KANDIDAT KETUA RW SUPER PELIT MEMESAN BROSUR MURAH ONLINE, TAPI YANG DATANG SATU TRUK PENUH BARANG ANEH! KAMPANYENYA BERUBAH MENJADI BENCANA KONYOL KARENA RAHASIA ISTRINYA! 📦🐔

Lima ribu ayam karet mendadak bernyanyi serempak tepat ketika Bu Nena melangkahkan kaki ke dalam garasi.

“PILIH PAK RAMON! RAMON UNTUK KETUA RW! BWA-BWA-BWAAAK!”

Suara cempreng itu menggema ke seluruh Perumahan Griya Indah, Bandung, seperti konser unggas yang sedang mengalami gangguan jiwa.

Bu Nena membeku di ambang pintu.

Dua kantong belanjaan terlepas dari tangannya. Tomat berguling ke bawah mobil, sementara seikat kangkung mendarat tepat di kepala Bimo yang masih tergeletak di lantai.

Pak Ramon berdiri kaku sambil memeluk tiga ayam karet.

Selama hampir tiga puluh tahun menikah, Bu Nena sudah menyaksikan berbagai kelakuan suaminya. Mulai dari mencuci kantong plastik bekas sampai mematikan kulkas setiap malam demi menghemat listrik.

Namun, pemandangan kali ini benar-benar melampaui batas imajinasinya.

“Mas Ramon,” ucap Bu Nena perlahan. “Kenapa garasi kita berubah jadi peternakan ayam plastik?”

Pak Ramon menelan ludah.

“Ini bukan ayam biasa, Mah. Ini teknologi kampanye internasional.”

Bu Nena mengambil seekor ayam kuning dari lantai. Di tubuh mainan itu terdapat kaus mungil bergambar wajah suaminya yang tersenyum lebar.

Ia menekan perut ayam tersebut.

“PILIH PAK RAMON! BWA-BWA-BWAAAK!”

Bu Nena memejamkan mata.

“Berapa harganya?”

“Murah sekali, Mah.”

“Berapa?”

Pak Ramon melirik Bimo, berharap pemuda itu menyelamatkannya.

Sayangnya, Bimo justru menjawab dengan polos.

“Lima juta rupiah, Bu. Lima ribu ekor. Jadi cuma seribu rupiah per ayam!”

Keheningan menyelimuti garasi.

Lalu terdengar suara Bu Nena yang begitu tenang hingga membuat bulu kuduk Pak Ramon merinding.

“Mas mengambil lima juta dari anggaran kampanye?”

Pak Ramon mengangguk lemah.

“Uangnya sebenarnya mau Mas hemat supaya bisa beli sepatu baru.”

Bu Nena menatapnya selama beberapa detik.

“Jadi uang untuk brosur malah berubah menjadi ayam yang bisa berkokok?”

“Kalau dipikir-pikir, Mah, ayam ini lebih tahan air daripada brosur.”

Bimo langsung menunduk, menahan tawa.

Bu Nena mengambil napas panjang, lalu berjalan masuk tanpa berkata apa-apa.

Pak Ramon merasa lega.

Setidaknya istrinya tidak langsung mengamuk.

Namun, lima menit kemudian, Bu Nena kembali membawa buku catatan pengeluaran kampanye.

“Mas, kita perlu bicara.”

Pak Ramon segera duduk.

“Masih ada sesuatu yang belum Mas ketahui,” kata Bu Nena.

Jantung Pak Ramon berdebar.

“Jangan bilang uang sepuluh juta itu ternyata pinjaman koperasi?”

“Bukan.”

“Atau rumah kita dijadikan jaminan?”

“Mas, diam dulu!”

Bu Nena membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan.

Pak Ramon membaca nama pengirimnya.

Toko Impor Serba Hemat.

Nama toko yang sama dengan tempat ia memesan ayam karet.

“Kenapa Mama punya pesan dari toko itu?”

Bu Nena tersenyum aneh.

“Karena Mama yang membuat akun penjualnya.”

Pak Ramon hampir terjatuh dari kursi.

“Apa?”

Bimo yang sedang membereskan kardus ikut mendekat.

Bu Nena akhirnya mengungkapkan rahasia yang selama ini disembunyikannya.

Tiga bulan sebelumnya, ia bersama adiknya, Rina, membuka usaha kecil yang menjual barang promosi melalui platform belanja online. Mereka bekerja sama dengan pemasok luar negeri untuk memproduksi berbagai suvenir unik.

Salah satu produk yang sedang mereka uji coba adalah ayam karet bersuara.

Awalnya, ayam itu dibuat untuk acara ulang tahun perusahaan dan pesta keluarga.

Namun, karena ingin mencoba pasar kampanye lokal, Rina memasang iklan dengan nama produk Promosi Kampanye Suara Elektronik.

“Jadi ayam ini sebenarnya barang dagangan Mama?” tanya Pak Ramon.

“Betul.”

“Dan Mas membelinya?”

“Betul.”

“Berarti uangnya kembali ke keluarga kita?”

Bu Nena menggeleng.

“Jangan senang dulu. Sebagian besar uang sudah dibayarkan kepada pabrik dan perusahaan pengiriman. Keuntungan kami cuma sedikit.”

Pak Ramon langsung memegangi kepalanya.

“Tapi kenapa ada wajah Mas di semua ayam ini?”

Bu Nena menunjukkan formulir pemesanan.

Di sana tertulis nama pelanggan Ramon Setiawan.

Pada bagian desain khusus, terdapat foto Pak Ramon yang diunggah sendiri ketika melakukan pemesanan.

Ternyata, tanpa membaca petunjuk, Pak Ramon telah menyetujui penggunaan foto profilnya sebagai desain kaus ayam.

“Mas bahkan mencentang pilihan rekaman suara otomatis,” jelas Bu Nena.

Pak Ramon menatap ayam di tangannya.

“Jadi suara aneh itu dibuat dari tulisan slogan Mas?”

“Iya. Sistemnya mengubah tulisan menjadi lagu.”

Bimo tidak tahan lagi.

Ia tertawa sampai terduduk.

Pak Ramon melemparkan ayam karet ke arahnya.

“Jangan ketawa! Bantu cari jalan keluar!”

Masalah mereka ternyata jauh lebih besar daripada sekadar lima ribu ayam.

Siang itu, foto truk kontainer di depan rumah Pak Ramon sudah beredar di grup WhatsApp warga.

Seseorang menulis bahwa Pak Ramon mendatangkan bantuan kampanye dari luar negeri.

Warga lain menduga ia akan membagikan sembako.

Bahkan, Pak Darto, pesaingnya dalam pemilihan Ketua RW, mulai menyebarkan kabar bahwa Pak Ramon sedang menyiapkan hadiah mahal untuk membeli suara warga.

Menjelang sore, belasan orang berkumpul di depan pagar.

“Pak Ramon! Katanya ada pembagian hadiah!” teriak seorang ibu.

Pak Ramon mengintip dari balik jendela.

Wajahnya pucat.

“Mah, kita harus sembunyikan ayam-ayam ini.”

Bu Nena melipat tangan.

“Bagaimana caranya menyembunyikan lima ribu ayam yang bisa bernyanyi?”

“Buang saja ke gudang kosong!”

“Gudang siapa?”

“Gudang Pak Hendra!”

“Pak Hendra itu ketua panitia pemilihan, Mas!”

Pak Ramon terdiam.

Bimo tiba-tiba mengangkat tangan.

“Pak, saya punya ide. Bagaimana kalau ayamnya kita bagikan sebagai suvenir?”

Pak Ramon langsung menolak.

“Nanti orang mengira kita sedang membeli suara!”

Bu Nena berpikir sejenak.

“Kalau dibagikan begitu saja menjelang pemilihan, memang bisa menimbulkan masalah. Kita harus bicara dengan panitia terlebih dahulu.”

Keesokan paginya, Bu Nena menemui Pak Hendra dan menjelaskan seluruh kejadian.

Pak Hendra mendengarkan dengan wajah serius.

Namun, ketika Bu Nena memperlihatkan ayam karet yang bernyanyi, lelaki itu tertawa begitu keras sampai kacamatanya hampir jatuh.

“Jadi Pak Ramon menghabiskan lima juta untuk membeli ayam?”

Bu Nena mengangguk.

“Dan ayamnya memakai wajah beliau?”

“Betul.”

Pak Hendra mengusap air mata akibat tertawa.

Setelah berdiskusi, mereka sepakat bahwa ayam tersebut tidak boleh dibagikan sebagai hadiah untuk memengaruhi pilihan warga.

Namun, panitia mengizinkan Pak Ramon menggunakan beberapa ekor sebagai properti hiburan dalam acara kampanye terbuka, selama tidak mengganggu ketertiban dan tidak dibagikan kepada pemilih.

Sisanya harus disimpan sampai pemilihan selesai.

Pak Ramon tidak menyukai keputusan itu.

“Kalau cuma dipakai beberapa ekor, rugi dong!”

Bu Nena menatap tajam.

“Mas mau rugi lima juta atau kehilangan kesempatan jadi Ketua RW?”

Pak Ramon langsung diam.

Sore harinya, lapangan serbaguna Perumahan Griya Indah dipenuhi warga.

Tiga kandidat Ketua RW akan menyampaikan program mereka.

Pak Darto datang mengenakan batik mahal dengan tim pendukung yang membawa spanduk besar.

Kandidat ketiga, Bu Ratih, seorang pensiunan guru, datang bersama beberapa tetangganya.

Sementara itu, Pak Ramon hanya membawa Bimo, Bu Nena, sebuah meja lipat, dan sepuluh ayam karet.

Pak Darto menyeringai ketika melihatnya.

“Wah, Pak Ramon mau kampanye atau jualan mainan?”

Beberapa orang tertawa.

Pak Ramon berusaha tersenyum.

“Ini strategi modern, Pak.”

Acara dimulai dengan penyampaian visi dan misi.

Pak Darto menjanjikan pembangunan taman baru, pengecatan seluruh pagar kompleks, dan pemasangan kamera keamanan di setiap gang.

Bu Ratih berbicara tentang kebersihan, transparansi iuran warga, dan pelayanan administrasi.

Ketika giliran Pak Ramon tiba, ia naik ke panggung dengan langkah gugup.

Ia telah menyiapkan pidato sepanjang empat halaman.

Namun, sebelum sempat membaca kalimat pertama, Bimo yang bertugas menyiapkan alat peraga tidak sengaja menjatuhkan kotak berisi sepuluh ayam karet.

Kesepuluh ayam itu langsung bernyanyi.

“PILIH PAK RAMON! RAMON UNTUK KETUA RW! BWA-BWA-BWAAAK!”

Seluruh lapangan meledak dalam tawa.

Seorang anak kecil sampai berguling di rumput.

Pak Darto tertawa sambil menepuk lutut.

“Pak Ramon, itu ayam atau juru bicara?”

Pak Ramon merasa wajahnya terbakar.

Ia berusaha mematikan suara ayam-ayam itu, tetapi semakin banyak yang tertekan ketika ia mengumpulkannya.

Suara kokok semakin kacau.

Akhirnya, Pak Ramon berdiri di tengah panggung sambil memegang seekor ayam yang terus berteriak menyebut namanya.

Bu Nena menatap suaminya dari barisan depan.

Ia tahu Pak Ramon sedang berada di ambang keputusan.

Berbohong dan menyebut semua itu sebagai strategi kampanye yang direncanakan dengan matang.

Atau mengakui kesalahannya di hadapan seluruh warga.

Pak Ramon memandang wajah-wajah yang selama ini dikenalnya.

Ada Pak Ujang, petugas keamanan yang sering ia tegur karena lampu pos ronda menyala terlalu lama.

Ada Bu Siti, tetangga yang pernah ia tolak ketika meminjam kursi untuk acara pengajian.

Ada pula anak-anak yang selalu dimarahinya karena bermain bola terlalu dekat dengan pagar rumah.

Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

Selama ini, ia ingin menjadi Ketua RW bukan karena memiliki rencana besar.

Ia hanya ingin dihormati.

Pak Ramon menarik napas.

“Bapak dan Ibu sekalian, saya mau mengaku sesuatu.”

Tawa warga perlahan mereda.

“Saya membeli lima ribu ayam seperti ini karena tergiur harga murah. Saya mengira sedang membeli brosur elektronik.”

Beberapa warga kembali tertawa.

“Saya juga mengambil sebagian anggaran kampanye yang sudah disiapkan istri saya. Saya berniat menyisihkannya untuk kepentingan pribadi.”

Bu Nena menunduk.

Pak Ramon melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Saya selalu merasa bangga karena bisa menghemat uang. Tapi ternyata saya sering tidak bisa membedakan hemat dan pelit.”

Lapangan menjadi hening.

“Saya suka mematikan lampu yang tidak perlu. Tapi saya juga pernah menolak ikut menyumbang untuk memperbaiki atap pos ronda yang bocor. Saya pikir itu bukan urusan saya.”

Pak Ujang menatapnya.

“Saya ingin menjadi Ketua RW, tetapi selama ini saya malah sering menghindari tanggung jawab sebagai tetangga.”

Pak Ramon meletakkan ayam karet di meja.

“Kalau Bapak dan Ibu tidak memilih saya, saya mengerti. Saya cuma ingin meminta maaf.”

Untuk pertama kalinya, tidak ada yang menertawakan Pak Ramon.

Bu Ratih mengangguk kecil.

Bahkan Pak Darto tampak kehilangan bahan ejekan.

Namun, ketika Pak Ramon hendak turun dari panggung, Bimo berlari menghampirinya.

“Pak! Gawat!”

“Apa lagi?”

“Barang yang kita sembunyikan di rumah ternyata bermasalah!”

Pak Ramon membelalak.

“Masalah apa?”

Bimo menunjukkan layar ponselnya.

Kamera keamanan rumah Pak Ramon memperlihatkan ruang cuci yang dipenuhi busa.

Ternyata, sebelum berangkat, Bimo lupa mengeluarkan puluhan ayam karet dari mesin cuci.

Lebih parah lagi, ia telah menyalakan mesin itu ketika hendak mencuci seragam panitia.

Putaran mesin membuat ayam-ayam tersebut tertekan berkali-kali.

Dari rekaman terdengar suara kacau.

“PILIH PAK RAMON! BWA-BWAAAK! PILIH PAK RAMON!”

Mesin cuci berguncang hebat.

Busa meluap ke lantai.

Lalu sebuah ayam karet terlempar keluar ketika pintu mesin terbuka akibat gangguan mekanis.

Pak Ramon berteriak.

“RUMAH SAYA!”

Tanpa berpikir panjang, ia berlari meninggalkan panggung.

Bimo menyusul.

Bu Nena hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa.

Peristiwa itu rupanya direkam oleh seorang remaja bernama Kevin.

Malam harinya, video Pak Ramon dikejar suara ayam karet menjadi viral di media sosial.

Judul videonya sederhana.

Calon Ketua RW Paling Hemat di Bandung Malah Beli Lima Ribu Ayam Bernyanyi.

Dalam beberapa jam, video itu ditonton ratusan ribu kali.

Komentar berdatangan.

Ada yang menyebut Pak Ramon sebagai Raja Ayam Karet.

Ada yang meminta dibuatkan versi ayam dengan nama mereka sendiri.

Bahkan, beberapa pemilik toko mainan menghubungi Bu Nena untuk menanyakan apakah ayam karet tersebut bisa dibeli dalam jumlah besar.

Keesokan harinya, ponsel Bu Nena nyaris tidak berhenti berbunyi.

Rina menelepon dengan suara bergetar karena gembira.

“Kak! Ada pesanan dua belas ribu ayam karet dari tiga toko!”

Bu Nena terdiam.

“Dua belas ribu?”

“Iya! Mereka melihat video Pak Ramon!”

Pak Ramon yang sedang mengepel ruang cuci langsung berhenti bekerja.

“Dua belas ribu ayam?”

Rina melanjutkan bahwa beberapa perusahaan juga tertarik memesan ayam karet dengan desain khusus untuk acara promosi.

Namun, ada masalah baru.

Pemasok mereka meminta pembayaran uang muka cukup besar sebelum memproduksi pesanan.

Bu Nena tidak memiliki modal sebanyak itu.

Pak Ramon langsung membuka mulut.

“Mah, bagaimana kalau kita pakai uang tabungan?”

Bu Nena menatapnya curiga.

“Tabungan yang mana?”

Pak Ramon menggaruk kepala.

“Tabungan sepatu baru.”

Bu Nena terdiam.

Selama bertahun-tahun, suaminya selalu menyimpan uang untuk kesenangannya sendiri.

Kini, untuk pertama kalinya, ia menawarkan uang itu tanpa diminta.

“Mas yakin?”

Pak Ramon mengangguk.

“Tapi jangan langsung bayar semuanya. Kita minta pembayaran awal dari pembeli, hitung biaya produksi, dan buat perjanjian yang jelas. Jangan sampai kita tertipu lagi.”

Bu Nena tersenyum.

“Baru kali ini Mas bicara soal uang dengan masuk akal.”

Mereka pun mengatur pesanan secara bertahap, meminta uang muka dari pelanggan, dan memastikan semua transaksi tercatat.

Sementara itu, hari pemilihan Ketua RW akhirnya tiba.

Pak Ramon datang tanpa spanduk besar.

Ia bahkan tidak membawa satu pun ayam karet.

Bu Nena menggenggam tangannya.

“Mas siap kalah?”

Pak Ramon mengangguk.

“Siap. Yang penting nanti pulang kita makan bakso.”

Penghitungan suara berlangsung hingga sore.

Pak Darto memperoleh 96 suara.

Bu Ratih mendapatkan 184 suara.

Ketika hasil Pak Ramon diumumkan, semua orang menahan napas.

“Pak Ramon Setiawan memperoleh 187 suara.”

Lapangan mendadak riuh.

Pak Ramon berdiri terpaku.

Ia menang dengan selisih tiga suara.

Bu Nena menutup mulutnya karena terkejut.

Bimo melompat kegirangan.

Namun, Pak Ramon justru berjalan menghampiri Bu Ratih.

“Bu, saya tidak menyangka bisa menang. Saya tahu Ibu punya pengalaman lebih banyak. Kalau Ibu bersedia, saya ingin meminta bantuan Ibu untuk mengawasi pengelolaan keuangan RW.”

Bu Ratih tersenyum.

“Saya bersedia, Pak. Asalkan semua laporan bisa dibaca warga.”

“Setuju.”

Pak Darto kemudian menyalami Pak Ramon.

“Selamat, Pak. Sepertinya ayam Bapak membawa keberuntungan.”

Pak Ramon tertawa.

“Jangan bilang begitu, Pak. Saya masih trauma mendengar suara ayam.”

Beberapa minggu kemudian, perubahan kecil mulai terlihat di Griya Indah.

Pak Ramon membuat laporan penggunaan iuran warga yang ditempel di papan pengumuman dan dibagikan melalui grup WhatsApp.

Ia mengajak warga memperbaiki pos ronda dengan anggaran yang disepakati bersama.

Ia juga berhenti memarahi anak-anak yang bermain bola, selama mereka menggunakan lapangan dan menjaga kebersihan.

Sementara itu, usaha Bu Nena berkembang pesat.

Ayam karet pesanan pelanggan mulai dikirim ke berbagai kota.

Lima ribu ayam pertama yang semula dianggap bencana ternyata menjadi contoh produk yang membuat usaha mereka dikenal.

Namun, Bu Nena tetap menyimpan satu ayam karet bergambar wajah suaminya di lemari ruang tamu.

Setiap kali Pak Ramon mulai terlalu perhitungan, ia cukup menekan perut ayam itu.

“PILIH PAK RAMON! BWA-BWA-BWAAAK!”

Pak Ramon biasanya langsung menyerah.

Suatu malam, ketika mereka sedang menikmati teh hangat di teras, Bimo datang membawa sebuah amplop besar.

“Pak, ada surat dari perusahaan mainan!”

Pak Ramon membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat tawaran kerja sama resmi untuk menjadikan ayam karet bergambar wajahnya sebagai produk promosi edisi khusus.

Nilai kontraknya mencapai puluhan juta rupiah.

Pak Ramon hampir melompat dari kursi.

“Mah! Kita kaya!”

Bu Nena tertawa.

“Belum, Mas. Itu nilai kontrak, bukan keuntungan bersih.”

Pak Ramon mengangguk cepat.

“Iya, iya. Kita hitung dulu modal, pajak, biaya kirim, semuanya.”

Bimo tersenyum melihat perubahan atasannya.

Namun, ketika membalik halaman terakhir, Pak Ramon menemukan satu syarat tambahan.

Perusahaan tersebut meminta Pak Ramon tampil dalam iklan nasional dengan mengenakan kostum ayam kuning raksasa.

Bimo langsung tertawa terbahak-bahak.

Bu Nena sampai tersedak teh.

Pak Ramon membaca kalimat itu tiga kali.

“Jadi saya harus memakai kostum ayam?”

“Iya, Pak,” jawab Bimo.

“Dan berkokok?”

“Sepertinya begitu.”

Pak Ramon memandang istrinya.

“Mah, harga diri Mas bagaimana?”

Bu Nena tersenyum manis.

“Honor iklannya cukup untuk memperbaiki taman bermain anak-anak di kompleks, membeli perlengkapan pos ronda, dan masih ada keuntungan untuk usaha kita.”

Pak Ramon terdiam cukup lama.

Kemudian ia menarik napas dalam-dalam.

“Kalau begitu, kostumnya harus ada ventilasi. Bandung memang sejuk, tapi saya tidak mau pingsan di dalam ayam.”

Sebulan kemudian, warga Griya Indah berkumpul di lapangan untuk meresmikan taman bermain yang baru direnovasi melalui sumbangan keuntungan usaha keluarga Pak Ramon.

Di tengah acara, sebuah layar besar menayangkan iklan perdana produk ayam karet tersebut.

Semua warga bersorak ketika melihat Pak Ramon muncul mengenakan kostum ayam kuning dengan wajah merah padam.

Dalam iklan itu, ia menatap kamera dengan serius sebelum berteriak.

“MAU PROMOSI HEMAT? JANGAN ASAL KLIK SEPERTI SAYA!”

Kemudian ia mengepakkan kedua tangan.

“BWA-BWA-BWAAAK!”

Tawa warga mengguncang lapangan.

Pak Ramon menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Bu Nena menggenggam lengannya sambil tertawa.

“Mas malu?”

“Malu sekali.”

“Menyesal?”

Pak Ramon memandangi anak-anak yang sedang bermain di taman baru.

Ia melihat Pak Ujang tersenyum di dekat pos ronda yang kini tidak lagi bocor.

Ia melihat Bu Ratih berbincang dengan warga sambil membawa laporan keuangan kegiatan.

Lalu ia menggeleng.

“Tidak, Mah. Ternyata uang yang dipakai dengan benar bisa membuat lebih banyak orang bahagia.”

Bu Nena menyandarkan kepala di bahunya.

“Jadi Mas sudah tidak pelit lagi?”

Pak Ramon berpikir sebentar.

“Sudah jauh berkurang.”

Bu Nena tersenyum lega.

Namun, tepat ketika ia hendak memuji suaminya, Pak Ramon mengeluarkan sebuah kupon dari saku.

“Ngomong-ngomong, Mah, tadi Mas dapat promo beli satu gratis satu untuk sabun cuci. Kalau kita pesan dua ratus botol, ongkirnya gratis.”

Bu Nena perlahan menoleh.

“Mas Ramon.”

“Iya, Mah?”

“Taruh ponsel itu.”

“Tapi promonya tinggal lima menit!”

Bu Nena mengambil ayam karet dari tasnya.

Pak Ramon langsung mengangkat kedua tangan.

“Baik! Tidak jadi beli!”

Bimo yang berdiri di belakang mereka tertawa sampai perutnya sakit.

Dan sejak hari itu, warga Griya Indah memiliki sebuah kebiasaan baru.

Setiap kali Ketua RW mereka mulai terlalu pelit dalam rapat, seseorang akan mengangkat ayam karet kuning dan menekan perutnya.

Suara cempreng itu pun menggema.

“PILIH PAK RAMON! BWA-BWA-BWAAAK!”

Anehnya, Pak Ramon tidak pernah lagi marah mendengarnya.

Sebab ia akhirnya memahami bahwa menjadi pemimpin bukan soal seberapa banyak uang yang bisa disimpan, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan.

Dan lima ribu ayam karet yang dahulu hampir menghancurkan rumah tangga serta karier politiknya justru mengajarkan pelajaran paling mahal dalam hidupnya.

Kadang-kadang, orang yang terlalu sibuk menghitung keuntungan baru benar-benar menjadi kaya ketika ia belajar berbagi.

Meski begitu, Bu Nena tetap merahasiakan satu hal dari suaminya.

Di dalam lemari kantornya, tersimpan rancangan produk baru yang sedang dikembangkan bersama Rina.

Bukan ayam karet.

Melainkan lima ribu bebek plastik berwarna merah muda.

Semuanya memakai wajah Pak Ramon.

Dan kali ini, rekaman suaranya jauh lebih memalukan.

“MAAF, BU NENA! SAYA JANJI TIDAK BELANJA SEMBARANGAN LAGI!”

Bu Nena tersenyum sendiri ketika melihat contoh produknya.

Ia sudah membayangkan hadiah ulang tahun pernikahan yang paling berkesan untuk suaminya.

Sementara di ruang tamu, Pak Ramon tiba-tiba bersin tiga kali tanpa mengetahui bahwa petualangan unggas plastik dalam hidupnya ternyata belum benar-benar berakhir.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang