Hewan peliharaanku mulai berubah.

Kepala Bima perlahan terangkat dari kasur.

Dan tubuhnya mulai bergerak ke arahku.

“Rani, jangan panik.”

Suara Dinda terdengar kecil dari ponsel yang masih menempel di telingaku.

Mudah baginya mengatakan jangan panik.

Di sampingku ada ular sanca batik sepanjang hampir lima meter yang selama tujuh tahun kupelihara seperti anggota keluarga. Beberapa menit lalu aku masih menganggap kebiasaannya berbaring lurus di sampingku sebagai tanda kasih sayang.

Sekarang setiap gerakan sisiknya terdengar seperti ancaman.

Srek.

Bima maju beberapa sentimeter.

Aku menahan napas.

“Din…”

“Pelan-pelan turun dari tempat tidur. Jangan bikin gerakan mendadak.”

Aku menggerakkan kaki kanan sedikit demi sedikit menuju tepi kasur.

Bima berhenti.

Kepalanya terangkat lebih tinggi.

Lidahnya menjulur.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku membeku.

Jantungku berdetak begitu keras sampai aku yakin Bima bisa merasakan getarannya melalui kasur.

“Dia lihat aku.”

“Jangan tatap dia terus. Cari jalan keluar.”

Tanganku mulai berkeringat.

Aku menggeser tubuh lagi.

Lima sentimeter.

Sepuluh sentimeter.

Kemudian kakiku menyentuh lantai.

Saat itulah ponsel hampir terlepas dari tanganku.

Aku refleks menangkapnya.

Gerakan kecil itu cukup membuat Bima tersentak.

Kepalanya melesat ke depan.

Aku menjerit dan langsung melompat dari tempat tidur.

“RANI!”

Aku berlari keluar kamar.

Di belakangku terdengar suara benda jatuh disusul gesekan berat di lantai.

Aku membanting pintu kamar lalu menguncinya dari luar.

Tanganku gemetar hebat.

“Din…”

“Aku di sini. Kamu sudah keluar?”

“Sudah.”

“Keluar dari rumah. Sekarang.”

Aku tidak membantah.

Aku mengambil kunci dan tas yang tergeletak di sofa, lalu berlari keluar apartemen dengan pakaian tidur.

Begitu pintu utama tertutup, lututku langsung lemas.

Aku duduk di koridor.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Bima, aku takut pulang ke rumahku sendiri.

Dinda menyuruhku menghubungi orang yang berpengalaman menangani reptil besar. Dia sendiri langsung berangkat menuju apartemenku.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Dinda datang bersama dua orang dari komunitas reptil yang sudah biasa menangani ular besar.

Salah satunya bernama Arga.

Begitu mendengar ceritaku, Arga tidak langsung masuk.

Dia justru menatapku cukup lama.

“Kapan terakhir Bima makan?”

“Hampir tiga minggu lalu.”

“Biasanya berapa sering?”

“Tergantung. Tapi dia belum pernah begini.”

“Buang air terakhir kapan?”

Pertanyaan itu membuatku berpikir.

Aku mencoba mengingat.

“Sekitar dua minggu lalu.”

Arga mengangguk pelan.

“Dia agresif akhir-akhir ini?”

“Nggak. Justru lebih diam.”

“Sering keluar malam?”

Aku mengangguk.

“Dan berbaring lurus di samping Mbak?”

“Iya.”

Dinda berdiri di sebelahku dengan wajah tegang.

Arga justru menghela napas.

“Ada satu hal yang perlu saya luruskan.”

Aku menatapnya.

“Cerita ular berbaring lurus di samping manusia untuk mengukur apakah manusia bisa ditelan itu mitos.”

Aku terdiam.

Dinda juga terlihat bingung.

“Tapi dia nggak makan,” kataku.

“Ular bisa berhenti makan karena banyak alasan. Stres, suhu, musim reproduksi, gangguan kesehatan. Ular juga tidak perlu berbaring di samping mangsa untuk mengukur panjangnya.”

Aku menoleh kepada Dinda.

Wajahnya memerah.

“Aku pernah dengar kasus kayak gitu,” katanya pelan. “Aku panik lihat fotonya.”

Arga menggeleng.

“Masalahnya bukan mitos itu.”

Dia memandang pintu apartemenku.

“Masalahnya adalah ular hampir lima meter berkeliaran bebas di rumah dan menunjukkan perubahan perilaku mendadak. Itu tetap berbahaya.”

Kalimat terakhir membuat bulu kudukku kembali berdiri.

Kami masuk bersama.

Pintu kamar masih tertutup.

Arga dan temannya menyiapkan peralatan sebelum membukanya.

Namun ketika pintu terbuka, Bima tidak ada di tempat tidur.

Jendela tertutup.

Lemari kosong.

Bagian bawah ranjang juga kosong.

Aku mulai panik.

“Dia ke mana?”

Kami mencari seluruh kamar.

Kemudian Arga melihat pintu kamar mandi kecil di sebelah kamar tidur.

Pintunya terbuka sedikit.

Dia memberi isyarat agar kami mundur.

Saat pintu didorong, tubuh Bima terlihat menggulung rapat di sudut lantai.

Dia tidak menyerang.

Tidak mendesis.

Bahkan ketika Arga mendekat, Bima hanya mengangkat kepala sebentar sebelum menurunkannya kembali.

“Ini bukan perilaku ular yang sedang berburu,” kata Arga.

Dia memperhatikan tubuh Bima.

Kemudian wajahnya berubah.

“Tapi ada yang nggak beres.”

“Apa?”

“Bagian perutnya.”

Aku mendekat sedikit.

Baru saat itu aku melihatnya.

Di bagian tengah tubuh Bima terdapat tonjolan kecil yang sebelumnya tidak pernah kusadari. Tidak besar, tetapi bentuknya tidak wajar.

Arga menyentuh tubuh Bima dengan sangat hati-hati.

Ular itu langsung menegang.

“Bawa ke klinik reptil.”

Malam itu Bima dipindahkan menggunakan wadah transportasi khusus.

Aku ikut bersama Dinda.

Sepanjang perjalanan, aku duduk diam sambil memandangi kotak besar di belakang mobil.

Rasa takut perlahan berubah menjadi rasa bersalah.

Bagaimana kalau selama ini dia sebenarnya sakit?

Bagaimana kalau perubahan perilakunya bukan karena dia ingin menyerangku, melainkan karena dia mencoba memberitahuku sesuatu?

Pemeriksaan berlangsung hampir dua jam.

Dokter melakukan pemeriksaan fisik dan pencitraan.

Kemudian dia memanggil kami.

“Ada benda asing di saluran pencernaannya.”

Aku langsung berdiri.

“Benda asing?”

Dokter menunjukkan hasil pemeriksaan.

Ada sebuah objek padat memanjang di dalam tubuh Bima.

“Kami belum tahu pasti benda apa. Tapi posisinya menyebabkan gangguan pencernaan dan kemungkinan rasa sakit. Itu bisa menjelaskan kenapa dia berhenti makan dan perilakunya berubah.”

Aku menutup mulut.

“Harus operasi?”

“Kemungkinan besar.”

Aku langsung menyetujuinya.

Tidak peduli berapa biayanya.

Bima sudah bersamaku tujuh tahun.

Kalau dia sakit karena kelalaianku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.

Operasi dilakukan keesokan paginya.

Aku menunggu di luar hampir empat jam.

Dinda menemaniku.

Tidak banyak yang kami bicarakan.

Menjelang siang, dokter akhirnya keluar.

“Operasinya berhasil.”

Aku langsung menangis lega.

Namun ekspresi dokter masih terlihat aneh.

“Ada sesuatu yang mungkin perlu Mbak lihat.”

Dia menunjukkan sebuah kantong transparan.

Di dalamnya terdapat benda kecil berwarna perak yang sudah kusam.

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian dadaku terasa sesak.

Itu sebuah liontin.

Liontin berbentuk oval.

Aku mengenalnya.

Aku sangat mengenalnya.

“Itu…”

Tanganku gemetar ketika mengambil kantong tersebut.

“Punya ibu saya.”

Dinda menatapku.

“Ibumu?”

Aku mengangguk.

Ibuku meninggal enam tahun lalu.

Liontin itu adalah hadiah dari ayah pada ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh lima.

Setelah ibu meninggal, aku menyimpannya di sebuah kotak kayu di kamar.

Aku tidak pernah memakainya karena takut kehilangan.

Setidaknya itulah yang kuingat.

Malam itu, setelah Bima harus menginap di klinik untuk observasi, aku pulang ke apartemen bersama Dinda.

Aku langsung membuka lemari.

Kotak kayu itu masih berada di tempatnya.

Aku membukanya.

Kosong.

Aku duduk di lantai.

“Aku nggak ngerti.”

Dinda mengambil kotak itu.

“Kapan terakhir kamu lihat liontin ini?”

Aku mencoba mengingat.

“Mungkin… dua atau tiga bulan lalu.”

Kemudian sebuah ingatan muncul.

Tiga bulan lalu aku pernah menemukan pintu lemari kamar terbuka saat pulang kerja.

Saat itu kupikir aku lupa menutupnya.

Beberapa hari setelahnya, beberapa barang kecil juga sempat berpindah tempat.

Aku selalu menyalahkan diriku sendiri.

Aku memang sering pulang dalam keadaan lelah.

Namun sekarang aku mulai merasa ada yang aneh.

Aku membuka aplikasi kamera keamanan apartemen.

Aku memasang satu kamera kecil di ruang tengah setahun sebelumnya setelah pernah terjadi pencurian di lantai bawah.

Aku hampir tidak pernah memeriksanya.

Rekaman tersimpan otomatis selama beberapa bulan.

Aku mencari tanggal saat pertama kali menyadari liontin itu hilang.

Kami mempercepat rekaman.

Hari pertama tidak ada apa-apa.

Hari kedua juga tidak.

Hari ketiga, pukul dua siang, pintu apartemen terbuka.

Aku sedang bekerja saat itu.

Seorang laki-laki masuk.

Tubuhku langsung kaku.

“Rani…”

Dinda menatapku.

Aku mengenal laki-laki itu.

Fajar.

Mantan pacarku.

Kami putus hampir setahun lalu.

Namun dia masih memiliki kunci cadangan apartemenku karena aku tidak pernah mengganti silinder kunci.

Dalam rekaman, Fajar berjalan langsung menuju kamar.

Sepuluh menit kemudian dia keluar sambil membawa sesuatu.

Aku memperbesar gambar.

Kotak kayu milik ibu.

“Kurang ajar.”

Tanganku mulai gemetar.

Namun rekaman belum selesai.

Fajar berhenti di depan terarium Bima.

Dia membuka pintunya.

Kemudian sesuatu terjadi.

Bima bergerak mendekatinya.

Fajar terlihat panik.

Kotak kayu jatuh.

Beberapa benda berhamburan ke lantai.

Dia buru-buru memungut semuanya.

Semua kecuali liontin kecil yang tergelincir ke bawah meja.

Fajar kemudian pergi.

Sekitar satu jam setelahnya, Bima keluar dari terarium.

Dia merayap menuju bawah meja.

Kepalanya berhenti tepat di dekat liontin.

Beberapa detik kemudian, benda itu hilang dari layar.

Aku menutup wajah.

Jadi Bima bukan sedang merencanakan memakanku.

Dia sakit karena menelan liontin ibuku yang terjatuh saat mantan pacarku masuk untuk mencuri barang.

Aku melaporkan Fajar.

Dari pemeriksaan lebih lanjut, ternyata bukan hanya perhiasan ibu yang pernah dia ambil. Beberapa barang lain yang selama ini kukira hilang karena kecerobohanku ternyata juga berada di tangannya.

Tetapi kejutan terbesar datang beberapa hari kemudian.

Dokter meneleponku.

“Kondisi Bima sudah stabil. Tapi saya sangat menyarankan Mbak mempertimbangkan kembali cara pemeliharaannya.”

Aku tahu maksudnya.

Aku mencintai Bima.

Justru karena itulah aku harus berhenti memperlakukannya seperti manusia.

Selama bertahun-tahun aku membiarkannya keluar sesuka hati, naik ke tempat tidur, bahkan berkeliaran tanpa pengawasan karena merasa dia jinak.

Aku lupa satu hal sederhana.

Bima tetaplah ular besar.

Dia tidak jahat.

Dia juga tidak memiliki niat tersembunyi seperti manusia.

Namun tubuh dan nalurinya tetap bisa membahayakan siapa pun jika aku ceroboh.

Aku akhirnya bekerja sama dengan orang-orang yang lebih berpengalaman untuk membuat enclosure baru yang jauh lebih besar, aman, dan sesuai dengan kebutuhannya.

Bima tidak lagi tidur di kamarku.

Awalnya rumah terasa aneh.

Terlalu sepi.

Beberapa minggu setelah operasi, nafsu makannya kembali.

Suatu sore aku duduk di depan enclosure barunya.

Bima perlahan mendekati kaca.

Kepalanya berhenti tepat di depanku.

Aku mengangkat tangan dan menempelkannya pada kaca.

“Maaf ya, Bim.”

Dia tentu tidak menjawab.

Lidahnya hanya menjulur sebentar.

Aku tersenyum.

Ponselku kemudian berbunyi.

Pesan dari Dinda.

Dia mengirim foto lama malam itu, foto saat Bima terbentang lurus di samping tubuhku.

Di bawahnya dia menulis satu kalimat.

“Gara-gara foto ini aku hampir bikin kamu percaya Bima mau makan kamu.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya sejak kejadian itu.

Lalu aku memperhatikan foto tersebut lebih lama.

Ada sesuatu yang baru kusadari.

Bima memang terbentang di sampingku.

Tetapi kepalanya tidak menghadap wajahku.

Dalam foto itu, kepalanya justru menghadap meja kecil di samping tempat tidur.

Tempat aku biasa meletakkan kotak kayu milik ibu.

Aku tidak tahu apakah itu kebetulan.

Mungkin memang hanya kebetulan.

Aku juga tidak ingin lagi menafsirkan perilaku seekor ular menggunakan perasaan manusia.

Namun kejadian itu mengajariku sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada cerita tentang ular yang mengukur tubuh pemiliknya.

Selama berminggu-minggu aku mencurigai seekor hewan yang tidak mampu berbohong.

Sementara manusia yang pernah kucintai masuk ke rumahku diam-diam, mengambil barang-barang peninggalan ibuku, lalu membiarkanku percaya bahwa aku sendiri yang ceroboh.

Bima memang predator.

Tetapi malam itu aku akhirnya mengerti bahwa predator tidak selalu datang dengan taring, sisik, atau tubuh sepanjang lima meter.

Kadang-kadang mereka datang membawa senyum yang kita kenal, memegang kunci rumah kita, dan membuat kita merasa aman sampai kita tidak sadar bahwa sesuatu yang berharga perlahan-lahan sedang diambil dari hidup kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang