira karena aku diam, aku lemah.
Pertemuan itu berakhir jauh berbeda dari yang mereka rencanakan.
Pak Dimas dinonaktifkan sementara dari kepengurusan paguyuban sambil menunggu pemeriksaan internal.
Pengelola memberikan surat peringatan kepada Ardi terkait pelanggaran tata tertib dan pembuangan benda dari balkon.
Aku juga membuat laporan resmi agar seluruh kejadian tercatat.
Dua minggu kemudian, Pak Dimas mengundurkan diri dari paguyuban.
Tidak lama setelah itu, Ardi pindah.
Kupikir semuanya selesai.
Sampai suatu sore aku menerima telepon dari seorang perempuan.
Namanya Maya.
Adik Pak Dimas.
“Saya ingin minta maaf,” katanya.
Aku langsung waspada.
“Untuk apa?”
“Karena nama perusahaan saya ikut terseret.”
Aku diam.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
Dia memang membeli unit 3A.
Dia memang pernah tertarik membeli unitku.
Tapi dia tidak pernah meminta kakaknya menekan atau menggangguku.
“Mas Dimas bilang pemilik 3B memang sedang berniat menjual. Dia bilang hanya membantu negosiasi.”
Aku tidak langsung percaya.
Sampai Maya mengirimkan percakapan WhatsApp mereka.
Di sana jelas terlihat Pak Dimas berkali-kali meyakinkan adiknya bahwa aku sedang membutuhkan uang dan kemungkinan akan menjual murah.
Maya bahkan pernah menulis, Kalau pemiliknya tidak mau jual, jangan dipaksa.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Jadi rencana itu bahkan lebih menyedihkan daripada yang kubayangkan.
Pak Dimas melakukan semuanya bukan karena diminta adiknya.
Dia ingin mendapatkan komisi dari transaksi tersebut dan membuktikan bahwa dirinya mampu memperoleh unitku dengan harga murah.
Keserakahan kecil telah membuat seorang lelaki yang kukenal bertahun-tahun berubah menjadi orang yang rela meneror tetangganya sendiri.
Enam bulan berlalu.
Unit 3A akhirnya dijual lagi.
Lucunya, aku yang membelinya.
Bukan karena dendam.
Aku sudah lama menabung dan melihatnya sebagai investasi yang bagus. Setelah semua masalah selesai, pemiliknya menawarkan harga yang masuk akal dan aku mengambil kesempatan itu.
Sekarang balkon 3A dan 3B sama-sama milikku.
Suatu Minggu pagi, aku duduk di sana sambil minum teh.
Sekitar pukul tujuh lewat empat menit, aku selesai menyeduh.
Aku mengangkat kantong teh dari cangkir.
Untuk sesaat, aku teringat semua yang terjadi.
Aku tersenyum kecil.
Lalu memasukkannya ke tempat sampah.
Sesederhana itu.
Beberapa masalah dalam hidup memang bermula dari hal kecil.
Kantong teh.
Kalimat meremehkan.
Senyum sinis.
Atau seseorang yang yakin kita tidak akan melawan.
Namun aku belajar bahwa melawan tidak selalu berarti berteriak lebih keras.
Kadang kita hanya perlu diam cukup lama untuk melihat pola, menyimpan bukti, dan membiarkan orang yang merasa paling pintar membuka kedoknya sendiri.
Sebab orang yang sengaja memancing amarah kita biasanya sudah menyiapkan cerita tentang bagaimana buruknya kita ketika marah.
Jangan berikan mereka cerita itu.
Berikan mereka bukti.
