DUA KELOMPOK MOTOR DATANG MEMBAWA SENJATA UNTUK MEREBUT JALUR PARKIR, TAPI PEMIMPIN MEREKA MENDADAK BERLUTUT SAAT MENDENGAR SUARA DARI MOBIL TERKUNCI.

“Ayah bilang jangan bawa Ibu ke rumah sakit.”

Kalimat Raka membuat suara sirene, teriakan polisi, bahkan keributan di bawah flyover seolah menghilang dalam satu detik.

Aku menatap layar ponsel di tangannya.

Pesan itu dikirim dua menit lalu.

JANGAN BAWA IBU KE RUMAH SAKIT. TUNGGU AYAH DATANG. APA PUN YANG TERJADI, JANGAN KASIH PONSEL IBU KE SIAPA-SIAPA.

Aku dan Fikri saling pandang.

Ada sesuatu yang tidak beres.

“Raka, Ayah tahu kalian ada di sini?” tanyaku.

Anak itu mengangguk pelan.

“Ibu telepon Ayah sebelum pingsan.”

“Terus Ayah bilang apa?”

Raka menunduk.

“Katanya tunggu saja di mobil. Ayah mau datang.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Mobil itu mati. Semua kaca tertutup. Seorang perempuan dengan riwayat diabetes berada di dalam bersama anak berusia tujuh tahun, tetapi suaminya justru menyuruh mereka menunggu.

Seorang polisi mengambil ponsel dari tangan Raka.

“Ini ponsel siapa?”

“Ibu.”

Petugas itu membuka riwayat panggilan.

Ada tujuh panggilan dari kontak bernama AYAH dalam tiga puluh menit terakhir.

Lalu ambulans mulai bergerak.

Raka panik.

“Ibu!”

Dia berlari mengejar.

Aku refleks menahannya.

“Tenang. Kamu ikut Ibu ke rumah sakit.”

“Aku ikut Om.”

Aku terdiam.

Raka memeluk pinggangku erat.

Entah kenapa anak itu mempercayaiku.

Komandan polisi yang sejak tadi berdiri di depan kami menghela napas.

“Kalian semua tetap ikut ke kantor. Tapi dua orang boleh ke rumah sakit untuk memberi keterangan awal.”

“Aku,” kataku.

“Aku juga,” sahut Fikri.

Kami kembali saling menatap.

Satu jam sebelumnya kami berniat memecahkan kepala satu sama lain.

Sekarang kami duduk berdampingan di belakang mobil polisi.

Di rumah sakit, perempuan itu langsung dibawa ke IGD.

Namanya Maya Prameswari.

Usianya tiga puluh empat tahun.

Dokter mengatakan kadar gula darahnya sangat rendah dan tubuhnya mengalami dehidrasi berat. Kalau terlambat lebih lama, kondisinya bisa jauh lebih buruk.

Aku duduk di lorong bersama Raka.

Fikri berdiri dekat mesin minuman.

Tak ada satu pun dari kami yang bicara.

Sampai seorang laki-laki datang berlari.

“Raka!”

Anak itu langsung berdiri.

“Ayah!”

Laki-laki itu berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan kemeja kantor biru tua. Wajahnya tampak panik, tetapi ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman.

Hal pertama yang dia tanyakan bukan kondisi istrinya.

“Ponsel Ibu mana?”

Raka menunjuk polisi.

Wajah laki-laki itu berubah.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku melihatnya.

“Bapak suaminya?” tanya petugas.

“Iya. Saya Bima.”

“Kenapa Bapak melarang anak membawa ibunya ke rumah sakit?”

Bima langsung menggeleng.

“Salah paham, Pak. Saya cuma takut mereka pergi dengan orang asing. Daerah sana rawan.”

Fikri tertawa pendek.

“Lebih aman pingsan di mobil panas?”

Bima menatap tajam.

“Kamu siapa?”

“Orang yang mecahin kaca mobil istri kamu.”

Bima mengepalkan tangan.

Aku berdiri di antara mereka.

“Sudah.”

Dokter keluar beberapa menit kemudian.

“Maya sudah sadar.”

Bima langsung bergerak menuju pintu.

Namun dokter menahannya.

“Pasien meminta bertemu polisi dulu.”

Bima berhenti.

Wajahnya memucat.

Aku mulai sadar masalah malam itu jauh lebih besar daripada sekadar perempuan yang pingsan.

Sekitar lima belas menit kemudian, dua polisi masuk ke ruang perawatan.

Bima mondar-mandir di lorong.

Aku duduk bersama Raka.

Tiba-tiba anak itu berbisik.

“Om Reza.”

“Iya?”

“Ibu tadi sebenarnya bukan mau jemput aku dari les.”

Aku menoleh.

“Terus?”

“Ibu bilang kita mau pergi jauh.”

“Pergi ke mana?”

Raka menggeleng.

“Nggak tahu. Ibu bawa tas besar di belakang mobil.”

Aku berdiri.

“Pak.”

Aku memanggil polisi yang berjaga.

Kami kembali ke mobil tua itu bersama petugas lain.

Benar.

Di bagasi ada sebuah koper.

Isinya pakaian perempuan, pakaian anak, beberapa dokumen, buku tabungan, dan amplop cokelat.

Di bawah tumpukan pakaian ditemukan sebuah flashdisk.

Bima yang ikut dari belakang langsung maju.

“Itu barang keluarga saya.”

Polisi menahannya.

“Jangan disentuh.”

“Apa hak kalian menggeledah barang istri saya?”

“Pak Bima,” jawab petugas tenang, “istri Bapak sendiri yang meminta kami memeriksa mobil.”

Bima langsung diam.

Malam itu kami akhirnya mengetahui semuanya.

Maya tidak sekadar meninggalkan rumah.

Dia sedang melarikan diri.

Selama hampir empat tahun, Bima mengelola jaringan pungutan liar di beberapa titik parkir pasar malam, minimarket, dan kawasan kuliner di Bekasi.

Orang-orang di lapangan tidak pernah mengenalnya secara langsung.

Semua perintah melewati koordinator.

Salah satu titik yang paling menghasilkan adalah lahan parkir yang malam itu hendak kami perebutkan.

Aku merasa darahku membeku ketika polisi menunjukkan foto dari ponsel Maya.

Ada tabel setoran.

Nama kelompokku tercantum di sana.

Kelompok Fikri juga.

Selama ini kami mengira saling merebut wilayah.

Ternyata seseorang sengaja membuat kami bertarung.

Setiap kali salah satu kelompok melemah, tarif setoran dinaikkan.

Setiap kali muncul konflik, Bima mengirim orang lain untuk menawarkan “perlindungan”.

Kami bukan penguasa jalanan.

Kami cuma bidak.

Fikri duduk sambil menatap lantai.

“Jadi tiga bulan lalu waktu anak buah gue dipukuli…”

“Orang suruhan dia,” jawab polisi.

Rahang Fikri mengeras.

Aku langsung teringat Arman.

Anak kelompokku yang kehilangan dua gigi karena disergap sepulang kerja.

Semua dendam yang kami pelihara ternyata sengaja dibuat.

Namun rahasia terbesar belum terbuka.

Flashdisk Maya berisi rekaman percakapan.

Dalam salah satu rekaman terdengar suara Bima.

“Biar Reza sama Fikri tabrakan Jumat malam. Kalau ada yang masuk rumah sakit, bagus. Kita ambil dua wilayah sekaligus.”

Fikri berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.

“Kurang ajar!”

Dia hendak menerjang Bima.

Aku memegang tubuhnya.

“Fikri!”

“Lepasin gue!”

“Kalau lo pukul dia sekarang, yang masuk sel malah lo!”

