DI BAWAH HUJAN, AKU MENEMUKAN IBUKU MENJUAL KOPI DI JAKARTA SETELAH 5 TAHUN DIKIRA KABUR, SEMENTARA PAMANKU MENIKMATI UANG Rp3,2 MILIAR MILIK KELUARGA KAMI!

Hujan masih menghantam atap seng kontrakan ketika Aris menekan nomor yang tercetak pada kartu nama kusam itu.

Tangannya gemetar.

Lima tahun terakhir hidupnya seolah sedang dibongkar satu per satu di hadapannya. Ibunya ternyata tidak kabur. Rumah keluarga tidak dijual olehnya. Uang Rp3,2 miliar tidak pernah dibawanya pergi.

Dan orang yang selama ini Aris anggap sebagai penyelamat justru mungkin menjadi dalang di balik semuanya.

Telepon tersambung setelah tiga kali dering.

“Halo?”

“Apakah ini Pak Bambang Kencana?”

Suara di seberang langsung terdiam.

“Siapa ini?”

“Saya Aris Wijaya. Anak Hendra Wijaya.”

Keheningan berlangsung cukup lama hingga Aris sempat mengira sambungan terputus.

Lalu suara pria tua itu berubah.

“Kamu akhirnya menelepon.”

Aris menatap Rahma.

“Apa maksud Bapak?”

“Jangan bicara melalui telepon. Besok pukul sembilan pagi datang ke kantor saya. Datang sendiri.”

Rahma segera menggeleng.

“Bilang Ibu ikut.”

Aris menyampaikannya.

Bambang kembali terdiam.

“Kalau Rahma masih hidup, bawa dia.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Aris berdiri.

Keesokan paginya, Aris dan Rahma mendatangi sebuah kantor notaris tua di kawasan Menteng. Bambang Kencana sudah menunggu di ruangannya.

Usianya hampir tujuh puluh tahun. Begitu melihat Rahma, pria itu berdiri perlahan.

“Saya pikir mereka berhasil membuat Ibu menghilang selamanya.”

Aris menoleh cepat.

“Mereka?”

Bambang tidak menjawab. Dia membuka brankas kecil di belakang meja dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang telah menguning.

Di bagian depan tertulis nama Aris dengan tulisan tangan ayahnya.

Aris langsung mengenalinya.

Tangannya semakin gemetar saat membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat sebuah surat, sebuah flashdisk, dan salinan akta perusahaan.

Aris membaca surat tersebut.

Aris, kalau kamu membaca surat ini, berarti Ayah gagal menyelesaikan masalah ini sendiri. Jangan percaya kepada siapa pun hanya karena dia keluarga. Periksa bukti, bukan kata-kata.

Napas Aris tercekat.

Bambang kemudian memasukkan flashdisk ke laptop.

Sebuah rekaman suara diputar.

Suara Hendra terdengar serak.

“Rian mulai memindahkan uang perusahaan melalui vendor fiktif. Saya menemukan tiga perusahaan yang semuanya terhubung dengannya. Kalau sesuatu terjadi kepada saya, jangan serahkan saham Rahma atau Aris kepada Rian.”

Aris menutup mulutnya.

Rahma menunduk. Air matanya jatuh tanpa suara.

Namun rekaman belum selesai.

“Rahma tidak tahu saya membuat rekaman ini. Saya sengaja tidak memberitahunya. Kalau Rian tahu Rahma memiliki bukti, dia akan mengejarnya.”

Aris memandang ibunya.

Untuk pertama kalinya, dia memahami kenapa Rahma memilih hidup bersembunyi.

Bambang membuka dokumen terakhir.

“Ayahmu memiliki empat puluh delapan persen saham perusahaan. Dua puluh empat persen diwariskan kepadamu dan dua puluh empat persen kepada ibumu. Rian hanya memiliki dua belas persen.”

“Lalu kenapa sekarang dia mengendalikan perusahaan?”

“Karena selama lima tahun dia menggunakan surat kuasa palsu atas nama ibumu dan membuatmu menandatangani berbagai dokumen tanpa menjelaskan isinya.”

Aris teringat tumpukan dokumen yang sering diberikan Rian.

“Paman bilang itu laporan tahunan.”

“Sebagian memang laporan tahunan,” jawab Bambang. “Sebagian lagi persetujuan keputusan pemegang saham.”

Aris merasa mual.

“Tapi kenapa dia masih membutuhkan tanda tanganku?”

Bambang dan Rahma saling berpandangan.

“Karena ada satu hal yang tidak bisa dia palsukan,” kata Bambang.

Bambang menunjukkan sebuah klausul dalam akta pendirian perusahaan.

Pengalihan saham milik keluarga Hendra kepada pihak lain harus mendapat persetujuan langsung seluruh ahli waris.

Rian selama ini hanya menguasai perusahaan secara operasional. Secara hukum, dia belum memilikinya.

Aris akhirnya memahami semuanya.

Rian membangun kebohongan selama lima tahun agar suatu hari Aris sendiri menyerahkan perusahaan kepadanya.

Dan hari itu ternyata datang lebih cepat dari perkiraan.

Ponsel Aris berdering.

Nama Rian muncul di layar.

Aris memandang Rahma sebelum menjawab.

“Halo, Paman.”

“Ris, malam ini datang ke rumah. Ada dokumen restrukturisasi perusahaan yang harus kamu tanda tangani. Penting.”

Aris menahan napas.

“Dokumen apa?”

Rian tertawa kecil.

“Kamu sejak kapan tertarik urusan begituan? Tinggal tanda tangan seperti biasanya. Paman sudah urus semuanya.”

Aris menatap Bambang.

“Baik. Jam delapan saya datang.”

Setelah telepon ditutup, Rahma langsung berkata, “Jangan tanda tangan apa pun.”

Namun Aris justru menatap dokumen di meja.

“Kalau kita menolak sekarang, dia akan tahu kita sudah menemukan semuanya.”

Bambang memahami maksudnya.

“Kamu ingin membuat dia bicara.”

Aris mengangguk.

Malam itu Aris datang ke rumah Rian di kawasan Kemang.

Rumah tiga lantai itu membuat dadanya terasa panas.

Di halaman terparkir dua mobil mewah. Kolam renang terlihat dari ruang keluarga. Jam tangan di pergelangan Rian saja mungkin bernilai lebih mahal daripada seluruh isi kontrakan Rahma.

Ironisnya, selama bertahun-tahun Rian selalu mengatakan bisnis sedang sulit.

“Keponakan kesayangan Paman datang juga.”

Rian menuangkan minuman.

Di meja sudah tersedia map hitam.

“Ini tinggal tanda tangan.”

Aris duduk.

Dia membuka dokumen perlahan.

Benar.

Pengalihan saham.

Namun Aris berpura-pura tidak memahami.

“Kalau saya tanda tangan, saham saya bagaimana?”

“Tetap aman.”

“Atas nama siapa?”

Rian mulai kehilangan kesabaran.

“Perusahaan holding. Cuma restrukturisasi pajak.”

Aris mengeluarkan pena.

“Kalau saham Ibu?”

Gerakan Rian berhenti.

Untuk sesaat, wajah ramahnya menghilang.

“Kenapa tiba-tiba membahas perempuan itu?”

“Saya cuma penasaran.”

Rian bersandar.

“Aris, dengarkan Paman. Ibumu meninggalkanmu. Dia mengambil uang Rp3,2 miliar dan memilih laki-laki lain daripada anaknya sendiri.”

Aris menatap mata Rian.

“Kalau begitu kenapa tanda tangan Ibu pada surat pelepasan rumah ternyata palsu?”

Wajah Rian langsung berubah.

Hanya sepersekian detik.

Namun Aris melihatnya.

“Apa maksudmu?”

Aris meletakkan pena.

“Saya bertemu Ibu.”

Rian berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

“Di mana?”

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Bukan “Rahma masih hidup?”

Bukan “Bagaimana keadaannya?”

Melainkan “Di mana?”

Aris tersenyum pahit.

“Kenapa Paman kelihatan takut?”

Rian berjalan mengunci pintu ruang kerja.

“Aris, kamu tidak mengerti. Ibumu manipulatif.”

“Lebih manipulatif daripada memblokir tujuh belas teleponnya?”

Rian membeku.

“Lebih manipulatif daripada memindahkan Rp3,2 miliar ke perusahaan cangkang?”

Wajah Rian memerah.

“Siapa yang memberimu dokumen itu?”

“Lebih manipulatif daripada memalsukan tanda tangannya?”

Rian menghantam meja.

“Cukup!”

Untuk pertama kalinya, topeng paman penyayang itu benar-benar runtuh.

“Kamu pikir ayahmu orang suci?”

Aris terdiam.

Rian tertawa sinis.

“Perusahaan itu dibangun kami berdua. Tapi semua orang hanya mengenal Hendra Wijaya. Dia yang dapat penghargaan, dia yang masuk majalah, dia yang dipanggil Pak Hendra. Aku apa? Adiknya.”

“Jadi Paman mencuri uangnya?”

“Aku mengambil bagian yang seharusnya menjadi milikku!”

“Dan menghancurkan hidup Ibu?”

Rian mendekat.

“Rahma terlalu pintar. Dia mulai menemukan transaksi. Jadi aku harus membuatnya terlihat sebagai pelaku sebelum dia membongkar semuanya.”

Aris merasakan kemarahan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Lalu saya?”

Rian terdiam.

“Kamu mudah dikendalikan.”

Empat kata itu jauh lebih menyakitkan daripada semua kebohongan sebelumnya.

Aris menunduk.

“Jadi rumah saya, pekerjaan saya, semua bantuan Paman selama ini…”

“Dibayar dengan uang keluargamu sendiri.”

Suara itu datang dari belakang.

Rian berbalik.

Pintu ruang kerja terbuka.

Rahma berdiri di sana bersama Bambang dan dua penyidik kepolisian.

Wajah Rian langsung pucat.

Ternyata Aris sengaja tidak menutup sempurna pintu setelah masuk. Ponselnya yang diletakkan di saku kemeja juga sejak awal merekam seluruh percakapan.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Seorang perempuan berjalan masuk dari lorong.

“Sita?”

Aris berdiri.

Istrinya membawa sebuah laptop.

Wajahnya basah oleh air mata.

“Maaf aku tidak bilang.”

Aris kebingungan.

Sita membuka laptop dan menunjukkan sederet file.

Selama hampir dua tahun bekerja di bagian administrasi perusahaan, Sita ternyata mulai mencurigai transaksi mencurigakan yang diperintahkan langsung oleh Rian.

Awalnya dia mengira hanya kesalahan pembukuan.

Namun tiga bulan terakhir, dia diam-diam menyalin invoice, surat perintah pembayaran, dan komunikasi internal.

“Aku takut memberitahumu karena setiap kali aku mempertanyakan Paman Rian, kamu selalu membelanya.”

Aris tidak bisa menyangkalnya.

Rian mundur beberapa langkah.

“Kalian tidak bisa membuktikan uang itu masuk kepadaku.”

Rahma menatapnya tenang.

“Benar.”

Rian tersenyum.

Senyum itu hanya bertahan dua detik.

Rahma melanjutkan.

“Karena uang itu tidak langsung masuk kepadamu.”

Dia mengeluarkan satu dokumen terakhir.

“Uang itu masuk ke perusahaan milik seseorang bernama Dewi Serrano.”

Rian kehilangan warna wajah.

Aris mengernyit.

“Siapa Dewi Serrano?”

Rahma menatap Rian.

“Istrinya.”

Aris terkejut.

“Bu Maya?”

Rahma menggeleng.

“Bukan Maya.”

Ternyata selama sebelas tahun Rian memiliki pernikahan lain yang disembunyikan di luar Jakarta. Dewi adalah istri yang tidak pernah diperkenalkan kepada keluarga besar, sekaligus pemilik sah dua perusahaan cangkang yang menerima sebagian besar uang tersebut.

Rian terduduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak memiliki jawaban.

Penyidikan yang berlangsung berbulan-bulan kemudian membuka semuanya.

Pemalsuan dokumen.

Penggelapan aset.

Manipulasi laporan perusahaan.

Penggunaan perusahaan cangkang.

Dan pengalihan uang keluarga.

Sebagian aset berhasil dibekukan sebelum dipindahkan lagi.

Rumah keluarga Hendra akhirnya kembali ke tangan Rahma dan Aris setelah proses hukum panjang.

Namun Rahma tidak pernah kembali tinggal di sana.

Suatu sore, Aris menemukannya sedang membereskan warung kopi di Tebet.

“Ibu bisa berhenti jualan sekarang.”

Rahma tersenyum.

“Kenapa harus berhenti?”

“Kita sudah mendapatkan kembali sebagian uang Ayah.”

Rahma menutup termos kopi.

“Selama lima tahun, warung ini membuat Ibu tetap makan ketika semua orang menganggap Ibu pencuri. Uang bisa kembali, Ris. Tapi harga diri yang kita bangun sendiri jangan dibuang hanya karena kita kembali punya uang.”

Aris terdiam.

Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Papan nama baru.

Rahma membaca tulisan di atasnya.

Kopi Hendra dan Rahma.

Matanya langsung berkaca-kaca.

Aris memasang papan itu di depan warung.

Beberapa bulan kemudian, warung kecil tersebut berkembang menjadi kedai sederhana. Bukan karena mereka membutuhkan uang, tetapi karena Rahma tidak ingin melupakan tempat yang membuatnya bertahan.

Aris juga memilih meninggalkan posisi pemberian Rian dan membangun kembali perusahaan ayahnya bersama Sita dengan sistem audit yang jauh lebih ketat.

Suatu malam, ketika kedai hampir tutup, Aris bertanya kepada ibunya tentang satu hal yang selama ini masih mengganggunya.

“Bu, kalau hari itu saya tidak berteduh di depan apotek, bagaimana?”

Rahma tersenyum.

“Kamu tetap akan menemukan Ibu.”

“Bagaimana Ibu tahu?”

Rahma mengambil buku hitam dari bawah meja.

Di halaman terakhir terdapat sebuah alamat.

Alamat rumah Aris.

Di bawahnya tertulis satu tanggal.

Hari Senin setelah mereka bertemu di Pasar Tebet.

Aris menatap ibunya.

Rahma tersenyum sambil mengusap rambut anaknya seperti ketika Aris masih kecil.

“Ibu sudah mengumpulkan bukti yang cukup. Senin itu Ibu memang berencana mengetuk pintu rumahmu.”

Aris tidak sanggup berkata apa-apa.

Selama lima tahun dia mengira ibunya telah meninggalkannya.

Padahal selama lima tahun pula, Rahma hidup dalam bayang-bayang, mengumpulkan bukti sedikit demi sedikit, menunggu hari ketika dia bisa kembali bukan hanya sebagai seorang ibu yang meminta dipercaya, tetapi sebagai seorang perempuan yang mampu membuktikan kebenaran.

Hujan yang mempertemukan mereka sore itu ternyata hanya mempercepat kepulangan Rahma beberapa hari.

Aris akhirnya memahami pesan terakhir ayahnya.

Darah memang bisa menjadikan seseorang keluarga.

Tetapi darah tidak menjamin kesetiaan.

Dan terkadang orang yang terlihat meninggalkan kita justru sedang berjuang paling keras untuk menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang