Sepanjang perjalanan menuju rumah Puput, tanganku mencengkeram setang motor begitu erat sampai buku-buku jariku terasa kaku. Berkali-kali bayangan buruk muncul di kepala. Ibu tergeletak sendirian di lantai kamar mandi, memanggil nama kami tanpa ada yang mendengar.
Begitu sampai, aku langsung berlari masuk.
“Bu!”
“Ibu di kamar, Teh,” jawab Puput dari ujung lorong.
Aku menemukan Ibu sudah berbaring di tempat tidur. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit basah, sementara tangan kanannya memegangi pinggang.

“Bu, sakit di mana?”
“Pinggang sama kaki,” jawabnya lirih.
Aku berjongkok di samping ranjang.
“Kenapa nggak langsung dibawa ke rumah sakit?”
Puput yang berdiri di dekat pintu menghela napas.
“Aku baru nemuin Ibu, Teh. Aku juga panik.”
“Jatuhnya kapan?”
Puput terdiam.
Aku menoleh.
“Put, Ibu jatuh kapan?”
“Nggak tahu.”
Jawaban itu membuat dadaku mendadak dingin.
Aku menatap Ibu. “Ibu berapa lama di kamar mandi?”
Ibu tidak langsung menjawab. Matanya justru menghindar dariku.
“Kayaknya dari pagi.”
Aku melihat jam.
Sudah hampir pukul dua siang.
“Dari pagi?”
Puput buru-buru menyela. “Aku ada meeting, Teh. Dari pagi kerja di kamar. Aku kira Ibu tidur.”
Aku tidak membalas. Tidak ada gunanya bertengkar saat itu.
Aku segera membawa Ibu ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan membuatku sedikit lega karena tidak ada tulang yang patah. Namun dokter mengatakan ada memar cukup berat di pinggang dan Ibu harus banyak beristirahat.
Saat dokter bertanya apakah Ibu memiliki riwayat tekanan darah rendah, aku langsung menjelaskan semuanya. Obat apa yang diminum, kapan terakhir kontrol, makanan yang harus dihindari, sampai keluhan lututnya selama beberapa bulan terakhir.
Puput hanya duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya.
Dokter kemudian menatapku.
“Ibu tinggal dengan Anda?”
Aku hendak menjawab, tetapi Puput lebih dulu berkata, “Sekarang sama saya, Dok.”
Dokter tampak sedikit bingung.
“Kalau begitu, obat rutinnya apa saja?”
Puput terdiam.
Aku yang akhirnya menjawab.
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil terasa aneh. Puput menyetir, aku duduk di belakang menemani Ibu.
“Ibu pulang sama Rima saja,” kataku.
Ibu langsung membuka mata.
“Nggak usah. Ibu tetap di rumah Puput.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Bu, tadi Ibu hampir lima jam di kamar mandi.”
“Puput kan kerja.”
“Aku juga kerja, Bu.”
Kalimat itu keluar sebelum sempat kutahan.
Ibu diam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di wajahnya. Bukan marah. Bukan kesal.
Mungkin malu.
Namun sesampainya di rumah Puput, Ibu tetap memilih tinggal.
Aku tidak memaksa.
Dua minggu berikutnya aku datang hampir setiap hari. Membawa makanan, mengganti seprai, mengantar kontrol, bahkan kembali menyiapkan obat-obatan Ibu dalam kotak kecil bertuliskan hari dan jam.
Lucunya, aku melakukan semua pekerjaan yang dahulu kulakukan di rumah sendiri, hanya saja sekarang aku harus menempuh perjalanan hampir empat puluh menit untuk melakukannya.
Sampai suatu sore, Puput menelepon.
“Teh, bisa ke sini?”
“Ada apa?”
“Soal Ibu.”
Nada suaranya membuatku langsung khawatir.
Namun ketika sampai, ternyata bukan keadaan darurat.
Puput duduk di ruang makan dengan laptop terbuka. Di sampingnya ada beberapa lembar tagihan.
“Teh, kita perlu ngomong.”
Aku duduk.
“Soal apa?”
“Biaya Ibu.”
Aku mengernyit.
“Biaya apa?”
“Makan, listrik, obat, perawat kalau nanti perlu. Sejak Ibu tinggal di sini, pengeluaran rumah naik.”
Aku menatap adikku seolah baru pertama kali melihat wajahnya.
“Baru tiga minggu, Put.”
“Justru kita harus atur dari sekarang.”
Puput memutar laptopnya ke arahku. Sebuah tabel pengeluaran terlihat di layar.
“Aku hitung sekitar empat juta sebulan. Kita bagi dua saja.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Selama hampir sepuluh tahun Ibu tinggal sama Teteh, pernah Teteh kirim tagihan ke kamu?”
Wajah Puput berubah.
“Jangan bawa-bawa masa lalu.”
“Bukan masa lalu. Itu sepuluh tahun hidup Teteh.”
“Aku juga sering transfer ke Ibu.”
“Berapa?”
Puput diam.
Aku tahu jawabannya.
Kadang lima ratus ribu saat Lebaran. Kadang satu juta ketika ulang tahun. Lalu foto bukti transfer itu akan dikirim ke grup keluarga dan Ibu akan membanggakannya selama berminggu-minggu.
Sementara biaya kontrol, obat, makan, listrik, kebutuhan sehari-hari, semuanya tidak pernah dihitung.
Karena aku tidak pernah merasa sedang memelihara orang lain.
Dia ibuku.
“Kalau memang perlu uang, bilang saja,” ujarku akhirnya. “Tapi jangan bikin seolah-olah Ibu beban yang harus dibagi pakai spreadsheet.”
Puput berdiri.
“Enak buat Teteh ngomong begitu. Kerja Teteh fleksibel.”
Aku tersenyum getir.
Lagi-lagi pekerjaanku.
“Fleksibel bukan berarti nggak kerja, Put.”
“Tapi Teteh di rumah.”
“Dan karena aku di rumah, semua orang merasa waktuku gratis.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku baru sadar Ibu berdiri di ujung lorong.
Entah sejak kapan ia mendengarkan.
Aku mengambil tas.
“Teteh pulang.”
Malam itu, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku menangis karena Ibu.
Bukan karena Puput.
Bukan pula karena uang.
Aku menangis karena akhirnya menyadari betapa keras aku berusaha mendapatkan pengakuan dari seseorang yang mungkin memang tidak pernah melihatku.
Aku menulis novel sejak anak pertamaku berusia dua tahun.
Awalnya hanya cerita pendek di internet. Kemudian penerbit menghubungiku. Buku pertama terbit, lalu kedua, ketiga.
Tidak langsung sukses.
Aku pernah menerima royalti yang bahkan tidak cukup untuk membayar listrik.
Namun perlahan pembacaku bertambah.
Novel keenamku dicetak ulang sembilan kali.
Novel kedelapanku dibeli hak adaptasinya oleh sebuah rumah produksi.
Aku tidak pernah menceritakan angka-angkanya kepada Ibu.
Baginya, pekerjaan adalah berangkat pagi memakai pakaian rapi, memiliki jabatan, menerima gaji tetap setiap bulan.
Puput memenuhi semua gambaran itu.
Aku tidak.
Tiga hari setelah pertengkaran tersebut, teleponku berbunyi pukul sebelas malam.
Nama Ibu muncul.
Aku langsung mengangkat.
“Bu?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas.
“Bu, kenapa?”
Kemudian terdengar isak kecil.
“Rim.”
Aku berdiri dari tempat tidur.
“Iya, Bu.”
“Jemput Ibu.”
Hanya dua kata.
Aku tidak bertanya apa pun.
Ketika tiba di rumah Puput, lampu ruang tamu masih menyala. Ibu sudah duduk di sofa dengan sebuah tas kecil di sampingnya.
Puput berdiri sambil menyilangkan tangan.
“Ini bukan salah aku, Teh.”
“Ada apa?”
“Ibu marah karena aku mau cari perawat.”
Ibu langsung menyahut, “Bukan itu!”
“Terus apa?”
“Ibu dengar kamu bicara sama suamimu.”
Puput mendadak pucat.
Aku menatap keduanya.
“Bicara apa?”
Ibu menggenggam ujung bajunya.
“Tadi sore Ibu mau ambil air. Ibu dengar Puput bilang kalau Ibu makin susah diurus, lebih baik cari panti lansia yang bagus.”
“Bu, aku cuma diskusi!”
“Lalu kamu bilang rumah ini bukan rumah sakit!”
Suara Ibu pecah.
Aku belum pernah melihatnya seperti itu.
Puput mengusap wajah frustrasi.
“Aku capek, Bu! Aku kerja dari pagi sampai malam. Aku nggak bisa setiap lima menit dipanggil!”
Kalimat itu menggantung di udara.
Aneh.
Aku pernah merasakan hal yang sama.
Ratusan kali.
Namun aku tidak merasa menang.
Aku justru merasa kasihan melihat Ibu.
Perempuan yang selama bertahun-tahun membanggakan anak bungsunya kini duduk dengan mata merah di rumah anak yang dianggapnya paling berhasil.
Aku mengangkat tas Ibu.
“Ayo pulang, Bu.”
Sepanjang perjalanan, Ibu diam.
Baru ketika kami hampir sampai rumah, ia berkata pelan.
“Maaf.”
Aku hampir tidak yakin mendengarnya.
“Apa, Bu?”
“Ibu bilang maaf.”
Lampu jalan melintas satu demi satu di kaca mobil.
“Ibu kira selama ini kamu nggak sibuk.”
Aku tidak menjawab.
“Ibu kira karena kamu selalu ada, berarti pekerjaanmu nggak penting.”
Aku menggigit bibir.
“Ibu baru sadar, orang yang selalu ada itu bukan berarti orang yang nggak punya kesibukan.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Namun aku tetap menatap jalan.
Sesampainya di rumah, anak-anakku berlari keluar.
“Nenek pulang!”
Anak bungsuku memeluk pinggang Ibu. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah Puput, wajah Ibu benar-benar tersenyum.
Hari-hari berikutnya tidak langsung berubah sempurna.
Ibu masih suka mengomel.
Masih memanggil saat aku sedang bekerja.
Masih menganggap AC terlalu dingin padahal lima menit sebelumnya mengeluh kepanasan.
Namun ada satu kebiasaan baru.
Setiap melihatku membuka laptop, ia akan bertanya, “Kamu lagi kerja?”
Kalau kujawab iya, ia akan berkata kepada cucunya, “Jangan ganggu Mama dulu.”
Suatu pagi, paket besar datang.
Isinya tiga puluh eksemplar novel terbaruku.
Ibu mengambil satu.
Wajahku terpampang kecil di bagian belakang sampul.
“Ini buku baru?”
“Iya.”
“Berapa harganya?”
Aku tertawa. “Kenapa?”
“Ibu mau beli.”
Aku mengira ia bercanda.
“Ibu tinggal ambil.”
“Nggak. Kalau orang jualan ya dibeli.”
Aku menatapnya lama.
Akhirnya kuberikan satu buku.
“Bayarnya nanti saja setelah Ibu baca.”
Masalahnya, Ibu bukan pembaca novel.
Tiga hari kemudian bukunya bahkan belum melewati halaman dua puluh.
Namun setiap ada tetangga datang, buku itu selalu diletakkan di meja ruang tamu.
“Ini novel anak saya,” katanya.
Aku pura-pura tidak mendengar dari ruang kerja.
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan terjadi.
Novelku diadaptasi menjadi serial.
Penerbit mengadakan acara peluncuran besar di Jakarta dan memintaku menandatangani ratusan buku.
Aku membawa Ibu.
Saat kami memasuki toko buku, ia berhenti.
Di depan ruangan terpampang poster besar dengan sampul novelku.
Antrean pembaca memanjang sampai keluar area acara.
Ibu menatap semuanya tanpa bicara.
Seorang perempuan muda menghampiriku.
“Kak Rima?”
Aku tersenyum.
Ia langsung menangis.
“Makasih sudah nulis buku ini. Cerita Kakak nemenin saya waktu kehilangan ayah.”
Aku memeluknya.
Setelah perempuan itu pergi, aku melihat Ibu masih berdiri di tempat yang sama.
Matanya berkaca-kaca.
“Ada apa?”
Ia menggeleng.
Acara berlangsung hampir tiga jam.
Tanganku mulai pegal karena terus menandatangani buku.
Di tengah antrean, Ibu tiba-tiba berdiri di samping mejaku.
“Capek?”
“Lumayan.”
Ia mengambil botol air, membukanya, lalu meletakkannya di dekat tanganku.
Aku tersenyum.
Sederhana sekali.
Namun entah kenapa, tindakan kecil itu terasa seperti permintaan maaf kedua.
Malamnya dalam perjalanan pulang, Ibu berkata, “Dulu Ibu pikir sukses itu harus kelihatan dari seragam, kantor, sama gaji.”
Aku diam mendengarkan.
“Ternyata pekerjaanmu masuk ke rumah orang-orang yang bahkan nggak kita kenal.”
Aku tersenyum.
“Besok jangan sombong, Bu.”
Ibu mencubit lenganku.
Beberapa minggu setelah acara itu, Puput datang.
Hubungan kami memang belum sepenuhnya pulih, tetapi ia mulai sering menjenguk.
Sore itu kami bertiga minum teh di teras.
Tiba-tiba Ibu masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah amplop cokelat.
“Ini buat kalian.”
Puput langsung bertanya, “Apa?”
“Surat rumah.”
Aku membeku.
Rumah yang kami tempati adalah satu-satunya aset besar milik Ibu setelah Ayah meninggal.
“Ibu sudah ke notaris,” lanjutnya.
Puput menatapku.
Aku langsung berkata, “Bu, nggak perlu bahas warisan sekarang.”
“Justru harus.”
Ibu menarik napas.
“Rumah ini nanti bukan buat Rima.”
Puput tampak terkejut.
Aku pun sama.
“Ibu juga nggak kasih ke Puput.”
Kami saling berpandangan.
“Terus?”
Ibu tersenyum kecil.
“Rumah ini nanti untuk cucu-cucu Ibu. Kalian berdua sudah punya hidup sendiri.”
Puput tertawa kecil. “Terus kita dapat apa?”
Ibu menatap kami bergantian.
“Kalian dapat kesempatan belajar jadi saudara lagi.”
Aku tidak menyangka kalimat seperti itu keluar dari mulutnya.
Namun Ibu belum selesai.
Ia menoleh kepadaku.
“Rima sudah kasih Ibu rumah selama sepuluh tahun tanpa pernah menghitung biaya. Puput kasih Ibu pelajaran dalam tiga minggu yang nggak bisa Ibu dapat selama sepuluh tahun.”
Puput menunduk.
Ibu meraih tangannya.
“Bukan berarti kamu anak jahat. Kamu cuma belum siap merawat orang tua. Dan Ibu salah karena membandingkan kalian seumur hidup.”
Mata Puput langsung memerah.
Aku menatap halaman, menahan air mata.
Ternyata selama ini bukan hanya aku yang terluka oleh perbandingan itu.
Puput juga.
Ia dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu menjadi anak yang lebih sukses.
Aku dibesarkan dengan perasaan selalu menjadi anak yang kurang.
Hari itu kami bertiga menangis di teras rumah.
Bukan karena rumah.
Bukan karena uang.
Melainkan karena akhirnya seseorang berani menghentikan pertandingan yang sebenarnya tidak pernah perlu ada.
Malamnya, setelah Ibu tidur, aku kembali ke meja kerja.
Di sana masih ada beberapa buku yang harus kutandatangani.
Aku mengambil pulpen.
Belum sempat menyentuh halaman pertama, suara anakku terdengar dari kamar.
“Ma, Nenek mau ke toilet!”
Tanganku berhenti.
Aku refleks hendak berdiri.
Namun sebelum sempat melangkah, terdengar suara Ibu dari dalam.
“Jangan panggil Mama! Mama lagi kerja. Nenek masih bisa jalan pelan-pelan.”
Aku terdiam.
Kemudian tanpa sadar tertawa sambil mengusap air mata.
Di hadapanku ada puluhan novel yang belum ditandatangani.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa bersalah karena tetap duduk di depan meja.
Aku membuka halaman pertama, menorehkan tanda tangan, lalu menulis satu kalimat kecil di bawahnya.
Untuk semua orang yang kehadirannya dianggap biasa hanya karena mereka selalu ada, semoga suatu hari seseorang menyadari bahwa waktu, perhatian, dan kasih sayang kalian juga memiliki harga yang tak bisa dihitung dengan angka.
