Rekan kerjaku yang sedang hamil memohon agar aku membawanya dengan mobilku. Namun, alih-alih membukakan pintu, aku justru mengunci semuanya. Beberapa menit kemudian, darah mulai mengalir, dan sebuah rekaman membongkar jebakan mengerikan yang dirancang untuk menghancurkan hidupku.

Dokter Ratih hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa keadaan Wulan jauh lebih serius daripada yang terlihat.

“Sejak kapan perdarahannya mulai?”

“Sekitar dua menit sebelum ambulans tiba,” jawabku.

“Dia sempat dibawa dengan kendaraan lain?”

“Tidak.”

“Dipindahkan atau terjatuh?”

“Tidak. Sejak mengeluh sakit, dia berada di sini. Kami mengikuti petunjuk petugas layanan darurat.”

Dokter Ratih mengangguk cepat, lalu berlutut di samping Wulan.

“Bu Wulan, dengar suara saya. Tetap buka mata. Kami akan membawa Ibu ke rumah sakit.”

Wulan mencengkeram lengan seorang perawat.

“Anak saya… tolong anak saya…”

“Kami akan melakukan semampu kami.”

Nada suara dokter itu tenang, tetapi aku melihat tatapannya berubah ketika memeriksa kondisi Wulan.

Dalam hitungan menit, Wulan dipindahkan ke tandu.

Sebelum pintu ambulans ditutup, seorang perawat bertanya apakah ada keluarga yang bisa dihubungi.

“Suaminya bernama Bagas,” kataku. “Nomornya ada di data perusahaan.”

Wulan yang setengah sadar tiba-tiba membuka mata.

“Jangan…”

Semua orang terdiam.

Dokter Ratih menoleh.

“Jangan apa, Bu?”

Namun Wulan sudah kembali meringis kesakitan.

Ambulans melaju meninggalkan basement.

Aku mengira ketegangan malam itu akan berakhir setelah Wulan dibawa pergi.

Ternyata semuanya baru dimulai.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, sebuah SUV hitam masuk ke basement dengan kecepatan tinggi.

Bagas turun bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.

Dia bekerja sebagai kepala pengembangan bisnis di perusahaan yang sama denganku. Selama tiga tahun terakhir, namanya beberapa kali disebut sebagai calon direktur operasional.

Jabatan yang sekarang kupegang.

“Wulan mana?”

Matanya langsung menemukanku.

“Sudah dibawa ambulans.”

Bagas berjalan cepat ke arahku.

“Kamu tidak mengantarnya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Ada kondisi medis darurat. Petugas menyarankan agar dia tidak dipindahkan menggunakan kendaraan pribadi.”

Rahang Bagas mengeras.

“Dia menelepon saya sambil menangis dan bilang kamu tidak mau membuka pintu mobil.”

Beberapa pegawai mulai saling berpandangan.

Aku tidak menjawab.

Bagas tiba-tiba meninggikan suara.

“Kalau terjadi sesuatu pada anak saya, kamu bertanggung jawab!”

Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.

Persis seperti peringatan yang kulihat.

Aku mengangkat ponsel.

“Pembicaraan ini direkam.”

Bagas langsung diam.

Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan kesedihan.

Bukan kepanikan.

Ketakutan.

Hanya sepersekian detik, lalu wajahnya kembali berubah menjadi seorang suami yang putus asa.

“Kamu benar-benar sakit, Laras. Istri saya sedang sekarat dan kamu malah memikirkan rekaman?”

“Kalau kamu ingin menemui Wulan, rumah sakitnya sudah diberitahukan kepada keamanan.”

Bagas menatapku beberapa detik sebelum berbalik dan pergi.

Malam itu aku tidak langsung pulang.

Maya datang ke kantor sekitar pukul setengah satu dini hari bersama kepala keamanan dan direktur sumber daya manusia.

Rekaman CCTV basement langsung disalin ke tiga penyimpanan berbeda.

Pukul dua dini hari, teleponku berdering.

Nomor rumah sakit.

Dokter Ratih sendiri yang menelepon.

“Bu Laras?”

“Ya, Dok.”

“Kami mendapat nomor Ibu dari catatan panggilan darurat. Saya perlu memastikan sesuatu. Sebelum kami datang, apakah Bu Wulan mengonsumsi obat tertentu?”

“Setahu saya tidak.”

“Apakah ada orang yang memberinya suntikan?”

Jantungku seakan berhenti.

“Ada apa?”

Dokter Ratih terdiam sesaat.

“Kami menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan proses persalinan spontan. Saya belum bisa menyimpulkan sebelum pemeriksaan laboratorium selesai.”

“Bagaimana bayinya?”

Keheningan di ujung telepon sudah memberikan jawaban sebelum dokter itu berbicara.

“Kami tidak berhasil menyelamatkannya.”

Aku menutup mata.

Meski sudah diperingatkan sebelumnya, mendengar kenyataan itu tetap terasa seperti hantaman.

“Bagaimana Wulan?”

“Operasinya berhasil. Kondisinya masih kritis tetapi stabil.”

Aku pulang menjelang subuh.

Suamiku, Dimas, menungguku di ruang tamu.

Begitu melihatku, dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya memelukku.

Untuk pertama kalinya malam itu, tanganku gemetar.

“Ada bayi yang meninggal, Mas.”

Dimas memegang bahuku.

“Kamu sudah melakukan apa yang bisa kamu lakukan.”

“Tapi seseorang merencanakan ini.”

Aku menceritakan kejadian malam itu, kecuali tentang tulisan misterius.

Dimas mendengarkan tanpa menyela.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuatku kembali waspada.

“Kalau memang ada rencana menjebakmu, mereka tidak akan berhenti hanya karena rencana pertama gagal.”

Dia benar.

Pukul delapan pagi, sebuah video berdurasi dua puluh tiga detik muncul di media sosial.

Video itu memperlihatkan Wulan berdiri di samping mobilku sambil menangis.

“Bu Laras, tolong antar saya ke rumah sakit.”

Kemudian terdengar suaraku.

“Maaf, mobil saya sedang bermasalah.”

Video berhenti tepat sebelum aku menelepon ambulans.

Judulnya menyebar cepat.

Direktur perusahaan menolak menolong karyawan hamil dalam kondisi darurat.

Dalam dua jam, namaku masuk daftar topik yang paling banyak dibicarakan.

Orang-orang menyebutku tidak punya hati.

Ada yang menuntut perusahaan memecatku.

Seseorang bahkan mengunggah foto rumahku.

Namun kali ini aku sudah siap.

Pukul sepuluh pagi, perusahaan mengadakan konferensi internal darurat.

Bagas datang dengan mata merah dan pakaian kusut.

Dia berdiri di hadapan direksi.

“Saya tidak meminta apa pun untuk diri saya. Saya hanya meminta keadilan untuk istri dan anak saya.”

Dia menatapku.

“Kalau Bu Laras langsung membawa Wulan ke rumah sakit, mungkin anak kami masih hidup.”

Direktur utama, Pak Surya, menatapku.

“Laras, kamu punya penjelasan?”

Aku menghubungkan laptop ke layar.

“Ya.”

Video pertama diputar.

Rekaman utuh dari ponselku.

Semua orang mendengar petugas layanan darurat mengatakan dengan jelas agar Wulan tidak dipindahkan menggunakan kendaraan pribadi.

Lalu rekaman CCTV diputar.

Terlihat mobilku tidak pernah dibuka.

Terlihat pula waktu ambulans tiba hanya beberapa menit setelah panggilan.

Wajah Bagas mulai berubah.

Aku belum selesai.

“Rumah sakit juga telah mengirimkan laporan awal kepada polisi.”

Maya membagikan dokumen.

“Pemeriksaan toksikologi awal menemukan zat pemicu kontraksi dalam tubuh Bu Wulan dalam kadar yang tidak lazim.”

Ruangan menjadi sunyi.

Bagas berdiri.

“Ini gila. Kalian mau menuduh saya?”

“Aku belum menuduh siapa pun,” kataku.

“Tapi kamu baru saja bilang…”

“Kenapa kamu langsung merasa sedang dituduh?”

Bagas terdiam.

Pintu ruang rapat terbuka.

Dua polisi masuk bersama Pak Hadi.

Salah satu petugas menunjukkan kartu identitas.

“Kami membutuhkan keterangan Pak Bagas Pradana.”

Bagas tertawa pendek.

“Karena obat dalam tubuh istri saya? Saya bahkan tidak berada bersamanya tadi malam.”

Polisi itu menatapnya.

“Justru itu yang ingin kami tanyakan.”

Ternyata polisi telah memeriksa kamera keamanan apartemen tempat Bagas dan Wulan tinggal.

Malam sebelum kejadian, Bagas terlihat pulang sekitar pukul tujuh.

Dua jam kemudian, dia keluar membawa tas kerja.

Namun bukti paling penting bukan berasal dari CCTV.

Melainkan dari Wulan sendiri.

Ketika sadar setelah operasi, Wulan meminta bertemu polisi.

Dia mengatakan Bagas memang memberinya suntikan sebelum berangkat ke kantor.

Bagas mengatakan suntikan itu adalah vitamin yang diresepkan dokter.

Wulan mempercayainya.

Tetapi ada sesuatu yang lebih buruk.

Wulan mengetahui sebagian rencana suaminya.

Bagas memang ingin memanfaatkan kehamilannya untuk menciptakan sebuah insiden yang bisa menyeret namaku.

Namun menurut Wulan, rencana awalnya tidak pernah melibatkan kematian bayi.

Bagas hanya mengatakan obat itu akan memicu kontraksi ringan.

Wulan harus memintaku mengantarnya ke rumah sakit, lalu setelah tiba, mereka akan mengatakan cara mengemudiku memperburuk kondisinya.

Skandal itu cukup untuk membuat dewan menonaktifkanku selama penyelidikan.

Setelah itu Bagas akan mengambil alih pekerjaanku.

“Tapi dosis yang diberikan kepadanya jauh lebih tinggi daripada yang dia ketahui,” kata polisi.

Bagas mulai mundur.

“Itu omong kosong.”

Kemudian Maya menyalakan sebuah rekaman.

Suara Bagas terdengar jelas.

“Kalau dia menolak membawa kamu, paksa dia merasa bersalah. Kalau dia membawa kamu, sisanya gampang.”

Suara Wulan terdengar gemetar.

“Bagaimana kalau benar-benar terjadi sesuatu pada bayi kita?”

Bagas menjawab,

“Tidak akan. Percaya sama aku.”

Ruangan membeku.

Polisi menjelaskan bahwa rekaman itu berasal dari ponsel lama Wulan yang otomatis mencadangkan rekaman suara ke penyimpanan daring.

Wulan rupanya mulai merekam percakapan dengan suaminya beberapa minggu sebelumnya karena merasa Bagas semakin aneh.

Namun rekaman terakhir mengungkap sesuatu yang bahkan tidak diketahui Wulan.

Bagas sedang berbicara dengan seseorang.

“Kursi Laras kosong paling lama seminggu setelah kejadian. Begitu dia dinonaktifkan, saya masuk.”

Suara laki-laki lain bertanya,

“Kalau bayinya tidak selamat?”

Bagas menjawab dengan suara datar.

“Justru lebih kuat.”

Aku merasakan dingin menjalar dari tengkuk hingga punggung.

Wulan ternyata bukan rekannya.

Dia juga korban.

Bagas mencoba berlari ke pintu.

Polisi langsung menahannya.

Untuk pertama kalinya, wajah pria itu benar-benar kehilangan kendali.

“Semua ini karena kamu!”

Dia menunjukku.

“Seharusnya kamu membuka pintu mobil itu!”

Aku menatapnya tanpa bergerak.

“Bukan saya yang menghancurkan hidupmu, Bagas.”

Dua polisi membawanya keluar.

Beberapa hari kemudian, penyelidikan berkembang lebih jauh.

Orang yang berbicara dengan Bagas dalam rekaman ternyata seorang anggota manajemen yang diam-diam menjanjikan jabatan kepadanya jika aku tersingkir.

Keduanya telah mempersiapkan narasi media bahkan sebelum kejadian berlangsung.

Video Wulan di samping mobilku ternyata direkam oleh Sinta.

Dialah yang mengirim potongan video kepada Bagas malam itu.

Namun Sinta mengaku tidak mengetahui soal suntikan ataupun rencana kematian bayi. Dia hanya dijanjikan promosi jika membantu menciptakan tekanan terhadapku.

Seminggu kemudian aku datang ke rumah sakit.

Wulan sudah sadar sepenuhnya.

Dia terlihat jauh lebih kurus.

Ketika aku masuk, dia memalingkan wajah ke jendela.

“Saya tahu Ibu mungkin tidak mau memaafkan saya.”

Aku duduk di kursi dekat ranjang.

“Saya memang marah.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Saya pikir hanya akan ada kontraksi. Bagas bilang bayi saya tidak akan terluka.”

Dia menutup wajahnya.

“Saya bodoh.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa luka terlalu besar untuk ditutup dengan kalimat penghiburan.

Setelah beberapa saat, Wulan berkata pelan,

“Kenapa malam itu Ibu tiba-tiba begitu berhati-hati?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Aku memandang jendela.

Sejak malam kejadian, tulisan transparan itu tidak pernah muncul lagi.

Tidak sekali pun.

Aku sendiri tidak tahu siapa yang memperingatkanku.

Atau mengapa.

“Aku hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres.”

Wulan mengangguk.

Sebelum aku pergi, dia memanggilku.

“Bu Laras.”

Aku menoleh.

“Terima kasih karena malam itu Ibu tidak membuka pintu.”

Aku tidak langsung memahami maksudnya.

Wulan memandang kedua tangannya.

“Kalau saya masuk ke mobil Ibu, mungkin saya akan menghabiskan sisa hidup dengan percaya bahwa kematian anak saya adalah kesalahan Ibu.”

Suaranya pecah.

“Padahal orang yang menghancurkan kami adalah orang yang paling saya percaya.”

Aku meninggalkan rumah sakit tanpa menjawab.

Tiga bulan kemudian, kasus Bagas mulai memasuki persidangan.

Aku tetap bekerja di perusahaan, tetapi banyak hal berubah.

Aku tidak lagi melihat pertolongan sebagai tindakan tercepat.

Kadang-kadang, pertolongan terbaik justru lahir dari keberanian untuk berhenti, berpikir, dan tidak mengikuti tekanan orang banyak.

Suatu malam, aku pulang terlambat setelah rapat.

Aku memasuki basement yang sama.

Tempat parkir B-217 kosong.

Aku berhenti beberapa detik di depan tiang tempat Wulan dulu bersandar.

Kemudian ponselku bergetar.

Pesan dari Dimas.

Pulang cepat. Raka menunggumu. Katanya tidak mau tidur sebelum Mama pulang.

Aku tersenyum dan membuka pintu mobil.

Saat tanganku menyentuh kemudi, sesuatu kembali muncul di depan mataku.

Tulisan transparan.

Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan.

Aku membeku.

Namun kali ini hanya ada satu kalimat.

Terima kasih karena malam itu kamu mempercayaiku.

Tulisan itu perlahan menghilang.

Aku menatap kursi belakang yang kosong.

Entah mengapa, mataku terasa panas.

Kemudian aku teringat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku merinding.

Pada pemeriksaan lanjutan kasus Wulan, dokter menemukan bahwa bayi itu sebenarnya sudah kehilangan detak jantung hampir satu jam sebelum Wulan mendatangiku di basement.

Artinya, ketika peringatan pertama muncul di depan mataku, bayi itu sudah tidak mungkin diselamatkan.

Aku tidak pernah diberi kesempatan untuk menyelamatkan bayinya.

Aku hanya diberi kesempatan untuk menyelamatkan kebenaran.

Dan terkadang, satu-satunya cara agar kebenaran tetap hidup adalah dengan tidak membuka pintu yang sengaja disiapkan seseorang untuk menjebak kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang