Semakin jelas Rani melihat sesuatu yang tersembunyi di balik lemari itu, semakin terasa dingin seluruh tubuhnya.
Noda hitam tersebut bukan sekadar bekas air.
Permukaan dinding dipenuhi bercak kehitaman dan kehijauan yang menyebar sampai ke sudut lantai. Beberapa bagian bahkan ditumbuhi lapisan seperti bulu tipis. Ketika Rani mendekat, bau lembap yang selama ini samar langsung menusuk hidungnya.
Ia refleks menutup mulut.
“Pak Arga.”

Tidak ada jawaban.
Rani menoleh.
Arga masih berbaring, tetapi kini menatapnya dengan heran.
“Ada apa?”
“Bapak harus lihat ini.”
Arga turun perlahan dari tempat tidur. Baru beberapa langkah berjalan, ia sudah terbatuk-batuk hebat hingga harus berpegangan pada meja.
Rani segera menghampirinya.
“Tidak usah mendekat kalau Bapak sesak.”
“Apa yang kamu temukan?”
Rani menunjuk ke belakang lemari.
Arga menyipitkan mata.
“Itu jamur?”
“Sepertinya begitu. Tapi banyak sekali.”
Arga justru terlihat tidak terlalu terkejut.
“Rumah di Puncak memang lembap, Ran. Mungkin cuma rembesan air hujan.”
Rani menggeleng.
Ia pernah tinggal di rumah kontrakan yang jauh lebih sederhana dan lembap. Ia tahu seperti apa dinding yang terkena rembesan biasa. Yang ada di belakang lemari Arga tampak berbeda.
Apalagi kamar itu hampir selalu tertutup.
“Pak, sejak kapan lemari ini ada di sini?”
“Entahlah. Mungkin dua tahun.”
“Pernah dipindahkan?”
Arga berpikir sebentar.
“Seingat saya tidak.”
Rani memandang bercak itu lagi.
“Bapak mulai sakit kapan?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Sekitar satu tahun terakhir, jawabnya kemudian.
Rani tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun sejak saat itu sebuah kecurigaan mulai tumbuh di kepalanya.
Siang harinya, setelah Arga menjalani pemeriksaan rutin dengan dokter pribadinya, Rani menemui kepala rumah tangga, Bu Siska.
Ia menceritakan apa yang ditemukan di kamar.
Bu Siska langsung mengernyit.
“Jangan macam-macam, Rani. Pak Arga sudah diperiksa dokter terbaik. Jangan sampai kamu membuat beliau tambah stres.”
“Saya cuma bilang ada jamur banyak sekali di belakang lemari.”
“Besok panggil tukang. Bersihkan saja.”
Rani mengangguk, tetapi hatinya tidak tenang.
Malam itu hujan deras mengguyur Puncak.
Sekitar pukul sebelas, Rani terbangun karena mendengar suara benda jatuh dari lantai atas.
Kemudian terdengar batuk.
Batuk itu semakin keras.
Rani berlari menuju kamar Arga.
Ketika pintu dibuka, Arga sudah terduduk di lantai dengan satu tangan mencengkeram dada.
“Pak Arga!”
Rani berlari menghampirinya.
Wajah lelaki itu nyaris tidak berwarna.
“Napas saya…”
Rani segera memanggil Bu Siska dan sopir. Tidak sampai lima belas menit kemudian, Arga dibawa ke rumah sakit di Bogor.
Malam itu Rani tidak bisa tidur.
Ia kembali ke kamar Arga untuk mengambil beberapa barang yang mungkin dibutuhkan di rumah sakit.
Saat memasukkan pakaian ke tas, matanya kembali tertuju pada lemari.
Hujan di luar semakin deras.
Tiba-tiba terdengar suara kecil.
Tik.
Tik.
Tik.
Rani mendekati dinding.
Air menetes dari belakang lemari.
Ia mengambil senter dan menyinari celah sempit itu.
Kemudian ia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.
Di bagian bawah dinding terdapat sebuah panel kayu kecil yang warnanya hampir sama dengan dinding. Panel itu tertutup sebagian oleh lemari.
Rani menarik lemari sedikit demi sedikit.
Berat sekali.
Setelah berusaha beberapa menit, akhirnya tercipta ruang yang cukup untuk membuka panel tersebut.
Begitu panel terbuka, bau busuk dan lembap langsung menerpa wajahnya.
Rani mundur sambil menahan napas.
Di balik dinding ternyata terdapat ruang sempit berisi pipa AC dan saluran air.
Salah satu pipa bocor.
Air terus menetes ke tumpukan material insulasi yang sudah berubah hitam.
Jamur tumbuh hampir di seluruh permukaannya.
Namun bukan hanya itu yang membuat Rani terdiam.
Di lantai terdapat beberapa kotak kardus tua.
Salah satunya sudah hancur terkena air.
Rani menyorotkan senter.
Di dalamnya ada puluhan lembar dokumen renovasi rumah.
Ia tidak berani menyentuh banyak barang, tetapi satu map plastik tergeletak paling atas.
Pada sampulnya tertulis tanggal hampir dua tahun lalu.
