Begitu kakiku menginjak panggung, tepuk tangan yang terdengar bukan sambutan.
Itu lebih mirip vonis.
Lampu sorot menyilaukan mataku. Di layar raksasa di belakang panggung terpampang foto gaun Citra Maheswari yang tercabik, berdampingan dengan fotoku saat memasuki ruang kostum.
Pembawa acara tersenyum kaku.
“Pemirsa, malam ini kita akan menyaksikan penyelesaian sebuah kesalahpahaman yang sejak tadi menjadi perbincangan publik.”
Kesalahpahaman.
Aku menyukai kata itu.
Terdengar jauh lebih sopan daripada jebakan.
Citra sudah berdiri di tengah panggung mengenakan gaun putih sederhana. Riasannya tipis. Matanya sedikit merah. Dengan pencahayaan yang tepat, dia terlihat seperti seseorang yang telah disakiti tetapi memilih memaafkan.
Sementara aku diberi blazer abu-abu.
Ternyata stylist tadi benar-benar memahami pekerjaannya.
Pembawa acara mempersilakanku berdiri di sebelah Citra.
Dari in-ear, suara Bagas terdengar.

“Laras, sekarang. Membungkuk.”
Aku berdiri tegak.
“Laras.”
Suara Bagas semakin tegang.
“Membungkuk.”
Aku mengambil mikrofon.
“Pertama-tama, saya ingin meminta maaf.”
Citra mengembuskan napas lega.
Pembawa acara tersenyum.
Dari balik panggung, Bagas berbisik, “Bagus. Lanjutkan.”
Aku menatap kamera utama.
“Saya ingin meminta maaf kepada penonton karena acara kompetisi akting malam ini berubah menjadi sidang pengadilan tanpa penyelidikan.”
Senyum pembawa acara membeku.
Wajah Citra berubah.
Suara Bagas meledak di telingaku.
“Laras, apa yang kamu lakukan?”
Aku melepaskan in-ear.
Lalu meletakkannya di lantai.
Suasana studio mendadak sunyi.
“Sebelum saya mengakui telah merusak gaun Mbak Citra senilai Rp6,5 miliar, saya ingin bertanya satu hal.”
Aku menoleh kepada sutradara acara yang duduk di belakang monitor.
“Boleh kita putar rekaman CCTV lengkap?”
Sutradara berdiri.
“Laras, ini bukan bagian dari rundown.”
“Permintaan maaf saya juga sudah masuk rundown sebelum saya setuju meminta maaf.”
Beberapa penonton mulai berbisik.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Dan sebelum acara dimulai, saya diminta menandatangani empat halaman perjanjian.”
Aku menggeser layar ponsel ke arah kamera.
Halaman pertama muncul di layar LED karena kamera utama otomatis menangkap gambar dari ponselku.
Ganti rugi Rp6,5 miliar.
Halaman kedua.
Permintaan maaf publik.
Halaman ketiga.
Pengunduran diri dari kompetisi.
Lalu halaman keempat.
Aku membacanya perlahan.
“Dengan alasan pribadi, saya secara sukarela mengundurkan diri dari proses audisi pemeran utama serial Jejak Salju di Benteng Utara.”
Studio meledak oleh suara penonton.
Citra segera mengambil mikrofon.
“Itu urusan perusahaanmu. Aku tidak tahu apa-apa tentang perjanjian tersebut.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Jawabanku membuatnya terdiam.
Aku tidak membantah.
Aku justru bertanya, “Kalau Mbak memang tidak tahu, berarti kita punya tujuan yang sama. Kita sama-sama ingin menemukan siapa yang sebenarnya merusak gaun itu.”
Citra menatapku.
“Bukankah begitu?”
Dia tidak punya pilihan.
“Tentu.”
“Bagus.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu, saya minta gaunnya dibawa ke panggung.”
Kali ini sutradara benar-benar panik.
“Tidak perlu!”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Barang itu mahal. Tidak boleh sembarangan dibawa.”
“Tapi tadi kalian meminta saya membayar Rp6,5 miliar tanpa memberi kesempatan kepada saya untuk memeriksanya.”
Komentar siaran langsung bergerak begitu cepat hingga server hampir tidak mampu menampilkannya.
Akhirnya gaun itu dibawa keluar dalam kotak transparan.
Aku mendekat.
Ada tiga sayatan panjang di bagian belakang.
Aku menunjuk salah satunya.
“Ini bukan robekan.”
Pembawa acara bertanya, “Apa maksudmu?”
“Kalau kain tersangkut lalu robek, seratnya akan tertarik tidak beraturan. Tetapi bagian ini dipotong menggunakan benda yang sangat tajam.”
Aku melihat kamera.
“Ibu saya penjahit. Saya tumbuh di antara kain, gunting, jarum, dan mesin jahit. Saya mungkin tidak tahu banyak soal industri hiburan, tetapi untuk hal ini saya cukup yakin.”
Citra tertawa kecil.
“Jadi sekarang kamu menjadi ahli forensik?”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Saya hanya anak tukang jahit.”
Kemudian aku menatap asistennya.
“Tapi kebetulan saya melihat gunting jahit presisi di tas seseorang.”
Wajah asisten Citra memucat.
Citra langsung berkata, “Banyak stylist membawa gunting.”
“Benar.”
Aku mengangguk lagi.
“Karena itu saya tidak menuduh siapa pun.”
Aku menoleh kepada sutradara.
“Saya hanya meminta CCTV lengkap.”
Keheningan yang muncul setelah kalimat itu mengatakan lebih banyak daripada seribu tuduhan.
Sutradara akhirnya berkata, “Rekaman hanya menunjukkan kamu masuk.”
“Hanya saya?”
“Ya.”
“Berarti tidak ada orang lain?”
“Tidak.”
Aku menatapnya selama beberapa detik.
“Kalau begitu, boleh saya lihat?”
Dia tidak menjawab.
Dan saat itulah sebuah suara terdengar dari sisi panggung.
“Saya punya salinannya.”
Semua kepala menoleh.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berjalan keluar dari antara kru.
Aku mengenalnya.
Bu Ratna.
Kepala bagian kostum.
Sejak awal dia hampir tidak pernah berbicara. Dia hanya berdiri di belakang, mengamati.
Sutradara langsung bangkit.
“Bu Ratna, jangan membuat masalah.”
Perempuan itu berhenti.
“Saya sudah bekerja tiga puluh tahun di industri ini. Masalahnya sudah dibuat orang lain. Saya cuma capek pura-pura tidak melihat.”
Dia menyerahkan flashdisk kepada operator.
“Sistem kamera ruang kostum merekam otomatis ke server kostum. Kemarin seseorang meminta saya menghapus rekamannya.”
Wajah sutradara kehilangan warna.
“Siapa?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Dia hanya berkata kepada operator, “Putar.”
Layar besar menjadi gelap.
Rekaman muncul.
Pukul 20.41.
Aku terlihat memasuki ruang kostum.
Aku mengambil kotak jahit yang diminta stylist, lalu keluar tiga menit kemudian.
Pukul 20.57.
Koridor kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun beberapa detik kemudian, pintu ruang kostum terbuka dari dalam.
Seorang perempuan keluar.
Asisten Citra.
Studio seketika riuh.
Dia rupanya sudah berada di dalam sebelum aku masuk.
Dalam rekaman kamera lain, terlihat jelas perempuan itu masuk melalui pintu servis di belakang ruang kostum hampir empat puluh menit sebelumnya.
Asisten Citra mulai menangis.
“Bukan saya!”
Aku belum berkata apa pun.
Bu Ratna berkata, “Masih ada rekaman dari dalam ruang penyimpanan.”
Video berikutnya diputar.
Tidak ada gambar langsung ruang ganti karena alasan privasi, tetapi kamera penyimpanan mengarah ke pintu penghubung.
Asisten Citra masuk sambil membawa gaun.
Beberapa menit kemudian dia keluar.
Gaun itu sudah rusak.
Keributan memenuhi studio.
Citra menoleh tajam kepada asistennya.
“Kamu melakukan ini?”
Perempuan itu gemetar.
“Mbak…”
Citra mendekatinya.
“Kenapa?”
Asistennya menangis semakin keras.
“Saya cuma melakukan yang Mbak suruh!”
Studio seketika senyap.
Wajah Citra membeku.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Saya punya chat-nya.”
Asisten itu seperti kehilangan seluruh keberaniannya sekaligus.
Mungkin dia sadar bahwa ketika kapal tenggelam, orang yang paling dekat dengan nakhoda sering menjadi orang pertama yang dikorbankan.
Tangannya gemetar ketika membuka ponsel.
Pesan-pesan itu ditampilkan.
Citra memang tidak pernah menulis kalimat, “Rusak gaunku.”
Dia terlalu pintar untuk itu.
Namun pesannya cukup jelas.
“Besok pastikan ada masalah besar dengan gaun itu.”
“Laras harus menjadi orang terakhir yang terlihat masuk.”
“Setelah skandal muncul, Bagas akan mengurus sisanya.”
Dan satu pesan terakhir membuat semua orang terdiam.
“Kalau dia keluar dari Jejak Salju, tim produser akan kembali mempertimbangkanku.”
Citra berdiri tanpa bergerak.
Wajah perempuan lembut dan murah hati yang dibangun selama bertahun-tahun runtuh hanya dalam beberapa menit.
Aku menatap Bagas di sisi panggung.
Dia mencoba pergi.
“Mas Bagas.”
Langkahnya berhenti.
Aku mengangkat mikrofon.
“Katanya perusahaan menjamin saya tidak akan diboikot.”
Dia tidak berbalik.
Aku melanjutkan, “Sekarang jaminannya masih berlaku?”
Beberapa orang tertawa.
Bagas justru berjalan semakin cepat.
Siaran langsung malam itu dihentikan lebih awal.
Namun internet tidak pernah berhenti.
Dalam waktu kurang dari dua jam, potongan video tersebar ke mana-mana.
Tagar tentang Citra, Bagas, dan perjanjian empat halaman memenuhi media sosial.
Agensiku mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan Bagas adalah keputusan pribadi.
Bagas diskors.
Tim Citra mengatakan pesan-pesan tersebut telah disalahartikan.
Kemudian pihak pemilik gaun mengeluarkan pernyataan yang jauh lebih sederhana.
Gaun itu ternyata diasuransikan.
Nilai pertanggungannya bukan Rp6,5 miliar.
Melainkan Rp1,8 miliar.
Angka Rp6,5 miliar adalah harga publisitas yang sengaja dibesar-besarkan.
Untuk pertama kalinya sejak masalah itu dimulai, aku benar-benar tertawa.
Ternyata bahkan harga kambing hitam pun dinaikkan.
Tiga hari kemudian, kontrakku dengan agensi dihentikan atas kesepakatan bersama.
Orang-orang mengatakan aku menang.
Sebenarnya tidak.
Aku kehilangan beberapa kontrak iklan.
Dua acara televisi membatalkan undanganku.
Beberapa produser menganggapku “sulit dikendalikan”.
Selama hampir satu bulan, teleponku nyaris tidak berbunyi.
Aku pulang ke kota tempat ibuku tinggal.
Toko jahit kecil kami masih tertutup.
Ibu sedang duduk di teras ketika aku datang membawa koper yang sama seperti saat pertama kali berangkat ke Jakarta.
Dia melihat koper itu.
“Kamu dipecat?”
“Kurang lebih.”
“Punya uang?”
“Masih.”
“Utang?”
“Tidak.”
Ibu mengangguk.
“Ya sudah. Masuk. Bantu Ibu pasang kancing.”
Aku tertawa sampai menangis.
Malam itu kami membuka kembali toko jahit.
Aku duduk di lantai sambil memasukkan benang ke jarum seperti saat masih kecil.
Ibu tidak bertanya soal Citra.
Tidak bertanya soal industri hiburan.
Dia hanya berkata, “Laras.”
“Ya?”
“Waktu kecil kamu pernah potong kain Ibu sampai rusak.”
Aku menatapnya.
“Serius?”
“Serius.”
“Ibu marah?”
“Marah.”
“Terus?”
“Ibu suruh kamu mengaku.”
Aku tersenyum.
Ibu memasukkan kain ke mesin jahit.
“Karena orang boleh salah.”
Suara mesin mulai berdetak.
“Tapi jangan pernah mengaku salah untuk sesuatu yang tidak kamu lakukan. Sekali kamu membiasakan diri begitu, nanti orang lain akan menentukan hidupmu dengan kesalahan yang mereka buat sendiri.”
Dua minggu kemudian, sebuah nomor asing menelepon.
“Dengan Laras Anindya?”
“Ya.”
“Saya dari tim produksi Jejak Salju di Benteng Utara.”
Tanganku berhenti.
“Kami ingin mengundang Mbak Laras datang untuk pembacaan naskah.”
Aku mengerutkan kening.
“Bukankah audisinya belum selesai?”
Suara di seberang tertawa.
“Sudah.”
“Siapa yang terpilih?”
Hening sebentar.
“Mbak Laras.”
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku jatuh.
“Tapi saya belum menjalani audisi terakhir.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Sutradara meminta saya menyampaikan sesuatu.”
“Apa?”
“Katanya, dia mencari perempuan yang tahu bagaimana rasanya dipaksa mundur, tetapi tetap berdiri.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Enam bulan kemudian, syuting dimulai di sebuah benteng tua yang dibangun ulang menjadi set.
Pada hari pertama, bagian kostum menyerahkan pakaian karakter kepadaku.
Sebelum mengenakannya, aku memperhatikan jahitan di bagian lengan.
Ada satu benang yang longgar.
Aku meminta gunting kecil.
Seorang staf memberikannya.
Gagang perak.
Bilah miring.
Gunting jahit presisi.
Aku menatap benda itu beberapa detik.
Aneh.
Dulu gunting seperti itu hampir menghancurkan hidupku.
Sekarang benda yang sama ada di tanganku, dan aku menggunakannya hanya untuk memotong sehelai benang.
“Laras.”
Sutradara memanggil dari depan kamera.
“Kita siap.”
Aku menyerahkan gunting kepada staf dan berjalan menuju posisi.
Film itu akhirnya tayang setahun kemudian.
Aku tidak memenangkan penghargaan apa pun.
Tetapi toko jahit kecil milik ibuku mendadak dipenuhi pelanggan karena orang-orang mengenali tempat yang beberapa kali kuceritakan dalam wawancara.
Aku menggunakan honor pertamaku untuk memperbaiki atapnya dan membeli mesin jahit baru.
Suatu sore, sebuah paket datang tanpa nama pengirim.
Di dalamnya ada majalah lama.
Sampul depannya menampilkan Citra Maheswari ketika masih menjadi pendatang baru, hampir lima belas tahun lalu.
Di antara halaman majalah terselip potongan berita.
Seorang aktris muda bernama Citra Maheswari pernah dituduh merusak kostum seniornya dan dipaksa meminta maaf.
Aku membaca artikel itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Ternyata Citra pernah berada tepat di tempatku.
Dia pernah menjadi pendatang baru yang disuruh menundukkan kepala demi karier.
Bedanya, dia memilih menunduk.
Bertahun-tahun kemudian, setelah mendapatkan kekuasaan, dia tidak menghentikan permainan itu.
Dia justru mempelajari aturannya.
Lalu menggunakannya kepada orang berikutnya.
Aku melipat kembali artikel tersebut dan menyimpannya.
Bukan karena aku merasa kasihan kepadanya.
Bukan pula karena aku membenarkan apa yang dia lakukan.
Aku hanya akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupahami tentang industri ini.
Orang yang pernah menjadi korban tidak otomatis tumbuh menjadi orang baik.
Kadang-kadang mereka hanya tumbuh menjadi orang yang lebih tahu bagaimana cara membuat korban berikutnya.
Malam itu Ibu melihat artikel di tanganku.
“Siapa?”
“Orang yang dulu mencoba mengambil peranku.”
Ibu mengangguk, lalu kembali menjahit.
Beberapa saat kemudian dia bertanya, “Kamu membencinya?”
Aku berpikir cukup lama.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku mengambil gunting dari meja dan memotong benang yang menjuntai dari kain.
“Karena kalau saya terus memikirkan dia, berarti dia masih menentukan bagian dari hidup saya.”
Ibu tersenyum kecil.
Aku meletakkan gunting.
Di luar toko, hujan mulai turun.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Jakarta dengan satu koper, aku tidak merasa sedang berusaha membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Aku hanya tahu satu hal.
Kain yang salah dipotong masih bisa dijahit kembali.
Karier yang dirusak masih bisa dibangun ulang.
Kesempatan yang dirampas masih bisa diperjuangkan.
Tetapi jika seseorang menyerahkan kebenarannya sendiri hanya supaya diterima oleh orang lain, tidak ada jahitan yang cukup kuat untuk mengembalikannya seperti semula.
