Aku baru menyadari senyum tipis di wajah Tuan Farraz ketika mobil berhenti di depan gang rumah kontrakanku.
Senyum itu hanya muncul sesaat, nyaris seperti bayangan. Namun entah kenapa, pemandangan kecil itu terus teringat bahkan setelah aku turun sambil menggandeng Luna.
“Om Farraz, besok jemput Luna pakai Ferrari, ya!” seru Luna sebelum pintu mobil kututup.
“Luna!” Aku langsung menegurnya.
Tuan Farraz justru menoleh. “Kalau ibumu mengizinkan.”

Mata Luna seketika berbinar.
Aku buru-buru menarik tangan putriku masuk ke gang sebelum mulut mungilnya mengeluarkan permintaan yang lebih memalukan.
Malam itu, setelah Luna tertidur, aku membuka amplop cokelat pemberian Tuan Farraz.
Tanganku mendadak gemetar.
Jumlah uang di dalamnya jauh lebih besar daripada yang kami sepakati.
Aku menghitungnya dua kali, lalu tiga kali.
Tetap sama.
Besok pagi, sebagian uang itu sudah cukup untuk melunasi tunggakan sekolah Luna, membayar kontrakan, bahkan membeli kebutuhan dapur untuk beberapa minggu.
Namun bukannya lega, dadaku justru terasa sesak.
Aku tidak suka berutang budi.
Terlebih kepada keluarga Bu Diana yang sudah terlalu banyak menolongku.
Aku mengambil ponsel dan mengetik pesan.
Tuan, uangnya terlalu banyak. Besok saya kembalikan sisanya.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Tidak perlu.
Saya hanya bekerja sesuai kesepakatan, Tuan.
Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.
Anggap bonus karena aktingmu bagus.
Aku mendengus kecil.
Sebelum sempat mengetik balasan, ponselku bergetar lagi.
Besok jangan terlambat. Ibu ingin bicara.
Jantungku seketika berdegup aneh.
Entah mengapa, kalimat itu terdengar seperti pertanda sesuatu.
Pagi berikutnya, dugaanku terbukti.
Begitu tiba di rumah Bu Diana setelah mengantar Luna sekolah, perempuan itu sudah menungguku di ruang makan dengan secangkir teh.
“Duduk dulu, Rum.”
Aku menurut.
Tuan Farraz rupanya sudah pergi. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya.
Bu Diana menatapku cukup lama sebelum berkata, “Kemarin kamu pergi ke reuni dengan Farraz?”
Aku terdiam.
Aku tidak tahu apakah harus mengatakan yang sebenarnya.
“Maaf, Bu. Sebenarnya saya cuma diminta menemani Tuan Farraz.”
“Saya tahu.”
Aku mengangkat wajah.
Bu Diana tersenyum tipis.
“Farraz cerita sebelum kalian berangkat.”
Aku semakin bingung.
“Lalu kenapa Ibu bertanya?”
“Karena saya ingin tahu satu hal. Kamu nyaman bersama Farraz?”
Pertanyaan itu membuatku tercekat.
“Ibu…”
“Jangan salah paham dulu.” Bu Diana tertawa kecil. “Saya bukan sedang menjodohkan kalian.”
Entah kenapa aku justru semakin gugup.
“Farraz sudah lama sekali tidak mau dekat dengan perempuan,” lanjutnya. “Setelah ayahnya meninggal, dia berubah. Terlalu sibuk bekerja, terlalu keras pada dirinya sendiri. Kemarin malam, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya melihat dia pulang sambil tersenyum.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Untungnya suara bel rumah menyelamatkanku.
Pak Slamet membuka pintu.
Namun orang yang masuk membuat darah di wajahku seperti surut seketika.
Bang Sandi.
Dia berdiri bersama Celine.
Aku spontan bangkit.
“Kalian?”
Celine memandangku dari ujung kepala sampai kaki. Senyumnya dingin.
“Jadi benar kamu bekerja di sini.”
“Untuk apa kalian datang?”
Bang Sandi maju selangkah.
“Aku mau bicara soal Luna.”
Nama putriku membuat tubuhku menegang.
“Bicara apa?”
“Aku mau ketemu dia.”
Aku tertawa hambar.
“Setelah hampir setahun tidak menanyakan kabarnya?”
“Rumaya, jangan mulai.”
“Bukan aku yang mulai, Bang.”
Bu Diana yang sejak tadi mengamati akhirnya berdiri.
“Kalau ada urusan pribadi, silakan bicara baik-baik. Jangan membuat keributan di rumah saya.”
Bang Sandi mengangguk sopan.
“Maaf, Bu.”
Celine mendadak menyela.
“Kami hanya ingin memastikan anak itu hidup layak. Bagaimanapun dia anak Mas Sandi.”
Aku menatapnya tajam.
“Anak itu punya nama. Luna.”
“Ya, terserah.”
Tanganku mengepal.
Aku masih bisa menerima penghinaan untuk diriku sendiri. Namun tidak jika menyangkut putriku.
“Kemarin kamu bilang aku menghalangi Sandi memberi uang,” lanjut Celine. “Sekarang kamu malah memamerkan chat lama seperti aku penjahat.”
“Karena memang kamu yang membalas pesanku.”
“Karena waktu itu kami baru menikah. Aku tidak mau mantan istri mengganggu rumah tangga kami.”
Aku sampai tidak percaya mendengarnya.
“Aku menghubungi ayah dari anakku untuk biaya sekolah, bukan mengajak suamimu kembali padaku.”
Wajah Celine memerah.
Bang Sandi memotong, “Sudah.”
Kemudian dia menatapku.
“Mulai sekarang aku akan memberi uang bulanan untuk Luna.”
“Aku tidak butuh belas kasihan.”
“Itu hak anakku.”
“Benar. Dan hak itu seharusnya kamu ingat tanpa perlu melihat aku datang ke reuni bersama lelaki kaya.”
Bang Sandi terdiam.
Aku akhirnya memahami alasan kedatangannya.
Bukan karena tiba-tiba merindukan Luna.
Harga dirinya terusik setelah melihatku bersama Farraz.
“Apa semua ini karena Farraz?” tanyaku.
Rahang Bang Sandi mengeras.
“Aku cuma nggak mau anakku dibesarkan oleh laki-laki asing.”
Aku hampir menjawab ketika sebuah suara berat terdengar dari belakang.
“Laki-laki asing yang mana?”
Kami semua menoleh.
Tuan Farraz berdiri di dekat pintu ruang keluarga.
Entah sejak kapan dia pulang.
Kemeja putihnya digulung sampai siku, wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya membuat suasana berubah.
Bang Sandi berdiri lebih tegak.
“Ini urusan keluarga saya.”
Farraz berjalan mendekat.
“Kalau begitu selesaikan sebagai keluarga. Jangan datang ke rumah orang lain lalu mempermalukan ibu dari anakmu.”
Wajah Bang Sandi memerah.
“Kamu siapa sampai ikut campur?”
Farraz belum sempat menjawab ketika Celine menarik lengan suaminya.
“Mas, ayo pulang saja.”
Namun Bang Sandi justru semakin emosi.
“Jangan bilang kamu benar-benar pacaran dengan dia, Rum?”
Aku membeku.
Tuan Farraz menatapku sesaat.
Kemudian dengan suara datar dia berkata, “Kalaupun iya, apa urusan Anda?”
Ruangan langsung sunyi.
Bahkan aku ikut terkejut.
Bang Sandi menatap Farraz seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi Celine tiba-tiba menarik tangannya lebih keras.
“Mas Sandi, cukup!”
Untuk pertama kalinya wajah Celine terlihat panik.
Farraz menyipitkan mata.
“Sepertinya istri Anda lebih tahu kapan harus berhenti.”
Celine pucat.
Tanpa berkata lagi, dia menarik Bang Sandi keluar rumah.
Aku masih berdiri kaku ketika pintu tertutup.
“Maaf, Tuan,” kataku pelan. “Saya sudah membuat masalah.”
Farraz menatapku.
“Kamu terlalu sering minta maaf.”
Aku mengernyit.
“Memangnya salah?”
“Kadang orang yang terlalu sering disalahkan jadi terbiasa minta maaf bahkan saat dia tidak melakukan kesalahan.”
Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam daripada yang dia sadari.
Aku menunduk karena tiba-tiba mataku panas.
Hari-hari setelah kejadian itu berjalan aneh.
Bang Sandi mulai mentransfer uang untuk Luna setiap awal minggu. Tidak banyak, tetapi cukup membuktikan bahwa pertemuan kami di reuni membuat sesuatu berubah.
Farraz juga berubah.
Dia masih dingin. Masih jarang berbicara. Namun hampir setiap pagi ketika aku datang bekerja, ada roti atau susu kotak di meja dapur untuk Luna.
Saat kutanya siapa yang membeli, Bu Diana selalu tertawa.
“Mana Ibu tahu.”
Padahal aku pernah melihat struk belanja keluar dari saku jaket Farraz.
Luna bahkan semakin dekat dengannya.
“Om Farraz, Luna mau punya sepatu lampu.”
“Untuk apa?”
“Kalau malam mati listrik, Luna bisa jadi senter.”
Farraz menatapnya serius selama tiga detik sebelum akhirnya tertawa.
Aku yang sedang menyapu hampir menjatuhkan sapu.
Ternyata lelaki itu bisa tertawa sungguhan.
Masalah kembali muncul dua minggu kemudian.
Aku sedang menunggu Luna di depan sekolah ketika sebuah mobil hitam berhenti.
Bang Sandi turun.
“Luna!”
Putriku yang baru keluar gerbang langsung tersenyum.
“Ayah?”
Ada kebahagiaan di wajahnya yang membuat dadaku mencelos.
Bagaimanapun juga, Sandi tetap ayahnya.
Bang Sandi berjongkok memeluk Luna.
“Ayah mau ajak makan es krim.”
Aku mendekat.
“Kenapa nggak bilang dulu?”
“Aku ayahnya.”
“Dan aku ibunya.”
Sebelum perdebatan berkembang, Luna memegang tanganku.
“Ibu ikut, ya.”
Aku akhirnya setuju.
Kami pergi ke sebuah restoran keluarga tidak jauh dari sekolah.
Awalnya semua berjalan normal.
Sampai Bang Sandi mengatakan sesuatu yang membuat sendok di tanganku berhenti.
“Luna mau tinggal sama Ayah?”
Luna menatapnya bingung.
“Ayah punya rumah besar. Ada kamar sendiri. Nanti kamu bisa sekolah di tempat yang lebih bagus.”
Aku langsung menatap Sandi.
“Bang.”
“Aku cuma menawarkan.”
Luna memandangku.
“Tapi Ibu ikut?”
Bang Sandi terdiam.
“Kalau Ibu nggak ikut, Luna nggak mau.”
Aku menahan napas.
Bang Sandi mengusap kepala Luna.
“Ayah cuma mau kasih hidup yang lebih baik.”
“Luna sudah punya hidup yang baik.”
Suara itu bukan milikku.
Aku menoleh.
Farraz berdiri beberapa meter dari meja kami.
Aku sampai tidak percaya melihatnya.
“Tuan?”
“Saya kebetulan ada urusan di dekat sini.”
Kebetulan yang sangat sulit dipercaya.
Bang Sandi mendengus.
“Lagi-lagi kamu.”
Farraz menarik kursi kosong lalu duduk santai.
“Kebetulan saya juga lapar.”
Luna tertawa girang.
“Om Farraz!”
Ketegangan sedikit mencair.
Namun ketika Bang Sandi pergi ke toilet, Farraz menatapku.
“Dia mau ambil Luna?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau dia benar-benar serius, jangan takut.”
Aku tersenyum getir.
“Orang kaya selalu mudah bilang jangan takut.”
Farraz tidak tersinggung.
Dia hanya berkata, “Kalau kamu butuh pengacara, bilang.”
Aku menatapnya.
“Kenapa Tuan terus membantu saya?”
Untuk pertama kalinya, lelaki itu tidak langsung menjawab.
Matanya beralih ke Luna yang sedang memainkan sendok.
“Saya juga tidak tahu.”
Jawaban itu terdengar jujur.
Seminggu kemudian, sebuah surat datang ke rumah kontrakanku.
Surat panggilan mediasi mengenai hak asuh anak.
Tanganku langsung dingin.
Sandi benar-benar melakukannya.
Dia menuntut hak asuh Luna dengan alasan kondisi ekonomiku tidak stabil.
Dalam dokumen itu tertulis bahwa aku hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga, tinggal di kontrakan sederhana, dan dianggap tidak mampu memberikan pendidikan terbaik.
Aku menangis malam itu.
Bukan karena malu dengan pekerjaanku.
Aku bangga bisa menghidupi Luna dengan tanganku sendiri.
Aku hanya takut kehilangan satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Esok paginya aku datang bekerja dengan mata bengkak.
Farraz langsung menyadarinya.
“Apa terjadi sesuatu?”
Aku menyerahkan surat itu.
Dia membaca sampai selesai.
Wajahnya tetap datar.
Namun tangannya mengepal.
“Dia akan kalah.”
Aku menggeleng.
“Bang Sandi punya uang. Keluarganya juga punya banyak kenalan.”
Farraz menatapku lama.
“Uang bukan satu-satunya hal yang menentukan siapa orang tua yang baik.”
Dua hari kemudian aku dibawa menemui pengacara perusahaan Farraz.
Barulah saat itu aku mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah kuketahui.
Farraz bukan sekadar anak orang kaya.
Dia adalah pemilik utama perusahaan investasi yang memiliki beberapa hotel, pusat perbelanjaan, dan perusahaan logistik.
Bahkan bisnis keluarga Bang Sandi pernah mengajukan kerja sama kepada perusahaannya.
Aku terdiam cukup lama.
“Kenapa Tuan tidak pernah bilang?”
“Karena kamu tidak pernah tanya.”
Menjelang mediasi, kejutan lain datang.
Celine menghubungiku.
Aku hampir tidak mengangkat telepon.
Namun kalimat pertamanya membuatku diam.
“Rumaya, jangan kasih Luna ke Sandi.”
“Apa?”
“Sandi bukan mau Luna karena rindu.”
Suaranya bergetar.
“Dia sedang berusaha memperbaiki citra di depan keluarganya. Ayahnya mau menyerahkan sebagian saham perusahaan, tetapi hanya kepada anak yang dianggap paling stabil dan punya keluarga.”
Aku merasa mual.
“Jadi Luna dipakai?”
Celine menangis.
“Aku tahu aku pernah jahat sama kamu. Aku yang menghapus pesanmu. Aku yang melarang Sandi membalas. Tapi aku nggak sanggup kalau anak kecil jadi alat.”
Pada hari mediasi, Bang Sandi datang bersama pengacara.
Aku datang bersama Farraz.
Begitu melihatnya, wajah Sandi berubah.
Sidang berjalan panjang.
Kemudian pihak Sandi kembali menyinggung soal ekonomiku.
Farraz yang sejak tadi diam akhirnya menyerahkan sebuah dokumen.
Pengacaranya berkata tenang, “Klien kami juga ingin menyerahkan bukti bahwa Saudara Sandi tidak pernah rutin memberikan nafkah selama bertahun-tahun.”
Disusul rekaman transfer.
Percakapan.
Pesan yang selama ini kusimpan.
Kemudian satu bukti terakhir.
Kesaksian Celine.
Wajah Bang Sandi benar-benar pucat.
Pada akhirnya, hak asuh tetap berada padaku.
Sandi mendapat hak kunjung dan kewajiban memberikan nafkah tetap.
Di luar ruangan, dia menghampiriku.
“Rum.”
Aku berhenti.
“Aku salah.”
Tidak ada kemarahan lagi di wajahnya.
Hanya kelelahan.
“Aku terlalu sibuk membuktikan sesuatu kepada orang tuaku sampai lupa jadi ayah.”
Aku menatapnya.
“Kalau benar sadar, jangan buktikan ke aku. Buktikan ke Luna.”
Dia mengangguk.
Aku berjalan pergi.
Di halaman gedung, Luna berlari dari arah Bu Diana.
“Ibu!”
Aku memeluknya erat.
Baru saat itu semua ketegangan yang kutahan pecah.
Aku menangis sambil mencium rambutnya berkali-kali.
Kemudian Luna melepaskan pelukan.
“Om Farraz.”
Farraz mendekat.
“Apa?”
Luna menunjuk mobilnya.
“Katanya kalau Ibu menang, Luna boleh naik Ferrari.”
Aku langsung melotot.
“Kapan Tuan bilang begitu?”
Farraz memasukkan tangan ke saku.
“Saya tidak pernah bilang.”
Luna mengerucutkan bibir.
“Om bohong.”
Bu Diana tertawa dari belakang.
Farraz akhirnya membuka pintu mobil.
“Sekali saja.”
Luna bersorak.
Aku menatapnya tidak percaya.
Ketika aku hendak naik ke kursi penumpang, Farraz berkata pelan, “Rumaya.”
Aku menoleh.
“Kontrak kita waktu reuni sudah selesai.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Jadi mulai hari ini saya tidak butuh kekasih bayaran.”
Entah kenapa jantungku terasa berhenti.
Dia melanjutkan dengan ekspresi setenang biasanya.
“Saya ingin mencoba yang sungguhan.”
Aku tidak langsung menjawab.
Luna tiba-tiba menyembulkan kepala dari dalam mobil.
“Ibu, cepat! Nanti keburu hujan!”
Aku tertawa kecil.
Farraz juga tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa takut memikirkan masa depan.
Aku pernah kehilangan rumah tangga.
Pernah dianggap tidak pantas hanya karena tidak punya gelar dan harta.
Pernah makan sisa kulit ayam agar anakku bisa mendapatkan bagian terbaik.
Namun ternyata hidup tidak selalu mengukur seseorang dari apa yang ia miliki.
Kadang hidup hanya sedang menguji seberapa lama kita mampu bertahan tanpa kehilangan kebaikan dalam diri.
Aku menatap Farraz.
“Kalau sungguhan, jangan pakai kontrak.”
Dia mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena saya nggak punya uang buat bayar denda kalau melanggar.”
Farraz tertawa.
Luna ikut tertawa meski jelas tidak mengerti.
Dan sore itu, sebuah Ferrari keluar perlahan dari halaman gedung.
Bukan membawa perempuan bayaran dan lelaki yang menyewanya.
Melainkan seorang ibu, seorang anak kecil, dan seorang lelaki yang akhirnya memahami bahwa keluarga kadang bukan tentang siapa yang datang paling awal dalam hidup kita.
Melainkan siapa yang memilih tetap tinggal ketika semua orang lain pergi.
