Aku sadar ketika langit di balik jendela rumah sakit mulai berubah pucat.
Hal pertama yang kurasakan bukan sakit.
Melainkan kosong.
Tanganku refleks menyentuh perut. Beberapa jam sebelumnya, di sana ada kehidupan kecil yang bahkan belum sempat kuberitahu kepada ayahnya.
Sekarang tidak ada lagi.
Dokter yang berdiri di samping tempat tidur menatapku dengan sorot mata yang terlalu hati-hati.
“Bu Maya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Perdarahannya cukup berat. Kehamilan Ibu tidak bisa dipertahankan.”
Aku menutup mata.
Tidak menangis.
Entah karena terlalu lelah atau karena rasa sakit itu begitu besar sampai tubuhku tidak tahu bagaimana harus mengeluarkannya.
“Suami saya sudah datang?”
Perawat di samping dokter terdiam.
“Nomor kontak darurat sudah kami hubungi berkali-kali. Tidak aktif.”
Aku meraih ponsel dari meja.
Ada satu pesan dari Adrian, dikirim pukul dua lewat sebelas menit.

Aku sudah boarding. Jangan membuat masalah lagi malam ini. Kita bicara setelah aku pulang.
Di bawahnya ada foto yang dikirim otomatis oleh grup keluarga Adrian.
Nadine tersenyum di ruang tunggu bandara. Di belakangnya terlihat Adrian sedang membawa dua koper.
Ibunya menulis, Semoga perjalanan kalian lancar.
Perjalanan kalian.
Aku memandangi layar sampai huruf-hurufnya kabur.
Barulah air mataku jatuh.
Aku tidak membalas pesan Adrian.
Aku juga tidak memberitahunya tentang bayi kami.
Tiga hari aku dirawat. Yang menemaniku hanya sahabatku, Rena. Dialah yang mengambil pakaian dari rumah, mengurus administrasi, bahkan duduk di sampingku ketika aku terbangun tengah malam sambil menangis karena tanpa sadar masih mengelus perut.
Adrian tidak menelepon satu kali pun.
Namun aku tahu dia baik-baik saja.
Nadine rajin mengunggah perjalanan mereka.
Amsterdam.
Brussels.
Paris.
Foto di depan kanal.
Foto makan malam.
Foto dua gelas anggur dengan keterangan singkat, Menutup tahun bersama orang-orang yang membuat hidup lebih ringan.
Aku tidak tahu apakah Adrian ada di seberang meja.
Aku juga tidak lagi ingin tahu.
Pada hari keempat, aku pulang.
Rumah kami terasa asing.
Aku masuk ke kamar kerja Adrian untuk mencari dokumen asuransi rumah sakit. Saat membuka laci meja, aku menemukan sebuah map biru.
Aku hampir mengabaikannya.
Sampai melihat nama Nadine.
Di dalamnya ada dokumen perjalanan, salinan kontrak kerja, dan beberapa lembar cetakan surel.
Tanganku membeku saat membaca salah satunya.
Adrian telah mengajukan rekomendasi agar Nadine ditempatkan sebagai kepala pengembangan bisnis cabang Eropa perusahaan tempatnya bekerja.
Jabatan itu seharusnya menjadi milikku.
Dua tahun sebelumnya, aku meninggalkan pekerjaanku sebagai konsultan strategi karena Adrian memintaku.
“Kita ingin punya anak, kan?” katanya waktu itu. “Aku butuh rumah yang terasa seperti rumah. Karierku sedang naik. Untuk sementara, kamu yang mengalah.”
Aku mengalah.
Aku menolak promosi.
Aku berhenti bekerja.
Aku mendampingi ibunya ketika operasi.
Aku mengurus rumah.
Aku menunggu Adrian pulang setiap malam.
Dan sekarang aku mengetahui bahwa jaringan bisnis yang kubangun bertahun-tahun ternyata dipakai Adrian untuk membantu Nadine mendapatkan posisi di Eropa.
Aku terus membaca.
Ada satu surel dari Nadine.
Terima kasih sudah menepati janjimu. Kalau Maya tahu semua ini, dia pasti marah.
Balasan Adrian hanya satu kalimat.
Dia tidak perlu tahu.
Saat itulah sesuatu dalam diriku berubah.
Aku tidak menangis.
Aku mengambil foto seluruh dokumen.
Lalu menelepon seseorang yang sudah hampir tiga tahun tidak kuhubungi.
“Pak Surya?”
Suara di seberang terdengar terkejut.
“Maya?”
“Saya ingin kembali bekerja.”
Tiga minggu kemudian Adrian pulang.
Aku sedang duduk di ruang makan ketika pintu terbuka.
Dia masuk membawa koper dan beberapa tas belanja.
“Kenapa rumah gelap?”
Aku tidak menjawab.
Adrian menyalakan lampu.
Begitu melihatku, alisnya mengernyit.
“Kamu kenapa? Kurus sekali.”
Aku menatap laki-laki yang sudah kunikahi selama enam tahun itu.
Dulu, satu tatapan dinginnya bisa membuatku bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan.
Sekarang aku hanya merasa lelah.
“Perjalanannya menyenangkan?”
“Lumayan.”
“Dengan Nadine?”
Adrian mengembuskan napas panjang.
“Baru pulang sudah mulai lagi.”
Dia meletakkan tas di meja.
“Aku belikan kamu parfum dari Paris.”
Aku hampir tertawa.
“Adrian, malam Tahun Baru aku masuk rumah sakit.”
Wajahnya berubah.
“Apa?”
“Aku jatuh setelah kalian pergi.”
Dia langsung mendekat.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Aku menatapnya.
“Rumah sakit meneleponmu.”
Adrian terdiam.
“Aku sedang di pesawat.”
“Mereka menelepon sebelum pesawatmu berangkat.”
Rahangnya menegang.
“Maya, waktu itu aku marah. Ponselku kumatikan. Tapi kalau memang serius, kenapa Rena atau keluargamu tidak menghubungiku?”
Pertanyaan itu membuatku sadar bahwa bahkan sekarang dia sedang mencari orang lain untuk disalahkan.
Aku berdiri.
“Aku hamil.”
Wajah Adrian kehilangan warna.
“Apa?”
“Delapan minggu.”
Dia menatap perutku.
Lalu wajahku.
“Maksudmu…”
“Anak kita meninggal malam itu.”
Tas belanja terlepas dari tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, Adrian tidak punya jawaban.
Dia mundur satu langkah lalu duduk.
“Maya…”
“Jangan.”
“Aku tidak tahu.”
“Benar. Kamu tidak tahu.”
Air mataku akhirnya mengalir, tetapi suaraku tetap tenang.
“Kamu tidak tahu karena setiap kali aku mencoba mendapatkan sedikit waktumu, selalu ada Nadine di antara kita.”
“Aku tidak pernah selingkuh dengannya.”
“Aku tidak bilang kamu tidur dengannya.”
Aku menatapnya lurus.
“Perselingkuhan bukan cuma soal ranjang, Adrian. Kamu memberikan waktu, perhatian, kesempatan, dan pembelaanmu kepada perempuan lain. Lalu menyuruh istrimu merasa bersalah karena terluka.”
Dia mengusap wajah.
“Aku minta maaf.”
Aku mengeluarkan amplop dari tas.
“Kamu bilang kalau aku terus mempermasalahkan Nadine, sebaiknya kita cerai.”
Kutaruh dokumen itu di meja.
“Aku setuju.”
Adrian menatap surat gugatan perceraian itu seolah benda tersebut bisa meledak.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
Dia berdiri.
“Maya, kita baru kehilangan anak!”
“Kita?”
Suaraku pecah untuk pertama kalinya.
“Aku kehilangan anak itu sendirian di meja operasi sementara kamu terbang ke Eropa bersama mantanmu.”
Dia terdiam.
Aku meninggalkan rumah malam itu.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua bulan kemudian, aku kembali bekerja di perusahaan konsultan lamaku. Pak Surya memberiku proyek besar untuk mendampingi sebuah grup investasi asal Singapura yang ingin mengakuisisi perusahaan teknologi Indonesia.
Saat melihat nama perusahaan target, aku terdiam.
Itu perusahaan tempat Adrian bekerja.
Lebih mengejutkan lagi, Adrian sedang dipertimbangkan untuk menjadi direktur regional setelah akuisisi.
Aku meminta Pak Surya mengganti tugasku.
Dia menolak.
“Kamu orang yang paling memahami jaringan bisnis mereka. Tapi kalau ada konflik kepentingan, kita bisa mencatatnya secara resmi dan membatasi kewenanganmu.”
Aku menyetujuinya.
Aku tidak ingin menghancurkan Adrian.
Aku hanya ingin melakukan pekerjaanku.
Namun saat proses uji tuntas dimulai, tim kami menemukan kejanggalan.
Sejumlah biaya konsultasi cabang Eropa tidak memiliki dasar proyek yang jelas.
Beberapa pembayaran mengarah ke perusahaan kecil yang baru didirikan enam bulan sebelumnya.
Direkturnya adalah sepupu Nadine.
Aku menyerahkan temuan itu kepada tim audit tanpa komentar pribadi.
Investigasi internal dimulai.
Tiga minggu kemudian Adrian datang ke kantorku tanpa membuat janji.
“Kamu sengaja melakukan ini.”
Dia masuk dengan wajah merah.
Aku menutup laptop.
“Melakukan apa?”
“Membuat mereka menyelidikiku.”
“Aku tidak membuat transaksi itu.”
“Itu biaya pengembangan bisnis.”
“Kalau begitu jelaskan kepada auditor.”
Adrian memukul meja.
“Kamu mau balas dendam karena bayi kita?”
Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku terdorong ke belakang.
“Jangan pernah gunakan anak kita untuk menutupi keputusanmu sendiri.”
Ruangan mendadak sunyi.
Adrian menatapku lama.
Lalu suaranya melemah.
“Aku cuma membantu Nadine.”
“Dengan uang perusahaan?”
“Bukan seperti itu.”
Dia menunduk.
“Nadine bilang perusahaan keluarganya sedang kesulitan. Aku mengalihkan beberapa proyek konsultasi ke mereka. Semuanya tetap dikerjakan.”
“Kenapa disembunyikan?”
Dia tidak menjawab.
Aku sudah tahu jawabannya.
Karena dia tahu itu salah.
Dua hari kemudian Nadine meneleponku.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
“Maya, kita harus bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ada sesuatu tentang Adrian yang kamu tidak tahu.”
Kami bertemu di sebuah kafe di Menteng.
Nadine datang tanpa riasan mencolok seperti biasanya. Wajahnya pucat.
Begitu duduk, dia langsung meletakkan ponselnya di meja.
“Aku minta maaf.”
Aku menatapnya dingin.
“Untuk bagian yang mana?”
Matanya berkaca-kaca.
“Untuk membiarkanmu berpikir aku ingin merebut Adrian.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu ikut liburan kami, makan malam kami, menerima hadiah yang sama denganku, lalu terbang ke Eropa dengannya.”
“Aku salah. Aku menikmati perhatian itu.”
Setidaknya dia mengakuinya.
“Tapi Adrian berbohong kepadaku juga.”
Dia membuka beberapa pesan.
Aku membaca percakapan mereka.
Adrian berkali-kali mengatakan pernikahan kami sudah berakhir.
Maya hanya belum siap menerima.
Kami tinggal serumah karena keluarga.
Setelah proyek Eropa selesai, aku akan mengurus perceraian.
Pesan-pesan itu dikirim berbulan-bulan sebelum malam Tahun Baru.
Dadaku terasa dingin.
Lalu Nadine menunjukkan sesuatu yang lebih buruk.
Pada malam aku masuk rumah sakit, ponsel Adrian sebenarnya tidak dimatikan karena berada di pesawat.
Nadine memiliki foto dari ruang tunggu bandara.
Waktu pengambilan gambar menunjukkan pukul 23.48.
Adrian sedang memegang ponselnya.
“Aku ingat malam itu,” kata Nadine lirih. “Ada panggilan masuk berkali-kali. Aku tanya kenapa tidak diangkat.”
“Apa jawabannya?”
Nadine menelan ludah.
“Dia bilang rumah sakit menelepon karena kamu terlalu dramatis setelah jatuh. Dia bilang kamu sering melakukan hal seperti itu untuk membuatnya merasa bersalah.”
Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.
Adrian tahu aku berada di rumah sakit.
Mungkin dia tidak tahu aku hamil.
Tapi dia tahu aku terluka.
Dan dia tetap pergi.
Aku bangkit.
“Maya…”
“Terima kasih sudah memberitahuku.”
Enam bulan kemudian perceraian kami resmi.
Adrian tidak menjadi direktur regional. Investigasi perusahaan menyimpulkan beberapa keputusan pengadaan yang dia buat melanggar prosedur konflik kepentingan. Dia diberhentikan.
Nadine juga kehilangan posisi Eropanya.
Aku tidak merasa menang.
Tidak ada kemenangan dalam kehilangan seorang anak dan pernikahan yang pernah kupercaya akan bertahan seumur hidup.
Setahun setelah malam itu, aku kembali ke rumah sakit yang sama.
Bukan sebagai pasien.
Aku membawa sebuah kotak kecil berisi pakaian bayi, selimut, dan perlengkapan perawatan untuk disumbangkan ke yayasan yang membantu ibu dengan kehamilan berisiko.
Di taman rumah sakit, aku duduk di bangku tempat Rena pernah menungguku keluar dari ruang operasi.
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.
Adrian.
Hari ini tepat setahun. Aku tidak berharap kamu memaafkanku. Aku hanya ingin bilang aku masih memikirkan anak kita setiap hari.
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu mengunci layar.
Seorang perempuan muda duduk beberapa meter dariku. Perutnya besar. Suaminya berjongkok di depannya sambil mengikat tali sepatunya yang terlepas.
Perempuan itu tertawa.
Laki-laki itu ikut tertawa.
Pemandangan sederhana.
Namun entah kenapa membuat mataku panas.
Dulu aku berpikir tragedi terbesar dalam hidupku adalah kehilangan Adrian.
Ternyata bukan.
Tragedi terbesar adalah bertahun-tahun kehilangan diriku sendiri hanya untuk mempertahankan seseorang yang terus membuatku merasa harus bersaing demi mendapatkan tempat dalam pernikahanku sendiri.
Aku menyentuh liontin kecil di leherku.
Bukan kalung pemberian Adrian.
Kalung itu sudah kujual.
Liontin yang kupakai sekarang berbentuk bintang kecil.
Di belakangnya terukir satu tanggal.
Tanggal ketika aku mengetahui bahwa aku pernah menjadi seorang ibu.
Aku berdiri dan berjalan menuju pintu rumah sakit.
Untuk pertama kalinya, kenangan tentang malam Tahun Baru itu tidak membuatku ingin kembali dan mengubah apa pun.
Karena aku akhirnya mengerti sesuatu.
Ada kehilangan yang menghancurkan hidup kita.
Ada pula kehilangan yang memaksa kita melihat hidup dengan jujur.
Anakku hanya tinggal bersamaku selama delapan minggu.
Dia tidak pernah melihat dunia.
Tidak pernah memanggilku Ibu.
Tidak pernah kugendong.
Namun keberadaannya yang begitu singkat telah mengajarkanku satu hal yang gagal kupahami selama enam tahun pernikahan.
Cinta tidak seharusnya membuat seseorang memohon untuk dipilih.
Dan malam ketika Adrian meninggalkanku di bawah hujan, sebenarnya bukan malam ketika hidupku berakhir.
Itu adalah malam ketika hidup yang selama bertahun-tahun kutinggalkan demi dirinya akhirnya mulai kembali menjadi milikku.
