Aku menatap Aiptu Rini begitu lama sampai wajahnya tampak kabur.
“Anak?”
Suara itu keluar dari mulutku, tetapi rasanya seperti milik orang lain.
Aiptu Rini menarik kursi lebih dekat ke ranjang.

“Kami masih memverifikasi datanya, Bu Nadia. Saya tidak ingin Ibu menarik kesimpulan sebelum semuanya jelas.”
“Tapi anak itu memakai nama belakang Arga?”
Dia mengangguk pelan.
Tanganku otomatis menutupi perut.
Beberapa menit sebelumnya, ketakutan terbesarku adalah kehilangan bayi yang sedang kukandung. Sekarang, di tengah bunyi monitor rumah sakit dan bau antiseptik, aku mulai menyadari bahwa mungkin aku bahkan tidak mengenal lelaki yang selama empat tahun tidur di sampingku.
“Siapa perempuan itu?”
“Namanya Melati Prameswari,” jawab Aiptu Rini.
Nama itu tidak kukenal.
Namun Pak Bayu tiba-tiba mengerutkan kening.
“Prameswari?”
Aiptu Rini menoleh.
“Kenapa?”
Pak Bayu menatapku.
“Nama lengkap Ibu siapa?”
“Nadia Prameswari.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku merasa tengkukku dingin.
“Kenapa?”
Pak Bayu tidak langsung menjawab.
Aiptu Rini membuka tablet yang dibawanya dan membaca sesuatu.
“Melati Prameswari. Tiga puluh dua tahun. Alamat Depok.”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak. Saya tidak punya saudara bernama Melati.”
“Nama ayah Ibu?”
“Bambang Prameswara. Sudah meninggal enam tahun lalu.”
Jari Aiptu Rini berhenti di layar.
Ekspresinya berubah.
Perubahan kecil, tetapi aku melihatnya.
“Ada apa?”
“Bu Nadia, siapa yang mengurus peninggalan ayah Ibu setelah beliau meninggal?”
Pertanyaan itu terasa aneh.
“Apa hubungannya?”
“Jawab saja dulu.”
Aku mencoba mengingat.
Ayah meninggal karena serangan jantung ketika aku baru berusia dua puluh enam tahun. Saat itu aku belum menikah dengan Arga. Ayah memiliki rumah kecil di Bandung, beberapa deposito, dan sebidang tanah peninggalan kakek di Bekasi.
Setidaknya itulah yang kuketahui.
“Paman saya, Pak Darto, membantu mengurus dokumen. Tapi sebagian besar warisan katanya habis untuk utang usaha Ayah.”
“Katanya?”
Aku terdiam.
Aku tidak pernah memeriksa.
Setelah Ayah meninggal, aku terlalu terpukul. Ibu sudah meninggal lebih dulu. Pak Darto adalah satu-satunya saudara ayah yang masih dekat denganku.
Dan dua tahun kemudian, Pak Darto yang memperkenalkanku kepada Arga.
Jantungku seperti berhenti satu ketukan.
“Pak Darto yang mengenalkan saya dengan Arga.”
Aiptu Rini dan Pak Bayu saling pandang.
Aku langsung duduk lebih tegak meskipun perutku terasa nyeri.
“Kenapa kalian saling melihat begitu?”
Aiptu Rini menghela napas.
“Karena alamat perempuan bernama Melati itu tercatat pernah menjadi alamat korespondensi sebuah perusahaan bernama PT Prameswari Sentosa.”
Aku membeku.
Prameswari.
Nama keluargaku.
“Saya tidak pernah dengar perusahaan itu.”
“Perusahaan tersebut didirikan sembilan tahun lalu,” katanya. “Salah satu pemegang saham awalnya bernama Bambang Prameswara.”
Ayahku.
Aku tidak bisa bernapas.
“Itu tidak mungkin.”
Aiptu Rini memutar tablet ke arahku.
Di layar ada hasil pencarian data perusahaan.
Nama ayahku ada di sana.
Aku membaca berkali-kali.
Tetap sama.
“Ayah saya punya perusahaan?”
“Sepertinya begitu.”
“Kenapa saya tidak pernah tahu?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Malam itu aku tidak pulang.
Dokter memutuskan menahanku untuk observasi sampai pagi.
Arga berkali-kali menelepon, tetapi nomornya sudah kublokir. Setelah itu muncul pesan dari nomor tidak dikenal.
Nadia, jangan percaya polisi.
Lalu pesan kedua.
Mereka sedang memanfaatkan keadaanmu.
Pesan ketiga membuat tanganku gemetar.
Kalau kamu membuka urusan keluarga ayahmu, kamu akan menyesal.
Aku langsung menunjukkan pesan itu kepada Aiptu Rini.
Dia memotretnya.
“Jangan dibalas.”
Untuk pertama kalinya, ancaman Arga tidak membuatku ingin menurut.
Justru membuatku ingin tahu.
Pagi berikutnya, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi bayiku stabil. Aku diperbolehkan pulang dengan syarat beristirahat total dan segera kembali jika mengalami perdarahan, kontraksi kuat, atau gerakan janin berkurang.
Aku tidak pulang ke rumah.
Sepupuku, Sinta, datang dari Bandung dan membawaku ke apartemennya di Jakarta Timur.
Selama perjalanan, aku menceritakan semuanya.
Sinta tidak banyak bicara.
Sampai aku menyebut nama Melati.
Mobilnya mendadak melambat.
“Kamu bilang siapa?”
“Melati Prameswari.”
Wajah Sinta pucat.
“Kamu kenal?”
Dia menggigit bibir.
“Nad, aku pernah dengar nama itu.”
“Dari siapa?”
“Om Darto.”
Dadaku langsung sesak.
Sinta kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.
Tujuh tahun lalu, saat keluarga sedang berkumpul di Bandung, dia tidak sengaja mendengar Pak Darto bertengkar lewat telepon.
Pak Darto mengatakan, “Melati tidak boleh muncul sebelum semuanya selesai. Kalau Nadia tahu, kita semua habis.”
Saat itu Sinta mengira itu urusan bisnis.
Aku langsung menelepon Pak Darto.
Tidak aktif.
Kami pergi ke rumahnya sore itu.
Rumah kosong.
Tetangga mengatakan Pak Darto berangkat pagi-pagi membawa dua koper besar.
Saat itulah aku tahu ini bukan lagi soal perselingkuhan.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Dua hari kemudian, polisi menggeledah rumahku dan Arga setelah memperoleh izin berdasarkan perkembangan penyelidikan kasus kehilangan stok elektronik yang sebelumnya dikaitkan dengannya.
Aku tidak ikut.
Aiptu Rini menelepon sore hari.
“Kami menemukan beberapa dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Fotokopi akta perusahaan, surat kuasa, dan beberapa rekening.”
Aku menelan ludah.
“Atas nama siapa?”
Dia terdiam.
“Atas nama Ibu.”
Dunia kembali seperti miring.
“Saya tidak pernah menandatangani apa pun.”
“Itu sebabnya kami perlu memeriksa tanda tangannya.”
Aku meminta Sinta mengantarkanku ke kantor polisi.
Di sana, aku melihat map cokelat tebal.
Namaku tercetak pada puluhan halaman.
Nadia Prameswari.
Direktur.
Pemegang saham.
Penjamin transaksi.
Ada tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Tetapi bukan milikku.
Aku tahu karena ada satu kebiasaan kecil yang selalu kulakukan sejak SMA. Huruf N dalam tanda tanganku selalu memiliki garis kedua yang lebih panjang.
Di dokumen itu tidak.
“Dipalsukan.”
Suara seseorang terdengar dari pintu.
Aku menoleh.
Seorang perempuan berdiri di sana.
Usianya awal tiga puluhan. Rambut sebahu. Wajahnya pucat seperti sudah beberapa malam tidak tidur.
Di sampingnya ada seorang anak laki-laki sekitar enam tahun yang menggenggam tangan seorang polisi wanita.
Aku langsung tahu.
Melati.
Dia melihatku.
Matanya kemudian turun ke perutku.
Air matanya menggenang.
“Nadia?”
Aku berdiri perlahan.
“Kamu siapa?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Sebaliknya, dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto Ayah.
Jauh lebih muda.
Berdiri di samping seorang perempuan yang tidak kukenal.
Di depan mereka ada dua anak perempuan.
Salah satunya aku.
Usiaku mungkin empat tahun.
Yang satunya bayi.
Tanganku gemetar.
“Siapa bayi itu?”
Melati menangis.
“Aku.”
Aku merasa kursi di belakangku satu-satunya benda yang membuatku tetap berdiri.
“Apa maksudmu?”
“Aku adikmu.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Ayah kita sama.”
“Tidak.”
“Aku tidak datang untuk mengambil apa pun darimu.”
“Lalu kenapa kamu memakai nama keluargaku?”
“Karena itu juga nama keluargaku.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Melati kemudian menceritakan semuanya.
Ayah ternyata memiliki hubungan sebelum menikah dengan ibuku. Melati lahir dari hubungan itu. Setelah menikah, Ayah tetap menanggung biaya hidup Melati secara diam-diam karena takut menghancurkan rumah tangganya.
Beberapa tahun sebelum meninggal, Ayah mendirikan PT Prameswari Sentosa sebagai perusahaan investasi kecil untuk mengelola sejumlah aset keluarga.
Dalam dokumen pribadinya, kepemilikan perusahaan itu nantinya akan dibagi antara aku dan Melati.
Nilainya bukan ratusan juta.
Melainkan hampir sebelas miliar rupiah.
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Selama bertahun-tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa Ayah meninggalkan utang.
Ternyata seseorang membuatku percaya demikian.
“Om Darto tahu?” tanyaku.
Melati mengangguk.
“Dia yang mengurus semuanya setelah Ayah meninggal.”
“Dan Arga?”
Wajah Melati berubah.
“Arga bekerja untuk Om Darto.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada dorongan di meja kasir.
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Awalnya Arga diminta mendekatimu supaya bisa mendapatkan akses ke dokumenmu.”
Aku teringat pertemuan pertama kami.
Pak Darto mengatakan Arga adalah anak teman lamanya.
Arga begitu perhatian.
Begitu sabar.
Tiga bulan setelah kami berkenalan, dia tahu hampir semua hal tentangku.
Setahun kemudian kami menikah.
Aku merasa mual.
“Jadi pernikahanku…”
Melati menggeleng cepat.
“Aku tidak tahu apakah semuanya palsu. Tapi awalnya memang direncanakan.”
Aku menutup mulut.
Empat tahun.
Empat tahun hidupku.
Semua pertengkaran soal uang.
Semua rekening yang dikendalikan Arga.
Semua dokumen yang dia minta kutandatangani tanpa sempat kubaca.
Tiba-tiba semuanya memiliki arti.
“Anakmu?”
Aku menatap bocah di sudut ruangan.
Melati mengikuti pandanganku.
“Itu bagian yang mungkin akan membuatmu semakin marah.”
Aku menunggu.
“Dia bukan anak Arga.”
Aku mengerutkan kening.
“Tapi polisi bilang…”
“Nama lengkapnya Raka Arga Prameswari.”
Aku terdiam.
Arga bukan nama belakang.
Itu nama tengah anak itu.
Sebuah kebetulan administratif yang membuat polisi awalnya mencurigai hubungan lain.
“Siapa ayahnya?”
“Suamiku. Dia meninggal tiga tahun lalu.”
Aku menutup mata.
Untuk beberapa detik, ada kelegaan aneh di tengah kehancuran.
Setidaknya satu kebohongan yang kubayangkan ternyata tidak ada.
Tetapi yang sebenarnya jauh lebih buruk.
Polisi akhirnya menemukan aliran dana dari PT Prameswari Sentosa menuju beberapa perusahaan cangkang. Salah satunya berkaitan dengan distribusi barang elektronik yang hilang dari cabang swalayan tempat Pak Bayu pernah bekerja.
Nama Pak Darto muncul berulang kali.
Nama Arga juga.
Tiga minggu kemudian, Pak Darto ditemukan di sebuah hotel di Semarang.
Arga ditangkap dua hari setelahnya.
Bukan di rumah.
Dia ditemukan di sebuah terminal bus dengan uang tunai puluhan juta rupiah dan identitas lain di dalam tasnya.
Aku melihatnya sekali lagi sebelum persidangan awal.
Dia tampak berbeda tanpa kemeja mahal, jam tangan, dan suara keras yang selama ini digunakannya untuk menguasai ruangan.
“Nadia.”
Aku berhenti.
“Aku memang awalnya mendekatimu karena Darto.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu.”
Aku hampir tertawa.
“Begitukah cara kamu mencintai seseorang?”
Dia menunduk.
“Aku kehilangan kendali di toko.”
“Tidak.”
Aku menatap matanya.
“Kamu tidak kehilangan kendali.”
Dia mengangkat kepala.
“Selama ini kamu justru menggunakan kendali. Atas uangku. Pekerjaanku. Teman-temanku. Bahkan keputusan kecil seperti membeli selimut untuk anakku.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Yang terjadi di toko bukan pertama kali kamu kehilangan kendali. Itu pertama kali orang lain melihat siapa kamu ketika sedang mengendalikanku.”
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut.
Aku pergi.
Dua bulan kemudian, putriku lahir.
Sehat.
Beratnya 3,1 kilogram.
Aku menamainya Aira.
Hari pertama kami pulang dari rumah sakit, Melati datang membawa sebuah kotak.
Hubungan kami masih canggung.
Bagaimana tidak?
Aku baru mengetahui keberadaan adikku setelah lebih dari tiga puluh tahun.
Kami belum tahu bagaimana menjadi saudara.
Tapi kami mencoba.
Melati meletakkan kotak itu di pangkuanku.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya ada selimut bayi.
Hijau muda.
Dengan gambar awan putih kecil di sudut.
Aku langsung menangis.
Melati panik.
“Kalau kamu tidak suka, bisa ditukar.”
Aku tertawa di tengah tangis.
“Bukan begitu.”
Aku memeluk selimut itu.
Benda seharga Rp129.000 yang pernah membuatku berpikir hidupku hancur ternyata justru menjadi awal terbongkarnya semuanya.
Kasus warisan masih berjalan.
Sebagian aset berhasil dibekukan.
Sebagian mungkin tidak akan pernah kembali.
Aku tidak tahu berapa banyak uang yang akhirnya akan menjadi milikku.
Anehnya, aku tidak terlalu memikirkannya.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rekening bankku sendiri ada di tanganku.
Teleponku tidak diperiksa siapa pun.
Aku bisa membeli sesuatu tanpa meminta izin.
Aku bisa mengatakan tidak tanpa takut mendengar pintu dibanting.
Malam itu, ketika Aira tertidur di pelukanku dengan selimut hijau menutupi tubuh kecilnya, aku menerima pesan dari Pak Bayu.
Dia hanya bertanya apakah kami sudah pulang dengan selamat.
Aku mengirim foto tangan kecil Aira menggenggam ujung selimut.
Pak Bayu membalas singkat.
Syukurlah.
Aku menatap putriku lama sekali.
Dulu aku mengira keberanian selalu terlihat besar.
Melawan.
Berteriak.
Pergi tanpa menoleh.
Ternyata keberanian kadang dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.
Sebuah selimut hijau seharga Rp129.000.
Satu kata “tidak” di dalam ambulans.
Dan keputusan sederhana untuk akhirnya percaya bahwa rasa takut yang kita rasakan setiap hari bukanlah harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sebuah keluarga.
Aku mengecup kening Aira.
Di kamar sebelah, untuk pertama kalinya, terdengar suara Melati tertawa bersama Sinta.
Aku tersenyum.
Keluargaku ternyata tidak seperti yang selama ini kukenal.
Ada rahasia.
Ada pengkhianatan.
Ada tahun-tahun yang tidak mungkin dikembalikan.
Namun malam itu aku memahami sesuatu.
Keluarga bukanlah orang yang menggunakan kata cinta untuk membuatmu takut kehilangan mereka.
Keluarga adalah orang-orang yang membuatmu tidak perlu merasa takut ketika berada di dekat mereka.
Aku mematikan lampu.
Aira bergerak kecil dalam pelukanku.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ketika rumah menjadi gelap, aku tidak takut mendengar seseorang membuka pintu.