Bima justru tersenyum tipis.

“Kalian pikir rekaman itu cukup?”

Suasana langsung sunyi.

Dia menatap kami satu per satu.

“Kalian sendiri datang bawa senjata. Kalian pikir polisi bakal percaya kalian korban?”

Aku tidak bisa membantah.

Kami memang datang untuk tawuran.

Kami memang bersalah.

Tapi kemudian terdengar suara perempuan dari belakang.

“Mungkin mereka bukan korban sepenuhnya. Tapi malam ini mereka menyelamatkan nyawa saya dan anak saya.”

Maya berdiri di depan ruang perawatan dengan infus masih terpasang.

Wajahnya pucat.

Raka berlari memeluknya.

Maya berlutut dan mencium kepala anaknya berkali-kali.

Lalu dia menatap Bima.

“Aku sudah empat tahun takut sama kamu.”

Bima mendekat.

“Maya, pulang. Kita bicarakan di rumah.”

“Rumah?”

Maya tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Tempat kamu mengunci kartu ATM-ku? Tempat kamu pasang kamera di ruang tamu supaya tahu aku bicara dengan siapa? Tempat kamu ancam akan mengambil Raka kalau aku pergi?”

Bima berhenti.

Semua orang terdiam.

Maya mengeluarkan sesuatu dari saku rumah sakit.

Sebuah kartu memori kecil.

“Flashdisk itu cuma salinan.”

Wajah Bima benar-benar berubah.

“Yang asli sudah aku kirim ke pengacara tiga hari lalu.”

Polisi langsung memborgol Bima.

Untuk pertama kalinya malam itu, laki-laki itu kehilangan ketenangannya.

“Kalian nggak tahu siapa yang melindungi saya!”

Seorang petugas menjawab dingin.

“Kalau begitu nanti kita cari tahu juga.”

Bima dibawa pergi.

Aku pikir cerita berhenti di sana.

Ternyata hidup tidak bekerja sesederhana itu.

Aku, Fikri, dan seluruh anggota kelompok kami tetap diperiksa karena membawa senjata dan merencanakan tawuran.

Menolong Maya tidak menghapus kesalahan kami.

Kami beruntung belum sempat saling menyerang.

Setelah pemeriksaan panjang dan proses hukum, sebagian dari kami dikenai pembinaan serta kewajiban lapor karena situasi belum berkembang menjadi kekerasan fisik. Beberapa barang berbahaya disita.

Tapi sesuatu berubah setelah malam itu.

Fikri datang menemuiku di warung kopi dua minggu kemudian.

Dia duduk di depanku tanpa membawa siapa pun.

Aku juga sendirian.

“Jadi gimana?” tanyanya.

“Mau lanjut rebutan parkiran?”

Dia tersenyum hambar.

“Gue capek.”

Aku tertawa.

“Gue juga.”

Untuk pertama kalinya kami bicara seperti dua manusia, bukan dua pemimpin kelompok.

Fikri ternyata punya istri dan bayi enam bulan.

Dia masuk dunia parkir liar setelah bengkel tempatnya bekerja tutup.

Aku sendiri mulai menguasai lahan parkir karena merasa itu satu-satunya cara cepat membayar utang pengobatan ayahku.

Kami sama-sama punya alasan.

Tapi alasan tidak selalu membuat pilihan yang salah menjadi benar.

“Kalau malam itu nggak ada mobil Maya,” kata Fikri, “mungkin salah satu dari kita sudah mati.”

Aku mengangguk.

“Atau dua-duanya.”

Sebulan kemudian, kelompok kami bubar.

Bukan karena polisi.

Bukan karena Bima.

Karena dua puluh tiga orang yang malam itu datang membawa besi akhirnya sadar betapa bodohnya kami.

Beberapa orang kembali bekerja sebagai pengemudi.

Ada yang masuk proyek bangunan.

Aldi mengikuti pelatihan keamanan.

Fikri membuka bengkel kecil bersama kakaknya.

Aku?

Aku mengambil keputusan yang membuat semua orang menertawakanku.

Aku mengurus parkir.

Secara resmi.

Bersama koperasi pedagang pasar.

Tidak ada pungutan liar.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada besi.

Enam bulan kemudian, aku sedang mengatur kendaraan di pasar ketika sebuah Toyota Kijang tua berhenti.

Kacanya sudah diganti.

Pintunya terbuka.

Raka turun sambil membawa dua kotak martabak.

“Om Reza!”

Dia berlari memelukku.

Maya keluar setelahnya.

Wajahnya jauh lebih sehat.

Kasus Bima masih berjalan, tetapi jaringan pungutan yang dia kendalikan sudah dibongkar di beberapa lokasi.

“Ini buat Om sama Om Fikri,” kata Raka sambil menyerahkan martabak.

“Fikri nggak di sini.”

“Terus punya Om Fikri jangan dimakan.”

Aku tertawa.

“Galak juga sekarang.”

Maya ikut tersenyum.

Sebelum pergi, Raka tiba-tiba menunjuk batang besi kecil yang tergeletak dekat pos parkir.

“Itu buat berantem?”

Aku melihatnya.

“Itu buat buka saluran air kalau mampet.”

Raka mengangguk puas.

Mereka masuk kembali ke mobil.

Namun sebelum pintunya tertutup, Raka memanggilku sekali lagi.

“Om.”

“Apa?”

“Waktu itu Om takut nggak?”

Pertanyaan itu membuatku diam.

Aku bisa saja berbohong.

Aku bisa bilang tidak.

Tapi aku teringat malam di bawah flyover itu.

Dua kelompok berdiri membawa senjata.

Seorang anak terkurung dalam mobil panas.

Seorang ibu hampir kehilangan nyawa.

Dan dua puluh tiga laki-laki yang datang untuk saling menghancurkan justru bekerja sama membuka jalan bagi ambulans.

“Takut,” jawabku.

Raka terlihat heran.

“Tapi Om tetap nolong.”

Aku tersenyum.

“Berani itu bukan berarti nggak takut, Ka. Kadang berani itu cuma memilih melakukan hal yang benar meskipun kita sendiri sedang melakukan banyak hal yang salah.”

Raka tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk.

Mobil itu perlahan meninggalkan pasar.

Aku berdiri memandanginya sampai hilang di tikungan.

Fikri datang beberapa menit kemudian dengan tangan penuh oli.

“Si bocah datang?”

“Datang.”

“Martabak gue mana?”

Aku membuka kotaknya.

“Tadi katanya jangan dimakan.”

“Bagus.”

Fikri mengambil satu potong.

Aku menepuk tangannya.

“Itu punya gue!”

Kami tertawa.

Aneh sekali memikirkan bahwa persahabatan kami bermula dari malam ketika kami hampir saling membunuh.

Sampai hari ini, aku masih sering teringat tiga ketukan dari mobil tua itu.

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga suara kecil yang menghentikan dua kelompok bersenjata.

Tiga ketukan yang menyelamatkan seorang ibu.

Tiga ketukan yang membongkar jaringan kejahatan.

Dan mungkin, tanpa kami sadari saat itu, tiga ketukan yang menyelamatkan dua puluh tiga laki-laki dari kehidupan yang suatu hari pasti akan menghancurkan kami sendiri.

Malam itu kami datang untuk menentukan siapa yang paling kuat.

Ternyata jawabannya bukan orang yang memegang besi paling besar.

Bukan orang yang punya anak buah paling banyak.

Bukan pula orang yang paling ditakuti.

Yang paling kuat malam itu adalah seorang anak tujuh tahun yang hampir kehabisan tenaga, tetapi masih mengangkat tangannya dan mengetuk kaca tiga kali demi menyelamatkan ibunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang