Hujan di luar jendela semakin deras ketika Maria mengusap pipi Maya dengan tangan gemetar.
“Gadisnya Rendy,” bisiknya sekali lagi.
Aris merasa udara di kamar 312 mendadak menipis.
Delapan tahun.
Selama delapan tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mengenal Rendy lebih baik daripada siapa pun. Mereka tumbuh di rumah yang sama, berbagi kamar sampai SMA, bertengkar soal hal-hal sepele, bahkan pernah diam-diam mengambil uang ayah mereka untuk membeli gitar bekas.
Tapi tidak pernah sekalipun Rendy bercerita tentang seorang perempuan bernama Maya.

“Maksud Ibu apa?” tanya Aris.
Maria tidak menjawab. Tatapan jernihnya perlahan kembali kosong.
Maya berdiri.
“Saya harus kembali bekerja.”
Aris langsung menghalangi pintu.
“Tidak sebelum kamu menjelaskan semuanya.”
“Bukan di sini.”
“Kenapa?”
Maya melirik Maria.
“Karena ada bagian dari cerita ini yang sebaiknya tidak beliau dengar lagi.”
Kalimat itu membuat tengkuk Aris meremang.
Mereka akhirnya turun ke kafetaria kecil di lantai dasar. Hujan membuat ruangan hampir kosong. Maya duduk di sudut paling jauh, masih mengenakan seragam perawatnya.
Aris meletakkan ponselnya di meja.
“Mulai dari awal.”
Maya menatap hujan beberapa detik.
“Saya bertemu Rendy sembilan tahun lalu.”
Saat itu Maya baru berusia tujuh belas tahun dan tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah kontrakan di Wonokromo. Ibunya sudah meninggal. Ayahnya bekerja sebagai sopir ambulans di sebuah klinik swasta.
Suatu malam, ayah Maya mengalami kecelakaan kecil saat bekerja. Rendy kebetulan berada di klinik itu karena mengantar seorang teman.
Dari situlah mereka berkenalan.
Awalnya Rendy hanya sering datang untuk membawakan makanan.
Lalu ia mulai mengajari Maya bermain gitar.
Kemudian hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
“Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?” tanya Aris.
Maya tersenyum getir.
“Karena dia tahu Anda tidak akan menyetujuinya.”
“Aku bahkan tidak mengenalmu.”
“Justru itu.”
Aris mengernyit.
Maya menarik napas.
“Keluarga Anda saat itu sedang membangun perusahaan alat kesehatan. Ayah saya cuma sopir ambulans. Rendy tahu keluarga Anda sudah menyiapkan banyak hal untuk masa depannya.”
Aris terdiam.
Ayah mereka memang keras. Bagi almarhum Surya Perkasa, nama keluarga adalah segalanya.
“Tapi lagu itu?”
“Rendy membuatnya untuk saya.”
Aris merasa dadanya mengencang.
Ingatan lama muncul.
Rendy berusia empat belas tahun ketika pertama kali memainkan melodi itu.
Berarti lagu tersebut sudah ada jauh sebelum Maya mengenalnya.
“Kamu bohong.”
Maya menatapnya.
“Lagu itu dibuat ketika Rendy empat belas tahun.”
“Saya tahu.”
“Lalu bagaimana mungkin dibuat untukmu?”
Maya menggeleng.
“Melodinya dibuat waktu dia empat belas tahun. Tapi lirik yang tadi saya nyanyikan ditulis bertahun-tahun kemudian.”
Aris terdiam.
Ia baru menyadari sesuatu.
Lirik yang dinyanyikan Maya memang berbeda dari yang ia ingat.
Saat remaja, Rendy hanya memainkan melodinya sambil menggumamkan kata-kata acak.
“Rendy bilang, kalau suatu hari kami terpisah, saya harus menyanyikan lagu itu supaya dia tahu saya masih mengingatnya.”
Suara Maya mulai bergetar.
“Tiga hari sebelum meninggal, dia datang menemui saya.”
Aris langsung menegakkan tubuh.
“Kecelakaan Rendy terjadi tanggal 17 November.”
“Saya bertemu dia tanggal 14.”
“Apa yang dia katakan?”
Maya menunduk.
“Dia ketakutan.”
Aris membeku.
Selama ini keluarga mereka menerima satu kesimpulan sederhana.
Rendy meninggal karena kecelakaan mobil tunggal di Jalan Ahmad Yani menjelang tengah malam. Polisi menyatakan jalan licin akibat hujan. Mobil kehilangan kendali dan menabrak pembatas.
Kasus selesai.
Tidak pernah ada penyelidikan lain.
“Takut pada siapa?”
“Dia tidak mau bilang.”
Maya merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna hitam.
“Dia cuma memberikan ini.”
Aris mengambilnya.
“Ini kunci apa?”
“Loker.”
“Di mana?”
“Stasiun Gubeng.”
Aris menatapnya tidak percaya.
“Delapan tahun kamu menyimpannya?”
“Saya pernah mencarinya. Lokernya sudah tidak ada.”
“Lalu kenapa masih disimpan?”
Maya menatap Aris lurus-lurus.
“Karena di gantungan kunci itu ada tulisan.”
Aris membaliknya.
Di bagian belakang terdapat ukiran kecil yang hampir tidak terlihat.
Aris merasakan sesuatu menjalar dingin di punggungnya.
Kamar ibunya.
“Tidak mungkin.”
“Itulah alasan saya melamar bekerja di sini ketika mengetahui Ibu Maria ditempatkan di kamar 312.”
Aris berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Kamu mendekati ibuku karena sebuah angka?”
“Awalnya iya.”
Jawaban jujur itu justru membuat Aris semakin marah.
“Jadi selama ini kamu memanfaatkan perempuan tua yang sakit untuk mencari sesuatu?”
Maya ikut berdiri.
“Saya merawat ibu Anda hampir setahun. Saya menyuapinya ketika beliau menolak makan. Saya mengganti pakaiannya. Saya menemani beliau saat terbangun pukul dua pagi sambil menangis mencari kedua anaknya. Kalau tujuan saya cuma mencari sesuatu, saya sudah pergi sejak lama.”
Aris tidak mampu membalas.
Maya mengambil napas panjang.
“Dan ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”
“Apa?”
“Ibu Maria mengenali saya sebelum demensianya memburuk.”
Aris membeku.
“Kapan?”
“Pertama kali saya bekerja di sini.”
“Lalu?”
“Beliau menangis.”
Maya menelan ludah.
“Dan meminta maaf.”
Malam itu Aris tidak pulang.
Setelah Maria tertidur, ia dan Maya memeriksa kamar 312.
Lemari.
Laci.
Bagian bawah tempat tidur.
Tidak ada apa pun.
Hingga Maya berdiri di dekat jendela.
“Rendy suka menyembunyikan barang di tempat yang tidak pernah diperiksa orang,” katanya.
Aris teringat masa kecil mereka.
“Di belakang sesuatu.”
Mereka saling menatap.
Aris mendekati bingkai foto keluarga yang tergantung di dinding.
Foto itu memperlihatkan Maria bersama Aris dan Rendy bertahun-tahun lalu.
Ia menurunkannya.
Tidak ada apa-apa.
Namun ketika jemarinya menyentuh bagian belakang bingkai, terasa sesuatu yang menonjol.
Sebuah amplop tipis direkatkan dengan selotip.
Tangan Aris gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya terdapat kartu memori.
Dan secarik kertas.
Tulisan tangan Maria.
Untuk Aris. Saat kamu siap memaafkan adikmu, dengarkan ini.
Aris tidak bergerak selama beberapa detik.
Mereka meminjam laptop di ruang administrasi.
Kartu memori itu hanya berisi satu rekaman suara.
Tanggal pembuatannya sehari sebelum Rendy meninggal.
Suara pertama yang terdengar adalah suara Rendy.
“Mas, kalau kamu mendengar ini, berarti aku gagal memberitahumu langsung.”
Aris langsung menutup mulut.
Delapan tahun.
Delapan tahun ia tidak mendengar suara adiknya.
“Aku menemukan sesuatu di perusahaan Ayah.”
Aris menatap layar.
“Beberapa alat kesehatan bekas dari rumah sakit ternyata dibeli murah, diperbaiki seadanya, lalu dokumennya diubah supaya terlihat seperti barang baru. Aku punya salinan datanya.”
Aris merasa darahnya berhenti mengalir.
Perusahaan keluarga mereka.
Perusahaan yang kini dipimpinnya.
Rendy melanjutkan.
“Aku sudah bicara dengan Ayah. Dia marah. Katanya aku tidak mengerti bisnis. Tapi ada pasien yang bisa mati kalau alat itu gagal.”
Kemudian terdengar suara lain.
Suara Maria.
“Rendy, jangan lakukan ini. Kakakmu baru mulai bekerja di perusahaan. Kalau kasus ini terbuka, hidup Aris juga akan hancur.”
Aris memejamkan mata.
Suara Rendy menjawab.
“Justru karena Mas Aris ada di sana, dia harus tahu.”
Rekaman berhenti selama beberapa detik.
Kemudian Rendy berkata pelan.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, Maya punya kunci pertama. Ibu punya kunci kedua.”
Rekaman berakhir.
Aris menatap Maya.
“Kunci kedua?”
Mereka kembali ke kamar Maria.
Maria sedang terjaga.
Seolah menunggu.
Aris duduk di depannya.
“Bu.”
Maria menatapnya.
“Rendy meninggal karena kecelakaan?”
Wajah Maria berubah.
Untuk beberapa detik, penyakit yang selama ini menggerogoti ingatannya seolah menghilang.
“Tidak ada yang membunuh Rendy,” katanya.
Aris menahan napas.
“Tapi Ayahmu mengejarnya malam itu.”
Maria mulai menangis.
“Rendy membawa dokumen. Ayahmu ingin mengambilnya. Mereka bertengkar lewat telepon. Rendy panik dan mengemudi terlalu cepat.”
Aris menunduk.
Jadi bukan pembunuhan.
Tapi juga bukan kecelakaan biasa.
“Kenapa Ibu diam?”
“Karena aku pengecut.”
Air mata mengalir di wajah Maria.
“Ayahmu bilang kalau semuanya terbongkar, ribuan pegawai kehilangan pekerjaan. Kamu bisa masuk penjara karena namamu ada di perusahaan. Aku takut kehilangan dua anak sekaligus.”
Maria menunjuk lemari kecil.
“Bolu.”
Aris kebingungan.
“Apa?”
“Bolu lemon.”
Aris mengambil kotak kue yang dibawanya.
Maria menggeleng.
“Bukan itu.”
Tangannya menunjuk kaleng biskuit tua di rak.
Aris mengambilnya.
Di bawah lapisan kain terdapat sebuah flashdisk.
Kunci kedua.
Dua hari kemudian Aris mengunci dirinya di kantor dan memeriksa seluruh isinya.
Daftar transaksi.
Nomor seri alat.
Nama rumah sakit.
Dokumen pengiriman.
Semua berasal dari masa kepemimpinan ayahnya.
Namun Aris menemukan sesuatu yang tidak pernah diduga Rendy.
Praktik itu belum sepenuhnya berhenti.
Seorang direktur operasional lama masih menjalankan pola serupa melalui perusahaan pemasok berbeda.
Aris punya dua pilihan.
Menguburnya lagi dan mempertahankan kerajaan bisnis keluarganya.
Atau melakukan apa yang tidak sempat dilakukan Rendy.
Tiga minggu kemudian, perusahaan Aris mengumumkan audit independen dan penarikan sejumlah perangkat dari beberapa fasilitas kesehatan. Aris menyerahkan dokumen lama kepada pihak berwenang dan menghentikan kerja sama dengan pemasok yang terlibat.
Nilai perusahaan jatuh.
Beberapa kontrak dibatalkan.
Namanya yang dulu muncul di majalah bisnis kini muncul dalam pemberitaan dengan konteks yang jauh berbeda.
Namun untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Aris bisa tidur tanpa bermimpi tentang malam kematian Rendy.
Pada Kamis berikutnya ia kembali ke panti.
Membawa bolu lemon.
Maya sedang menyisir rambut Maria.
Aris meletakkan kotak kue di meja.
“Aku sudah melakukannya.”
Maya menatapnya.
“Semua?”
Aris mengangguk.
Maria tersenyum tanpa benar-benar memahami percakapan mereka.
Lalu tiba-tiba ia memandang Maya.
“Kamu belum memberitahunya?”
Maya membeku.
Aris mengerutkan kening.
“Memberitahuku apa?”
Maria tertawa kecil.
“Rendy pasti marah kalau kamu terus menyembunyikannya.”
Wajah Maya pucat.
“Maya?”
Perempuan itu perlahan duduk.
Tangannya gemetar ketika membuka dompet.
Ia mengeluarkan sebuah foto.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun sedang memegang gitar kecil.
Aris menatap foto itu lama.
Mata anak tersebut.
Senyumnya.
Bahkan cara kepalanya sedikit miring.
Semuanya terasa sangat familiar.
“Siapa dia?”
Maya menangis.
“Namanya Reno.”
Aris tidak berani menanyakan pertanyaan berikutnya.
Namun Maya menjawabnya.
“Anak Rendy.”
Dunia Aris seolah berhenti.
“Tidak mungkin.”
“Saya hamil ketika Rendy meninggal.”
“Kenapa kamu tidak pernah datang kepada kami?”
“Ayah Anda tahu.”
Aris menatapnya.
Maya mengusap air matanya.
“Beliau datang menemui saya setelah pemakaman. Memberi uang dan meminta saya pergi dari Surabaya. Saya menolaknya, tapi saya tetap pergi karena takut.”
“Lalu kenapa kembali?”
Maya memandang Maria.
“Karena delapan tahun sudah cukup lama untuk hidup dalam ketakutan.”
Aris kembali melihat foto itu.
Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu.
Maya bukan datang ke panti itu untuk mencari uang.
Bukan pula untuk membongkar perusahaan mereka.
Ia datang karena ingin memberikan kesempatan kepada Maria untuk mengenal cucunya sebelum ingatannya benar-benar hilang.
Sore itu Maya membawa Reno ke kamar 312.
Anak itu berdiri malu-malu di pintu sambil memegang gitar kecilnya.
Maria menatapnya lama.
Sangat lama.
Kemudian bibirnya bergetar.
“Rendy?”
Aris menundukkan kepala, tetapi Reno justru tersenyum.
“Bukan, Oma. Aku Reno.”
Maria mengulurkan tangan.
Reno mendekat.
Jari tua Maria menyentuh wajah cucunya.
Entah bagaimana, di tengah ingatan yang telah pecah menjadi ribuan kepingan, Maria tersenyum.
“Mainkan lagunya.”
Reno menoleh kepada ibunya.
Maya mengangguk.
Anak itu duduk dan mulai memetik gitar.
Melodi yang sama memenuhi kamar 312.
Aris berdiri di dekat jendela sambil menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Selama delapan tahun ia mengira Rendy hanya meninggalkan kematian, rasa bersalah, dan rahasia.
Ternyata ia salah.
Adiknya meninggalkan keberanian untuk memperbaiki kesalahan keluarga mereka.
Ia meninggalkan seorang perempuan yang tetap menjaga kenangannya.
Dan yang paling tidak pernah Aris bayangkan, Rendy meninggalkan seorang anak yang kini memainkan lagu lama itu di hadapan mereka.
Maria menatap hujan di luar jendela.
Lalu ia menggenggam tangan Aris dengan tangan kirinya dan tangan Reno dengan tangan kanannya.
“Lengkap,” bisiknya.
Beberapa detik kemudian, kebingungan kembali muncul di wajahnya.
Maria lupa siapa yang duduk di sebelahnya.
Ia lupa nama Reno.
Bahkan mungkin lupa bahwa Rendy telah meninggal.
Namun kali ini Aris tidak merasa hancur.
Ia memotong bolu lemon menjadi empat bagian dan membagikannya kepada Maria, Maya, dan Reno.
Di luar, hujan Surabaya perlahan berhenti.
Dan lagu yang selama delapan tahun dianggap Aris sebagai suara dari masa lalu akhirnya berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Bukan lagu tentang kehilangan.
Melainkan tentang seseorang yang tetap bisa menemukan jalan pulang, bahkan ketika orang-orang yang mencintainya hampir lupa ke mana harus mencari.
