KELUARGAKU DIKABARKAN BANGKRUT, SUAMIKU MELEMPAR KOPERKU—MALAM ITU SATU TELEPON MEMBUAT MEREKA DATANG BERLUTUT PAGI-PAGI

“Karena waktu itu kamu menantu keluarga Mahendra.”

Suara Ratna terdengar datar, seolah sedang membicarakan barang yang masa pakainya sudah habis.

Aku menatap gelang di pergelangan tanganku. Delapan tahun lalu, perempuan itu memasangkannya sambil tersenyum di depan ratusan tamu dan berkata bahwa mulai hari itu aku adalah putrinya sendiri.

Ternyata satu berita tentang kebangkrutan cukup untuk menghapus semua kalimat manis itu.

Aku membuka pengait gelang, lalu meletakkannya di telapak tangan Ratna.

“Ambil.”

Ratna terlihat sedikit terkejut.

Mungkin ia berharap aku menangis atau memohon.

Aku justru berjongkok, memasukkan kembali pakaian dan foto ibuku ke dalam koper.

Saat hendak berdiri, suara Selina terdengar.

“Tante, boleh aku lihat gelangnya?”

Aku menoleh.

Ratna tersenyum, lalu tanpa sedikit pun rasa sungkan memasangkan gelang itu ke tangan Selina.

“Cocok sekali.”

Selina mengangkat pergelangan tangannya, mengaguminya di bawah cahaya lampu teras.

Arga tidak mengatakan apa-apa.

Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.

Bukan cinta.

Cintaku kepada Arga mungkin sudah lama retak.

Yang mati malam itu adalah rasa bersalah karena selama berbulan-bulan aku mempertimbangkan untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya.

Aku menarik koperku menuju gerbang.

“Nadira.”

Arga memanggil.

Aku berhenti tanpa menoleh.

“Kita akan mengurus perceraian secepatnya. Jangan mencoba meminta saham atau aset Mahendra Konstruksi. Kamu tahu perusahaan sedang butuh stabilitas.”

Aku akhirnya menoleh.

“Tenang saja. Aku tidak menginginkan apa pun milik keluarga Mahendra.”

Selina tersenyum puas.

Namun aku melanjutkan.

“Semoga kalian juga tidak membutuhkan apa pun milikku.”

Arga tertawa kecil.

“Dalam keadaan seperti sekarang, memangnya kamu masih punya apa?”

Aku tidak menjawab.

Gerbang tertutup di belakangku.

Hujan mulai turun lagi.

Aku berjalan sekitar dua ratus meter sebelum memesan taksi daring. Di dalam mobil, sopir beberapa kali melihatku dari kaca spion, mungkin heran melihat seorang perempuan dengan koper basah kuyup keluar dari kompleks perumahan mewah hampir tengah malam.

Ponselku bergetar.

Ayah menelepon.

Aku mengangkatnya.

“Kamu sudah keluar?”

Aku menatap jalanan Surabaya yang berkilau karena hujan.

“Sudah.”

“Arga percaya berita itu?”

“Bukan cuma percaya. Dia mengusirku.”

Di ujung telepon terdengar keheningan panjang.

Kemudian ayah bertanya pelan, “Kamu menangis?”

Aku menyentuh pipiku.

Ternyata kering.

“Tidak.”

Ayah mengembuskan napas.

“Bagus. Datanglah ke Hotel Majapahit. Pak Surya sudah menunggumu.”

Aku terdiam.

“Pak Surya sudah di Surabaya?”

“Pesawatnya mendarat satu jam lalu.”

Aku memejamkan mata.

Berarti semuanya bergerak lebih cepat daripada perkiraanku.

Berita tentang kebangkrutan keluarga Prameswari memang benar.

Tetapi hanya sebagian.

Tiga bulan sebelumnya, audit internal menemukan bahwa direktur keuangan perusahaan kami melakukan manipulasi transaksi melalui beberapa perusahaan cangkang. Kerugiannya besar, dan ayah memutuskan mengambil langkah yang sangat berisiko.

Ia meminta bank membekukan beberapa rekening secara sukarela dan mengundurkan diri sementara agar penyelidikan berjalan tanpa konflik kepentingan.

Media hanya melihat permukaannya.

Mereka tidak tahu bahwa aset inti keluarga kami berada di perusahaan induk berbeda.

Mereka juga tidak tahu bahwa dua minggu sebelumnya, sebuah konsorsium investasi dari Singapura telah menyetujui restrukturisasi senilai ratusan miliar rupiah.

Yang lebih penting, mereka tidak tahu bahwa aku memegang saham pengendali di Prameswari Capital sejak ibuku meninggal.

Namaku tidak pernah dipublikasikan.

Atas pesan ibu, kepemilikan itu dikelola melalui perusahaan investasi.

Selama delapan tahun menikah, bahkan Arga tidak pernah tahu.

Dan ada satu hal lain yang lebih ironis.

Mahendra Konstruksi sedang mengikuti tender pembangunan tiga pusat distribusi baru di Jawa Timur.

Pemilik proyeknya adalah Prameswari Capital.

Ketika aku tiba di hotel, Pak Surya, kepala divisi hukum keluarga kami, sudah menunggu di lobi.

Ia menyerahkan sebuah tablet.

“Bu Nadira, keputusan final tinggal menunggu persetujuan Anda.”

Aku membaca dokumen di layar.

Mahendra Konstruksi berada di peringkat pertama calon kontraktor.

Nilai proyeknya enam ratus delapan puluh miliar rupiah.

Aku teringat Arga mengatakan bahwa pernikahan adalah soal manfaat.

“Apakah mereka sudah mendapat surat penunjukan?”

“Belum. Besok pagi dijadwalkan penandatanganan.”

Aku menatap Pak Surya.

“Batalkan.”

Ia tidak langsung bergerak.

“Dengan alasan?”

“Tim kepatuhan menemukan konflik kepentingan dan risiko tata kelola.”

Pak Surya mengerti.

“Saya akan minta pemeriksaan ulang.”

“Bukan hanya tender itu.”

Aku menggeser dokumen berikutnya.

Selama lima tahun terakhir, Mahendra Konstruksi mendapatkan hampir empat puluh persen proyeknya dari perusahaan yang terafiliasi dengan jaringan bisnis keluargaku.

Aku tidak pernah meminta ayah memberikan proyek kepada Arga.

Tetapi aku memang berkali-kali merekomendasikannya.

“Akhiri semua perlakuan khusus. Mulai sekarang, Mahendra harus bersaing seperti perusahaan lain.”

Pak Surya mengangguk.

Kemudian ia berkata, “Ada satu masalah lagi.”

“Apa?”

“Bank Nusantara.”

Aku mengangkat kepala.

“Pinjaman Mahendra?”

“Jatuh tempo fasilitas kredit mereka tinggal tiga minggu. Perpanjangan bergantung pada kontrak enam ratus delapan puluh miliar itu.”

Aku terdiam.

Jadi itulah alasan Arga begitu cepat membuangku.

Ia mengira keluarga Prameswari sudah tidak berguna dan Selina adalah jalan keluar baru.

Aku bertanya, “Siapa keluarga Selina?”

Pak Surya membuka sebuah laporan.

“Ayahnya, Hendrawan Wijaya, mengaku memiliki jaringan investasi yang siap masuk ke Mahendra Konstruksi.”

“Mengaku?”

“Perusahaannya punya utang lebih besar daripada aset likuidnya.”

Aku hampir tertawa.

Arga membuang kapal karena mengira sedang tenggelam, lalu melompat ke kapal lain yang ternyata sudah bocor.

Malam itu aku hanya melakukan satu panggilan.

Kepada ayah.

“Yah.”

“Ya?”

“Besok umumkan restrukturisasi.”

Ayah diam sebentar.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

“Termasuk nama pemegang saham pengendali?”

Aku melihat pantulan wajahku di jendela hotel.

Selama bertahun-tahun aku sengaja berada di belakang layar karena ingin membangun rumah tangga sebagai Nadira, bukan sebagai pewaris Prameswari.

Namun ternyata orang-orang yang paling dekat denganku justru menilai harga diriku berdasarkan nama keluarga.

“Umumkan semuanya.”

Pukul tujuh pagi, berita bisnis berubah total.

KONSORSIUM INTERNASIONAL SUNTIK DANA KE PRAMESWARI GROUP.

RESTRUKTURISASI BERHASIL, NILAI ASET TETAP DI ATAS TIGA TRILIUN RUPIAH.

NADIRA PRAMESWARI TERUNGKAP SEBAGAI PEMEGANG SAHAM PENGENDALI PRAMESWARI CAPITAL.

Namun berita yang paling menghantam keluarga Mahendra muncul setengah jam kemudian.

PROYEK PUSAT DISTRIBUSI SENILAI 680 MILIAR DITINJAU ULANG.

Aku sedang sarapan bersama ayah ketika ponselku mulai dipenuhi panggilan.

Arga.

Ratna.

Arga lagi.

Nomor kantor Mahendra.

Selina.

Aku membalik ponsel.

Ayah menyeruput kopinya.

“Kamu tidak mau menjawab?”

“Tidak.”

Pukul delapan lewat dua puluh, resepsionis menelepon kamar.

“Bu Nadira, ada beberapa orang ingin menemui Ibu.”

“Siapa?”

“Pak Arga Mahendra dan keluarganya.”

Aku tersenyum tipis.

“Suruh mereka menunggu.”

Aku sengaja turun empat puluh menit kemudian.

Begitu pintu lift terbuka, aku melihat Arga, Ratna, ayah Arga, dan dua orang direksi Mahendra berdiri di lobi.

Selina tidak ada.

Ratna langsung menghampiriku.

“Nadira.”

Untuk pertama kalinya sejak tadi malam, ia kembali menyebut namaku dengan suara lembut.

“Kita bicara sebentar, Nak.”

Nak.

Betapa cepat satu kata berubah ketika saldo rekening ikut berubah.

Aku duduk di sofa.

Arga berdiri di hadapanku.

Matanya merah seperti tidak tidur semalaman.

“Kamu sengaja menyembunyikan semuanya dariku?”

Aku menatapnya.

“Menyembunyikan apa?”

“Bahwa kamu pemegang saham Prameswari Capital.”

“Pernahkah kamu bertanya?”

Arga terdiam.

Aku melanjutkan, “Delapan tahun kita menikah. Yang kamu tanyakan selalu berapa besar koneksi ayahku, siapa yang bisa mengenalkanmu ke investor, proyek mana yang bisa kubantu. Kamu tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya kukerjakan.”

Ratna duduk di sebelahku.

“Nadira, soal tadi malam, Mama sedang emosi.”

Aku menoleh.

“Mama?”

Wajahnya pucat.

Ia menunduk.

“Kita keluarga. Tidak seharusnya masalah kecil menghancurkan semuanya.”

Aku menatap pergelangan tangannya.

Kosong.

“Gelangnya di mana?”

Ratna membeku.

Arga mengepalkan tangan.

“Selina pergi tadi pagi.”

Aku mengangkat alis.

Ternyata begitu cepat.

Ayah Arga akhirnya bicara.

“Nadira, perusahaan kami bisa mengalami gagal bayar kalau kontrak itu dibatalkan. Ratusan karyawan bergantung pada kami.”

Kalimat itu membuatku berhenti tersenyum.

Karyawan.

Mereka memang tidak bersalah.

“Aku tidak pernah memerintahkan kontraknya diberikan kepada perusahaan lain.”

Mereka saling memandang.

“Aku hanya memerintahkan evaluasi ulang secara profesional.”

Arga segera berkata, “Aku bisa menjelaskan.”

“Bukan kepadaku. Jelaskan kepada tim tender.”

Wajahnya berubah.

“Jadi kamu tidak akan membantu?”

“Tidak.”

Ratna tiba-tiba berdiri lalu berlutut di depanku.

Beberapa tamu hotel menoleh.

“Nadira, tolong.”

Aku langsung berdiri.

“Jangan.”

Namun ia menggenggam tanganku.

“Mama salah. Mama minta maaf.”

Arga perlahan ikut menundukkan tubuhnya.

Pemandangan itu seharusnya membuatku puas.

Anehnya, tidak.

Aku hanya merasa lelah.

“Bangun.”

Mereka menatapku.

“Aku tidak membutuhkan kalian berlutut. Aku membutuhkan kalian mengerti bahwa manusia tidak kehilangan harga dirinya hanya karena rekeningnya kosong.”

Ratna mulai menangis.

Aku menarik tanganku.

“Dan seseorang tidak mendadak menjadi keluarga lagi hanya karena rekening itu ternyata tidak kosong.”

Arga mengejarku ketika aku berjalan menuju lift.

“Nadira, tunggu.”

Aku berhenti.

“Aku akan meninggalkan Selina.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa?”

“Aku sadar aku salah.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kamu sadar aku kaya.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Ada bedanya.”

Pintu lift terbuka.

Namun sebelum masuk, aku menyerahkan sebuah map yang sejak tadi kubawa.

Arga menerimanya.

“Apa ini?”

“Surat gugatan cerai.”

Tangannya gemetar.

“Nadira.”

“Aku tidak mengambil saham Mahendra, tidak meminta rumahmu, dan tidak meminta apa pun dari perusahaanmu.”

Aku menatap tepat ke matanya.

“Seperti yang kukatakan tadi malam, aku tidak menginginkan apa pun milik keluarga Mahendra.”

Pintu lift menutup.

Tiga bulan kemudian, hasil tender diumumkan.

Mahendra Konstruksi tetap mendapatkan satu dari tiga proyek.

Bukan karena aku membantu mereka, melainkan karena setelah evaluasi independen, penawaran mereka memang terbaik untuk lokasi tersebut.

Dua proyek lain jatuh kepada perusahaan berbeda.

Aku sengaja tidak ikut dalam komite keputusan.

Aku tidak ingin balas dendam berubah menjadi penyalahgunaan kekuasaan.

Arga akhirnya mundur sebagai direktur utama setelah dewan menemukan sejumlah transaksi perusahaan yang dilakukan tanpa prosedur.

Hubungannya dengan Selina pun berakhir bahkan sebelum perceraian kami selesai.

Belakangan aku mendengar keluarga Wijaya tidak pernah berniat menyuntikkan modal. Selina hanya menggunakan kedekatannya dengan Arga untuk mendapatkan posisi dalam perusahaan sebelum kondisi keuangan Mahendra memburuk.

Namun kejutan terbesar datang enam bulan kemudian.

Suatu sore, sebuah paket kecil tiba di kantorku.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat gelang emas putih dengan batu giok kecil.

Gelang pernikahanku.

Ada secarik kertas.

Tulisan tangan Selina.

Aku menemukannya di apartemen setelah Arga memintaku pergi. Seharusnya benda ini kembali kepada orang yang pernah menerimanya dengan tulus. Maaf karena aku baru mengerti bahwa menjadi perempuan kedua dalam rumah tangga orang lain bukanlah kemenangan.

Aku memandangi gelang itu cukup lama.

Kemudian aku menelepon rumah lelang amal milik sebuah yayasan pendidikan.

Gelang itu terjual dua minggu kemudian.

Uangnya membiayai pendidikan tiga anak perempuan dari keluarga pekerja konstruksi hingga lulus sekolah menengah.

Ayah sempat bertanya apakah aku tidak merasa sayang.

Aku tersenyum.

“Tidak.”

“Padahal itu bagian dari masa lalumu.”

“Justru karena itu.”

Aku melihat foto ibuku yang kini berdiri di meja kerjaku.

Dulu aku mengira mempertahankan pernikahan berarti mempertahankan semua benda, janji, dan kenangan yang menyertainya.

Ternyata tidak.

Kadang kita baru tahu siapa yang benar-benar berdiri di samping kita ketika semua yang membuat kita terlihat berharga tiba-tiba hilang.

Dan terkadang, kabar bahwa kita telah kehilangan segalanya justru menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui siapa yang sebenarnya tidak pernah pantas kita pertahankan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang