PADA MALAM PERNIKAHANKU, AYAH MERTUAKU DIAM-DIAM MENYELIPKAN UANG SEBESAR 20 JUTA RUPIAH KE TANGANKU DAN BERBISIK, “KALAU KAMU MASIH INGIN HIDUP, PERGILAH SEKARANG JUGA!” AKU TERPAKU KETAKUTAN. TAK PERNAH KUBAYANGKAN BAHWA MALAM YANG SEHARUSNYA MENJADI MALAM PALING BAHAGIA DALAM HIDUPKU JUSTRU AKAN MENJADI AWAL DARI MIMPI BURUK YANG MENGERIKAN…

Saat layar ponselku menyala kembali, ada seratus dua puluh tujuh panggilan tak terjawab.

Sebagian besar dari Raka.

Sisanya dari ibu mertuaku, beberapa kerabat, bahkan ibuku sendiri.

Namun bukan jumlah panggilan itu yang membuat darahku terasa berhenti mengalir.

Ada sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Jangan pulang. Jangan hubungi Pak Hendra. Mereka sudah tahu.

Tanganku langsung dingin.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Dinda yang duduk di sampingku.

“Nomor siapa?”

Aku menggeleng.

Belum sempat kami berpikir, ponselku berdering.

Raka.

Dinda menatapku tajam. “Jangan angkat.”

Entah mengapa, aku justru menekan tombol hijau.

“Nadira?”

Suara Raka terdengar tenang.

Terlalu tenang untuk seorang suami yang istrinya menghilang pada malam pernikahan.

“Kamu di mana?”

Aku berusaha mengendalikan napas. “Aku butuh waktu sendiri.”

“Kenapa?”

“Aku cuma… takut.”

Hening beberapa detik.

Lalu Raka tertawa kecil.

“Karena Ayah mengatakan sesuatu kepadamu?”

Jantungku serasa jatuh.

Aku tidak pernah menyebut Pak Hendra.

“Raka… kamu tahu?”

Suara di seberang berubah dingin.

“Pulanglah, Nadira. Kita bicarakan baik-baik.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Nadira.”

Untuk pertama kalinya, nada suaranya membuatku merasa sedang berbicara dengan orang asing.

“Kamu istriku sekarang. Tempatmu di rumah bersamaku.”

Telepon terputus.

Aku menatap Dinda.

“Dia tahu.”

Wajah Dinda pucat.

“Kalau begitu kita nggak boleh tinggal di sini.”

Kami segera mengemasi barang. Namun ketika Dinda membuka tirai apartemen, dia tiba-tiba mundur.

Sebuah SUV hitam terparkir di seberang jalan.

Mesinnya menyala.

Dua pria duduk di dalamnya.

“Aku nggak pernah lihat mobil itu sebelumnya,” bisik Dinda.

Kami memutuskan keluar melalui tangga darurat menuju area parkir belakang. Dinda meminjam mobil milik tetangganya dengan alasan mobilnya bermasalah.

Tujuan pertama kami bukan kantor polisi.

Aku masih belum tahu kejahatan apa yang sedang terjadi.

Kami pergi ke rumah orang tuaku di Sidoarjo.

Namun ketika tinggal beberapa kilometer lagi, ibuku menelepon.

“Nadira, kamu di mana?”

“Aku mau pulang.”

“Jangan!”

Aku terdiam.

Suara ibuku bergetar.

“Raka ada di sini.”

Darahku langsung berdesir.

“Dia datang bersama beberapa orang. Katanya kalian bertengkar dan kamu sedang stres. Dia mau membawamu pulang.”

“Bu, jangan bilang aku menelepon.”

“Tapi sebenarnya ada apa?”

“Aku jelaskan nanti.”

Aku menutup telepon.

Dinda langsung memutar mobil.

Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa Raka tidak sedang mencariku sebagai seorang suami yang khawatir.

Dia sedang memburuku.

Kami akhirnya pergi ke rumah kosong milik tante Dinda di daerah Batu. Rumah itu jarang digunakan dan hampir tidak seorang pun tahu Dinda memiliki akses ke sana.

Dalam perjalanan, aku membuka amplop pemberian Pak Hendra.

Baru saat itulah aku menemukan sesuatu di balik tumpukan uang.

Sebuah kunci kecil.

Dan secarik kertas.

Loker 317. Stasiun Gubeng.

Hanya itu.

Keesokan paginya, dengan topi dan masker menutupi wajah, aku dan Dinda kembali ke Surabaya.

Loker 317 berada di sudut area penitipan barang.

Di dalamnya terdapat sebuah tas laptop hitam.

Isinya membuatku semakin bingung.

Sebuah laptop tua, flashdisk, beberapa fotokopi rekening bank, serta map berisi dokumen perusahaan.

Aku mengenali beberapa nama perusahaan di sana.

Perusahaan-perusahaan itu pernah menjadi vendor proyek tempatku bekerja.

Tetapi ada sesuatu yang janggal.

Nilai transaksinya sangat besar.

Beberapa mencapai puluhan miliar rupiah.

Yang lebih mengejutkan, hampir seluruh perusahaan tersebut memiliki hubungan dengan perusahaan milik keluarga Raka.

“Apa ini pencucian uang?” tanya Dinda.

“Aku belum tahu.”

Sebagai akuntan, aku mulai memeriksa dokumen satu per satu.

Semakin lama, semakin jelas polanya.

Invoice palsu.

Biaya proyek yang digelembungkan.

Perusahaan cangkang.

Transfer berlapis.

Selama bertahun-tahun, seseorang telah memindahkan uang dalam jumlah fantastis melalui proyek-proyek konstruksi.

Lalu aku menemukan sebuah folder dengan namaku.

NADIRA.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya terdapat salinan KTP-ku.

NPWP-ku.

Contoh tanda tanganku.

Bahkan dokumen pembukaan rekening perusahaan atas namaku.

“Aku nggak pernah menandatangani ini.”

Dinda mendekat.

Namaku tercantum sebagai direktur sebuah perusahaan bernama PT Nadi Karya Sentosa.

Perusahaan itu didirikan tiga bulan sebelum pernikahanku.

Dan dalam dua bulan terakhir, rekening perusahaan tersebut telah menerima transfer lebih dari empat puluh miliar rupiah.

Aku merasa mual.

Tiba-tiba semuanya masuk akal.

Raka tidak menikahiku hanya karena cinta.

Aku adalah bagian dari rencana.

Kalau transaksi itu terbongkar, jejak uang akan mengarah kepadaku.

Seorang akuntan.

Seseorang yang secara profesional memahami transaksi keuangan.

Sempurna untuk dijadikan kambing hitam.

Namun ada satu pertanyaan.

Mengapa Pak Hendra membantuku?

Jawabannya muncul malam itu.

Nomor asing yang sebelumnya mengirim pesan kembali menghubungiku.

Kali ini sebuah lokasi dikirimkan.

Rumah sakit swasta di Surabaya.

Kami datang dengan hati-hati.

Di sebuah kamar VIP, aku menemukan Pak Hendra.

Wajahnya penuh lebam.

Tangan kirinya dibalut perban.

Aku hampir tidak mengenalinya.

“Pak…”

Dia membuka mata perlahan.

“Nadira.”

Aku mendekat.

“Apa yang terjadi?”

Pak Hendra meminta Dinda mengunci pintu.

Kemudian dia menceritakan sesuatu yang menghancurkan seluruh gambaran yang selama ini kumiliki tentang keluarga Raka.

Bisnis keluarga mereka memang dibangun oleh Pak Hendra.

Namun lima tahun terakhir, kondisi kesehatannya menurun dan sebagian besar perusahaan mulai dikendalikan Raka.

Awalnya Pak Hendra bangga.

Putranya cerdas, ambisius, dan berani mengambil risiko.

Sampai dia menemukan transaksi mencurigakan.

Raka ternyata membangun jaringan perusahaan fiktif bersama beberapa eksekutif dan kontraktor.

Ketika salah satu direktur keuangan lama mengetahui semuanya dan mengancam melapor, pria itu meninggal dalam kecelakaan mobil.

Polisi menyatakan kecelakaan biasa.

Pak Hendra tidak pernah mempercayainya.

“Lalu kenapa saya?” tanyaku.

Dia menatapku dengan rasa bersalah.

“Karena kamu akuntan.”

Aku tercekat.

“Raka membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya orang lain sebagai otak dari transaksi itu.”

Air mataku mulai jatuh.

“Jadi sejak awal…”

“Bapak tidak tahu apakah dia benar-benar mencintaimu atau tidak.”

Pak Hendra menunduk.

“Tapi beberapa bulan lalu Bapak menemukan dokumen atas namamu. Bapak tahu pernikahan ini bukan hanya pernikahan.”

Aku menggenggam ujung kursi.

“Kenapa Bapak tidak memperingatkan saya sebelumnya?”

“Karena Bapak pengecut.”

Jawabannya membuat ruangan mendadak sunyi.

“Bapak takut pada anak Bapak sendiri.”

Pak Hendra mengangkat wajahnya.

“Dan Bapak terus berharap dia akan berhenti.”

Namun malam sebelum pernikahan, Pak Hendra mendengar percakapan Raka dengan seseorang.

Setelah bulan madu, Nadira akan diminta menandatangani sejumlah dokumen dengan alasan restrukturisasi aset keluarga.

Begitu tanda tanganku lengkap, transaksi terbesar akan dilakukan.

Setelah itu, jika terjadi penyelidikan, seluruh bukti akan menunjuk kepadaku.

“Lalu setelah itu?”

Pak Hendra tidak menjawab.

Tatapannya sudah cukup.

Aku teringat kalimatnya.

Kalau kamu masih ingin hidup.

Tubuhku menggigil.

“Dia mau membunuh saya?”

“Bapak tidak tahu.”

Pak Hendra menelan ludah.

“Tapi Bapak tidak mau menunggu sampai tahu jawabannya.”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di lorong.

Pak Hendra langsung panik.

“Pergi.”

“Pak?”

“Sekarang!”

Dinda menarik tanganku.

Namun sebelum kami mencapai pintu belakang kamar, pintu utama terbuka.

Raka berdiri di sana.

Sendirian.

Dia masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Wajahnya tampak lelah.

“Nadira.”

Aku mundur.

Raka memandang ayahnya.

“Ayah ternyata masih belum menyerah.”

“Jangan dekati dia,” kata Pak Hendra.

Raka tersenyum getir.

“Ayah membuat semuanya terdengar seolah aku monster.”

“Kamu memalsukan dokumennya!”

“Aku melindungi perusahaan kita!”

“Dengan menghancurkan hidup orang lain?”

Raka membentak.

“Perusahaan itu punya delapan ribu karyawan! Kalau semuanya runtuh, ribuan keluarga kehilangan pekerjaan!”

Aku menatapnya.

“Jadi aku boleh dikorbankan?”

Raka menoleh kepadaku.

Untuk sesaat, aku melihat lelaki yang pernah kucintai.

“Nad, dengarkan aku. Aku memang menggunakan identitasmu untuk beberapa perusahaan, tapi aku tidak pernah berniat mencelakakanmu.”

“Lalu kenapa semua transaksi mengarah kepadaku?”

Dia terdiam.

“Jawab!”

“Aku akan membereskannya.”

“Setelah aku masuk penjara?”

Raka mendekat.

Aku mundur.

“Aku mencintaimu.”

Kalimat itu justru membuatku muak.

“Orang yang mencintai tidak menyiapkan penjara untuk orang yang dicintainya.”

Wajah Raka berubah.

“Berikan laptop itu.”

Dinda diam-diam mengangkat ponselnya.

“Aku sudah kirim salinan datanya.”

Raka menoleh tajam.

“Kepada siapa?”

“Pengacara. Wartawan. Dan seseorang yang bekerja di kepolisian.”

Itu bohong.

Namun berhasil.

Raka membeku.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki dari luar.

Kali ini lebih banyak.

Raka mundur.

Pak Hendra tersenyum tipis.

“Bapak yang menghubungi mereka.”

Pintu terbuka.

Beberapa petugas masuk bersama seorang penyidik.

Ternyata sebelum menghubungiku, Pak Hendra sudah menyerahkan sebagian bukti kepada pihak berwenang.

Laptop itu bukan satu-satunya salinan.

Itu hanya umpan.

Raka menatap ayahnya seolah tidak percaya.

“Ayah menghancurkan perusahaan kita sendiri?”

Pak Hendra menggeleng.

“Perusahaan bisa dibangun kembali.”

Matanya berkaca-kaca.

“Tapi kalau seorang ayah terus melindungi kejahatan anaknya, yang dia hancurkan bukan perusahaan. Dia menghancurkan anaknya sendiri.”

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Jaringan perusahaan fiktif Raka akhirnya terbongkar.

Beberapa pejabat perusahaan dan kontraktor ikut diperiksa.

Aku dibebaskan dari segala tuduhan setelah pemeriksaan forensik membuktikan tanda tanganku dipalsukan dan rekening-rekening tersebut dibuat tanpa persetujuanku.

Pernikahanku dengan Raka berakhir bahkan sebelum kami sempat menjalani satu hari sebagai pasangan suami istri.

Namun kejutan terbesar datang hampir setahun kemudian.

Suatu sore, Pak Hendra datang menemuiku.

Dia tampak jauh lebih tua.

Di tangannya ada amplop cokelat.

Aku sempat tersenyum pahit.

“Bapak masih suka memberi saya amplop?”

Dia tertawa kecil.

“Yang ini tidak berisi uang.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah surat tulisan tangan.

Surat dari Raka.

Nadira, aku tidak akan meminta maaf supaya kamu memaafkanku. Ada kesalahan yang terlalu besar untuk ditebus dengan kata maaf. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal. Pada awalnya aku memang mendekatimu karena pekerjaanmu. Tapi kesalahan terbesarku bukan itu. Kesalahan terbesarku adalah ketika aku benar-benar mencintaimu, aku tetap memilih menyelamatkan diriku sendiri daripada menyelamatkanmu.

Aku berhenti membaca.

Air mataku jatuh.

Bukan karena masih mencintainya.

Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Manusia paling berbahaya bukan selalu orang yang tidak memiliki cinta.

Kadang-kadang, mereka mampu mencintai.

Hanya saja mereka mencintai kepentingan mereka sendiri jauh lebih besar.

Aku melipat surat itu.

Pak Hendra menatapku.

“Kamu membencinya?”

Aku memandang keluar jendela.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Aku tersenyum tipis.

“Sekarang saya cuma bersyukur pernah memilih pergi.”

Pak Hendra mengangguk.

Sebelum pulang, aku mengeluarkan sesuatu dari tas.

Amplop lama yang diberikannya pada malam pernikahanku.

Uang dua puluh juta itu masih utuh.

Aku meletakkannya di meja.

“Ini milik Bapak.”

Pak Hendra menggeleng.

“Tidak. Itu milikmu.”

“Saya tidak membutuhkannya lagi.”

Aku mendorong amplop itu ke arahnya.

“Yang menyelamatkan saya malam itu bukan uangnya.”

Pak Hendra menatapku.

“Tapi keberanian Bapak mengatakan kebenaran.”

Aku berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan.

Di luar, hujan baru saja berhenti.

Langit Surabaya masih kelabu, tetapi cahaya matahari mulai menembus sela-sela awan.

Aku teringat diriku setahun sebelumnya.

Seorang pengantin perempuan berusia dua puluh tujuh tahun yang berlari keluar dari hotel pada pukul dua dini hari, membawa koper kecil, mengenakan pakaian biasa, dan tidak tahu apakah dia sedang menghancurkan hidupnya atau menyelamatkannya.

Kini aku tahu jawabannya.

Kadang-kadang keputusan paling berani dalam hidup bukan bertahan demi cinta.

Melainkan berani pergi ketika cinta meminta kita mengorbankan diri sendiri.

Aku melangkah menuju mobil.

Sebelum masuk, ponselku berbunyi.

Pesan dari Dinda.

Makan malam di tempat biasa? Jangan bilang sibuk. Aku sudah pesan dua porsi.

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara tawaku tidak lagi terasa dipaksakan.

Aku membalas pesannya.

Aku datang.

Lalu aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan menyalakan mobil.

Di kaca spion, gedung tempat Pak Hendra berdiri perlahan mengecil.

Masa lalu tetap berada di sana.

Aku tidak perlu melupakannya.

Aku hanya tidak perlu kembali ke sana.

Dan malam pernikahan yang dahulu kupikir telah menghancurkan hidupku ternyata memberiku hadiah yang jauh lebih berharga daripada pesta mewah, rumah besar, atau nama keluarga terpandang.

Kesempatan kedua untuk memilih hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang