“Rehan, sebenarnya rumah ini dibangun untuk siapa?”
Pertanyaan itu keluar dari bibir Maya dengan suara bergetar.
Di hadapannya berdiri sebuah mansion megah di atas tebing kawasan Uluwatu, Bali. Angin laut berembus melalui jendela besar, membawa aroma lavender dan melati yang begitu dikenalnya.
Namun bukan kemewahan rumah itu yang membuat jantung Maya berdebar.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Rumah ini seolah mengetahui setiap kelemahannya.
Dinding koridornya memiliki ukiran timbul yang dapat diraba. Permukaan lantainya berubah sesuai fungsi ruangan. Pegangan tangga dirancang pada ketinggian yang tepat untuk tangannya. Bahkan aroma tanaman di setiap sudut menjadi penunjuk arah yang tidak membutuhkan penglihatan.
Maya mengenali semua itu.
Sebab hampir dua tahun terakhir, dialah yang merancang seluruh taman mansion tersebut.
Tetapi ia tidak pernah mengetahui bahwa bagian dalam rumah juga dirancang mengikuti kondisi matanya.
“Rehan, jawab aku. Siapa pemilik rumah ini?”

Laki-laki di sampingnya terdiam.
Sebelum Rehan sempat menjawab, terdengar suara sepatu hak tinggi mendekat dari arah pintu utama.
“Sepertinya sudah waktunya berhenti berpura-pura.”
Maya langsung mengenali suara itu.
Sheila.
Perempuan yang selama berbulan-bulan merendahkannya di hadapan para pekerja proyek.
“Kasihan sekali, Maya,” lanjut Sheila. “Kamu bekerja hampir dua tahun tanpa mengetahui siapa yang sebenarnya membayar semua ini.”
Rehan menegang.
“Sheila, cukup.”
Namun Sheila justru tertawa kecil.
“Kenapa? Takut dia mengetahui kenyataannya sebelum menandatangani kontrak?”
Maya merasakan udara di sekelilingnya mendadak dingin.
“Kontrak apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Sheila meletakkan sebuah map di atas meja.
“Kontrak penyerahan akhir proyek. Tanda tanganmu diperlukan sebagai perancang lanskap utama.”
Maya mengulurkan tangan.
“Bacakan isinya.”
Sheila hendak mengambil map itu, tetapi Rehan lebih dahulu meraihnya.
“Aku yang akan membacakan.”
“Tidak,” potong Maya. “Aku ingin mendengarnya dari pengacara yang memeriksa dokumen ini.”
Keheningan panjang menyelimuti ruangan.
Untuk pertama kalinya, Rehan menyadari bahwa perempuan yang selama ini berusaha dilindunginya bukanlah seseorang yang bisa terus diberi kejutan tanpa penjelasan.
Dua tahun sebelumnya, kehidupan Maya masih terasa normal.
Ia tinggal di sebuah rumah sederhana dekat Pantai Sanur bersama ibunya, Bu Ratna. Sejak kecil, Maya menyukai tanaman. Ayahnya yang telah meninggal merupakan tukang kebun hotel, sementara ibunya berjualan bunga potong.
Maya tumbuh dengan keyakinan bahwa keindahan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal.
Setelah lulus dari perguruan tinggi di Denpasar, ia membuka usaha desain lanskap kecil-kecilan.
Bakatnya perlahan dikenal.
Dari halaman vila sederhana hingga taman hotel berbintang, Maya selalu berhasil menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Di tengah perjalanan itulah Rehan selalu berada di sampingnya.
Mereka berteman sejak kecil.
Rehan pernah menjadi anak laki-laki kurus yang menemaninya mencari kerang di pantai. Ketika Maya kehilangan ayahnya pada usia enam belas tahun, Rehan pula yang duduk bersamanya semalaman tanpa banyak bicara.
Tujuh tahun lalu, Maya menyadari bahwa perasaannya telah berubah menjadi cinta.
Namun ia tidak pernah mengatakannya.
Ketika Rehan pindah ke Jakarta dan mendirikan firma arsitektur, Maya memilih tetap di Bali.
Mereka terus bekerja sama dalam beberapa proyek.
Sampai suatu hari, dokter menemukan penyakit retina degeneratif yang menyebabkan penglihatannya terus memburuk.
Tidak ada pengobatan yang dapat menjamin penglihatannya kembali.
Maya menyembunyikan kenyataan itu dari semua orang, kecuali ibunya dan Rehan.
Awalnya ia masih dapat membaca gambar desain menggunakan kaca pembesar.
Kemudian warna-warna mulai memudar.
Wajah manusia berubah menjadi bayangan.
Hingga akhirnya, cahaya matahari pun hanya tampak seperti kabut putih.
Rehan mengetahui setiap tahap perubahan itu.
Namun Maya tidak pernah menyadari bahwa sejak diagnosis pertama, laki-laki itu mulai mempelajari sesuatu yang sama sekali berbeda dari pekerjaannya.
Arsitektur untuk penyandang disabilitas penglihatan.
Saat Rehan menawarkan proyek mansion di Uluwatu, Maya menganggapnya kesempatan terakhir untuk meninggalkan karya besar sebelum dunianya menjadi gelap.
Ia menerima pekerjaan itu.
Bahkan ketika Sheila mulai memperlakukannya seperti beban.
“Desainer yang tidak bisa melihat warna tanaman sendiri? Hebat sekali,” sindir Sheila suatu pagi.
Maya hanya tersenyum.
“Aku masih bisa membedakan tanaman dari tekstur, bentuk, dan aromanya.”
“Kalau begitu, mungkin nanti kamu bisa mendesain taman sambil tidur.”
Beberapa pekerja tertawa canggung.
Rehan yang mendengar kejadian itu langsung menegur Sheila.
Namun Maya memintanya tidak memperpanjang masalah.
Ia tidak ingin dikasihani.
Selama hampir dua tahun, Maya bekerja dengan bantuan gambar timbul, rekaman suara, dan asistennya yang bernama Dini.
Ia memilih lavender di dekat kamar utama karena aromanya menenangkan.
Melati di sepanjang koridor untuk memberikan petunjuk arah.
Tanaman berdaun tebal di dekat tangga untuk membantu seseorang mengenali lokasi melalui sentuhan.
Maya mengira permintaan itu berasal dari klien kaya yang memiliki selera aneh.
Padahal setiap tanaman yang dipilihnya memiliki alasan yang sangat pribadi.
Kembali ke ruang tamu mansion, Maya berdiri sambil menggenggam tongkatnya.
“Rehan, aku tidak mau menandatangani apa pun sebelum mengetahui semuanya.”
Rehan menarik napas panjang.
“Baik. Kamu berhak tahu.”
Ia meminta pengacara proyek, Pak Adrian, masuk ke ruangan.
Laki-laki itu memperkenalkan diri dan mulai menjelaskan dokumen yang berada di atas meja.
“Bu Maya, kontrak ini menyatakan bahwa pekerjaan desain lanskap telah selesai dan diterima oleh pemilik bangunan.”
“Siapa pemiliknya?”
Pak Adrian terdiam sejenak.
“Pemilik terdaftar mansion ini adalah Ibu Maya Prameswari.”
Maya membeku.
“Apa?”
“Tanah dan bangunan ini secara hukum telah menjadi milik Ibu sejak enam bulan lalu, melalui akta hibah yang telah didaftarkan.”
Tongkat di tangan Maya hampir terlepas.
“Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah membeli tanah. Aku bahkan tidak punya uang sebanyak itu.”
Rehan akhirnya berbicara.
“Aku yang membelinya.”
Maya berbalik ke arah suaranya.
“Kamu?”
“Aku membeli tanah ini tiga tahun lalu. Bangunannya kuselesaikan secara bertahap. Ketika dokter mengatakan penglihatanmu mungkin tidak bisa diselamatkan, aku mulai mengubah seluruh rancangan.”
Maya menggeleng.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin kamu tetap bisa hidup mandiri.”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Namun bukan kebahagiaan yang pertama kali dirasakannya.
Melainkan kemarahan.
“Jadi selama ini kamu membohongiku?”
“May, dengarkan dulu.”
“Kamu mengatakan ada klien kaya. Kamu membiarkanku bekerja siang malam. Kamu melihatku berjuang ketika aku bahkan kesulitan berjalan. Semua itu untuk apa? Supaya kamu bisa memberiku rumah ini seperti hadiah kepada orang yang harus dikasihani?”
Rehan terdiam.
Maya melanjutkan dengan suara pecah.
“Aku tidak pernah meminta rumah mewah. Aku hanya ingin kamu memperlakukanku seperti manusia biasa.”
Kata-kata itu menghantam Rehan lebih keras daripada yang dibayangkannya.
“Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan aku salah karena menyembunyikan semuanya.”
Sheila yang sejak tadi berdiri di dekat pintu tiba-tiba menyela.
“Sekarang kamu mengerti, Maya? Rehan menghabiskan puluhan miliar rupiah hanya untuk membuatmu merasa nyaman. Padahal uang itu seharusnya digunakan untuk mengembangkan perusahaan kami.”
Rehan menoleh tajam.
“Perusahaan kita sudah berakhir, Sheila.”
Perempuan itu tertawa sinis.
“Belum tentu.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tasnya.
“Ada sesuatu yang belum kamu ceritakan kepada Maya, bukan?”
Rehan langsung berubah pucat.
Maya mendengar perubahan napasnya.
“Apa lagi?”
Sheila tersenyum.
“Rehan menjual hampir seluruh sahamnya di firma arsitektur Jakarta untuk membiayai rumah ini.”
Maya merasa dadanya sesak.
“Rehan, benarkah?”
Laki-laki itu tidak menjawab.
“Jawab aku!”
“Iya.”
Maya menutup mulutnya.
Firma arsitektur itu adalah impian Rehan sejak mereka masih remaja.
Ia pernah berjanji akan membangun perusahaan terbesar di Indonesia.
Dan sekarang, demi sebuah rumah yang tidak pernah diminta Maya, ia melepaskan sebagian besar hasil kerja kerasnya.
“Kamu menghancurkan masa depanmu sendiri,” bisik Maya.
“Tidak. Aku membuat keputusan tentang hidupku.”
“Tanpa bertanya kepadaku.”
Rehan menunduk.
“Ya. Dan itu kesalahanku.”
Sheila tampak puas.
Namun kepuasannya tidak berlangsung lama.
Pak Adrian membuka map lain.
“Pak Rehan, sebelum pembicaraan dilanjutkan, ada persoalan hukum yang harus diselesaikan.”
Wajah Sheila berubah.
“Persoalan apa?”
“Tim audit menemukan pengeluaran proyek yang tidak sesuai dengan laporan keuangan.”
Rehan mengangkat kepala.
“Pengeluaran yang mana?”
“Pembelian material lanskap melalui perusahaan pemasok milik keluarga Bu Sheila.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Adrian melanjutkan.
“Beberapa tagihan dinaikkan hingga tiga kali lipat. Ada pula pembayaran untuk tanaman impor yang tidak pernah dikirim.”
Sheila mundur selangkah.
“Itu tuduhan!”
“Kami memiliki faktur, bukti transfer, dan laporan pemeriksaan independen.”
Rehan menatap mantan rekan bisnisnya.
“Jadi ini alasan kamu terus mengatakan Maya membuat biaya membengkak?”
Sheila menggertakkan gigi.
“Kamu tidak mengerti apa pun! Aku membangun perusahaan itu bersamamu. Lalu kamu membuang semuanya demi perempuan yang bahkan tidak bisa melihat wajahmu!”
“Cukup!” bentak Rehan.
Namun Maya justru mengangkat tangan.
“Biarkan dia bicara.”
Sheila terdiam.
Maya melangkah perlahan mendekatinya.
“Aku memang tidak bisa melihat wajahmu lagi, Sheila. Tapi aku masih bisa mendengar kebohonganmu.”
Suaranya tenang.
“Selama ini aku diam bukan karena aku lemah. Aku diam karena aku mengira kamu hanya tidak menyukaiku.”
Ia berhenti beberapa langkah dari Sheila.
“Ternyata kamu merendahkanku supaya orang lain percaya ketika kamu menyalahkanku atas biaya proyek.”
Sheila tidak menjawab.
Maya melanjutkan.
“Aku mungkin kehilangan penglihatan. Tapi kamu kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.”
“Apa?”
“Kejujuran.”
Untuk pertama kalinya, Sheila tidak menemukan kata-kata untuk membalas.
Pak Adrian menjelaskan bahwa hasil audit akan diserahkan kepada pihak berwenang dan perusahaan akan menuntut pengembalian dana yang disalahgunakan.
Sheila meninggalkan mansion dengan wajah pucat.
Setelah semua orang pergi, hanya Maya dan Rehan yang tersisa di ruang tamu.
Ombak menghantam tebing jauh di bawah mereka.
Maya duduk di sofa.
“Rehan, aku harus mengatakan sesuatu.”
“Aku mendengarkan.”
“Aku sudah mendaftar ke pusat rehabilitasi tunanetra di Jawa Tengah.”
Rehan terdiam.
“Aku berencana pergi minggu depan. Tanpa memberitahumu.”
“Mengapa?”
“Karena aku takut menjadi bebanmu.”
Suara Maya mulai bergetar.
“Aku takut suatu hari kamu harus meninggalkan pekerjaan hanya untuk menuntunku berjalan. Aku takut kamu berhenti mengejar impian karena merasa bertanggung jawab atas hidupku.”
Rehan duduk di hadapannya.
“May, boleh aku memegang tanganmu?”
Maya mengangguk.
Rehan menggenggam jemarinya dengan lembut.
“Aku tidak pernah menganggapmu beban. Tapi sekarang aku mengerti kenapa caraku membangun rumah ini justru menyakitimu.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku mengira dengan menyediakan semua yang kamu butuhkan, aku bisa menghilangkan ketakutanmu. Padahal aku tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya kamu inginkan.”
Maya menangis dalam diam.
“Aku ingin tetap bekerja, Rehan. Aku ingin tetap menjadi perancang taman. Aku tidak mau hidupku hanya berisi orang-orang yang membantuku.”
“Kalau begitu, teruslah bekerja.”
“Bagaimana caranya?”
“Kita cari caranya bersama. Dengan teknologi, dengan tim yang tepat, dan dengan keputusan yang tetap berada di tanganmu.”
Maya menggenggam tangannya lebih erat.
“Kenapa kamu melakukan semua ini untukku?”
Rehan menarik napas panjang.
“Karena aku mencintaimu.”
Maya membeku.
“Apa?”
“Aku mencintaimu sejak tujuh tahun lalu.”
Air mata kembali membasahi pipinya.
“Tujuh tahun?”
“Aku ingin mengatakannya berkali-kali. Tapi setiap kali aku mencoba, kamu selalu menjauh. Ketika kamu sakit, aku takut pengakuanku justru membuatmu merasa terpaksa menerima perasaanku.”
Maya tertawa kecil di tengah tangisnya.
“Kita benar-benar bodoh.”
Rehan ikut tertawa.
“Sepertinya begitu.”
“Aku juga mencintaimu sejak tujuh tahun lalu.”
Untuk beberapa saat, keduanya hanya duduk saling menggenggam tangan.
Namun Maya kemudian menarik napas.
“Aku tidak bisa menerima rumah ini begitu saja.”
Rehan mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku juga tetap akan pergi ke pusat rehabilitasi.”
“Aku tidak akan melarangmu.”
“Dan setelah kembali, aku ingin membangun sesuatu dengan kemampuanku sendiri.”
“Apa?”
Maya tersenyum.
“Sebuah studio desain lanskap yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Aku ingin membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukan berarti kehilangan kemampuan berkarya.”
Rehan tersenyum.
“Itu ide yang luar biasa.”
“Tapi aku punya satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan pernah lagi membuat keputusan besar atas namaku.”
Rehan mengangguk.
“Aku janji.”
Enam bulan kemudian, Maya kembali ke Bali.
Ia telah mempelajari teknik orientasi dan mobilitas, penggunaan pembaca layar, serta berbagai keterampilan hidup mandiri.
Penglihatannya kini hampir hilang sepenuhnya.
Namun langkahnya jauh lebih mantap.
Ia tidak lagi menyembunyikan tongkat putihnya.
Bersama Dini dan beberapa desainer muda, Maya mendirikan studio lanskap bernama Ruang Rasa.
Studio itu mengembangkan taman yang dapat dinikmati melalui aroma, suara, tekstur, dan perubahan suhu.
Proyek pertamanya adalah taman terapi di sebuah sekolah inklusi Denpasar.
Rehan membantu sebagai konsultan arsitektur, tetapi seluruh keputusan desain tetap berada di tangan Maya.
Sementara itu, penyelidikan terhadap Sheila terus berjalan. Audit menemukan penyalahgunaan dana yang jauh lebih besar daripada perkiraan awal.
Rehan berhasil menyelamatkan sebagian aset perusahaannya, tetapi ia tidak kembali mengejar kehidupan lamanya di Jakarta.
Ia memilih membuka studio arsitektur kecil di Bali.
Suatu sore, Rehan mengajak Maya kembali ke mansion di Uluwatu.
Rumah itu masih berdiri megah menghadap Samudra Hindia.
Namun kini Maya telah membuat keputusan tentang masa depannya.
Sebagian bangunan akan digunakan sebagai pusat pelatihan desain inklusif, sementara area lainnya menjadi tempat tinggal dan ruang kerja yang dapat ia kelola sendiri.
Mereka berjalan menuju taman lavender.
“Ada sesuatu yang belum pernah kutunjukkan kepadamu,” kata Rehan.
Maya tersenyum.
“Kejutan lagi?”
“Kali ini kamu boleh menolak.”
Rehan membimbing tangannya menuju sebuah batu besar di tengah taman.
Pada permukaannya terdapat ukiran huruf timbul.
Maya meraba perlahan.
Ia mengenali tulisan Braille yang kini telah dipelajarinya.
Namun kalimat yang terbaca membuat napasnya tertahan.
Rumah ini bukan dibangun agar kamu tidak pernah tersesat.
Rumah ini dibangun agar kamu selalu tahu bahwa kamu bebas menentukan jalan pulangmu sendiri.
Di bawahnya terdapat sebuah nama.
Bukan nama Rehan.
Melainkan nama ayah Maya.
Maya terkejut.
“Ayah?”
Rehan mengangguk meski mengetahui Maya tidak dapat melihatnya.
“Ayahmu pernah mengatakan sesuatu kepadaku sebelum meninggal.”
Maya menahan napas.
“Apa?”
“Dia bilang, Maya selalu bisa menemukan keindahan di tempat yang tidak diperhatikan orang lain. Kalau suatu hari dunia menjadi gelap baginya, jangan biarkan siapa pun meyakinkannya bahwa keindahan itu sudah hilang.”
Maya menutup wajahnya.
Selama bertahun-tahun, ia mengira kenangan tentang ayahnya hanya tersisa dalam foto-foto yang kini tidak bisa dilihatnya lagi.
Ternyata kata-kata ayahnya masih hidup.
Di tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Rehan kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Maya mendengar suara tutupnya terbuka.
“Aku tidak akan memintamu tinggal di rumah ini demi aku,” katanya.
“Aku juga tidak akan memintamu berhenti bekerja atau mengubah impianmu.”
Ia meletakkan sebuah cincin sederhana di telapak tangan Maya.
“Aku hanya ingin bertanya. Maukah kamu menikah denganku, sambil tetap menjadi Maya yang selalu menentukan jalannya sendiri?”
Maya terdiam lama.
Lalu ia tersenyum sambil menangis.
“Mau. Tapi aku tetap akan menjadi bos di studio kita.”
Rehan tertawa.
“Sejak dulu juga begitu.”
Maya meraih wajah Rehan dengan kedua tangannya.
Ia menyentuh garis rahang, pipi, dan senyum laki-laki yang telah dikenalnya sejak kecil.
“Aku sudah lupa seperti apa wajahmu sekarang,” bisiknya.
Rehan mengecup punggung tangannya.
“Tidak apa-apa.”
“Tapi aku masih ingat seperti apa rasanya berada di dekatmu.”
Di kejauhan, suara ombak memecah kesunyian.
Beberapa minggu kemudian, Maya menerima sebuah amplop dari pusat rehabilitasi tempat ia belajar.
Di dalamnya terdapat surat dari seorang perempuan berusia dua puluh tahun yang baru kehilangan penglihatan akibat kecelakaan.
Perempuan itu menulis bahwa ia hampir menyerah pada hidupnya sampai mendengar kisah Maya dan melihat karya-karyanya melalui penjelasan audio.
Di bagian akhir surat tertulis sebuah kalimat yang membuat Maya menangis lebih lama daripada saat menerima lamaran Rehan.
Kak Maya, dulu aku berpikir hidupku sudah berakhir ketika aku tidak bisa melihat lagi. Sekarang aku tahu, mungkin aku hanya perlu belajar menemukan jalan yang berbeda.
Maya melipat surat itu dengan hati-hati.
Lalu ia meminta Dini menyimpannya di meja kerja.
Bukan di dalam lemari.
Ia ingin surat itu selalu mudah dijangkau.
Sebab akhirnya Maya memahami sesuatu yang dahulu tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Selama ini ia mengira mansion di atas tebing merupakan karya terakhir yang akan dibuatnya sebelum kehilangan penglihatan.
Ternyata rumah itu justru menjadi awal dari seluruh karya yang belum pernah ia bayangkan.
Dan kejutan terbesar bukanlah kenyataan bahwa laki-laki yang dicintainya telah membangun rumah mewah untuknya.
Bukan pula bahwa cinta mereka ternyata saling berbalas selama tujuh tahun.
Melainkan kenyataan bahwa setelah kehilangan hampir seluruh penglihatannya, Maya justru berhasil membantu orang lain menemukan harapan.
Dahulu ia takut kegelapan akan merampas masa depannya.
Kini ia tahu bahwa masa depan tidak selalu harus dilihat dengan mata.
Kadang, masa depan dibangun dengan keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika jalan di depan belum terlihat.
Dan di taman yang dipenuhi aroma lavender itu, Maya akhirnya menyadari satu hal.
Ia tidak pernah menjadi perempuan yang kehilangan dunianya.
Ia hanya sedang belajar menciptakan dunia yang baru.