Renovasi Kamar Utama.
Rani membukanya.
Ada laporan kontraktor mengenai kebocoran saluran pendingin udara di dinding kamar.
Di bagian bawah terdapat sebuah catatan.
Perbaikan menyeluruh disarankan karena kelembapan tinggi berpotensi menyebabkan pertumbuhan jamur.
Rani membaca kalimat itu dua kali.
Berarti seseorang sudah mengetahui masalah ini.
Keesokan paginya Arga pulang dari rumah sakit setelah kondisinya stabil.
Dokter kembali mengatakan tidak menemukan gangguan akut pada jantung atau paru-parunya.
Ketika Arga masuk ke rumah, Rani langsung menghampirinya.
“Pak, saya harus menunjukkan sesuatu.”
Bu Siska mencoba memotong.
“Rani, Pak Arga baru pulang.”
“Tidak apa-apa,” kata Arga lemah. “Ada apa?”
Rani membawa Arga menuju kamar, lalu menunjukkan panel tersembunyi dan dokumen yang ditemukannya.
Arga membaca laporan itu dengan wajah semakin serius.
“Siapa yang menerima laporan ini?”
Rani menunjuk bagian bawah halaman.
Ada tanda tangan penerima.
Arga menatapnya lama.
Nama yang tercetak di sana adalah Siska Handayani.
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Siska yang berdiri di pintu langsung pucat.
“Bu Siska?”
Arga menatap perempuan yang sudah bekerja bersama keluarganya selama hampir sepuluh tahun itu.
“Anda tahu?”
Bu Siska menggeleng cepat.
“Saya menerima banyak dokumen renovasi, Pak. Saya tidak mungkin ingat semuanya.”
“Tapi ini menyangkut kamar saya.”
“Saya pikir sudah diperbaiki.”
Rani tidak berani ikut bicara.
Arga memejamkan mata beberapa saat.
“Hubungi perusahaan inspeksi bangunan. Saya mau kamar ini diperiksa hari ini.”
Tim pemeriksa datang sore itu.
Mereka mengenakan masker dan membawa alat pengukur kelembapan serta mengambil sampel dari dinding dan ruang tersembunyi tersebut.
Hasil awalnya membuat semua orang terdiam.
Pertumbuhan jamur di balik dinding sudah sangat luas. Sistem ventilasi kamar bahkan berpotensi menyebarkan partikel dari area lembap ke seluruh ruangan.
Dokter Arga kemudian meminta pemeriksaan lanjutan dengan mempertimbangkan paparan lingkungan yang sebelumnya tidak diketahui.
Untuk sementara, Arga diminta tidak tidur di kamar itu.
Ia pindah ke kamar tamu di lantai bawah.
Tiga hari kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Batuk Arga berkurang.
Setelah satu minggu, ia mulai bisa tidur sepanjang malam.
Dua minggu kemudian wajahnya tidak sepucat biasanya.
Dokternya belum mau menyimpulkan bahwa semua gejala Arga semata-mata disebabkan jamur. Namun satu hal jelas, menjauh dari lingkungan kamar tersebut membuat kondisinya membaik secara nyata.
Arga sendiri hampir tidak percaya.
Selama berbulan-bulan ia mencari jawaban di rumah sakit, sementara salah satu faktor penting mungkin tersembunyi beberapa sentimeter dari tempat ia tidur.
Tetapi bagi Rani, masih ada sesuatu yang mengganggu.
Mengapa kerusakan sebesar itu dibiarkan hampir dua tahun?
Suatu sore, Arga memanggilnya ke ruang kerja.
“Rani, duduk.”
Rani terlihat gugup.
“Saya tidak biasa duduk di sini, Pak.”
Arga tersenyum tipis.
“Sekarang duduk saja.”
Di atas meja terdapat laporan lama yang ditemukan Rani.
“Saya sudah menghubungi kontraktor yang dulu merenovasi rumah ini.”
Rani menunggu.
“Mereka bilang setelah menemukan kebocoran, mereka mengirimkan estimasi biaya perbaikan. Perbaikannya tidak pernah disetujui.”
“Kenapa?”
Arga mendorong satu lembar dokumen ke arahnya.
Ada formulir pembatalan pekerjaan.
Tanda tangannya terlihat seperti milik Arga.
Namun Arga menunjuknya.
“Itu bukan tanda tangan saya.”
Rani terdiam.
“Lalu siapa?”
Arga tidak menjawab.
Penyelidikan internal dimulai.
Catatan email lama diperiksa. Rekening rumah tangga diaudit. Dokumen renovasi dikumpulkan.
Sedikit demi sedikit, sebuah kenyataan yang jauh lebih buruk daripada dinding berjamur mulai terbuka.
Selama hampir tiga tahun Bu Siska dipercaya mengelola berbagai pengeluaran rumah karena Arga terlalu sibuk menjalankan perusahaannya.
Dalam laporan keuangan, biaya perbaikan kamar utama ternyata tercatat sudah dibayar.
Jumlahnya hampir seratus delapan puluh juta rupiah.
Tetapi kontraktor tidak pernah menerima uang tersebut.
Dana itu dialihkan melalui beberapa transaksi ke rekening lain.
Ketika Arga mengetahui semuanya, ia memanggil Bu Siska.
Rani tidak berada di dalam ruangan, tetapi suara pertengkaran terdengar sampai lorong.
“Saya percaya kepada Anda!”
Suara Arga bergetar menahan marah.
Bu Siska menangis.
“Saya terdesak, Pak. Anak saya punya utang. Awalnya saya berniat mengembalikannya.”
“Lalu laporan kebocoran itu?”
“Saya takut Bapak tahu uang perbaikannya sudah saya ambil.”
“Jadi Anda membiarkan kamar itu rusak?”
“Saya tidak tahu Bapak akan sakit!”
Kalimat terakhir itu membuat rumah mendadak terasa sunyi.
Arga tidak langsung menjawab.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka.
Bu Siska keluar dengan mata merah.
Hari itu juga ia diberhentikan. Kasus penggelapan dana kemudian diserahkan kepada pihak berwenang.
Namun Arga tidak merasa menang.
Malam itu ia duduk sendirian di teras belakang.
Rani sedang membawa teh ketika Arga memanggilnya.
“Rani.”
“Ya, Pak?”
“Duduk sebentar.”
Rani duduk dengan canggung di kursi seberangnya.
Arga memandang kabut yang turun di antara pepohonan.
“Saya punya rumah sebesar ini. Saya punya perusahaan, sopir, pegawai, dokter yang bisa saya panggil kapan saja.”
Ia tersenyum pahit.
“Tapi ternyata saya hampir tidak mengenal rumah saya sendiri.”
Rani terdiam.
“Kadang kita terlalu sibuk mencari jawaban yang jauh, Pak,” katanya pelan, “sampai lupa melihat apa yang ada di sekitar kita.”
Arga menatapnya.
“Mungkin benar.”
Kamar utama kemudian direnovasi total. Dinding dibongkar, kebocoran diperbaiki, material yang rusak diganti, dan sistem ventilasi dibersihkan oleh tenaga profesional.
Namun Arga tidak pernah kembali tidur di sana.
Ia memilih kamar yang lebih kecil di sisi timur rumah, dengan dua jendela besar yang selalu dibuka setiap pagi.
Tiga bulan berlalu.
Kondisinya jauh lebih baik. Berat badannya mulai kembali dan suara batuk yang dulu menggema sepanjang malam hampir tidak pernah terdengar lagi.
Suatu pagi Rani sedang membersihkan ruang makan ketika Arga datang membawa sebuah amplop.
“Ini untuk kamu.”
Rani menerimanya dengan bingung.
“Apa ini, Pak?”
“Bonus.”
Rani segera menggeleng.
“Saya cuma melakukan pekerjaan saya.”
“Tidak.”
Arga menatapnya serius.
“Pekerjaanmu adalah membersihkan kamar. Tapi kamu memilih memperhatikan sesuatu yang bahkan orang-orang yang sudah bertahun-tahun tinggal di rumah ini abaikan.”
Rani membuka amplop itu dan langsung terdiam melihat jumlah yang tertulis.
“Pak, ini terlalu banyak.”
“Tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan.”
Rani masih ingin menolak, tetapi Arga tersenyum.
“Terima saja. Dan mulai bulan depan, saya ingin kamu membantu mengawasi pengelolaan rumah. Bukan sebagai asisten rumah tangga lagi.”
Rani menatapnya tidak percaya.
“Saya?”
“Kamu mungkin tidak punya gelar manajemen, tapi kamu punya sesuatu yang ternyata jauh lebih langka.”
“Apa?”
“Keberanian untuk bertanya ketika ada sesuatu yang terasa tidak benar.”
Beberapa bulan kemudian, ketika renovasi seluruh rumah hampir selesai, pekerja menemukan satu benda lagi di balik dinding kamar lama Arga.
Sebuah foto kecil yang sudah lembap dan kusam.
Foto itu memperlihatkan Arga ketika masih berusia sekitar sepuluh tahun, berdiri bersama seorang perempuan di halaman rumah lama keluarga Wijaya.
Arga mengenali perempuan itu sebagai ibunya yang telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan yang mulai pudar.
Rumah yang indah bukanlah rumah yang paling besar. Rumah yang baik adalah tempat di mana orang-orang di dalamnya saling memperhatikan.
Arga membaca kalimat itu lama sekali.
Kemudian ia menoleh kepada Rani.
Untuk pertama kalinya sejak Rani mengenalnya, lelaki itu tersenyum tanpa terlihat lelah.
Ternyata hal paling berharga yang ditemukan di balik dinding itu bukanlah penyebab penyakitnya, bukan pula bukti penggelapan uang.
Melainkan sebuah pengingat yang selama bertahun-tahun hilang dari hidupnya.
Bahwa kekayaan bisa membeli rumah yang sangat besar, perawatan terbaik, dan hampir semua kenyamanan yang diinginkan seseorang.
Tetapi terkadang, yang menyelamatkan hidup kita justru seseorang yang cukup peduli untuk berhenti, melihat lebih dekat, dan berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
