DI PEMAKAMAN CUCUKU YANG BERUSIA 7 TAHUN, AKU MEMBUNGKUK UNTUK MENCIUM KENINGNYA UNTUK TERAKHIR KALI DI DALAM PETI MATI. TIBA-TIBA MATANYA TERBUKA.

Suara sirene semakin dekat, tetapi bukannya merasa lega, aku justru semakin takut.

Di balik pintu ruang cuci, Ardi tidak lagi memukul-mukul pintu. Keheningan yang muncul setelah itu terasa jauh lebih mengerikan.

Alya gemetar dalam pelukanku.

“Nek…” bisiknya.

“Iya, Sayang.”

“Ayah marah?”

Aku menahan air mata.

“Tidak ada yang boleh menyakitimu lagi.”

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari ruang tamu.

Lalu langkah kaki berlari.

“Ardi!” teriak Rina. “Kamu mau ke mana?”

“Diam!”

Aku langsung mengerti.

Ardi hendak kabur.

Beberapa detik kemudian, suara sirene berhenti tepat di depan rumah. Cahaya merah dan biru memantul melalui jendela kecil ruang cuci.

Terdengar gedoran keras dari pintu depan.

“Polisi! Buka pintu!”

Aku berteriak sekuat tenaga.

“Saya di belakang! Ruang cuci!”

Terdengar keributan.

Seseorang berlari.

Kemudian suara seorang pria membentak.

“Berhenti!”

Aku memeluk Alya erat-erat sambil menunggu.

Tidak sampai satu menit, terdengar ketukan di pintu ruang cuci.

“Ibu, kami dari kepolisian. Anda aman. Bisa buka pintunya?”

Aku masih ragu.

“Ardi di mana?”

“Sudah kami amankan.”

Barulah aku membuka pintu.

Dua polisi berdiri di luar bersama petugas medis. Begitu mereka melihat Alya dalam pelukanku, ekspresi mereka berubah.

Seorang paramedis perempuan segera mendekat.

“Boleh saya periksa anaknya?”

Aku menyerahkan Alya dengan berat hati.

Namun ketika paramedis itu hendak membawanya ke tandu, Alya menjerit.

“Jangan!”

Tangannya mencengkeram bajuku.

“Jangan bawa Alya!”

“Alya, mereka mau menolongmu.”

“Rumah sakit?”

“Iya.”

Wajahnya langsung pucat.

“Jangan rumah sakit yang Ayah pilih.”

Semua orang terdiam.

Seorang polisi yang berdiri di dekatku menatap Alya.

“Kenapa?”

Alya menutup mulutnya.

Dia tidak mau menjawab.

Petugas medis akhirnya membiarkanku ikut masuk ke ambulans. Polisi mengatakan Ardi ditahan sementara setelah mencoba keluar melalui garasi belakang. Rina masih berada di dalam rumah untuk dimintai keterangan.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku terus menggenggam tangan Alya.

Tekanan darahnya rendah. Tubuhnya mengalami dehidrasi berat. Dokter jaga yang menerima kami mengatakan ada kemungkinan obat penenang masih berada dalam sistem tubuhnya.

Aku tidak bisa memahami bagaimana seorang ayah bisa melakukan itu kepada anaknya sendiri.

Anakku.

Ardi yang dulu menangis ketika lututnya terluka karena jatuh dari sepeda.

Ardi yang pernah bekerja sambilan saat kuliah karena tidak mau membebaniku setelah ayahnya meninggal.

Kapan anak yang kubesarkan berubah menjadi seseorang yang sanggup memasukkan putrinya sendiri ke dalam peti mati?

Menjelang pukul dua dini hari, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

“Bu Ratna?”

Aku langsung berdiri.

“Bagaimana cucu saya?”

“Untuk sementara kondisinya stabil. Kami menemukan indikasi bahwa dia diberikan kombinasi obat yang menekan sistem saraf. Dosisnya tidak langsung mematikan, tetapi cukup untuk membuat seseorang tampak tidak responsif.”

“Jadi dia sengaja dibuat terlihat meninggal?”

Dokter itu berhati-hati menjawab.

“Kami perlu pemeriksaan toksikologi untuk memastikan semuanya.”

Aku mengangguk.

“Boleh saya menemuinya?”

“Sebentar lagi.”

Ketika akhirnya aku masuk, Alya terbaring di tempat tidur dengan infus terpasang di tangan.

Matanya terbuka.

“Nenek.”

Aku duduk di sampingnya.

“Nenek di sini.”

“Nenek marah sama Alya?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada apa pun.

“Kenapa Nenek harus marah?”

“Karena Alya buka mata.”

Aku menggenggam tangannya.

“Sayang, dengarkan Nenek. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Alya diam lama.

Kemudian dia bertanya pelan, “Kalau Alya cerita semuanya, Ayah masuk penjara?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Ceritakan yang benar. Orang dewasa nanti yang menentukan.”

Dia menatap langit-langit.

“Ayah bilang kalau Alya cerita, Nenek juga akan hilang.”

Aku merasakan tengkukku merinding.

“Cerita tentang apa?”

Bibirnya bergetar.

“Tante Maya.”

Aku mengenal nama itu.

Maya adalah adik Rina.

Dua tahun sebelumnya, perempuan itu dikabarkan pindah ke Singapura setelah bertengkar dengan keluarganya. Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya lagi.

“Kenapa dengan Tante Maya?”

Alya menoleh ke arah pintu.

Aku bangkit dan memastikan tidak ada siapa pun di luar.

“Alya pernah lihat Tante Maya jatuh.”

“Jatuh di mana?”

“Di rumah.”

“Rumah kalian?”

Dia mengangguk.

“Ayah sama Ibu bertengkar sama Tante Maya. Alya dengar Tante Maya bilang uang perusahaan bukan punya Ayah.”

Napas Alya mulai cepat.

Aku segera membelai rambutnya.

“Tidak perlu dipaksakan.”

Tetapi dia justru menggenggam tanganku lebih erat.

“Tante Maya bilang dia punya bukti. Terus Ayah marah. Tante Maya mau pergi. Ibu pegang tangannya. Ayah ambil sesuatu dari meja.”

“Apa?”

“Alya tidak tahu.”

Dia mulai menangis.

“Terus Tante Maya jatuh dari tangga.”

Aku membeku.

“Setelah itu?”

“Ayah lihat Alya.”

Alya menutup wajahnya.

“Dia bilang Tante Maya cuma kecelakaan. Alya tidak boleh cerita ke siapa-siapa.”

Aku merasa seluruh ruangan berputar.

“Terus Tante Maya ke mana?”

“Ayah bilang Tante Maya pergi ke Singapura.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, pintu terbuka.

Seorang penyidik masuk bersama seorang perempuan dari unit perlindungan anak.

Mereka mengatakan ingin berbicara denganku terlebih dahulu.

Di lorong rumah sakit, aku menceritakan semua yang baru saja dikatakan Alya.

Penyidik itu bernama Inspektur Dimas.

Wajahnya berubah serius ketika mendengar nama Maya.

“Apakah Anda yakin Maya dikatakan pindah ke Singapura?”

“Ya.”

“Apakah keluarga pernah berbicara langsung dengannya setelah itu?”

Aku mencoba mengingat.

Rina beberapa kali mengatakan Maya mengirim pesan.

Namun aku sendiri tidak pernah berbicara dengannya.

“Tidak.”

Dimas mencatat sesuatu.

Kemudian dia menatapku.

“Bu Ratna, ada hal lain yang perlu Anda ketahui. Saat kami memeriksa rumah, kami menemukan beberapa obat di kamar utama. Sebagian kemasannya berasal dari sebuah klinik swasta.”

“Dokter Alya?”

“Bukan.”

Dia menyebut nama klinik itu.

Aku mengenalnya.

Klinik tersebut dimiliki salah satu rekan bisnis Ardi.

Tiba-tiba semuanya mulai terasa jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Menjelang pagi, polisi kembali ke rumah Ardi dengan surat penggeledahan.

Aku tetap menemani Alya di rumah sakit.

Namun sekitar pukul tujuh, Dimas menelepon.

“Bu Ratna, kami menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Di ruang kerja Ardi ada brankas tersembunyi.”

Di dalamnya terdapat dokumen perusahaan, beberapa paspor, obat-obatan, dan sebuah ponsel lama.

Ponsel itu milik Maya.

Pesan terakhir yang pernah dikirim dari nomor Maya kepada keluarga ternyata dikirim setelah tanggal ketika Alya mengaku melihatnya jatuh dari tangga.

Seseorang selama ini berpura-pura menjadi Maya.

Tetapi penemuan paling mengerikan justru berasal dari kamera keamanan lama yang tersimpan di server rumah.

Ardi mengira semua rekaman dari dua tahun sebelumnya telah dihapus.

Ternyata sebagian masih tersimpan dalam cadangan otomatis.

Rekaman itu menunjukkan Maya datang ke rumah membawa map.

Dia berdebat dengan Ardi dan Rina.

Tidak ada rekaman langsung dari tangga karena sudut kamera terhalang.

Namun sebelas menit kemudian, kamera garasi merekam Ardi membawa sesuatu yang dibungkus karpet bersama seorang pria lain.

Polisi mulai melakukan pencarian.

Siang harinya, Rina akhirnya meminta pengacara.

Ardi menolak berbicara.

Namun masalah mereka belum selesai.

Karena ketika polisi memeriksa laptop Ardi, mereka menemukan riwayat pencarian mengenai obat yang dapat memperlambat pernapasan, membuat seseorang kehilangan kesadaran, dan sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan khusus.

Pencarian itu dilakukan beberapa minggu sebelum Alya dinyatakan meninggal.

Aku muntah ketika mendengarnya.

Mereka memang merencanakannya.

Tetapi satu pertanyaan terus menghantuiku.

Mengapa harus membuat Alya seolah-olah meninggal?

Kenapa tidak membunuhnya?

Jawabannya muncul dua hari kemudian.

Alya sudah jauh lebih sehat ketika Dimas kembali ke rumah sakit.

Dia membawa sebuah dokumen.

“Bu Ratna, Ardi memiliki polis asuransi atas nama Alya.”

Aku langsung mengerti.

“Uang?”

“Nilainya besar. Tetapi itu bukan alasan utamanya.”

Dimas meletakkan dokumen lain di meja.

Ternyata beberapa bulan sebelum menghilang, Maya telah mengubah struktur kepemilikan saham perusahaan keluarga.

Jika sesuatu terjadi kepada Maya, sebagian sahamnya akan masuk ke sebuah perwalian atas nama Alya.

Ardi hanya menjadi pengelola sementara.

Saat Alya mencapai usia tertentu, kendali atas saham tersebut akan beralih kepadanya.

Namun terdapat klausul lain.

Jika Alya meninggal sebelum mencapai usia tersebut, saham itu kembali dibagikan kepada ahli waris keluarga.

Termasuk Rina.

Aku menatap dokumen itu lama.

“Mereka ingin mendapatkan sahamnya?”

“Dugaan kami begitu.”

“Tapi kenapa Alya masih hidup di dalam peti?”

Dimas menarik napas.

“Kami menemukan komunikasi antara Ardi dan seseorang dari rumah duka. Peti itu seharusnya ditutup permanen sebelum pemakaman. Ada rencana untuk mempercepat proses pemakaman dengan alasan penyakit menular.”

Aku tidak sanggup berkata-kata.

Mereka tidak perlu membunuh Alya dengan tangan mereka sendiri.

Mereka hanya perlu membuat semua orang percaya dia sudah meninggal.

Kemudian membiarkan peti itu melakukan sisanya.

Malam itu aku duduk di samping Alya sampai dia tertidur.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, wajahnya terlihat tenang.

Aku mengira rahasia terburuk sudah terbongkar.

Ternyata aku salah.

Seminggu kemudian, polisi menemukan jasad Maya.

Bukan jauh dari Surabaya.

Bukan di tempat terpencil.

Dia ditemukan terkubur di bawah lantai gudang lama milik salah satu perusahaan Ardi.

Pria yang terlihat membantu Ardi di rekaman garasi akhirnya ditangkap dan memilih bekerja sama dengan polisi.

Dari kesaksiannya terungkap bahwa kematian Maya awalnya memang tidak direncanakan.

Pertengkaran berubah menjadi kekerasan.

Maya jatuh dan meninggal.

Namun setelah itu Ardi memilih menutupi semuanya.

Rina ikut membantu karena takut skandal tersebut menghancurkan keluarga dan perusahaan.

Selama hampir dua tahun mereka hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Sampai Alya mulai menggambar.

Gambar tangga.

Gambar seorang perempuan tergeletak.

Gambar ayahnya membawa gulungan besar menuju mobil.

Guru Alya mulai bertanya.

Alya mulai bicara kepada konselor sekolah.

Saat itulah Ardi panik.

Namun ada satu hal yang bahkan polisi tidak tahu sampai Alya sendiri mengatakannya kepadaku.

Suatu sore, ketika kami sedang duduk di taman rumah sakit, dia berkata, “Nek, waktu di peti sebenarnya Alya sudah bangun sebelum Nenek datang.”

Aku menatapnya.

“Berapa lama?”

“Tidak tahu.”

“Kenapa kamu tidak berteriak?”

“Ayah bilang kalau Alya bangun, Nenek akan ikut mati.”

Aku menahan tangis.

“Terus kenapa akhirnya kamu menggaruk peti?”

Alya menatapku dengan mata beningnya.

“Karena Alya dengar Nenek nangis.”

Aku tidak mampu menahan air mata lagi.

Dia melanjutkan.

“Alya pikir kalau Nenek masih ada, mungkin Ayah bohong.”

Kalimat seorang anak tujuh tahun itulah yang akhirnya menyelamatkan dirinya.

Bukan polisi.

Bukan dokter.

Bukan teknologi.

Keberaniannya untuk meragukan ketakutan yang selama berbulan-bulan ditanamkan kepadanya.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Ardi dan Rina dimulai.

Aku tidak pernah menghadiri semua persidangan.

Aku hanya datang ketika dibutuhkan.

Melihat anakku duduk sebagai terdakwa adalah rasa sakit yang tidak pernah bisa kujelaskan.

Pada suatu hari, sebelum sidang dimulai, Ardi menatapku dari kejauhan.

“Ibu.”

Aku berhenti.

Wajahnya tampak jauh lebih tua.

“Ibu benar-benar akan membiarkan mereka menghancurkan hidupku?”

Aku menatapnya lama.

Kemudian aku menjawab, “Hidupmu tidak dihancurkan ketika polisi datang, Ardi. Hidupmu hancur saat kamu memutuskan bahwa menyelamatkan dirimu lebih penting daripada menyelamatkan anakmu.”

Dia menunduk.

Aku pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Hak asuh Alya akhirnya diberikan kepadaku untuk sementara, lalu menjadi permanen setelah proses hukum selesai.

Kami pindah dari rumah besar itu.

Aku menjual sebagian besar barang yang mengingatkannya pada masa lalu dan memilih rumah yang jauh lebih sederhana.

Pada minggu pertama, Alya sulit tidur tanpa lampu menyala.

Dia takut pintu dikunci.

Takut minum obat.

Takut mendengar langkah kaki di tangga.

Kami menjalani terapi perlahan.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Sampai suatu pagi aku melihatnya berlari di halaman sambil tertawa mengejar kupu-kupu.

Aku berdiri di ambang pintu dan menangis.

Bukan karena sedih.

Karena untuk pertama kalinya aku melihat cucuku kembali menjadi anak berusia tujuh tahun.

Setahun kemudian, pada hari ulang tahunnya yang kedelapan, Alya meminta sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Nek, Alya mau bunga lili putih.”

Aku terdiam.

Bunga yang sama memenuhi ruangan tempat petinya dulu diletakkan.

“Kamu yakin?”

Dia mengangguk.

Kami membeli satu pot kecil.

Sesampainya di rumah, Alya menanamnya di halaman.

Aku membantunya menggali tanah.

Setelah selesai, dia menepuk-nepuk tanah dengan kedua tangannya lalu berkata, “Dulu bunga ini buat orang mengira Alya sudah meninggal.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

Dia tersenyum.

“Sekarang bunga ini buat ingetin kalau Alya masih hidup.”

Aku memeluknya.

Namun sebelum kami masuk ke rumah, Alya berlari kembali ke tanaman itu dan meletakkan sesuatu di dekat batangnya.

Sebuah kunci kecil.

Aku langsung mengenalinya.

Kunci yang dahulu kugunakan untuk membuka pengikat di dalam peti.

Aku tidak tahu dia menyimpannya.

“Kenapa ditaruh di situ?”

Alya menatapku.

“Karena Alya sudah tidak butuh kunci itu lagi.”

Dia kemudian menggenggam tanganku dan menarikku masuk ke rumah.

Kunci kecil itu tetap berada di bawah bunga lili.

Bertahun-tahun kemudian, bunga itu terus tumbuh dan berbunga setiap musimnya.

Dan setiap kali melihatnya, aku selalu teringat malam ketika seluruh keluarga bersiap menguburkan seorang anak yang sebenarnya masih hidup.

Malam ketika sebuah goresan kecil dari dalam peti membongkar kebohongan yang telah disimpan selama bertahun-tahun.

Namun yang paling kuingat bukanlah peti itu.

Bukan Ardi.

Bukan Rina.

Bukan pula rahasia mengerikan yang mereka sembunyikan.

Aku mengingat pertanyaan pertama Alya ketika membuka mata.

“Nenek, sekarang aku sudah boleh bangun?”

Dan setiap kali kenangan itu datang, aku selalu berharap seandainya malam itu aku bisa memberikan jawaban yang lebih baik.

Karena sekarang aku tahu apa yang seharusnya kukatakan.

Tidak ada seorang pun yang berhak membuat seorang anak merasa harus meminta izin untuk tetap hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang