“Iya.”
Hanya itu jawabanku.
Mungkin Raka menunggu aku marah, bertanya mengapa Sari lebih penting, atau mengungkit semua kejadian selama tiga tahun terakhir seperti biasanya. Namun aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
Justru keheninganku membuatnya terdengar gelisah.
“Nadia, kamu marah?”
“Nggak.”
“Lututmu kenapa? Kemarin kamu jatuh?”
Tanganku berhenti ketika hendak menempelkan perban baru.
Jadi dia baru menyadarinya sekarang.
“Nggak apa-apa. Cuma luka kecil.”
“Kamu di hotel mana? Aku jemput.”
“Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”
“Nadia.”
Nada suaranya berubah. Lebih berat, seperti seseorang yang mulai merasa ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginannya.

Aku menatap koper kecil yang sudah terbuka di atas tempat tidur.
“Aku harus bersiap ke kantor. Sampai nanti.”
Aku menutup telepon sebelum dia sempat menjawab.
Pukul sembilan pagi, aku tiba di Cakrawala Kreatif.
Begitu pintu lift terbuka, beberapa orang langsung menoleh ke arahku. Rupanya foto Raka dan Sari di bawah payung tadi malam masih menjadi bahan pembicaraan.
Sari bahkan sudah duduk di mejaku.
Ketika melihatku berjalan pincang, wajahnya berubah.
“Nad, kamu kenapa?”
“Jatuh.”
“Ya ampun. Semalam?”
Aku mengangguk.
Sari berdiri dan buru-buru menghampiriku.
“Kok kamu nggak bilang? Aku kira kamu sudah pulang duluan.”
Aku hampir tertawa.
Dia duduk di mobil bersama Raka.
Raka tahu aku belum pulang.
Namun entah bagaimana, tidak satu pun dari mereka merasa perlu memastikan keadaanku.
“Nggak penting,” jawabku.
Sari menggigit bibir.
“Jangan salah paham soal semalam, ya. Pak Raka cuma kasihan karena bajuku basah.”
Pak Raka.
Di depanku, dia masih memanggil pacarku dengan sebutan formal.
Aku menatap wajah sahabat yang sudah kukenal sejak kuliah itu.
Dulu, kalau ada seseorang yang mengatakan Sari akan menjadi alasan aku mengakhiri hubungan tiga tahun, mungkin aku akan menertawakannya.
Namun sekarang aku justru merasa sangat tenang.
“Aku nggak salah paham.”
Sari terlihat lega.
Sebelum dia sempat mengatakan apa pun lagi, pintu ruang manajer terbuka.
Raka keluar.
Pandangan matanya langsung jatuh pada lututku yang diperban.
Wajahnya berubah.
“Kamu benar-benar jatuh?”
Beberapa orang di sekitar kami menoleh.
Aku tersenyum tipis.
“Iya, Pak Raka.”
Dia membeku.
Selama tiga tahun, ketika hanya ada kami berdua, aku hampir tidak pernah memanggilnya begitu.
“Nadia, masuk ke ruangan saya sebentar.”
Aku mengikutinya.
Begitu pintu tertutup, Raka langsung mendekat.
“Kenapa lukanya separah itu?”
Aku mundur satu langkah ketika tangannya hendak menyentuhku.
Gerakannya terhenti di udara.
“Semalam kamu jatuh di mana?”
“Di jalan menuju parkiran.”
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Kenapa kamu nggak panggil aku?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Aku memanggil.”
Raka terdiam.
“Dua kali.”
Aku masih ingat suaraku sendiri ditelan hujan.
“Raka.”
Lalu sekali lagi.
“Raka!”
Namun dia sedang menunduk mendengarkan Sari bicara.
Aku mengambil sebuah amplop dari tas dan meletakkannya di atas meja.
“Ini salinan surat pengunduran diriku. HR sudah menerimanya.”
Raka menatap amplop itu seolah aku baru saja meletakkan bom di hadapannya.
“Apa?”
“Aku resign.”
“Karena semalam?”
“Nggak.”
“Kalau bukan karena semalam, kenapa tiba-tiba?”
Aku hampir menjawab bahwa keputusan ini sama sekali tidak tiba-tiba.
Keputusan itu terbentuk dari ratusan hal kecil yang selama ini kupaksa diriku untuk abaikan.
Namun aku sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
“Aku dapat kesempatan yang lebih baik.”
“Di mana?”
“Arkana Group.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajah Raka benar-benar kehilangan kendali.
“Arkana?”
“Iya.”
“Kamu bercanda?”
“Nggak.”
Dia berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di depanku.
“Nadia, Arkana itu klien terbesar kita.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu pindah ke sana, kamu akan menangani strategi merek mereka. Kamu akan berhubungan langsung dengan tim kita.”
“Aku tahu.”
“Orang-orang bisa bicara macam-macam.”
Aku tersenyum.
Kalimat itu.
Lagi-lagi kalimat itu.
Orang-orang bisa bicara macam-macam.
Tiga tahun hidupku diatur oleh ketakutannya terhadap mulut orang lain.
Aku tidak boleh pulang bersamanya setelah lembur.
Tidak boleh duduk terlalu dekat ketika makan bersama rekan kerja.
Tidak boleh mengunggah foto yang memperlihatkan jam tangannya.
Bahkan ketika ibuku dirawat di rumah sakit dan Raka datang menjenguk, dia memintaku mengatakan kepada perawat bahwa dia hanya rekan kantor.
Aneh sekali.
Dia begitu takut orang mengetahui bahwa dia mencintaiku.
Namun tidak pernah takut orang mengira dia mencintai Sari.
“Kali ini,” kataku pelan, “biarkan saja mereka bicara.”
Raka menatapku.
Aku membuka pintu.
“Nadia.”
Aku berhenti.
“Kita bicara malam ini di apartemen.”
Aku menoleh.
“Aku sudah pindah dari sana.”
Ekspresinya berubah total.
“Apa?”
“Barang-barangku akan diambil sore ini.”
“Nadia, jangan keterlaluan.”
Aku menatapnya tanpa emosi.
“Aku cuma berhenti berpikir macam-macam.”
Lalu aku pergi.
Tiga hari berikutnya, Raka menelepon lebih dari dua puluh kali.
Aku tidak mengangkat satu pun.
Pesannya berubah dari kesal menjadi khawatir.
Dia mengatakan kami harus bicara.
Dia mengatakan tiga tahun tidak bisa dibuang begitu saja.
Dia bahkan mengatakan akan menjelaskan semuanya tentang Sari.
Namun aku tidak lagi membutuhkan penjelasan.
Hari terakhirku di Cakrawala Kreatif justru menjadi hari ketika keadaan berubah.
Arkana Group mengadakan rapat evaluasi kampanye tahunan dan seluruh tim inti Cakrawala diminta hadir.
Aku datang sebagai perwakilan baru Arkana.
Ketika memasuki ruang rapat dengan kartu identitas baru tergantung di leher, ruangan mendadak sunyi.
Bima berjalan di sampingku.
“Nadia akan memimpin strategi merek kami mulai kuartal depan,” katanya. “Mulai sekarang, seluruh proposal Cakrawala untuk Arkana akan melalui evaluasinya.”
Aku melihat wajah beberapa mantan rekan kerjaku berubah.
Sari tampak terkejut.
Sedangkan Raka hanya menatapku.
Tatapan yang tidak bisa kubaca.
Rapat berjalan hampir dua jam.
Di akhir presentasi, aku menemukan satu masalah.
Data konsumen dalam proposal kampanye terbaru tidak sesuai dengan laporan riset Arkana.
“Siapa yang menyusun bagian ini?” tanyaku.
Ruangan sunyi.
Kemudian Sari perlahan mengangkat tangan.
“Saya.”
Aku membalik halaman.
“Angka penetrasi pasar di sini 67 persen. Sumber aslinya menunjukkan 47 persen.”
Wajah Sari memucat.
“Mungkin saya salah ketik.”
“Kalau hanya satu angka, mungkin salah ketik. Tapi ada tujuh data yang berbeda.”
Raka langsung menyela.
“Nadia, kami bisa revisi setelah rapat.”
Aku menatapnya.
“Pak Raka, kalau proposal ini sudah masuk ke direksi, Arkana bisa mengambil keputusan investasi berdasarkan data yang salah.”
Dia diam.
Aku menutup dokumen.
“Mohon kirim revisi besok pukul sepuluh pagi.”
Setelah rapat selesai, Sari mengejarku sampai lorong.
“Nadia!”
Aku berhenti.
“Kamu sengaja mempermalukanku?”
Aku mengernyit.
“Aku menunjukkan kesalahan proposal.”
“Kamu tahu aku lagi banyak masalah.”
“Dan?”
Matanya mulai memerah.
“Kamu berubah sejak pindah ke Arkana.”
Aku hampir menjawab ketika Raka muncul dari ruang rapat.
Dia langsung berdiri di samping Sari.
Gerakan yang begitu alami sampai membuatku ingin tertawa.
“Nadia, jangan bawa masalah pribadi ke pekerjaan.”
Aku memandang mereka bergantian.
Ternyata bahkan sekarang, refleks pertamanya masih sama.
Melindungi Sari.
“Aku tidak membawa masalah pribadi.”
Aku menyerahkan dokumen kepada Raka.
“Justru selama ini kamu yang melakukannya.”
Aku pergi.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Sari meneleponku sambil menangis.
“Nad, aku minta maaf.”
Aku terdiam.
“Ada apa?”
“Raka marah besar setelah rapat.”
Aku sedikit terkejut.
“Dia bilang kalau aku membuat kesalahan lagi, dia nggak akan melindungiku.”
Aku tidak menjawab.
Kemudian Sari mengatakan sesuatu yang membuatku membeku.
“Nadia, sebenarnya selama ini aku tahu kalian pacaran.”
Tanganku mencengkeram ponsel.
“Sejak kapan?”
“Dua tahun lalu.”
Aku merasa seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Raka yang bilang?”
“Nggak.”
Suara Sari bergetar.
“Aku lihat kalian di apartemen.”
Dua tahun lalu, ketika atap kontrakannya bocor.
Apartemen yang kemudian dia tinggali selama hampir tiga minggu.
“Aku tahu kalian bersama. Aku juga tahu apartemen itu kalian sewa berdua.”
“Lalu kenapa kamu tetap tinggal?”
Sari menangis.
“Aku suka Raka.”
Akhirnya.
Kalimat yang selama bertahun-tahun selalu dibungkus dengan kata sahabat.
Aku menutup mata.
“Apakah kalian pernah bersama?”
“Nggak.”
Jawabannya cepat.
“Tapi aku berharap suatu hari dia memilihku.”
“Dan Raka tahu?”
Keheningan panjang.
“Tahu.”
Dadaku terasa sesak.
“Dia bilang apa?”
“Dia bilang dia nggak bisa membalas perasaanku.”
Aku hampir merasa lega.
Sampai Sari melanjutkan.
“Tapi dia juga bilang jangan menjauh.”
Aku membuka mata.
Semuanya akhirnya masuk akal.
Raka mungkin tidak pernah berselingkuh secara fisik.
Namun dia menikmati menjadi pusat dunia dua perempuan sekaligus.
Dia mempertahankan cintaku dalam ruang tertutup dan menikmati perhatian Sari di ruang terbuka.
Mungkin baginya itu bukan perselingkuhan.
Namun bagiku, itu tetap pengkhianatan.
Seminggu kemudian, Raka menungguku di depan gedung Arkana.
Hujan turun lagi malam itu.
Lucu sekali.
Dia berdiri sambil membawa payung hitam.
Begitu aku keluar, dia berjalan mendekat.
“Nadia.”
Aku berhenti.
Wajahnya terlihat jauh lebih lelah.
“Aku sudah bicara dengan Sari.”
“Aku tahu.”
“Dia bilang semuanya?”
“Iya.”
Raka menunduk.
“Aku salah.”
Itulah pertama kalinya selama tiga tahun dia mengatakan dua kata itu.
“Aku pikir selama aku nggak selingkuh, semuanya baik-baik saja.”
Aku diam.
“Aku pikir menjaga hubungan kita dari kantor berarti melindungimu. Tapi mungkin sebenarnya aku cuma melindungi diriku sendiri.”
Hujan semakin deras.
Dia mengulurkan payung ke arahku.
“Boleh aku antar kamu?”
Aku menatap payung itu.
Dulu, mungkin aku akan menangis mendengar permintaan sederhana tersebut.
Sekarang tidak.
“Nggak perlu.”
“Nadia, aku akan berubah.”
“Aku percaya.”
Dia menatapku dengan harapan.
Aku tersenyum tipis.
“Tapi kamu nggak harus berubah untuk mendapatkanku kembali.”
Wajahnya membeku.
“Kamu bisa berubah untuk dirimu sendiri.”
Aku berjalan melewatinya.
Tiba-tiba Raka meraih pergelangan tanganku.
“Nadia, aku masih sayang kamu.”
Aku berhenti.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kenapa?”
Aku menatap matanya.
“Karena cinta yang selalu disembunyikan terlalu lama akhirnya membuat orang yang dicintai merasa seperti sesuatu yang memalukan.”
Tangannya perlahan terlepas.
Aku berjalan menuju mobil.
Sebelum masuk, aku menoleh untuk terakhir kali.
Raka masih berdiri di bawah payung sendirian.
Tiga bulan kemudian, Arkana menunjuk agensi baru untuk menangani kampanye nasional mereka.
Cakrawala kehilangan kontrak terbesar mereka.
Namun bukan karena aku.
Audit internal menemukan bahwa beberapa laporan yang disusun tim Raka selama setahun terakhir memiliki data yang tidak diverifikasi dengan benar.
Raka mengundurkan diri sebagai manajer.
Sari juga keluar beberapa minggu kemudian.
Aku mendengar kabar itu dari mantan rekan kerja, lalu melupakannya.
Enam bulan setelah malam hujan itu, aku berdiri di depan lobi Arkana ketika hujan tiba-tiba turun.
Seorang staf baru yang berdiri di sampingku terlihat panik.
“Mbak Nadia, payungnya cuma satu.”
Aku menatap payung hitam di tangannya.
Entah kenapa aku tertawa.
“Ya sudah, pakai bareng.”
Kami berjalan menuju parkiran.
Di tengah jalan, aku melihat seorang pria berdiri di seberang trotoar.
Raka.
Dia tampak terkejut melihatku.
Namun kali ini aku tidak berhenti.
Aku juga tidak berjalan beberapa langkah di belakang siapa pun.
Aku berjalan tepat di tengah jalan kecil itu, tertawa bersama rekan kerjaku di bawah satu payung.
Ponselku bergetar ketika aku masuk ke mobil.
Sebuah pesan dari nomor yang masih kuhafal di luar kepala.
“Aku akhirnya mengerti kenapa kamu pergi.”
Aku membacanya sekali.
Lalu menghapusnya.
Karena pada akhirnya, malam ketika Raka memilih memayungi perempuan lain bukanlah malam ketika aku kehilangan dirinya.
Itu adalah malam ketika aku akhirnya menemukan kembali diriku sendiri.
