“SAAT BADAI MENGHANCURKAN SEGALANYA, SUAMI SAYA MENOLAK ANAK KAMI. NAMUN SEBELUM MATAHARI TERBENAM, DIA BERPALING DAN MEMOHON UNTUK KEMBALI.”

“Katakan apa yang harus Papa lakukan.”

Suara Arga nyaris tenggelam oleh deru mesin truk bantuan yang melintas di belakang kami.

Raka menatap ayahnya cukup lama.

Beberapa jam sebelumnya, rumah yang menjadi tempat kami menyimpan enam belas tahun kenangan telah berubah menjadi puing. Namun saat itu aku sadar, ada sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun kembali daripada sebuah rumah.

Kepercayaan seorang anak kepada ayahnya.

Raka berdiri dari batang pohon tempat kami duduk.

“Kalau Papa benar-benar menyesal, jangan minta aku langsung memaafkan.”

Arga mengangkat wajah.

“Ra…”

“Aku belum selesai.”

Nada Raka tidak keras. Justru ketenangannya membuat wajah Arga semakin pucat.

“Aku tadi manggil Papa karena aku takut. Aku kira aku bakal mati di bawah lemari itu. Begitu keluar dan lihat Papa, aku pikir semuanya bakal baik-baik saja.”

Raka menarik napas.

“Tapi Papa malah bilang tidak ada tempat buat aku.”

Arga menutup mata.

Aku melihat rahangnya mengeras.

“Papa salah.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.

Raka melangkah mendekat.

“Kenapa Papa bisa bilang begitu?”

Aku pun menunggu jawabannya.

Sejak perceraian kami dua tahun lalu, Arga memang berubah. Hubungannya dengan Raka semakin renggang. Dia selalu mengatakan pekerjaannya sibuk. Pertemuan akhir pekan sering dibatalkan. Telepon Raka kadang baru dibalas dua hari kemudian.

Aku menganggap itu hanya akibat perceraian.

Sampai sore itu.

Arga akhirnya duduk di atas puing beton di pinggir jalan.

“Ada sesuatu yang Papa sembunyikan.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Apa?”

Arga menatapku.

“Aku kehilangan pekerjaan tiga bulan lalu.”

Aku membeku.

Arga sebelumnya bekerja sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi di Semarang. Selama ini dia selalu mengatakan pekerjaannya berjalan baik.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Aku malu.”

Arga tertawa pendek tanpa humor.

“Tabunganku hampir habis. Apartemen yang kutempati juga sudah menunggak dua bulan. Mobilku sebenarnya sudah dijual minggu lalu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Lalu tadi?”

“Aku datang karena dengar kabar banjir bandang. Aku ingin memastikan kalian selamat.”

“Dan setelah tahu anakmu selamat, kamu mengusirnya?”

Arga menunduk.

“Itulah kenapa aku bilang tidak ada tempat.”

Raka tertawa getir.

“Jadi karena Papa miskin, aku bukan anak Papa lagi?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Arga berdiri.

“Aku takut!”

Untuk pertama kalinya suaranya meninggi.

Beberapa orang di sekitar tenda pengungsian menoleh.

Arga segera menurunkan suaranya.

“Aku takut kamu minta ikut denganku dan aku bahkan tidak punya tempat tinggal yang layak. Aku takut kamu tahu Papa gagal.”

Raka menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi Papa lebih memilih membuat aku merasa dibuang?”

Arga tidak mampu menjawab.

Aku menggenggam tangan Raka.

“Ayo ke posko dulu. Kita harus membersihkan lukamu.”

Kami meninggalkan Arga di sana.

Kupikir dia akan pergi.

Ternyata tidak.

Dia mengikuti kami.

Di posko pengungsian, petugas medis membersihkan luka di tangan dan kaki kami. Raka mendapat beberapa jahitan kecil di lengan akibat terkena pecahan kaca.

Arga duduk beberapa meter dari kami.

Dia tidak mencoba mendekat.

Tidak memaksa Raka berbicara.

Hanya menunggu.

Menjelang malam, makanan mulai dibagikan. Nasi bungkus, air mineral, selimut, dan pakaian bekas layak pakai datang dari berbagai relawan.

Ketika aku mengambil dua porsi makanan, seorang petugas memanggil namaku.

“Ibu Naya?”

Aku menoleh.

Seorang lelaki mengenakan rompi BPBD menghampiri.

“Benar rumah Ibu di Gang Melati Nomor Dua Belas?”

“Benar.”

“Kami menemukan tas ini tersangkut di pagar belakang.”

Dia menyerahkan sebuah ransel hitam penuh lumpur.

Aku mengenalinya.

Tas Raka.

Raka langsung membuka ritsletingnya.

Sebagian buku sekolahnya rusak. Laptopnya basah. Namun dia terus mengaduk isi tas seperti mencari sesuatu.

Tiba-tiba wajahnya berubah.

“Tidak ada.”

“Apa?”

“Amplopnya.”

“Amplop apa?”

Raka tidak menjawab.

Dia berdiri dan memandang ke arah puing rumah kami.

“Aku harus kembali.”

“Raka, sudah malam.”

“Aku harus cari sekarang.”

Arga langsung bangkit.

“Apa yang hilang?”

Raka menatapnya sebentar.

“Bukan urusan Papa.”

Dia berlari.

Aku dan Arga mengejarnya.

Petugas sudah memasang garis pembatas di sekitar rumah-rumah yang rusak, tetapi Raka menyelinap melalui sisi jalan.

“Raka!”

Dia terus berjalan di antara lumpur dan potongan kayu.

Kami menemukannya berlutut di bekas kamarnya.

Dia menggali lumpur dengan tangan kosong.

“Ra, apa yang kamu cari?”

Raka tidak menjawab.

Aku ikut berjongkok.

Kemudian Arga melihat sesuatu di bawah potongan meja.

Sebuah amplop cokelat.

“Ini?”

Raka langsung merebutnya.

Amplop itu basah dan sobek pada salah satu sisinya.

Raka membukanya.

Di dalamnya ada beberapa lembar uang dan sebuah formulir.

Aku mengambil formulir tersebut.

Formulir pendaftaran sekolah.

Bukan sekolah Raka.

Sebuah lembaga kursus keahlian di Jakarta.

Aku membaca nama programnya.

Teknisi alat berat.

“Ini apa?”

Raka menunduk.

“Aku mau berhenti sekolah.”

Dunia seperti berhenti untuk kedua kalinya hari itu.

“Apa?”

“Aku sudah cari tempat kursus yang bisa sambil kerja.”

“Kenapa?”

Raka menggigit bibir.

“Karena Mama sudah tidak sanggup.”

Aku menatapnya.

“Siapa bilang?”

“Aku tahu.”

Suaranya mulai bergetar.

“Aku tahu cicilan rumah. Aku tahu Mama sering pura-pura sudah makan supaya aku bisa beli buku. Aku juga tahu Papa sudah tiga bulan tidak kirim uang.”

Aku spontan menoleh kepada Arga.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Raka melanjutkan.

“Aku pikir kalau aku kerja, Mama tidak perlu susah lagi.”

Aku memeluknya.

“Dengar Mama. Kamu tidak perlu menyelamatkan orang dewasa.”

“Tapi…”

“Tidak.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tugas kamu sekarang belajar. Soal hidup kita, biar Mama yang pikirkan.”

Tiba-tiba Arga berjongkok di depan kami.

“Dan Papa.”

Raka menatapnya.

Arga mengambil dompetnya.

Dompet yang sejak tadi digenggamnya begitu erat.

Dia membukanya.

Di dalamnya ternyata bukan tumpukan uang.

Hanya beberapa lembar seratus ribuan.

Dan sebuah foto lama.

Foto kami bertiga saat Raka masih berusia lima tahun.

Raka berdiri di antara kami dengan dua gigi depannya yang ompong.

“Aku mempertahankan dompet ini bukan karena uang,” kata Arga.

Dia mengeluarkan foto itu.

“Ini satu-satunya foto keluarga yang masih kubawa ke mana-mana.”

Raka terdiam.

“Aku kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatku bekerja bermasalah. Tapi itu bukan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.”

Arga menatapku.

“Aku juga berhenti mengirim uang tanpa menjelaskan apa pun. Aku salah.”

Kemudian dia menatap Raka.

“Dan hari ini Papa melakukan kesalahan yang mungkin akan kamu ingat seumur hidup.”

Arga menyerahkan foto itu.

“Papa tidak akan minta kamu melupakannya.”

Raka menerima foto tersebut.

“Tapi Papa ingin kesempatan memperbaikinya.”

Raka menatap foto yang basah itu.

“Bagaimana?”

“Mulai dari hal paling sederhana.”

Arga berdiri.

“Kita cari tempat tidur malam ini.”

Malam itu kami bertiga tidur di tenda pengungsian.

Tidak ada rekonsiliasi dramatis.

Raka bahkan memilih tidur di sebelahku, bukan di dekat Arga.

Namun Arga tetap tinggal.

Pukul lima pagi, ketika aku terbangun, tempatnya kosong.

Aku sempat mengira dia pergi.

Sampai aku melihatnya di dekat dapur umum, mengangkat kardus air mineral bersama relawan.

Hari berikutnya dia membantu membersihkan puing.

Hari ketiga, dia ikut tim warga mencari dokumen yang masih bisa diselamatkan.

Dia tidak banyak bicara.

Dan Raka tidak banyak merespons.

Tetapi setiap pagi Arga datang.

Setiap malam dia kembali ke tenda.

Seminggu kemudian pemerintah memindahkan beberapa keluarga ke hunian sementara.

Kami mendapatkan satu unit kecil.

Hanya dua kamar sempit dengan dinding papan.

Saat pertama masuk, Raka berdiri di ruang tengah.

“Lebih kecil dari rumah kita.”

Aku tersenyum.

“Setidaknya tidak bocor.”

Dari belakang, Arga masuk membawa kasur lipat.

“Aku tidur di ruang depan.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak harus tinggal bersama kami.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Arga meletakkan kasur.

“Aku dapat pekerjaan.”

Aku terkejut.

“Di mana?”

“Kontraktor lokal. Bukan manajer. Pengawas lapangan.”

“Gajinya?”

“Hampir setengah dari dulu.”

Dia tersenyum tipis.

“Tapi cukup untuk mulai membayar kewajibanku lagi.”

Raka yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, “Apartemen Papa?”

“Sudah kulepas.”

“Papa tinggal di mana?”

Arga menunjuk kasur lipat.

“Kalau kalian mengizinkan, sementara di sini.”

Raka menatapku.

Aku tidak menjawab.

Keputusan itu bukan hanya milikku.

Beberapa detik kemudian Raka mengangkat bahu.

“Asal jangan mendengkur.”

Arga tertawa.

Itu pertama kalinya aku mendengar tawa mereka setelah bencana.

Bulan-bulan berikutnya tidak mudah.

Kami tetap bertengkar.

Raka masih menyimpan luka.

Suatu malam ketika Arga terlambat pulang tanpa memberi kabar, Raka langsung mengunci dirinya di kamar.

“Aku tahu dia bakal pergi lagi,” katanya.

Arga tidak marah.

Dia duduk di depan pintu kamar hampir satu jam.

“Papa terlambat karena motor mogok.”

Tidak ada jawaban.

“Papa seharusnya telepon.”

Tetap diam.

“Besok kalau Papa terlambat lagi, Papa kabari.”

Akhirnya pintu terbuka.

Raka hanya berkata, “Jangan janji kalau tidak bisa ditepati.”

Arga mengangguk.

“Oke.”

Perlahan, hubungan mereka berubah.

Arga mulai mengantar Raka sekolah dengan motor bekasnya.

Raka kembali belajar serius.

Formulir kursus teknisi itu tidak pernah dikirim.

Setahun setelah bencana, kami mendapatkan bantuan pembangunan rumah sederhana di lahan lama.

Pada hari fondasi pertama dibuat, kami bertiga datang.

Raka berdiri di lokasi bekas kamarnya.

“Kamarku nanti di sini lagi?”

“Kalau kamu mau,” kataku.

Arga membuka gambar denah.

“Papa pikir jendelanya bisa dibuat lebih besar.”

Raka melihat gambar itu.

“Kenapa?”

“Supaya kalau ada keadaan darurat, gampang keluar.”

Raka tertawa.

Namun kemudian ekspresinya berubah serius.

“Pa.”

“Hm?”

“Aku sudah memaafkan Papa.”

Arga membeku.

Aku melihat matanya memerah.

Raka melanjutkan.

“Tapi aku belum lupa.”

Arga mengangguk.

“Papa juga tidak mau kamu lupa.”

Raka mengernyit.

“Kenapa?”

“Supaya kalau suatu hari Papa berubah jadi pengecut lagi, kamu ingatkan.”

Raka tersenyum.

Beberapa bulan kemudian rumah kami selesai.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun sore saat kami memasukkan barang-barang, aku menemukan sesuatu tergantung di dinding ruang tamu.

Foto lama yang ditemukan dari dompet Arga.

Sudah dikeringkan dan dimasukkan ke bingkai sederhana.

Di bawahnya ada foto baru.

Kami bertiga berdiri di depan rumah yang baru selesai dibangun.

Aku menatap Arga.

“Kamu yang pasang?”

Dia mengangguk.

Aku menunjuk foto lama.

“Kenapa yang rusak tetap dipajang?”

Arga tidak langsung menjawab.

Raka yang sedang membawa kardus dari kamar justru menyahut.

“Biar ingat.”

Aku menoleh kepadanya.

Raka meletakkan kardus.

“Rumah yang hancur bisa dibangun lagi. Tapi kalau kita pura-pura tidak pernah hancur, kita tidak akan tahu bagian mana yang harus diperkuat.”

Aku terdiam.

Anak yang setahun lalu berjalan sendirian di tengah lumpur itu kini berdiri di depanku dengan bahu lebih tegak.

Arga mendekatinya.

Tidak ada kata-kata besar.

Dia hanya menepuk bahu putranya.

Kali ini Raka tidak menjauh.

Malam pertama di rumah baru, hujan turun lagi.

Aku terbangun karena suara petir.

Ketika keluar kamar, kulihat lampu ruang tengah masih menyala.

Raka tertidur di sofa sambil belajar.

Arga duduk di lantai di sampingnya.

Dia mengambil selimut dan menutupi tubuh anaknya.

Saat hendak berdiri, tangan Raka tiba-tiba menangkap lengannya.

Matanya masih tertutup.

“Pa.”

Arga berhenti.

“Ya?”

“Jangan pergi.”

Arga duduk kembali.

“Papa di sini.”

Aku berdiri di balik pintu tanpa mengatakan apa pun.

Di luar, hujan semakin deras.

Dulu suara itu mengingatkanku pada kehilangan.

Kini aku justru memahami sesuatu.

Badai memang menghancurkan rumah kami dalam hitungan detik.

Ia merobohkan dinding, menghanyutkan harta, dan membuka semua ketakutan yang selama bertahun-tahun kami sembunyikan.

Namun badai itu juga memaksa kami melihat satu kenyataan yang sebelumnya tidak pernah kami pahami.

Keluarga bukanlah orang-orang yang tidak pernah saling melukai.

Keluarga adalah mereka yang, setelah semuanya runtuh, memilih tetap tinggal dan membangun kembali dari puing yang tersisa.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak perceraian kami, aku menyadari bahwa rumah kami sebenarnya sudah kembali jauh sebelum dinding terakhir selesai dibangun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang