KETIKA RAMBUTKU RONTOK HABIS KARENA KEMOTERAPI, AKU TAK BERANI MENEMUI PACARKU KARENA MERASA DIRIKU SUDAH TIDAK CANTIK. TAPI KEESOKAN PAGINYA DIA BERDIRI DI DEPAN KAMAR RAWAT DENGAN KEPALA YANG SUDAH DICUKUR BOTAK—LALU MENGUCAPKAN SEBUAH JANJI YANG MEMBUAT IBUKU LANGSUNG MENANGIS…

“Kalau suatu hari rambutku tidak tumbuh lagi, apa kamu masih mau menikah denganku?”

Pertanyaan itu pernah kuucapkan sambil tertawa kepada kekasihku, Raka, enam bulan sebelum dokter menemukan kanker di tubuhku.

Waktu itu, Raka sedang menyisir rambut panjangku yang kusut setelah kami kehujanan di kawasan Blok M, Jakarta.

Dia hanya tersenyum.

“Kalau rambutmu habis, aku tinggal menghemat uang sampo.”

Aku memukul lengannya sambil tertawa.

Tak pernah kubayangkan bahwa enam bulan kemudian, pertanyaan yang sama akan membuatku menangis sampai kehabisan suara.

Namaku Nadira.

Usiaku dua puluh sembilan tahun.

Sebelum kanker datang, aku termasuk perempuan yang terlalu menyayangi rambutnya.

Rambutku hitam, sedikit bergelombang, dan panjang sampai pinggang.

Ibuku sering mengejek, “Kamu mungkin lebih rela kehilangan pacar daripada salah potong poni.”

Dulu aku tertawa mendengarnya.

Sampai suatu pagi, aku terbangun di kamar rawat rumah sakit dan menemukan segenggam rambut tertinggal di bantal.

Aku memandanginya cukup lama.

Kemudian aku berjalan ke kamar mandi.

Saat kusisir rambutku, helai demi helai berjatuhan.

Sekali sisir.

Dua kali.

Tiga kali.

Lantai kamar mandi dipenuhi rambut hitam.

Tanganku mulai gemetar.

Aku sedang menjalani kemoterapi untuk kanker payudara stadium tiga.

Dokter sudah memperingatkan bahwa rambutku mungkin akan rontok.

Aku merasa sudah mempersiapkan diri.

Namun ternyata mengetahui sesuatu akan terjadi sangat berbeda dengan menyaksikannya sendiri.

Aku terduduk di lantai kamar mandi, memunguti rambut yang berserakan, lalu menangis seperti anak kecil.

Ibuku menemukanku setengah jam kemudian.

“Nadira?”

Aku buru-buru menutupi kepala dengan handuk.

“Jangan lihat, Ma.”

Ibu berjongkok di depanku.

“Kenapa, Sayang?”

“Aku jelek.”

Ibu terdiam.

“Aku sudah tidak cantik lagi.”

Ibu mencoba memelukku, tetapi aku justru menangis semakin keras.

“Raka jangan sampai lihat aku begini, Ma. Tolong.”

“Nadira, Raka mencintaimu.”

“Dia mencintai Nadira yang dulu!”

Suaraku meninggi.

“Nadira yang rambutnya panjang, yang bisa diajak jalan-jalan, yang tidak muntah setiap habis makan, yang tidak harus dibantu ibunya untuk mandi!”

Ibu menutup mulutnya.

Aku tahu perkataanku menyakitinya.

Namun saat itu aku terlalu takut untuk berhenti.

Malamnya, Raka menelepon tujuh kali.

Tidak satu pun kujawab.

Dia mengirim pesan.

“Sayang, aku sudah di parkiran rumah sakit. Boleh naik?”

Aku mengetik dengan tangan gemetar.

“Jangan datang. Aku mau istirahat.”

Balasannya muncul beberapa detik kemudian.

“Aku bawakan bubur ayam kesukaanmu.”

“Aku tidak lapar.”

“Kalau begitu aku titip ke Mama.”

“Raka, tolong jangan temui aku dulu.”

Kali ini balasannya cukup lama.

“Aku melakukan kesalahan?”

Aku menatap layar sampai mataku panas.

Kemudian kutulis sesuatu yang sebenarnya tidak kuinginkan.

“Kurasa kita perlu menjaga jarak.”

Setelah pesan itu terkirim, aku mematikan ponsel.

Aku tidak tahu bahwa malam itu Raka duduk hampir dua jam di dalam mobilnya, memandangi jendela kamar rawatku dari kejauhan.

Keesokan paginya, pukul tujuh, seseorang mengetuk pintu.

Ibu sedang membantuku meminum obat ketika suara laki-laki terdengar dari luar.

“Permisi. Ada yang pesan tukang cukur keliling?”

Aku langsung mengenali suara itu.

“Ma, jangan buka!”

Namun pintu sudah terbuka.

Dan di sanalah Raka berdiri.

Kepalanya botak licin.

Benar-benar tanpa rambut.

Aku ternganga.

Raka yang biasanya selalu menata rambutnya dengan pomade kini berdiri sambil membawa dua gelas susu hangat dan sebuket bunga matahari.

Dia menggaruk kepalanya, lalu meringis.

“Ternyata kalau tidak punya rambut, kepala gampang kedinginan, ya.”

Ibu menutup mulutnya.

Air matanya langsung jatuh.

Aku justru marah.

“Kamu ngapain, sih?”

Raka tersenyum canggung.

“Potong rambut.”

“Aku bisa lihat!”

“Bagus. Berarti matamu masih sehat.”

“Raka!”

Senyumnya perlahan menghilang.

Dia meletakkan bunga di meja, kemudian mendekat.

“Aku tahu kamu tidak mau aku melihat rambutmu rontok.”

Aku menunduk.

“Jadi aku pikir, mungkin kamu akan sedikit lebih nyaman kalau kita sama-sama botak.”

Aku menggigit bibir.

“Kamu bodoh.”

“Iya.”

“Rambutmu bagus. Kenapa harus dicukur?”

“Karena rambutku bisa tumbuh lagi.”

Aku menatapnya.

Raka berjongkok di depan tempat tidurku.

“Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu, Nad.”

Dia menggenggam tanganku.

“Aku tidak bisa menjanjikan kamu pasti sembuh. Aku juga tidak bisa menjanjikan semua hari ke depan akan mudah.”

Suaranya mulai bergetar.

“Tapi aku janji, selama kamu masih mengizinkan aku berada di sisimu, kamu tidak akan menghadapi satu pun hari buruk itu sendirian.”

Ibu menangis semakin keras.

Raka melanjutkan dengan suara pelan.

“Kalau nanti kamu tidak kuat berjalan, aku dorong kursi rodamu. Kalau kamu muntah, aku bersihkan. Kalau kamu kehilangan rambut, kita beli topi yang sama. Dan kalau suatu hari kamu lupa seperti apa cantiknya dirimu, aku akan mengingatkanmu sampai kamu bosan mendengarnya.”

Aku akhirnya menangis.

Namun di tengah tangis itu, aku mengucapkan sesuatu yang membuat wajah Raka berubah.

“Kamu tidak tahu semuanya.”

Dia mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Aku menatap Ibu.

Wajahnya mendadak pucat.

Dua hari sebelumnya, dokter memanggilku untuk membicarakan hasil pemeriksaan lanjutan.

Ada temuan pada kelenjar getah bening yang perlu dievaluasi lebih jauh. Tim dokter juga sedang mempertimbangkan penyesuaian rencana pengobatanku.

Belum ada kepastian buruk.

Namun ketidakpastian itu sendiri sudah cukup membuatku ketakutan.

“Aku mungkin harus menjalani pengobatan lebih lama,” bisikku.

Raka mengangguk.

“Aku tahu.”

Aku terkejut.

“Kamu tahu?”

“Mama bilang dokter ingin melakukan pemeriksaan tambahan. Tapi aku tidak tahu hasilnya.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Ibu mengusap pipinya.

“Mama cuma bilang kamu sedang takut, Nak. Mama tidak menceritakan hal yang belum kamu izinkan.”

Raka menggenggam tanganku lebih erat.

“Kalau hasilnya tidak sesuai harapan, kita dengarkan penjelasan dokter. Kalau perlu pendapat kedua, kita cari. Satu langkah dulu, Nad. Jangan menghukum dirimu untuk sesuatu yang belum terjadi.”

Untuk pertama kalinya sejak kemoterapi dimulai, aku merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.

Namun kebahagiaan pagi itu tidak berlangsung lama.

Menjelang siang, ponsel Raka terus berdering.

Nama yang muncul di layar adalah Bu Ratna.

Ibunya.

Raka mengabaikan panggilan pertama.

Lalu kedua.

Pada panggilan ketiga, dia keluar kamar.

Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka dari pintu yang sedikit terbuka.

“Kamu sudah benar-benar kehilangan akal, Raka?”

Suara Bu Ratna terdengar keras.

“Orang tuanya saja belum tahu bagaimana masa depannya! Kamu malah mau menikahinya?”

Aku membeku.

“Bu, jangan bicara seperti itu.”

“Ibu cuma memikirkan hidupmu! Kamu masih muda. Kamu bisa menikah dengan perempuan sehat, punya anak, membangun keluarga normal!”

Aku menarik selimut sampai menutupi wajah.

Ternyata ketakutanku benar.

Bukan semua orang mampu menerima perempuan sepertiku.

Sore harinya, ketika Raka kembali membawa makan malam, aku memintanya duduk.

“Kita putus saja.”

Dia terdiam.

“Nadira?”

“Aku serius.”

“Apa karena Mama menelepon tadi?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak mau jadi alasan kamu bertengkar dengan keluargamu.”

Raka menarik kursi.

“Kamu dengar percakapan kami?”

Aku mengangguk.

Dia menghela napas panjang.

“Ibuku takut.”

“Dan dia benar.”

“Tidak.”

“Raka, aku bahkan tidak tahu apakah nanti aku bisa punya anak!”

Raka terdiam.

Aku menangis.

“Kamu ingin jadi ayah. Aku tahu itu. Kamu selalu berhenti kalau melihat bayi lucu di mal. Kamu pernah bilang ingin punya dua anak.”

Dia memandangku lama.

Kemudian bertanya, “Kamu ingat kenapa aku ingin punya dua anak?”

Aku menggeleng.

“Karena aku anak tunggal. Dulu aku kesepian.”

Raka tersenyum sedih.

“Tapi yang sebenarnya kuinginkan bukan angka dua itu, Nad. Aku ingin punya rumah yang hangat. Rumah tempat orang tidak takut pulang.”

Dia mengusap air mataku.

“Kalau suatu hari kita punya anak, aku akan bersyukur. Kalau tidak, kita bicarakan jalan hidup kita bersama. Tapi aku tidak mau memutuskan masa depan kita hanya berdasarkan ketakutan hari ini.”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena mencintai seseorang ternyata juga berarti belajar menerima bahwa dia berhak membuat pilihannya sendiri.

Dua minggu kemudian, hasil evaluasi dokter datang.

Aku duduk bersama Ibu dan Raka di ruang konsultasi.

Dokter menjelaskan bahwa pemeriksaan tambahan tidak menunjukkan penyebaran jauh yang baru terdeteksi. Namun penyakitku tetap serius dan memerlukan kelanjutan terapi, operasi, serta evaluasi setelah pengobatan.

Aku menangis lega.

Bukan karena semuanya sudah selesai.

Melainkan karena masih ada langkah nyata yang bisa kutempuh.

Raka meremas tanganku.

“Kita jalani satu per satu.”

Sejak hari itu, dia benar-benar menepati janjinya.

Dia menemaniku ketika memungkinkan, membawakan makanan yang bisa kutoleransi, dan belajar dari perawat bagaimana membantuku dengan aman.

Tetapi Raka juga punya pekerjaan.

Dia seorang arsitek di perusahaan konstruksi Jakarta.

Kadang dia harus pergi ke luar kota.

Kadang dia kelelahan.

Dan ada malam ketika kami bertengkar karena aku merasa dia terlalu mengatur hidupku.

“Aku sakit, Rak. Bukan berarti aku tidak bisa memutuskan apa-apa!”

Raka terdiam, lalu meminta maaf.

Besoknya dia tidak lagi memaksaku makan atau berjalan.

Dia bertanya lebih dulu.

“Kamu mau dibantu, atau mau coba sendiri?”

Hal kecil itu membuatku merasa kembali menjadi manusia utuh.

Tiga bulan kemudian, aku menjalani operasi sesuai rencana tim dokter.

Pemulihannya tidak mudah.

Ada hari ketika aku tidak sanggup menatap bekas operasi di tubuhku.

Aku merasa kehilangan terlalu banyak bagian dari diriku.

Suatu malam, ketika Raka membantuku mengenakan jaket, aku menangkap bayangan kami di cermin.

Dia sudah mulai memiliki rambut pendek.

Sementara kepalaku masih hampir botak.

Aku tersenyum pahit.

“Lihat. Kamu sudah mulai ganteng lagi. Aku masih begini.”

Raka memandang bayangan kami.

“Menurutku kamu tetap cantik.”

“Kamu tidak harus berbohong.”

“Aku tidak berbohong.”

Dia berhenti sejenak.

“Tapi kalau kamu sedang tidak bisa merasa cantik, tidak apa-apa. Kamu tidak harus cantik setiap hari supaya layak dicintai.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku jauh lebih lama daripada semua pujian yang pernah kudengar.

Sebulan setelah operasi, Bu Ratna datang ke rumah.

Aku gugup setengah mati.

Dia membawa sekotak sup ayam dan duduk kaku di ruang tamu.

Raka hendak menemani kami, tetapi ibunya meminta bicara berdua.

Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar penolakan.

Namun Bu Ratna justru mengeluarkan sebuah foto lama dari tasnya.

Di foto itu, seorang perempuan muda berdiri dengan kepala tertutup syal, tersenyum di samping seorang anak laki-laki.

“Itu kakak Ibu,” katanya.

Aku menatap foto tersebut.

“Dia meninggal karena kanker ketika Raka masih kecil. Raka sangat dekat dengannya.”

Aku terkejut.

Selama ini Raka tidak pernah bercerita.

Bu Ratna mengusap foto itu.

“Waktu kakak Ibu sakit, suaminya pergi. Ibu melihat sendiri bagaimana dia menangis setiap malam. Ketika mendengar penyakitmu, Ibu takut Raka mengalami kehilangan yang sama.”

Air matanya menetes.

“Tapi Ibu salah karena menjadikan ketakutan itu alasan untuk menyakitimu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Bu Ratna menggenggam tanganku.

“Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi Ibu ingin belajar menjadi keluarga yang lebih baik untuk kalian.”

Untuk pertama kalinya, aku memanggilnya Ibu tanpa merasa canggung.

Enam bulan berlalu.

Pengobatanku memasuki tahap pemantauan dan perawatan lanjutan sesuai anjuran dokter.

Aku mulai kembali bekerja paruh waktu sebagai ilustrator.

Rambutku tumbuh pendek, lembut, dan sedikit keriting.

Suatu sore, Raka mengajakku ke taman tempat kami pertama kali berkencan.

Dia membawa kotak kecil.

Aku langsung menutup wajah.

“Raka, jangan bilang kamu mau melamar aku di depan orang banyak!”

Dia tertawa.

“Tenang. Aku tahu kamu tidak suka jadi pusat perhatian.”

Namun ketika kotak itu dibuka, isinya bukan cincin.

Melainkan sebuah jepit rambut kecil berbentuk bunga matahari.

Aku terdiam.

“Dulu kamu pernah bilang ingin memakai jepit seperti ini saat rambutmu pendek,” katanya.

Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.

“Jadi ini bukan lamaran?”

Raka menggeleng.

“Bukan.”

Aku pura-pura kecewa.

Dia tertawa, lalu mengeluarkan amplop dari saku jaketnya.

“Lamarannya ada di sini.”

Di dalam amplop itu terdapat surat tulisan tangan.

Raka tidak menuliskan janji bahwa kami akan hidup bahagia selamanya.

Dia menulis tentang hal-hal sederhana.

Tentang memasak sarapan.

Tentang membayar tagihan listrik.

Tentang bertengkar karena cucian menumpuk.

Tentang saling menemani ke rumah sakit saat tua.

Dan di bagian paling bawah tertulis sebuah kalimat.

“Aku tidak sedang menunggu Nadira yang dulu kembali. Aku ingin menjalani hidup bersama Nadira yang ada di hadapanku hari ini.”

Ketika aku mengangkat wajah, Raka sudah berlutut.

Kali ini dia memegang cincin.

“Maukah kamu menikah denganku?”

Aku menangis sambil tertawa.

“Mau.”

Namun kejutan sebenarnya datang dua minggu kemudian.

Saat menyiapkan berkas pernikahan, Ibu menyerahkan sebuah buku catatan kecil berwarna biru.

“Ini milik Raka. Dia titipkan kepada Mama waktu kamu pertama kali dirawat. Katanya, berikan kalau kamu sudah siap membacanya.”

Aku membuka halaman pertama.

Tanggalnya adalah hari ketika dokter pertama kali menyampaikan diagnosis kankerku.

Di sana tertulis sebuah kalimat.

“Hari ini Nadira bertanya apakah aku akan meninggalkannya. Aku bilang tidak. Tapi aku sadar jawaban itu terlalu mudah diucapkan oleh orang yang belum memahami apa yang akan kami hadapi.”

Aku membalik halaman.

Ada catatan tentang pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada dokter, daftar makanan yang kusukai, jadwal pemeriksaan, dan pengingat agar dia tidak mengambil keputusan atas namaku.

Pada halaman lain tertulis, “Hari ini Nadira marah karena aku terus menyuruhnya makan. Aku pikir aku sedang membantu. Ternyata aku membuatnya merasa kehilangan kendali. Besok aku harus lebih banyak mendengarkan.”

Air mataku jatuh di atas kertas.

Kemudian aku sampai pada halaman terakhir.

Tanggalnya sehari sebelum Raka datang dengan kepala botak.

“Aku ingin mencukur rambutku besok. Tapi aku harus ingat, kehilangan rambut karena memilih mencukurnya tidak sama dengan kehilangan rambut karena pengobatan. Aku tidak akan pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi Nadira. Aku hanya berharap dia tahu bahwa dia tidak perlu menyembunyikan dirinya dariku.”

Di bawah tulisan itu ada satu kalimat tambahan.

“Kalau suatu hari dia memilih hidup tanpa aku, aku tetap ingin dia sembuh dan bahagia. Karena mencintainya bukan berarti dia berutang masa depan kepadaku.”

Aku menutup buku itu sambil menangis.

Selama berbulan-bulan, aku mengira Raka bertahan karena kasihan.

Ternyata dia juga takut.

Dia juga belajar.

Dia juga berkali-kali merasa tidak tahu harus berbuat apa.

Bedanya, dia memilih untuk tidak membiarkan ketakutannya mengambil keputusan menggantikan cinta.

Setahun setelah pagi ketika rambutku pertama kali rontok, aku berdiri di depan cermin mengenakan gaun pengantin sederhana.

Rambutku masih pendek.

Bekas operasi masih ada.

Aku masih harus menjalani pemeriksaan berkala, dan tidak ada seorang pun yang bisa menjamin apa yang akan terjadi pada masa depan.

Namun untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha menyembunyikan apa pun.

Ibu berdiri di belakangku sambil memasangkan jepit bunga matahari pada rambutku.

“Kamu cantik sekali, Nak.”

Aku tersenyum.

“Dulu Mama bilang aku lebih mungkin menangis karena salah potong poni daripada karena laki-laki.”

Ibu tertawa sambil menghapus air mata.

“Sekarang bagaimana?”

Aku memandang bayanganku di cermin.

“Sekarang aku tahu rambut bisa tumbuh lagi, Ma. Tapi keberanian untuk mencintai diri sendiri harus aku rawat setiap hari.”

Ketika pintu ruangan terbuka, Raka berdiri di sana mengenakan jas abu-abu.

Rambutnya sudah tumbuh rapi.

Dia memandangku cukup lama sampai aku salah tingkah.

“Kenapa?”

Raka menggeleng.

“Aku cuma ingat sesuatu.”

“Apa?”

“Waktu pertama kali kita pacaran, kamu bilang rambutmu adalah mahkotamu.”

Aku tersenyum.

“Memangnya kenapa?”

Dia mendekat, lalu menggenggam tanganku.

“Sekarang aku tahu aku salah selama ini.”

Aku mengerutkan kening.

“Salah apa?”

“Aku pikir tugasku adalah membuatmu merasa cantik.”

Raka mengusap punggung tanganku.

“Padahal tugasku cuma mencintaimu dengan baik, sampai kamu punya ruang untuk melihat dirimu sendiri.”

Aku memeluknya.

Di luar ruangan, para tamu mulai berdatangan.

Hidup kami belum sempurna.

Mungkin memang tidak akan pernah sempurna.

Namun ketika Raka menggandeng tanganku menuju tempat akad, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan cermin kepadaku.

Kanker telah mengambil rambutku, mengubah tubuhku, dan merenggut banyak hal yang dulu kuanggap sebagai bagian dari kecantikanku.

Tetapi penyakit itu tidak pernah mengambil nilai diriku sebagai manusia.

Dan lelaki yang berjalan di sampingku bukanlah orang yang menyelamatkanku dari rasa takut.

Dia adalah orang yang tetap tinggal sementara aku perlahan belajar menyelamatkan keberanianku sendiri.

Saat ijab kabul selesai dan semua orang mengucapkan selamat, Raka membisikkan sesuatu di telingaku.

“Nad, ada satu janji yang belum pernah aku ceritakan.”

Aku menoleh.

“Janji apa?”

“Dulu, sebelum kita bertemu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa kalau suatu hari aku mencintai seseorang, aku tidak akan membuatnya merasa harus menjadi sempurna untuk tetap dicintai.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Raka tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Karena waktu kecil, aku pernah mendengar bibiku yang sakit bertanya kepada suaminya, apakah dia masih pantas dicintai.”

Dia berhenti sejenak.

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya waktu itu.”

Tangannya menggenggam tanganku lebih erat.

“Tapi hari ini, aku akhirnya bisa.”

Aku menangis dalam pelukannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kanker datang, air mata itu bukan karena aku takut kehilangan sesuatu.

Melainkan karena aku akhirnya mengerti bahwa cinta yang tulus tidak menuntut seseorang kembali menjadi dirinya yang dulu.

Cinta memberi ruang bagi seseorang untuk tumbuh menjadi dirinya yang baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang