DITUDUH MENCURI JAM MEWAH SENILAI Rp750 JUTA DAN DIUSIR DARI MANSION MEWAH DI PONDOK INDAH, WANITA INI JUSTRU DIKEJAR DUA ANAK KEMBAR KECIL BERBAJU BATIK YANG NEKAT MELOMPAT DARI JENDELA KACA DEMI MENYELAMATKANNYA DARI FITNAH KEJAM!

Kalimat terakhir Rehan membuat udara sore itu seakan berhenti bergerak.

Pak Surya menatap putranya dengan wajah pucat. Ponsel yang sejak tadi digenggamnya perlahan turun.

“Rem mobil Maya… dirusak?”

Rehan mengangguk sambil terisak.

“Aku dengar Tante Siska bilang, setelah Ibu Maya pergi, semuanya akan terlihat seperti kecelakaan.”

Tubuhku mendadak dingin.

Mobil tua yang dimaksud Rehan terparkir tak jauh dari gerbang mansion. Beberapa menit sebelumnya aku memang berniat membawa mobil itu, tetapi karena tanganku masih basah dan pikiranku kacau, aku memilih berjalan sambil menarik koper.

Kalau tadi aku langsung mengendarainya…

Aku bahkan tidak berani melanjutkan pikiran itu.

Pak Surya berjongkok di depan kedua anaknya.

“Rizky, Rehan. Papa perlu kalian jujur. Kalian benar-benar melihat Siska memasukkan jam itu ke tas Ibu Maya?”

“Iya, Pa,” jawab Rizky cepat. “Kami ada di balik pintu dapur. Tante Siska kira kami sedang bermain di atas.”

“Lalu Om Aditya?”

Rehan menyeka air matanya. “Tante Siska menelepon dia di balkon. Dia bilang, ‘Pastikan remnya benar-benar tidak berfungsi. Aku tidak mau perempuan itu kembali lagi.'”

Rahang Pak Surya mengeras.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan bercampur kemarahan di mata lelaki yang biasanya selalu tampak mampu mengendalikan segalanya.

Dia segera menelepon seseorang.

“Bima, jangan biarkan siapa pun keluar dari rumah. Kunci gerbang belakang. Ambil rekaman CCTV dapur, garasi, koridor lantai dua, dan ruang kerja saya. Sekarang.”

Aku langsung memotong.

“Pak, anak-anak dulu.”

Pak Surya menatap luka di tangan Rizky dan Rehan seolah baru tersadar.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengangkat Rehan. Aku menggandeng Rizky, lalu kami bergegas menuju pos keamanan.

Dokter pribadi keluarga dipanggil. Untungnya, luka kedua anak itu tidak mengenai bagian vital. Telapak tangan mereka dibersihkan, beberapa serpihan kaca dikeluarkan, dan kaki Rizky yang terkilir dibalut.

Selama proses itu, Rizky tidak pernah melepaskan tanganku.

Pak Surya berdiri beberapa meter dari kami.

Tatapannya berkali-kali jatuh kepadaku, tetapi aku sengaja menghindarinya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Bima, kepala keamanan mansion, masuk dengan wajah tegang sambil membawa tablet.

“Pak, ada sesuatu yang harus Bapak lihat.”

Kami semua terdiam.

Rekaman pertama berasal dari kamera dapur.

Pukul 15.12.

Aku terlihat sedang mengepel dekat area pantry. Tas kain milikku tergantung di kursi dekat pintu belakang.

Tiga menit kemudian Siska masuk.

Dia menoleh ke kanan dan kiri.

Lalu tangannya masuk ke saku gaun.

Sebuah benda berkilau muncul.

Jam Rolex itu.

Pak Surya menarik napas tajam.

Dalam rekaman tersebut terlihat jelas Siska membuka tasku, memasukkan jam itu, kemudian berjalan pergi dengan santai.

Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Aku memalingkan wajah.

Aneh, setelah kebenaran terbukti, aku justru tidak merasakan kemenangan.

Yang kurasakan hanya lelah.

“Masih ada satu lagi, Pak,” kata Bima.

Rekaman kamera garasi diputar.

Sekitar pukul dua siang, seorang pria mengenakan topi dan masker memasuki garasi melalui pintu servis. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dia membungkuk di dekat roda mobilku selama beberapa menit.

“Perbesar,” perintah Pak Surya.

Bima menghentikan gambar ketika pria itu berdiri.

Di pergelangan tangannya terlihat tato berbentuk kompas.

Pak Surya langsung membeku.

“Aditya.”

Aku menoleh. “Bapak kenal?”

Pak Surya tidak menjawab selama beberapa detik.

“Aditya adik kandung Siska.”

Aku terperanjat.

Selama ini Siska memperkenalkan Aditya sebagai sepupu jauhnya yang bekerja di perusahaan properti.

“Kenapa dia berbohong soal itu?” tanyaku.

Pak Surya menutup mata sesaat.

“Mungkin karena saya terlalu bodoh untuk bertanya.”

Belum sempat kami melanjutkan percakapan, terdengar keributan dari arah mansion.

“Aku mau keluar! Kalian tidak punya hak menahan aku!”

Suara Siska.

Beberapa menit kemudian, perempuan itu muncul dikawal dua petugas keamanan.

Wajahnya tidak lagi menampilkan kelembutan yang biasa dia tunjukkan di depan Pak Surya.

“Apa-apaan ini, Mas?”

Pak Surya mengangkat tablet dan menunjukkan rekaman dapur.

Wajah Siska langsung berubah.

Namun hanya sesaat.

Kemudian dia tertawa kecil.

“Jadi kamu lebih percaya kamera daripada calon istrimu?”

“Kamera tidak punya alasan untuk berbohong.”

Siska melirikku dengan tajam.

“Dia yang menyuruh anak-anak memfitnahku!”

“Rekaman ini menunjukkan tanganmu sendiri memasukkan jam saya ke tas Maya.”

Siska terdiam.

Pak Surya melanjutkan, “Dan Aditya merusak rem mobil Maya.”

“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”

“Aditya adalah adikmu.”

Kali ini wajah Siska benar-benar kehilangan warna.

Pak Surya mendekatinya.

“Kenapa kamu mengatakan dia sepupumu?”

Siska mundur selangkah.

Aku bisa melihat pikirannya bekerja cepat mencari jalan keluar.

Lalu tiba-tiba dia tersenyum.

Senyum yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Baiklah.”

Nada suaranya berubah total.

“Kalau kalian sudah tahu, buat apa aku berpura-pura lagi?”

“Siska…”

“Jangan panggil aku seperti itu seolah kamu mencintaiku, Surya.”

Pak Surya terdiam.

Siska tertawa hambar.

“Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya membutuhkan seseorang untuk berdiri di sampingmu di acara perusahaan, menemani makan malam dengan investor, dan membuat rumah besar ini terlihat seperti keluarga normal.”

Dia menunjuk ke arahku.

“Sedangkan perempuan ini? Seorang pembantu bahkan lebih penting daripada aku.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Aku tidak pernah mengambil apa pun darimu.”

“Kamu mengambil semuanya tanpa sadar!” bentaknya. “Anak-anak memanggilmu Ibu. Mereka mencari kamu ketika sakit. Bahkan Surya selalu bertanya kepadamu sebelum mengambil keputusan tentang anak-anaknya!”

Pak Surya mengepalkan tangan.

“Jadi karena cemburu kamu mencoba membunuh Maya?”

“Aku cuma ingin dia pergi!”

“Dengan rem mobil yang dirusak?”

Siska tidak menjawab.

Saat itulah suara mesin meraung dari luar.

Sebuah SUV abu-abu menerobos masuk melalui gerbang samping yang belum sempat terkunci sempurna.

“Pak, mundur!” teriak Bima.

Mobil itu berhenti mendadak.

Pintu terbuka.

Seorang pria bertopi melompat keluar.

Aditya.

“Naik!” teriaknya kepada Siska.

Siska langsung berlari.

Namun sebelum mencapai mobil, Bima dan dua petugas keamanan berhasil menangkapnya.

Aditya panik.

Dia kembali masuk ke mobil dan mencoba mundur.

Pak Surya berteriak agar semua orang menjauh.

SUV itu menabrak pot tanaman besar, berputar, lalu berhenti karena bagian belakangnya menghantam pagar.

Aditya keluar dan berusaha kabur dengan berlari, tetapi petugas keamanan kompleks sudah menutup jalan.

Beberapa menit kemudian, suara sirene polisi terdengar.

Siska dan Aditya akhirnya dibawa untuk diperiksa.

Namun kejutan belum selesai.

Polisi menemukan sebuah laptop di dalam mobil Aditya.

Di dalamnya tersimpan salinan sejumlah dokumen perusahaan Pak Surya, data kepemilikan saham, informasi rekening, bahkan rancangan surat kuasa yang telah dipalsukan.

Rencana mereka ternyata jauh lebih besar daripada sekadar menyingkirkanku.

Siska berniat menikahi Pak Surya, perlahan mendapatkan akses terhadap asetnya, lalu menggunakan dokumen palsu untuk memindahkan sebagian kepemilikan perusahaan melalui beberapa perusahaan cangkang milik Aditya.

Aku hanya kebetulan menjadi penghalang.

Karena aku tinggal di rumah itu.

Karena aku mengenal kebiasaan anak-anak.

Dan terutama karena Rizky dan Rehan pernah mendengar percakapan yang seharusnya tidak mereka dengar.

Malam semakin larut ketika polisi meninggalkan mansion.

Aku berdiri di depan gerbang dengan koper di samping kaki.

Pak Surya keluar menghampiriku.

“Maya.”

Aku menoleh.

Lelaki itu tampak berbeda. Tidak ada jas mahal, tidak ada suara memerintah. Hanya seorang ayah yang baru menyadari betapa dekat dirinya dengan kehilangan segalanya.

“Saya minta maaf.”

Aku diam.

“Saya menuduh kamu tanpa memberi kesempatan menjelaskan. Saya mempermalukan kamu. Saya bahkan mendorong kamu di jalan.”

“Saya sudah memaafkan Bapak.”

Wajahnya sedikit lega.

“Tapi saya tetap akan pergi.”

Dia tertegun.

“Kenapa?”

Aku menatap mansion besar di belakangnya.

“Karena memaafkan tidak berarti saya harus kembali ke tempat yang membuat harga diri saya diinjak.”

Pak Surya tidak mampu menjawab.

Aku mengambil koper.

Baru dua langkah, terdengar suara kecil dari belakang.

“Ibu Maya…”

Rizky dan Rehan berdiri di teras dengan tangan diperban.

Dadaku langsung sesak.

Mereka berlari kecil menghampiriku.

“Kamu mau pergi lagi?” tanya Rehan.

Aku berjongkok.

“Ibu Maya harus punya kehidupan sendiri.”

“Berarti kami tidak boleh ketemu lagi?”

Aku menggeleng cepat.

“Bukan begitu.”

Rizky menatapku lama.

Lalu dia mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah amplop putih kusut.

“Ini punya Mama.”

Aku membeku.

“Mama siapa?”

“Mama kami.”

Pak Surya yang berdiri di belakang ikut terkejut.

“Dari mana kalian mendapatkan itu?”

“Di kotak musik Mama. Kami menemukannya minggu lalu.”

Tanganku gemetar ketika menerima amplop tersebut.

Di bagian depan tertulis satu nama.

Maya.

Aku perlahan membuka surat itu.

Tulisan tangan almarhumah istri Pak Surya memenuhi selembar kertas.

Maya, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa menemani Rizky dan Rehan. Aku tahu penyakitku tidak memberi banyak waktu. Aku juga tahu kamu mungkin merasa hanya bekerja untuk keluarga kami. Tapi selama dua tahun terakhir, aku melihat caramu menjaga anak-anakku ketika aku terlalu lemah untuk bangun. Mereka merasa aman bersamamu. Kalau suatu hari aku tidak ada, jangan merasa kamu harus menggantikanku. Aku hanya berharap kamu tetap menjadi orang yang mereka percaya.

Mataku langsung dipenuhi air.

Namun ada satu kalimat terakhir.

Dan kalimat itu membuat Pak Surya terpaku.

Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan kepada Surya. Aku mengenalmu jauh sebelum kamu bekerja di rumah ini. Ayahmu, Pak Harun, adalah orang yang menyelamatkan Surya ketika kecelakaan bus dua belas tahun lalu. Dia meninggal setelah membantu mengeluarkan Surya dari kendaraan yang terbakar. Ketika mengetahui putrinya kesulitan mencari pekerjaan, aku sengaja meminta pihak yayasan mencarimu. Surya tidak pernah tahu karena ayahmu menolak disebut pahlawan. Kalau suatu hari kebenaran ini terungkap, jangan biarkan Surya membalas kebaikan ayahmu dengan uang. Ayahmu hanya pernah meminta satu hal kepadaku, yaitu jika memungkinkan, pastikan putrinya mendapatkan kesempatan hidup yang layak.

Tanganku jatuh lemas.

“Ayah saya…”

Pak Surya mundur satu langkah.

Wajahnya benar-benar pucat.

“Harun?”

Aku menatapnya.

Pak Surya memegang kepalanya seolah kenangan lama tiba-tiba menyerbu.

“Saya ingat dia.”

Suaranya pecah.

“Dia menarik saya keluar dari bus. Api sudah masuk ke bagian depan. Saya selamat, tapi ketika dia kembali membantu penumpang lain…”

Pak Surya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Aku menangis tanpa suara.

Selama bertahun-tahun, aku mengira ayah meninggal dalam kecelakaan biasa ketika pulang bekerja.

Aku tidak pernah tahu bagaimana tepatnya dia meninggal.

Pak Surya menatapku dengan mata merah.

“Dan hari ini saya menuduh anak orang yang menyelamatkan hidup saya sebagai pencuri.”

Aku menggeleng.

“Jangan jadikan jasa ayah saya alasan untuk memperlakukan saya berbeda.”

Dia terdiam.

“Kalau Bapak benar-benar merasa bersalah, jangan bayar saya. Jangan beri saya rumah atau uang.”

“Lalu apa yang bisa saya lakukan?”

Aku memandang Rizky dan Rehan.

“Belajar mendengarkan anak-anak Bapak.”

Pak Surya menunduk.

“Dan jangan pernah lagi menilai seseorang hanya karena barang mahal ditemukan di dalam tas murahnya.”

Untuk pertama kalinya, lelaki itu tidak mencoba membela diri.

Aku pergi malam itu.

Enam bulan kemudian, aku membuka usaha katering kecil dengan tabunganku sendiri. Bukan restoran mewah, hanya dapur sederhana yang melayani makan siang untuk beberapa kantor dan klinik.

Pesanan pertamaku datang dari sebuah rumah sakit.

Seratus lima puluh kotak nasi.

Nama pemesannya membuatku tersenyum.

Surya Medical Center.

Tidak ada hadiah tersembunyi. Tidak ada transfer uang berlebihan. Pak Surya benar-benar menghormati permintaanku.

Dia datang sendiri mengambil pesanan bersama Rizky dan Rehan.

Kedua bocah itu kini memanggilku “Bu Maya” tanpa menangis setiap kali aku pulang.

Siska dan Aditya menjalani proses hukum atas pemalsuan dokumen, percobaan sabotase kendaraan, dan rangkaian tindakan lain yang ditemukan dalam penyelidikan.

Suatu sore, ketika kami makan bersama di dapur katering, Rizky tiba-tiba bertanya, “Bu Maya, kalau waktu itu kami tidak lompat dari jendela, bagaimana?”

Aku meletakkan sendok.

“Jangan pernah lakukan itu lagi.”

Rehan tertawa.

“Tapi kalau kami tidak lompat, Papa pasti masih mengira Bu Maya pencuri.”

Aku menatap mereka berdua.

Kemudian Pak Surya berkata pelan, “Bukan kalian yang seharusnya mempertaruhkan nyawa untuk membuat Papa percaya. Papa yang seharusnya belajar mencari kebenaran sebelum menghukum orang.”

Rizky mengangguk sok dewasa.

“Berarti Papa dulu bodoh.”

Aku hampir tersedak.

Rehan tertawa keras.

Pak Surya hanya menghela napas.

“Iya. Papa dulu bodoh.”

Kami semua tertawa.

Aku memandang dua bocah kecil di hadapanku dan akhirnya memahami sesuatu.

Hari ketika aku diusir dari mansion itu memang mengambil pekerjaanku, harga diriku, dan tempat yang selama tiga tahun kusebut rumah.

Namun hari itu juga memberiku kembali sesuatu yang jauh lebih besar.

Kebenaran tentang ayahku.

Keberanian untuk membangun hidupku sendiri.

Dan sebuah keluarga yang akhirnya mengerti bahwa hubungan paling kuat tidak selalu lahir dari darah, kekayaan, atau nama belakang yang sama.

Kadang-kadang keluarga adalah orang-orang yang berlari mengejarmu ketika seluruh dunia menyuruhmu pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang