Koperku jatuh tepat di dekat kakiku.
Resletingnya terbuka, dua kaus, seragam sekolah, dan buku catatan berserakan di trotoar. Aku bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika kaca mobil Mama turun.
“Mulai hari ini, jangan pulang ke rumah.”
Aku menatapnya dengan dada sesak.
“Ma?”

Di kursi belakang, Kezia menatapku tanpa berkedip. Tidak ada rasa terkejut di wajahnya. Seolah semua ini sudah direncanakan.
Besok pagi aku seharusnya berangkat dari Surabaya ke Jakarta untuk mengikuti final Kompetisi Inovasi Pangan Nasional. Delapan bulan aku menghabiskan waktu di laboratorium sekolah untuk mengembangkan produk tepung berbasis sorgum. Jika menang, aku akan mendapatkan beasiswa penuh senilai ratusan juta rupiah.
Tetapi sekarang aku bahkan tidak punya rumah untuk pulang.
Mama menunjuk koperku.
“Ambil barangmu.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu sendiri.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Mama tertawa pendek.
“Masih mau pura-pura?”
Aku mengambil surat yang dilemparkan kepadaku dari dashboard mobil. Surat itu berisi peringatan sekolah atas dugaan pencurian konsep produk milik siswa lain.
Namaku tertulis jelas di sana.
Nadira Maheswari.
Pemilik konsep yang disebut dalam surat itu adalah Kezia.
Adikku sendiri.
“Ini bohong.”
“Kamu sudah ketahuan,” kata Mama dingin.
“Aku yang membuat produk itu. Aku mengerjakannya sejak Januari.”
Kezia akhirnya membuka suara.
“Semua orang bisa bilang begitu, Kak.”
Aku menatapnya tajam.
“Kezia, kamu baru masuk klub riset bulan lalu.”
“Dan?”
“Formula itu sudah ada sebelum kamu masuk.”
Mama membunyikan klakson.
“Cukup!”
Beberapa siswa mulai memperhatikan kami.
Aku merasa wajahku terbakar.
Lalu Mama mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku seketika terasa dingin.
“Kezia yang akan pergi ke Jakarta.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Panitia sudah diberi tahu kamu mengundurkan diri.”
“Siapa yang mengundurkan diri?”
Mama tidak menjawab.
Aku langsung membuka email dari ponsel. Tidak ada pesan keluar. Tidak ada permintaan pembatalan.
Aku menelepon sekretariat kompetisi.
“Selamat siang, Sekretariat Kompetisi Inovasi Pangan.”
“Saya Nadira Maheswari. Apakah benar saya mengundurkan diri?”
Terdengar suara keyboard dari seberang.
“Pengunduran diri masuk tadi malam pukul 22.17.”
“Dari email mana?”
Petugas menyebut alamat emailku.
Tanganku mulai gemetar.
Aku membuka riwayat keamanan akun.
Ada satu perangkat asing yang masuk pukul 21.54.
Lokasinya Surabaya Barat.
Rumah kami.
Aku mengangkat wajah.
“Ma.”
Mama langsung memalingkan muka.
“Ada perangkat yang masuk ke emailku dari rumah.”
“Jangan menuduh sembarangan.”
Kezia yang sejak tadi diam tiba tiba terlihat pucat.
Aku memotret layar ponsel.
“Aku akan buktikan.”
Mama tertawa sinis.
“Dengan apa? Kamu bahkan tidak punya tempat tinggal sekarang.”
Mobil itu kemudian pergi meninggalkanku.
Aku berdiri sendirian di depan sekolah dengan koper terbuka dan pikiran yang kacau.
Sampai seseorang memanggil namaku.
“Nadira?”
Bu Ratih berdiri di gerbang laboratorium.
Guru teknologi pangan yang membimbingku sejak kelas sebelas itu langsung melihat koper, surat, dan wajahku.
Aku tidak menangis.
“Bu, saya butuh komputer laboratorium.”
Dua puluh menit kemudian kami membuka penyimpanan awanku.
Semua formula masih ada.
Versi pertama dibuat delapan bulan lalu. Ada enam puluh tiga riwayat revisi. Namaku tercatat di setiap perubahan.
Bu Ratih mengangguk pelan.
“Ini bukti yang kuat.”
“Belum cukup, Bu.”
Aku membuka folder video eksperimen. Setiap percobaan direkam karena Bu Ratih selalu meminta kami mendokumentasikan proses penelitian.
Tanggalnya lengkap.
Kezia tidak pernah muncul.
Kemudian Bu Ratih mengambil surat peringatan tadi.
“Nadira, sekolah tidak pernah mengeluarkan surat seperti ini.”
Aku menatapnya.
“Maksud Ibu?”
“Lihat tanda tangannya.”
Nama kepala sekolah memang benar. Tetapi stempelnya buram dan format suratnya berbeda dari dokumen resmi sekolah.
Bu Ratih segera menelepon bagian tata usaha.
Jawabannya membuat kami terdiam.
Tidak pernah ada sidang pelanggaran atas namaku.
Tidak ada laporan pencurian.
Tidak ada surat peringatan.
Surat itu palsu.
Kami mengumpulkan semua bukti dan mengirimkannya kepada panitia. Riwayat formula, rekaman eksperimen, dokumen sekolah, riwayat login email, dan pernyataan Bu Ratih sebagai pembimbing.
Pukul tiga lewat empat puluh sore, panitia menelepon.
“Status Anda dipulihkan.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Namun suara petugas belum selesai.
“Ada satu masalah lain.”
“Apa?”
“Peserta pengganti atas nama Kezia Maheswari sudah mengirim dokumen produk yang identik dengan milik Anda.”
Bu Ratih langsung mendekat.
“Identik dalam hal apa?”
“Formula, tabel pengujian, bahkan satu kesalahan ketik di halaman tujuh sama persis.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kami meminta kalian berdua hadir besok pagi di Jakarta untuk klarifikasi langsung.”
Malam itu aku tinggal di rumah Bu Ratih di Sidoarjo.
Tidak ada yang menghakimiku.
Tidak ada yang bertanya kenapa keluargaku mengusirku.
Pak Arman menyiapkan kamar kosong. Putra mereka, Dito, bahkan meminjamkan power bank untuk perjalanan.
Tetapi sekitar pukul sebelas malam, aku teringat sesuatu.
Buku laboratorium.
Di dalamnya ada formula asli yang selalu kutulis dengan tangan. Setiap halaman uji coba dibubuhi tanda tangan Bu Ratih.
Buku itu tertinggal di loker sekolah.
Aku dan Bu Ratih kembali ke sekolah.
Satpam membuka gedung laboratorium.
Lokerku tidak terkunci.
Padahal aku yakin sudah menguncinya.
Kami membuka rekaman CCTV.
Pukul 18.32, seseorang memasuki lorong.
Topi.
Masker.
Jaket abu abu.
Orang itu berhenti di depan lokernya, mengeluarkan kunci kecil, lalu membuka pintu.
Buku laboratoriumku diambil.
Saat hendak pergi, maskernya turun.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Itu Papa.”
Bu Ratih menatapku.
Orang dalam rekaman itu memang Papa.
Tetapi bukan hanya buku laboratorium yang dibawanya.
Di tangan satunya ada sebuah map merah.
Kamera memperbesar gambar.
Tulisan di atasnya terlihat jelas.
Perjanjian Beasiswa Nadira. Nilai Rp480.000.000.
Aku merasa tengkukku dingin.
“Kenapa Papa punya dokumen itu?”
Bu Ratih tidak menjawab.
Keesokan paginya kami berangkat ke Jakarta.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan satu hal. Mengapa keluargaku sampai melakukan semua ini?
Setibanya di tempat final, panitia memisahkan aku dan Kezia untuk pemeriksaan dokumen.
Kezia datang bersama Mama dan Papa.
Tidak ada yang berani menatapku lama.
Saat sesi klarifikasi dimulai, panitia menampilkan dua dokumen produk di layar.
Keduanya memang hampir sempurna identik.
Tetapi ketika data metadata diperiksa, dokumen yang dikirim Kezia dibuat menggunakan perangkat yang sama dengan perangkat asing yang masuk ke emailku.
Samsung Galaxy Tab A9.
Tablet yang kubelikan untuk Mama enam bulan lalu.
Panitia kemudian memutar rekaman eksperimenku.
Satu demi satu video ditampilkan.
Tanggal.
Waktu.
Formula.
Proses pengujian.
Semuanya membuktikan bahwa aku mengembangkan produk itu jauh sebelum Kezia masuk klub riset.
Kezia mulai menangis.
“Aku tidak mencurinya.”
Aku menatapnya.
“Lalu siapa?”
Ia terdiam.
Mama akhirnya berdiri.
“Sudah cukup.”
Namun sebelum ia melanjutkan, pintu ruangan terbuka.
Papa masuk.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada map merah yang sama.
Ia meletakkannya di meja.
“Ayah yang melakukan semuanya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Mama menatap Papa dengan wajah tidak percaya.
“Jangan.”
Papa menunduk.
“Perusahaan tempat Ayah bekerja bangkrut. Ada utang yang harus dibayar. Ayah menemukan kontrak beasiswa Nadira.”
Aku menatapnya.
“Jadi?”
“Beasiswa itu tidak hanya membiayai kuliah. Ada dana pembinaan dan hak pengembangan produk. Kalau Nadira menang, nilainya hampir setengah miliar.”
Papa menarik napas panjang.
“Ayah berpikir kalau Kezia menggantikanmu, uang itu bisa digunakan untuk melunasi utang.”
Aku merasa dadaku kosong.
“Jadi kalian membuangku demi uang?”
Mama mulai menangis.
“Bukan begitu.”
“Surat palsu itu?”
Papa mengangguk.
“Papa yang membuatnya.”
“Email pengunduran diri?”
“Papa.”
“Buku laboratorium?”
“Papa juga.”
Aku menatap Kezia.
“Kamu tahu?”
Air matanya jatuh.
“Aku tahu sebagian.”
“Dan kamu tetap mengambil produkku?”
Kezia menutup wajahnya.
“Aku takut, Kak.”
“Takut apa?”
“Takut kalau Papa benar benar kehilangan semuanya.”
Aku diam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat adikku bukan sebagai orang yang merebut impianku, tetapi sebagai anak yang juga terjebak dalam keputusan orang dewasa.
Namun kemudian Bu Ratih membuka map merah itu.
Ada satu dokumen lain di dalamnya.
Ia membacanya perlahan.
“Nadira, kamu sudah membaca perjanjian beasiswa ini?”
Aku menggeleng.
Bu Ratih menunjuk satu pasal.
“Beasiswa ini diberikan kepada pengembang utama produk, bukan kepada peserta yang namanya terdaftar di final.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Artinya, bahkan jika Kezia menggantikanku, hak beasiswa tetap tidak bisa berpindah.
Papa terdiam.
Rencananya sejak awal tidak mungkin berhasil.
Tetapi ada satu hal yang lebih mengejutkan.
Panitia menemukan bahwa email pengunduran diriku dikirim menggunakan perangkat Papa, tetapi sebelum itu ada satu email lain yang masuk ke akun panitia.
Email tersebut berisi permintaan anonim agar dilakukan pemeriksaan terhadap Kezia dan produk yang diklaimnya.
Tanggal pengirimannya dua hari sebelum aku diusir.
Panitia akhirnya menunjukkan alamat pengirim.
Itu alamat email Bu Ratih.
Aku menatap guruku.
“Bu?”
Bu Ratih tersenyum tipis.
“Saya sudah curiga sejak melihat Kezia tiba tiba membawa formula yang terlalu matang untuk seseorang yang baru sebulan masuk klub.”
“Tapi kenapa Ibu tidak bilang?”
“Karena saya ingin melihat siapa yang akan panik ketika bukti diperiksa.”
Ia menatap Papa.
“Dan sekarang kita sudah tahu.”
Hari itu, Kezia dicabut dari status peserta pengganti. Panitia juga menyerahkan seluruh bukti pemalsuan dokumen kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti.
Papa meminta maaf kepadaku.
Mama juga.
Aku belum bisa memaafkan mereka.
Setidaknya belum hari itu.
Tetapi sebelum aku masuk ke ruang final, Papa menghentikanku.
“Nadira.”
Aku menoleh.
Ia menyerahkan sebuah amplop.
“Ini bukan uang.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada surat pengunduran diri Papa dari pekerjaannya.
Ia menatapku dengan mata merah.
“Ayah akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Kamu tidak perlu lagi mengorbankan masa depanmu untuk keluarga.”
Aku menggenggam amplop itu.
Lalu berjalan menuju ruangan final.
Beberapa jam kemudian, namaku diumumkan sebagai pemenang Kompetisi Inovasi Pangan Nasional.
Aku tidak langsung merasa bahagia.
Yang kurasakan justru lega.
Delapan bulan kerja keras akhirnya kembali menjadi milikku.
Beberapa minggu setelah kompetisi, aku menerima email dari panitia.
Mereka memberitahuku bahwa produkku akan dikembangkan bersama sebuah lembaga riset pangan nasional.
Aku membaca email itu sambil tersenyum.
Lalu sebuah pesan masuk dari Kezia.
Kak, aku minta maaf. Aku tidak berharap kamu memaafkanku sekarang. Tapi kalau suatu hari kamu mau, aku ingin belajar lagi dari awal. Kali ini tanpa mengambil sesuatu yang bukan milikku.
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Kemudian membalas singkat.
Kalau kamu benar benar mau belajar, mulai dari jujur.
Aku meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya setelah berhari hari, aku merasa semuanya benar benar selesai.
Namun malam itu, saat hendak menutup laptop, aku menemukan satu email lama yang selama ini tidak pernah terbuka.
Tanggalnya delapan bulan lalu.
Pengirimnya adalah Papa.
Subjeknya hanya satu kalimat.
Kalau suatu hari Nadira menemukan email ini, berarti rencana Ayah gagal.
Tanganku membeku.
Aku membuka pesannya.
Isinya hanya satu paragraf.
Ayah bukan orang pertama yang mengetahui tentang beasiswa itu. Ada seseorang dari dalam sekolah yang sejak awal meminta Ayah mengambil formula Nadira. Orang itu menjanjikan bahwa jika produk itu berpindah tangan sebelum final, bukan hanya Kezia yang mendapat keuntungan. Mereka juga akan mendapatkan bagian dari hak pengembangan produk.
Di bagian paling bawah, ada satu nama.
Nama yang membuatku kembali terdiam.
Nama kepala sekolah.
Aku menatap layar sampai lama.
Ternyata semua yang terjadi hari itu bukanlah akhir dari masalah.
Itu baru permulaan.
