Saat Pesawat Akan Jatuh, Istri Hamil Memberikan Alat Keselamatan Terakhir pada Suami dan Mantannya—Lalu Menemukan Sistem Darurat Masih Aktif

Tanganku berhenti tepat di atas tuas merah itu.

Di balik penutup panel, terselip sebuah kartu memori kecil berwarna hitam. Benda itu hampir tak terlihat karena terjepit di antara buku pemeriksaan teknis dan kotak sekring.

Aku mengambilnya.

Pada permukaannya tertulis dengan spidol tipis.

FLIGHT DATA BACKUP.

Jantungku berdegup semakin cepat.

Pesawat kembali terguncang hebat. Tubuhku terbanting ke dinding kokpit, tetapi aku memaksa diri tetap berdiri.

Di panel utama, angka ketinggian terus turun.

Aku bukan pilot. Aku tidak tahu cara menerbangkan pesawat.

Namun selama enam tahun menikah dengan Raka, aku cukup sering mendengar ceritanya tentang pesawat survei milik perusahaan tempatnya bekerja.

Salah satunya tentang Backup Recovery System.

Sistem itu dirancang untuk kondisi ketika pilot kehilangan kendali total. Sebuah parasut balistik berukuran besar akan ditembakkan dari badan pesawat untuk memperlambat kejatuhan seluruh pesawat.

Raka pernah menjelaskan semuanya sambil tertawa.

“Kalau sistem utama mati, ini pilihan terakhir. Tinggal tarik tuas. Tapi jangan pernah disentuh kalau belum benar-benar darurat.”

Lalu, beberapa bulan sebelum kecelakaan dalam kehidupan pertamaku, dia mengatakan sistem itu sudah dinonaktifkan karena menunggu suku cadang.

Aku mempercayainya.

Sekarang lampu hijau menyala.

STATUS: NORMAL.

Berarti Raka berbohong.

Aku menggenggam tuas merah itu.

Sebelum menariknya, pandanganku jatuh pada layar kecil di bawah panel.

Ada tulisan.

CABIN CLEAR REQUIRED.

ARM SYSTEM?

YES.

Aku menekan tombol.

Suara mekanis terdengar dari bagian belakang pesawat.

Tiga detik kemudian, ledakan keras mengguncang seluruh badan pesawat.

Aku menjerit sambil melindungi perut.

Pesawat seperti ditarik sesuatu dari atas.

Tubuhku terhempas ke lantai.

Kecepatan turun yang sebelumnya begitu mengerikan perlahan berkurang.

Dari jendela kokpit, aku melihat bayangan kain putih raksasa mengembang di atas pesawat.

Parasut.

Aku tertawa dan menangis bersamaan.

“Anakku…”

Kedua tanganku memeluk perut.

“Kali ini Mama tidak akan membiarkan siapa pun mengambil hidupmu.”

Pesawat tetap jatuh, tetapi jauh lebih lambat.

Beberapa menit kemudian badan pesawat menghantam permukaan laut.

Benturannya keras.

Kepalaku membentur kursi.

Dunia menjadi gelap.

Ketika membuka mata, suara pertama yang kudengar adalah seseorang memanggil namaku.

“Bu Laras!”

Aku membuka mata perlahan.

Cahaya putih menyilaukan.

Seorang petugas medis membungkuk di sampingku.

“Bu Laras, bisa dengar saya?”

Tanganku langsung meraba perut.

“Bayi saya…”

“Detak jantungnya ada. Kondisi sementara stabil.”

Air mataku langsung mengalir.

Aku berada di dalam helikopter SAR.

Melalui jendela, kulihat laut luas membentang di bawah.

“Pesawatnya?”

“Ditemukan mengapung sebagian. Sistem parasut balistik menyelamatkan struktur kabin.”

Aku memejamkan mata.

Jadi benar.

Sistem itu berfungsi sempurna.

“Yang lain?”

Petugas itu diam sesaat.

“Tim lain sedang mencari orang-orang yang melakukan evakuasi udara.”

Aku langsung memahami maksudnya.

Raka.

Maya.

Siska.

Mereka melompat menggunakan perangkat evakuasi individual.

Aneh sekali.

Dalam kehidupan sebelumnya, aku menganggap merekalah orang-orang yang memiliki kesempatan hidup terbesar.

Sekarang justru aku yang berada di helikopter penyelamat.

Sesampainya di rumah sakit Balikpapan, polisi penerbangan dan penyelidik keselamatan langsung datang menemuiku.

Seorang penyidik bernama Arif meletakkan kantong bukti di atas meja.

Di dalamnya terdapat kartu memori yang kutemukan.

“Ini ditemukan di pakaian Ibu?”

Aku mengangguk.

“Di panel Backup Recovery System.”

Arif mengernyit.

“Seharusnya kartu itu berada di modul data kokpit.”

“Ada sesuatu di dalamnya?”

“Kami belum memeriksa seluruh data.”

Aku menatapnya.

“Tolong periksa komunikasi kokpit sebelum kerusakan terjadi.”

Tatapan Arif berubah.

“Kenapa?”

Aku terdiam beberapa detik.

Karena aku tahu sesuatu yang seharusnya tidak kuketahui.

Dalam kehidupan sebelumnya, penyebab kecelakaan dinyatakan sebagai kegagalan mekanis akibat kerusakan sistem kendali.

Tidak pernah ada penyelidikan kriminal.

Tidak pernah ada pertanyaan mengapa sistem cadangan tidak digunakan.

Aku menarik napas.

“Karena kapten mengetahui sistem pemulihan masih berfungsi, tetapi mengatakan kepada semua orang bahwa sistem itu rusak.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arif menegakkan tubuh.

“Kapten itu suami Ibu?”

“Ya.”

“Apakah Ibu menuduh suami Ibu sengaja membahayakan pesawat?”

Aku menggeleng.

“Saya tidak menuduh siapa pun.”

Aku menunjuk kartu memori.

“Saya hanya meminta Bapak mendengarkan apa yang direkam.”

Malam itu tim SAR menemukan Raka.

Dia mengalami patah tulang kaki dan hipotermia, tetapi selamat.

Maya juga ditemukan hidup.

Ketika mendengar kabar itu, aku tidak merasakan marah.

Tidak juga lega.

Yang kurasakan hanya dingin.

Dua hari kemudian, Raka datang ke kamarku menggunakan kursi roda.

Wajahnya pucat.

Begitu melihatku, matanya langsung merah.

“Laras…”

Aku sedang duduk di dekat jendela.

“Kenapa kamu menarik sistem pemulihan?”

Pertanyaan pertamanya membuatku tersenyum.

Bukan bagaimana keadaanku.

Bukan bagaimana keadaan anak kami.

Melainkan kenapa aku menarik sistem itu.

“Karena masih berfungsi.”

Raka membeku.

“Aku kira rusak.”

“Kau pilotnya.”

Aku menatapnya lurus.

“Kau tidak mungkin tidak tahu.”

Raka mengepalkan tangan.

“Itu rumit.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Dia terdiam.

Aku menunggu.

Akhirnya dia berkata, “Sistem itu memang aktif, tapi belum tentu aman. Kalau parasut gagal terbuka, pesawat bisa kehilangan keseimbangan sepenuhnya.”

“Tapi tidak gagal.”

“Itu keberuntungan.”

Aku hampir tertawa.

“Dan menyuruh semua orang melompat dari pesawat yang masih bisa diselamatkan menurutmu bukan perjudian?”

Raka tidak menjawab.

Aku kemudian mengucapkan satu kalimat.

“Aku menemukan kartu memori.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

“Memori apa?”

“Kau tahu memori apa.”

Raka berdiri refleks dari kursi roda, lalu meringis kesakitan.

“Di mana kartu itu?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kenapa panik?”

“Aku tidak panik!”

Pintu kamar terbuka.

Arif masuk bersama dua petugas.

“Kapten Raka Pratama.”

Raka menoleh.

“Kami perlu meminta keterangan tambahan.”

“Aku sudah memberikan keterangan.”

“Kali ini tentang percakapan kokpit sebelum gangguan kendali terjadi.”

Wajah Raka berubah.

Arif mengeluarkan sebuah tablet.

Kemudian rekaman diputar.

Suara Raka terdengar.

“Pastikan namanya tidak masuk manifest.”

Lalu suara perempuan.

Maya.

“Aku cuma ingin ikut sampai Makassar. Setelah itu aku akan pergi.”

“Tenang. Siska sudah mengurus akses kru.”

Kemudian suara Maya kembali terdengar.

“Kalau Laras tahu?”

Raka tertawa pelan.

“Dia ada rapat di Jakarta. Tidak mungkin muncul.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi keberadaanku di penerbangan itu benar-benar tidak pernah mereka perkirakan.

Rekaman berlanjut.

Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar alarm.

Suara teknisi darat masuk melalui radio.

“PK-SVA, indikator kendali menunjukkan anomali. Backup Recovery System tersedia. Konfirmasi.”

Lalu suara Raka.

“Tidak diperlukan.”

Beberapa menit setelah itu, Maya terdengar panik.

“Raka, kenapa tidak pakai parasut pesawat?”

Jawaban Raka membuat seluruh tubuhku dingin.

“Kalau sistem itu dipakai, pesawat akan ditemukan utuh.”

Maya terdiam.

“Apa maksudmu?”

Kemudian suara Raka terdengar jauh lebih rendah.

“Perusahaan sedang audit. Pesawat ini membawa salinan dokumen survei tambang yang tidak boleh sampai ke Makassar.”

Aku menatap Arif.

Dia menghentikan rekaman.

Raka langsung berkata, “Itu tidak seperti yang kalian pikirkan.”

Arif menatapnya datar.

“Lalu seperti apa?”

Raka mulai berkeringat.

Ternyata kecelakaan itu bukan rencana pembunuhan terhadapku.

Sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.

Perusahaan penerbangan tempat Raka bekerja merupakan anak usaha dari grup pertambangan yang sedang diaudit karena dugaan manipulasi izin eksplorasi.

Pesawat hari itu membawa hard drive berisi pemetaan wilayah konsesi asli.

Data tersebut akan diserahkan kepada pemegang saham di Makassar.

Termasuk kepadaku.

Ayahku adalah salah satu investor awal perusahaan itu. Setelah beliau meninggal, sahamnya diwariskan kepadaku.

Aku tidak pernah ikut campur dalam operasional.

Sampai rapat pemegang saham hari itu.

Raka tahu data tersebut bisa menghancurkan beberapa petinggi perusahaan.

Rencananya sederhana.

Saat gangguan kendali muncul, semua orang akan dievakuasi.

Pesawat dibiarkan jatuh ke laut.

Data dianggap hilang bersama bangkai pesawat.

“Kerusakan kendali itu disengaja?” tanyaku.

Arif menjawab, “Masih diselidiki. Tapi kami menemukan modul kendali telah dimodifikasi sebelum penerbangan.”

Aku menatap Raka.

“Jadi kau tahu pesawat akan bermasalah?”

“Aku tidak tahu kapan!”

Suara Raka meninggi.

“Aku hanya diminta memastikan pesawat tidak sampai Makassar!”

Aku tertawa pahit.

“Dan Maya?”

Raka terdiam.

Maya ternyata bukan sekadar mantan kekasih yang diam-diam ingin ditemuinya.

Dia bekerja sebagai penghubung salah satu direktur perusahaan.

Tugasnya memastikan hard drive asli tidak sampai ke rapat.

Namun ada satu hal yang bahkan Maya tidak tahu.

Raka telah membuat kesepakatan sendiri.

Dia akan membiarkan pesawat tenggelam, kemudian menerima pembayaran besar dan pindah ke luar negeri.

Dalam kehidupan pertamaku, semuanya berjalan hampir sempurna.

Pesawat tenggelam.

Maya meninggal.

Data hilang.

Raka selamat.

Dan aku, satu-satunya orang yang bisa mempertanyakan kejadian itu, terlalu sibuk berduka dan mempercayai suamiku.

Sampai akhirnya dia menyalahkanku atas kematian Maya.

Tiga minggu kemudian, Raka ditahan.

Beberapa eksekutif perusahaan ikut diperiksa.

Siska kehilangan izin terbang setelah terbukti membantu memasukkan Maya tanpa manifest resmi.

Maya memilih bekerja sama dengan penyidik.

Sebagai imbalannya, dia menyerahkan percakapan, transaksi, dan pesan yang menghubungkan Raka dengan para petinggi perusahaan.

Aku tidak pernah menemuinya.

Sampai suatu sore, sebelum dipindahkan ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan, Maya datang ke rumah sakit.

Dia berdiri di ambang pintu.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa minggu sebelumnya.

“Kak Laras.”

Aku tidak menjawab.

Maya menunduk.

“Saya minta maaf.”

“Untuk apa?”

Dia tampak terkejut.

Aku menatapnya.

“Untuk naik diam-diam? Untuk berselingkuh dengan suamiku? Atau karena membantunya menghancurkan bukti?”

Air matanya jatuh.

“Semuanya.”

Aku mengusap perutku.

“Kalau begitu hiduplah cukup lama untuk menanggung akibatnya.”

Maya menangis tanpa suara.

Sebelum pergi, dia mengatakan sesuatu.

“Raka tidak pernah berencana menyelamatkan saya.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Perangkat yang dia berikan kepada saya rusak.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

Maya melanjutkan.

“Tim SAR bilang pengunci utamanya sengaja dilonggarkan. Saya selamat karena jatuh dekat rakit darurat kru lain.”

Aku teringat bagaimana Raka memasangkan perangkat itu kepadanya.

Memeriksa setiap pengait.

Mengencangkan sabuk.

Begitu teliti.

Ternyata bukan untuk memastikan Maya selamat.

Melainkan memastikan kematiannya terlihat seperti kecelakaan.

Saat itulah aku memahami semuanya.

Raka tidak pernah memilih Maya.

Tidak pernah memilihku.

Dia hanya memilih dirinya sendiri.

Empat bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Tangis pertamanya memenuhi ruang bersalin.

Aku menangis begitu keras sampai perawat mengira aku kesakitan.

Padahal aku sedang memeluk kehidupan yang pernah hilang dariku.

Aku memberinya nama Kirana.

Cahaya.

Setahun kemudian, kasus perusahaan itu masuk pengadilan.

Raka dijatuhi hukuman atas keterlibatannya dalam sabotase, pemalsuan prosedur keselamatan, dan upaya menghilangkan bukti.

Aku menjual sebagian besar saham warisan ayahku dan menggunakan sebagian hasilnya untuk membentuk yayasan keselamatan penerbangan bagi keluarga korban kecelakaan transportasi.

Aku tidak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang kehidupan pertamaku.

Tidak ada yang akan percaya.

Namun setiap ulang tahun Kirana, aku selalu teringat kabin yang berguncang, lampu hijau kecil, dan tuas merah yang mengubah semuanya.

Pada ulang tahunnya yang kelima, Kirana bertanya kepadaku saat kami melihat pesawat melintas di langit.

“Mama takut naik pesawat?”

Aku tersenyum.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Aku memeluknya.

“Sekarang Mama tahu rasa takut bukan selalu tanda kita harus menyerah.”

Dia menatapku dengan mata polos.

“Terus harus apa?”

Aku memandang pesawat yang perlahan menghilang di balik awan.

Dalam kehidupan pertamaku, aku menyerahkan keselamatanku kepada seseorang yang kukira mencintaiku.

Dalam kehidupan kedua, aku akhirnya memahami bahwa cinta tidak pernah meminta seseorang mengorbankan dirinya agar orang lain bisa terus berbohong.

Aku mencium kening putriku.

“Kalau semua orang bilang tidak ada jalan keluar, cari sekali lagi.”

Kirana mengangguk meski mungkin belum benar-benar mengerti.

Aku tersenyum.

Karena lima tahun lalu, ketika semua orang meninggalkanku di dalam pesawat yang dianggap akan jatuh, aku melakukan hal yang sama.

Aku mencari sekali lagi.

Dan ternyata keselamatanku tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya disembunyikan oleh orang yang paling kupercaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang