“ISTRIKU DIREKTUR DI SINI! CUKUP SATU TELEPON, KAMU BISA DIPECAT, PAK TUA!” TERIAK SEORANG ANAK MAGANG SAMBIL MENYIRAMKAN KOPI KE JAS PEMILIK RUMAH SAKIT. TIGA MENIT KEMUDIAN, SKANDAL SENILAI RP18 MILIAR TERBONGKAR!

Tiga menit setelah kopi itu membasahi jas Bagas Wiratama, tak seorang pun di lobi Rumah Sakit Arunika menyangka bahwa yang akan kehilangan pekerjaannya bukanlah pria tua yang baru saja dipermalukan.

Melainkan orang-orang yang selama bertahun-tahun merasa rumah sakit itu adalah milik mereka.

Dimas Adinata masih berdiri dengan senyum puas.

Ia sama sekali tidak menyadari beberapa perawat mulai saling berpandangan setelah mendengar nama Nadira disebut.

“Telepon siapa pun yang kamu mau,” katanya sambil meletakkan gelas kosong di meja resepsionis. “Tapi jangan salahkan aku kalau setelah ini kamu dilarang masuk ke rumah sakit.”

Bagas tidak menjawab.

Ia membungkuk, mengambil kancing mutiara yang terlepas dari jasnya, lalu menggenggamnya erat.

Kancing itu jauh lebih berharga daripada jas yang dikenakannya.

Tiga puluh tahun lalu, ketika Bagas belum memiliki apa-apa, ibunya menjahit sendiri jas pertama yang ia pakai saat mengajukan pinjaman untuk mendirikan klinik kecil di pinggiran Jakarta.

Jas itu sudah beberapa kali diperbaiki.

Namun Bagas tidak pernah membuangnya.

Dimas tentu tidak tahu.

Baginya, lelaki berusia 62 tahun di hadapannya hanyalah orang tua asing yang berpakaian rapi dan berani menegurnya karena membentak seorang petugas kebersihan.

Pintu lift terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar 38 tahun keluar dengan langkah tergesa.

Blazer abu-abu, rambut disanggul sederhana, kartu identitas direktur tergantung di lehernya.

Wajah Dimas langsung berubah cerah.

“Nah, itu dia.”

Ia melambaikan tangan.

“Sayang, sini. Orang tua ini bikin masalah.”

Namun Nadira tidak melihatnya.

Tatapannya terkunci pada Bagas.

Langkahnya semakin lambat.

Wajahnya kehilangan warna ketika melihat noda kopi di jas pria itu.

“Pak Bagas?”

Suasana lobi berubah.

Dimas mengerutkan kening.

“Kamu kenal dia?”

Nadira tidak menjawab.

Bagas menatapnya tanpa ekspresi.

“Katanya suamimu bisa membuatku dipecat hanya dengan satu telepon.”

Dimas tertawa kecil.

“Memang bisa. Nadira direktur di sini.”

Nadira menoleh tajam.

“Diam, Dimas.”

Senyum Dimas lenyap.

“Apa?”

“Aku bilang diam.”

Untuk pertama kalinya, suara Nadira terdengar gemetar.

Bagas memasukkan kancing mutiara ke sakunya.

“Rapat direksi dijadwalkan pukul sembilan, bukan?”

Nadira mengangguk pelan.

“Iya, Pak.”

“Majukan.”

Bagas melihat jam tangannya.

“Sekarang.”

Dimas mulai terlihat gelisah.

“Sebentar. Sebenarnya siapa orang ini?”

Tak ada yang menjawab sampai seorang pria berkacamata bernama Rendra, kepala bagian hukum rumah sakit, muncul dari lift bersama dua staf audit internal.

Rendra berhenti ketika melihat Bagas.

“Pak Bagas, kami sudah membawa dokumennya.”

Dimas menatap satu per satu wajah mereka.

“Aku tanya, siapa dia?”

Rendra menoleh kepadanya.

“Pak Bagas Wiratama adalah pendiri sekaligus pemegang saham pengendali Rumah Sakit Arunika.”

Dimas membeku.

Wajahnya pucat.

Ia menoleh kepada Nadira, berharap istrinya menyangkal.

Namun Nadira justru menundukkan kepala.

Bagas berjalan melewatinya.

“Ruang rapat. Semua ikut.”

Dimas buru-buru mengejar.

“Pak, tunggu. Tadi cuma salah paham. Saya tidak tahu Bapak siapa.”

Bagas berhenti.

Ia menoleh.

“Kalau aku bukan pemilik rumah sakit, apakah menyiram seseorang dengan kopi menjadi pantas?”

Dimas tidak mampu menjawab.

Bagas melanjutkan langkah.

Di dalam lift, suasana terasa menyesakkan.

Nadira berdiri di sudut.

Dimas mencoba mendekatinya.

“Kamu tidak pernah bilang pemiliknya sering datang.”

Nadira berbisik tanpa menatapnya.

“Karena beliau hampir tidak pernah datang tanpa pemberitahuan.”

Bagas mendengarnya.

Memang benar.

Selama dua tahun terakhir, ia menyerahkan operasional Rumah Sakit Arunika kepada direksi profesional.

Ia lebih banyak mengurus yayasan kesehatan yang membiayai pengobatan pasien tidak mampu.

Namun tiga minggu terakhir, laporan keuangan Arunika membuatnya curiga.

Biaya pengadaan alat medis meningkat hampir tiga puluh persen.

Beberapa perusahaan pemasok baru mendapatkan kontrak bernilai besar meskipun baru berdiri.

Yang paling mencurigakan adalah sebuah perusahaan bernama PT Lentera Medika Nusantara.

Dalam delapan bulan, perusahaan itu menerima pembayaran hampir Rp18 miliar.

Bagas sudah memerintahkan audit diam-diam.

Pagi itu ia datang tanpa sopir dan tanpa ajudan untuk mengambil dokumen langsung dari bagian keuangan.

Lalu ia melihat Dimas membentak petugas kebersihan bernama Bu Sari hanya karena lantai di dekat lift masih basah.

Bagas menegurnya.

Sisanya terjadi di depan puluhan saksi.

Pintu ruang rapat tertutup.

Bagas duduk di kursi paling ujung.

“Mulai.”

Rendra membuka laptop.

“Berdasarkan audit sementara, terdapat sebelas transaksi kepada PT Lentera Medika Nusantara dengan total Rp17,86 miliar.”

Dimas menelan ludah.

Nadira memejamkan mata sebentar.

Rendra melanjutkan.

“Perusahaan tersebut memenangkan pengadaan monitor pasien, ventilator, perangkat laboratorium, dan beberapa perlengkapan ICU.”

“Masalahnya?” tanya Bagas.

“Harga pembeliannya rata-rata empat puluh sampai enam puluh persen lebih tinggi dibandingkan harga distributor resmi.”

Ruangan senyap.

Rendra mengganti halaman.

“Selain itu, enam nomor seri alat yang tercantum dalam laporan penerimaan barang tidak ditemukan di inventaris.”

Bagas menatap Nadira.

“Kamu menandatangani pengadaannya?”

Nadira mengangguk.

“Sebagian.”

“Kenapa?”

Nadira tidak menjawab.

Dimas tiba-tiba menyela.

“Pak, masalah administrasi seperti ini biasa terjadi. Nadira direktur, dia menangani ratusan dokumen.”

Bagas menatapnya.

“Aku tidak bertanya kepadamu.”

Rendra kemudian meletakkan selembar dokumen di meja.

“Masih ada satu hal.”

Ia memutar laptop agar layar terlihat oleh semua orang.

Di layar muncul dokumen pendirian PT Lentera Medika Nusantara.

Nama pemegang saham mayoritas terpampang jelas.

Maya Kusuma Adinata.

Dimas langsung berdiri.

“Itu ibu saya, tapi saya tidak terlibat.”

Bagas tetap tenang.

“Duduk.”

“Saya benar-benar tidak tahu apa-apa.”

“Duduk.”

Nada suara Bagas tidak keras, tetapi cukup membuat Dimas kembali ke kursinya.

Rendra membuka dokumen lain.

“Dua bulan setelah perusahaan tersebut berdiri, Pak Dimas mulai magang di bagian pengembangan bisnis Rumah Sakit Arunika atas rekomendasi Direktur Utama.”

Semua mata beralih kepada Nadira.

Nadira terlihat semakin pucat.

Dimas mulai panik.

“Magang saya tidak ada hubungannya dengan perusahaan ibu saya.”

Rendra mengangguk.

“Mungkin.”

Ia menekan satu tombol.

Sebuah rekaman suara terdengar.

Suara Dimas.

“Yang penting Nadira tanda tangan dulu. Soal barang masuk belakangan. Rumah sakit sebesar itu tidak akan memeriksa satu-satu.”

Dimas berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Itu rekaman palsu!”

Rendra menghentikannya.

“Rekaman berasal dari telepon staf procurement yang melaporkan dugaan pelanggaran dua minggu lalu.”

Dimas menatap Nadira.

“Kamu bilang semua sudah aman.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Seketika ruangan membeku.

Dimas baru menyadari kesalahannya.

Bagas menyandarkan tubuh.

“Aman?”

Nadira mulai menangis.

“Pak Bagas, saya bisa menjelaskan.”

“Silakan.”

Nadira menarik napas panjang.

“Awalnya Dimas bilang perusahaan ibunya hanya ingin ikut tender secara normal. Saya tidak tahu harga-harganya sudah dinaikkan.”

Dimas membentak.

“Jangan lempar semuanya ke aku!”

Nadira menatapnya dengan mata merah.

“Kamu yang bilang selisih uangnya digunakan untuk komisi distributor!”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

“Aku percaya karena kamu suamiku!”

Bagas mengangkat tangan.

Keduanya terdiam.

“Aku tidak tertarik mendengar pertengkaran rumah tangga.”

Ia menatap Nadira.

“Aku ingin fakta.”

Nadira terisak.

“Setelah kontrak ketiga, saya mulai curiga. Saya meminta dokumen asli, tetapi Dimas marah. Dia bilang kalau transaksi dihentikan, semuanya akan terbongkar dan saya juga akan terseret karena tanda tangan saya sudah ada.”

“Lalu?”

“Saya takut.”

“Jadi kamu terus menandatangani?”

Nadira mengangguk.

Air matanya jatuh.

Bagas tidak menunjukkan simpati.

“Berapa uang yang kamu terima?”

“Tidak satu rupiah pun.”

Dimas tertawa sinis.

“Jangan sok suci.”

Nadira menoleh.

“Apa maksudmu?”

Dimas menyandarkan tubuh dan tersenyum tipis.

“Apartemen di Kuningan. Kamu pikir itu dibayar pakai apa?”

Wajah Nadira berubah.

“Apartemen itu hadiah pernikahan dari ibumu.”

“Benar.”

Dimas tersenyum.

“Dibeli pakai uang perusahaan.”

Nadira menutup mulutnya.

Bagas menatap Rendra.

“Bukti?”

“Ada.”

Rendra mengeluarkan hasil penelusuran transaksi.

Dana sebesar Rp2,4 miliar ditransfer dari rekening PT Lentera Medika Nusantara ke sebuah perusahaan properti tiga hari sebelum akad jual beli apartemen.

Nadira tampak seperti kehilangan tenaga.

Ia bersandar pada kursi.

“Aku tidak tahu.”

Dimas tertawa getir.

“Sekarang semua orang bilang tidak tahu.”

Bagas diam beberapa saat.

Lalu pintu ruang rapat diketuk.

Seorang perempuan paruh baya masuk.

Bu Sari.

Petugas kebersihan yang tadi dimarahi Dimas.

Dimas mengernyit.

“Kenapa dia dibawa ke sini?”

Rendra menjawab, “Karena Bu Sari adalah orang yang pertama kali melaporkan dugaan pengadaan fiktif.”

Semua orang terkejut.

Bu Sari tampak gugup, tetapi ia menggenggam sebuah map dengan erat.

Bagas mempersilahkannya duduk.

Bu Sari justru tetap berdiri.

“Anak saya teknisi alat medis, Pak,” katanya. “Beberapa bulan lalu dia dirawat di sini. Waktu saya bersihkan ruang penyimpanan, saya lihat kotak alat dengan merek yang saya kenal. Anak saya pernah bilang tipe itu harganya tidak sampai separuh dari angka yang tertulis di dokumen yang tercecer.”

Ia menyerahkan map.

“Saya takut ikut campur. Tapi saya foto beberapa dokumen.”

Dimas memukul meja.

“Petugas kebersihan mencuri dokumen rumah sakit dan kalian percaya?”

Bu Sari tersentak.

Bagas menatap Dimas.

“Orang yang kamu anggap tidak penting ternyata melakukan sesuatu yang tidak berani dilakukan banyak orang dengan jabatan tinggi.”

Dimas terdiam.

Bagas kemudian meminta petugas keamanan datang.

“Mulai saat ini, akses Dimas Adinata ke seluruh sistem dan area administrasi rumah sakit dicabut. Seluruh perangkat perusahaan yang digunakannya diamankan untuk audit.”

Dimas berdiri.

“Kalian tidak bisa menahan saya!”

“Kami tidak menahanmu,” kata Bagas. “Kami mengamankan aset dan bukti milik rumah sakit. Proses selanjutnya akan diserahkan kepada pihak berwenang berdasarkan hasil audit.”

Dimas menatap Nadira.

“Lakukan sesuatu!”

Nadira tidak bergerak.

“Nadira!”

Perempuan itu perlahan melepas kartu identitas direktur dari lehernya.

Kemudian ia meletakkannya di meja.

“Saya mengundurkan diri.”

Bagas menatap kartu itu.

“Tidak.”

Nadira terkejut.

“Pak?”

“Pengunduran dirimu tidak menghapus tanggung jawab.”

Nadira menunduk.

“Kamu dinonaktifkan sementara sampai pemeriksaan selesai. Jika terbukti terlibat, proses hukum berjalan. Jika tidak, keputusan mengenai jabatanmu akan ditentukan setelah audit.”

Nadira mengangguk sambil menangis.

Dimas dibawa keluar dari ruang rapat.

Saat melewati Bagas, ia berhenti.

Semua keangkuhannya telah hilang.

“Pak Bagas, saya khilaf. Soal kopi tadi saya minta maaf.”

Bagas menatapnya.

“Masalahmu bukan kopi.”

Dimas terdiam.

“Masalahmu adalah kamu memperlakukan orang berdasarkan seberapa berguna mereka bagimu.”

Pintu tertutup.

Sore itu, audit diperluas.

Rekening, kontrak, surel, dan dokumen pengadaan diperiksa.

Beberapa hari kemudian, ditemukan bahwa sebagian transaksi memang terkait penggelembungan harga dan pengadaan yang tidak sesuai laporan. Seluruh temuan kemudian diserahkan kepada penasihat hukum dan pihak berwenang untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur.

Namun ada satu fakta yang bahkan Bagas tidak ketahui.

Seminggu setelah kejadian itu, Bu Sari meminta bertemu dengannya.

Ia membawa amplop tua.

“Pak, sebenarnya saya mengenal Bapak jauh sebelum bekerja di sini.”

Bagas mengernyit.

Bu Sari mengeluarkan foto kusam.

Foto sebuah klinik kecil tiga puluh tahun lalu.

Di depan bangunan itu berdiri seorang perempuan tua bersama Bagas yang masih muda.

Bagas langsung mengenali perempuan tersebut.

Ibunya.

“Dari mana Ibu mendapat foto ini?”

Bu Sari tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Dulu ibu Bapak yang membayar biaya operasi anak saya.”

Bagas terpaku.

“Saya tidak pernah bisa membalasnya.”

Bu Sari memandang jas krem yang tergantung di belakang kursi Bagas. Kancing mutiaranya sudah dijahit kembali.

“Waktu saya melihat kancing itu jatuh di lobi, saya langsung ingat. Ibu Bapak sering memakai kancing seperti itu pada pakaian yang beliau jahit sendiri.”

Bagas menunduk menatap foto.

Selama ini ia mengira pagi itu ia datang ke rumah sakit untuk membongkar sebuah skandal.

Ternyata sesuatu yang jauh lebih lama sedang kembali kepadanya.

Kebaikan yang dilakukan ibunya puluhan tahun sebelumnya telah berjalan melalui kehidupan seseorang, melewati kemiskinan, waktu, dan berbagai kesulitan, lalu kembali ketika rumah sakit yang dibangunnya berada dalam bahaya.

Bagas berdiri dan mengulurkan foto itu kembali.

Namun Bu Sari menggeleng.

“Simpan saja, Pak.”

Bagas menatap perempuan itu lama.

Kemudian ia berkata pelan, “Mulai bulan depan, saya ingin membentuk unit perlindungan pelapor internal. Siapa pun, dari dokter sampai petugas kebersihan, boleh menyampaikan temuan tanpa takut kehilangan pekerjaan.”

Bu Sari tersenyum.

Bagas melihat kembali foto ibunya.

Hari itu ia akhirnya memahami sesuatu.

Rumah sakit tidak pernah benar-benar dijaga oleh orang yang memiliki jabatan tertinggi.

Kadang-kadang, orang yang menyelamatkan sebuah institusi justru adalah seseorang yang setiap hari dilewati tanpa pernah ditanya namanya.

Dan skandal hampir Rp18 miliar itu terbongkar bukan karena seorang pemilik rumah sakit memiliki kekuasaan besar.

Melainkan karena seorang petugas kebersihan memilih untuk tidak diam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang