Malam Pengantin Berdarah Dikhianati! Pukul 00.43 Dini Hari Aku Memergoki Istri Cantikku Berada di Atas Ranjang Ayah Kandungku Demi Warisan Ratusan Miliar Rupiah

Pukul 00.43 dini hari, saya menendang pintu kamar ayah saya sampai terbuka.

Brak!

“Kurang ajar!”

Suara saya mengguncang lorong lantai dua. Indah menjerit sambil menarik selimut merah hingga menutupi tubuhnya, sementara Ayah langsung bangkit dengan wajah pucat. Di tangannya masih ada gelas berisi minuman yang belum habis.

Untuk beberapa detik, kami bertiga hanya saling menatap.

Saya merasa seperti sedang melihat dua orang asing.

“Budi, dengarkan Ayah dulu,” kata Bapak Hendra.

“Jangan panggil saya seperti itu.”

Tangan saya gemetar memegang ponsel yang masih merekam.

Indah buru-buru turun dari ranjang dan merapikan gaun tidurnya. “Mas, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Saya tertawa getir.

“Tidak seperti yang kupikirkan? Aku mendengar semuanya. Tentang aku yang bodoh. Tentang aset. Tentang sertifikat.”

Wajah Indah langsung kehilangan warna.

Ayah mendekati saya.

“Matikan kameranya.”

“Kenapa? Takut?”

“Budi!”

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melihat ketakutan di mata pria yang selama ini saya anggap tidak bisa dikalahkan siapa pun.

Saya mundur satu langkah.

“Besok pagi saya akan bicara dengan pengacara. Pernikahan ini selesai.”

Indah tiba-tiba menangis.

“Mas, tolong. Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan kepada pengacara saya.”

Saya berbalik meninggalkan kamar.

Namun sebelum mencapai tangga, suara Ayah menghentikan langkah saya.

“Kalau kamu keluar dari rumah ini malam ini, jangan harap kamu masih punya perusahaan itu besok pagi.”

Saya membeku.

Perusahaan Hendra Konstruksi memang didirikan Ayah hampir tiga puluh tahun lalu. Tetapi selama delapan tahun terakhir, saya yang mengembangkannya dari perusahaan kontraktor menengah menjadi grup usaha bernilai triliunan rupiah.

Saya menoleh.

Ayah berdiri di ambang pintu.

“Kamu pikir semua yang kamu punya itu milikmu?” katanya dingin. “Rumah, saham, perusahaan, semuanya masih berada di bawah kendali Ayah.”

Saya menatapnya lama.

Lalu saya tersenyum.

“Kalau begitu ambil semuanya.”

Malam itu saya meninggalkan rumah Pondok Indah hanya dengan pakaian yang saya kenakan, dompet, dan ponsel.

Saya menginap di sebuah hotel di kawasan Sudirman.

Anehnya, saya tidak bisa menangis.

Saya hanya duduk di depan jendela hingga matahari terbit, memandangi gedung-gedung Jakarta sambil memutar kembali rekaman yang saya buat.

Setiap kali mendengar suara Indah menyebut saya bodoh, dada saya seperti disayat.

Pukul tujuh pagi, telepon saya berdering.

Sekretaris perusahaan saya, Rina, menelepon.

“Pak Budi, Bapak harus datang ke kantor sekarang.”

“Ada apa?”

“Pak Hendra mengadakan rapat direksi mendadak. Nama Bapak dicabut dari seluruh kewenangan operasional.”

Saya menutup mata.

Ancaman Ayah ternyata bukan gertakan.

Ketika saya tiba di kantor, kartu akses saya sudah tidak berfungsi.

Satpam yang mengenal saya bertahun-tahun bahkan tidak berani menatap mata saya.

Saya akhirnya diperbolehkan masuk setelah Rina turun menjemput.

Di ruang rapat lantai dua puluh satu, Ayah sudah duduk bersama para direktur.

Indah juga berada di sana.

Wanita yang kemarin mengenakan gaun pengantin putih kini mengenakan setelan kantor krem seolah tidak terjadi apa-apa.

Ayah mendorong sebuah dokumen ke arah saya.

“Mulai hari ini kamu dinonaktifkan sebagai Direktur Utama.”

Saya membaca surat itu.

“Alasannya?”

“Ketidakstabilan emosional yang berpotensi merugikan perusahaan.”

Saya hampir tertawa.

“Jadi setelah tidur dengan istri saya, sekarang Ayah menyebut saya tidak stabil?”

Ruangan langsung sunyi.

Indah menunduk.

Ayah mengepalkan tangan.

“Jaga ucapanmu.”

Saya mengeluarkan ponsel.

“Perlu saya putarkan rekamannya?”

Ayah langsung berdiri.

“Budi!”

Beberapa anggota direksi mulai saling berpandangan.

Saya meletakkan ponsel di meja.

“Saya tidak datang untuk mempertahankan jabatan. Saya hanya ingin kalian tahu orang seperti apa yang sedang memimpin perusahaan ini.”

Saya kemudian keluar.

Saya pikir itulah akhir dari semuanya.

Ternyata saya salah.

Dua hari kemudian, pengacara keluarga menghubungi saya.

Namanya Pak Surya. Ia sudah bekerja bersama keluarga kami sejak saya masih kuliah.

Kami bertemu di sebuah kafe kecil di Kebayoran Baru.

Wajahnya terlihat tegang.

“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, Budi.”

Dia meletakkan sebuah map cokelat di meja.

“Apa ini?”

“Dokumen perubahan struktur kepemilikan beberapa aset keluarga.”

Saya membukanya.

Ada tiga sertifikat tanah, dua rumah mewah, saham perusahaan, dan beberapa rekening investasi.

Nama penerima manfaat baru membuat tangan saya berhenti bergerak.

Indah Permatasari.

“Sejak kapan?”

“Tiga bulan lalu.”

Saya terdiam.

Tiga bulan sebelum pernikahan.

Berarti hubungan mereka bukan terjadi spontan pada malam pernikahan.

Pak Surya melanjutkan.

“Ayahmu meminta saya menyiapkan pengalihan aset. Tapi saya menolak menyelesaikan beberapa dokumen karena ada hal yang mencurigakan.”

“Apa?”

“Indah meminta seluruh proses dipercepat sebelum kalian menikah.”

Darah saya kembali mendidih.

“Kenapa Ayah mau melakukan itu?”

Pak Surya menghela napas.

“Itulah bagian yang belum saya mengerti.”

Saya mulai menyelidiki.

Bukan untuk balas dendam.

Saya hanya ingin mengetahui seberapa lama saya hidup di dalam kebohongan.

Saya memeriksa mutasi rekening perusahaan, komunikasi internal, dan transaksi yang masih dapat saya akses melalui dokumen lama.

Sebuah pola muncul.

Selama hampir satu tahun, perusahaan mentransfer uang kepada sebuah perusahaan konsultan bernama PT Arunika Cipta Persada.

Nilainya hampir seratus dua puluh miliar rupiah.

Masalahnya, perusahaan itu hampir tidak memiliki kegiatan nyata.

Pemilik saham terbesarnya adalah seorang perempuan bernama Maya Permatasari.

Kakak kandung Indah.

Saya mulai mengerti.

Indah bukan sekadar berselingkuh dengan Ayah.

Dia sedang masuk ke dalam keluarga kami untuk sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya menemui Maya secara diam-diam.

Awalnya dia menolak.

Namun ketika saya menunjukkan rekaman malam itu, wajahnya berubah.

“Indah sudah keterlaluan,” katanya.

“Jadi kamu tahu?”

Maya menatap meja.

“Saya tahu dia dekat dengan ayahmu. Tapi saya tidak tahu sampai sejauh itu.”

“PT Arunika?”

Dia terdiam cukup lama.

“Itu perusahaan yang dibuat atas permintaan Pak Hendra.”

Saya mengerutkan dahi.

“Permintaan Ayah?”

Maya mengangguk.

“Semua uang yang masuk hanya lewat perusahaan saya. Sebagian besar kemudian dipindahkan ke beberapa rekening investasi.”

“Untuk siapa?”

“Pak Hendra.”

Saya terdiam.

Teka-teki itu justru semakin rumit.

Jika Ayah sendiri yang mengatur aliran uang tersebut, berarti Indah bukan satu-satunya orang yang bermain.

Tiga hari kemudian, saya kembali menemui Pak Surya.

Kami membandingkan seluruh dokumen.

Akhirnya kami menemukan jawabannya.

Ayah sedang memindahkan aset perusahaan keluar secara perlahan.

Perusahaan ternyata memiliki utang besar dari beberapa proyek yang gagal. Nilainya lebih dari tujuh ratus miliar rupiah.

Selama ini laporan keuangan dimanipulasi agar saya tidak mengetahuinya.

Ayah memindahkan aset pribadinya ke nama Indah dan beberapa perusahaan lain agar aset tersebut sulit disentuh kreditur jika perusahaan runtuh.

Pernikahan saya adalah bagian dari skenario.

Dengan menikahkan Indah kepada saya, kepemilikan aset yang berpindah kepadanya akan terlihat seperti bagian dari pengaturan keluarga.

Namun ada sesuatu yang tidak diperhitungkan Ayah.

Indah ternyata mempunyai rencana sendiri.

Saya mengetahui hal itu dari sebuah pesan suara yang dikirim Maya kepada saya.

Suara Indah terdengar jelas.

“Setelah semua sertifikat pindah, aku tidak membutuhkan Hendra lagi. Budi juga akan aku tinggalkan. Kita jual asetnya satu per satu lalu pergi.”

Saya memutar rekaman itu berkali-kali.

Tiba-tiba saya tidak lagi merasa marah.

Saya justru merasa kasihan.

Ayah mengkhianati anaknya demi menyelamatkan kekayaan.

Indah mengkhianati suaminya demi mengambil kekayaan itu.

Dan keduanya sama-sama berpikir sedang memanfaatkan satu sama lain.

Dua minggu setelah pernikahan, semuanya meledak.

Bank membekukan sejumlah rekening perusahaan setelah menemukan transaksi mencurigakan. Para pemegang saham meminta audit independen. Beberapa proyek dihentikan.

Ayah menelepon saya puluhan kali.

Saya tidak menjawab.

Sampai suatu malam dia datang sendiri ke apartemen kecil yang saya sewa.

Saya hampir tidak mengenalinya.

Pria yang biasanya selalu memakai jas mahal itu datang dengan kemeja kusut.

“Budi.”

“Ada apa?”

“Indah pergi.”

Saya tidak terkejut.

“Ke mana?”

“Singapura, mungkin. Beberapa sertifikat asli juga hilang.”

Ayah duduk lemas.

“Dia mengambil semuanya.”

Saya menatapnya.

“Ayah salah.”

Dia mengangkat kepala.

“Indah tidak mengambil semuanya.”

Saya menunjuk dada Ayah.

“Ayah sendiri yang menyerahkannya.”

Dia terdiam.

Untuk pertama kalinya saya melihat Bapak Hendra menangis.

“Ayah cuma ingin menyelamatkan apa yang sudah Ayah bangun seumur hidup.”

“Dengan menghancurkan hidup anak sendiri?”

Tidak ada jawaban.

Saya lalu meletakkan salinan laporan audit di meja.

“Besok serahkan diri kepada penyidik dan jelaskan seluruh transaksi perusahaan.”

Ayah menatap saya tidak percaya.

“Kamu mau menjebloskan ayahmu sendiri ke penjara?”

“Tidak.”

Saya menatapnya lurus.

“Ayah yang membawa diri Ayah sampai ke sini.”

Beberapa bulan kemudian, kasus tersebut menjadi salah satu skandal bisnis besar di Jakarta. Penyidikan menemukan berbagai transaksi fiktif dan pengalihan aset. Sejumlah aset dibekukan sementara proses hukum berjalan.

Indah akhirnya ditemukan kembali di Jakarta setelah mencoba mengurus penjualan salah satu properti.

Pernikahan kami berakhir melalui proses hukum.

Saya tidak pernah menemuinya lagi.

Saya juga memilih keluar sepenuhnya dari perusahaan keluarga.

Banyak orang menganggap saya gila.

Saya kehilangan rumah Pondok Indah.

Mobil mewah saya dijual.

Sebagian besar saham yang selama ini saya banggakan terseret dalam sengketa perusahaan.

Saya memulai lagi dari sebuah kantor sewaan kecil di Jakarta Selatan bersama enam mantan staf yang memilih ikut dengan saya.

Perusahaan baru kami bahkan tidak memiliki resepsionis.

Tahun pertama sangat berat.

Namun untuk pertama kalinya, setiap rupiah yang masuk terasa bersih.

Dua tahun kemudian, perusahaan kecil itu mulai berkembang.

Suatu sore, Pak Surya datang membawa sebuah amplop.

“Ini ditemukan ketika membereskan dokumen lama ayahmu.”

Di dalamnya ada surat tulisan tangan.

Tulisan Ayah.

Budi,

kalau kamu membaca surat ini, mungkin semuanya sudah terlambat.

Ayah selalu mengira kekayaan adalah cara terbaik melindungi keluarga. Sampai akhirnya Ayah sendiri menghancurkan keluarga demi melindungi kekayaan.

Ada satu hal yang tidak pernah Ayah pahami tentangmu.

Kamu tidak pernah membutuhkan semua yang Ayah miliki.

Kamu hanya membutuhkan seorang ayah yang bisa kamu hormati.

Dan untuk itu, Ayah gagal.

Saya berhenti membaca.

Untuk pertama kalinya sejak malam pukul 00.43 itu, air mata saya jatuh.

Bukan karena Indah.

Bukan karena perusahaan.

Bukan pula karena ratusan miliar rupiah yang lenyap.

Saya menangisi seorang ayah yang terlalu terlambat memahami bahwa warisan terbesar seorang manusia bukanlah tanah, saham, rumah, atau uang.

Melainkan nama baik yang ditinggalkan kepada anaknya.

Saya melipat surat itu dan menyimpannya.

Di luar jendela, Jakarta masih sama. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti simbol kesuksesan yang dahulu saya kejar.

Namun hidup saya sudah berbeda.

Malam pengantin yang dulu saya kira menghancurkan segalanya ternyata justru menyelamatkan saya.

Karena seandainya saya tidak terbangun pukul 00.43 dini hari itu, mungkin saya akan terus hidup sebagai orang kaya yang tidak pernah tahu bahwa seluruh kemewahan di sekelilingnya dibangun di atas kebohongan.

Dan terkadang, kehilangan hampir segalanya adalah satu-satunya cara bagi seseorang untuk mengetahui apa yang benar-benar masih ia miliki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang