Sehari sebelum pernikahanku, aku menemukan dokumen yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Akta perkawinan tunanganku dengan sahabat perempuannya sendiri.
Nama Carlo Lim dan Trisha Ramos tercetak jelas di sana. Tanggal pencatatannya baru kemarin.
Selama enam tahun aku menunggu lelaki itu menikahiku. Namun, perempuan yang selalu disebutnya hanya sebagai sahabat justru lebih dulu menjadi istrinya.

Ketika aku meminta penjelasan, Carlo hanya berkata, “Mara, jangan berlebihan. Kami cuma bercanda.”
Bercanda.
Rupanya, enam tahun kesetiaanku bisa dihancurkan oleh satu kata sesederhana itu.
Aku meninggalkan apartemen kami di Bintaro dengan sebuah koper. Carlo mengejarku sampai ke taksi, tetapi bukan untuk meminta maaf.
“Besok semua tamu penting akan datang. Jangan mempermalukan keluarga kita.”
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
“Kalau kehormatan keluarga begitu penting, seharusnya kamu memikirkannya sebelum menikahi perempuan lain.”
Aku meminta sopir mengantarku ke Bandara Soekarno-Hatta. Rencanaku sederhana. Terbang ke Bali, tinggal sementara di vila milik sahabat kuliahku, lalu memikirkan bagaimana membangun kembali hidupku.
Namun, sesampainya di terminal keberangkatan, langkahku terhenti.
Ayah, Ibu, kakakku Jomar, dan Bea, anak angkat keluarga kami, sudah menunggu di dekat pintu masuk.
Wajah Ayah merah padam.
“Mara Reyes! Kamu pikir bisa kabur begitu saja?”
Sebelum aku sempat menjawab, Jomar merampas gagang koperku.
“Pulang sekarang. Kita selesaikan semuanya di rumah.”
Aku mempertahankan koper itu.
“Aku tidak akan menikah dengan Carlo.”
Ibu langsung menangis.
“Sayang, pikirkan keluargamu. Semua persiapan sudah selesai. Ratusan undangan sudah disebar.”
“Bu, Carlo sudah menikah dengan Trisha.”
“Kami tahu,” jawab Ayah.
Aku terdiam.
“Kalian tahu?”
Bea maju sambil menggenggam tangan Ibu.
“Kak Mara, Carlo sudah menjelaskan semuanya. Mereka mabuk. Itu kecelakaan.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Jadi, kalian semua sudah tahu, tetapi tetap datang untuk memaksaku menikah?”
Ayah mendekat.
“Dengar baik-baik. Besok kamu tetap hadir. Upacara bisa ditunda secara administratif. Yang penting, acara penyatuan keluarga tetap berjalan.”
Aku tertawa hambar.
“Jadi, aku harus berdiri di pelaminan bersama suami perempuan lain?”
“Jangan menggunakan kata-kata yang memalukan!” bentak Ayah.
Orang-orang mulai menoleh.
Jomar menarik lenganku.
“Kamu tidak mengerti seberapa besar kerugian perusahaan kalau pernikahan ini batal.”
Aku menatap kakakku.
“Berapa besar?”
Dia terdiam.
Aku mengulang pertanyaanku.
“Berapa harga yang harus dibayar sampai kalian rela menjual harga diriku?”
Ayah akhirnya menjawab dengan suara rendah.
“Delapan puluh miliar rupiah.”
Dadaku terasa sesak.
Ternyata itulah jawabannya.
Pernikahanku bukan lagi tentang cinta.
Aku hanyalah bagian dari transaksi bisnis.
Keluarga Reyes memiliki perusahaan distribusi bahan bangunan yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Keluarga Lim berencana menyuntikkan modal melalui kesepakatan penggabungan usaha. Pernikahan kami dijadikan simbol komitmen kedua keluarga.
Aku mengetahui rencana kerja sama itu, tetapi tidak pernah diberi tahu bahwa kondisi perusahaan Ayah sudah sedemikian buruk.
“Kalau kamu pergi,” lanjut Ayah, “bank bisa menarik fasilitas kredit kami. Ratusan karyawan akan kehilangan pekerjaan.”
Aku menatap wajahnya yang mulai menua.
Selama bertahun-tahun, aku bekerja tanpa jabatan resmi untuk membantu perusahaan keluarga. Aku menyusun proposal investasi, mempertemukan calon mitra, bahkan menggunakan tabunganku sendiri ketika arus kas perusahaan terganggu.
Namun, saat semuanya mulai membaik, Ayah justru mengatakan bahwa aku tidak perlu bekerja lagi.
Menurutnya, tugas utamaku adalah menjadi istri Carlo.
Kini aku memahami alasannya.
Mereka tidak ingin aku mengetahui seberapa besar ketergantungan perusahaan terhadap keluarga Lim.
“Aku bersedia membantu perusahaan,” kataku perlahan. “Tapi aku tidak akan menikah dengan Carlo.”
Ayah menggeleng.
“Tidak ada pilihan lain.”
“Ada.”
Aku menarik koperku dari tangan Jomar.
“Kalian hanya tidak mau mencarinya.”
Bea tiba-tiba menangis.
“Kak, kenapa kamu selalu egois? Semua orang berkorban demi keluarga ini.”
Aku memandangnya.
“Kalau begitu, kenapa bukan kamu yang menikah dengan Carlo?”
Tangisnya langsung berhenti.
Jomar membentakku, tetapi aku sudah berjalan menuju pintu pemeriksaan.
Aku tidak menoleh lagi.
Pesawatku berangkat malam itu.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, aku tertidur tanpa menunggu pesan dari Carlo.
Keesokan paginya, ketika aku menyalakan ponsel di Bali, ratusan pesan masuk bersamaan.
Foto-foto pernikahan memenuhi media sosial.
Aula hotel mewah di Jakarta tetap dihiasi bunga putih. Para tamu tetap datang. Bahkan, panggung dengan inisial nama kami masih berdiri.
Namun, perempuan yang mengenakan gaun pengantin bukan aku.
Melainkan Trisha.
Dalam salah satu video, dia berdiri di samping Carlo sambil tersenyum lebar.
Caption unggahannya membuatku hampir tertawa.
Cinta sejati selalu menemukan jalannya.
Rupanya, mereka memutuskan menjadikan acara yang sudah dipersiapkan untukku sebagai resepsi pernikahan mereka sendiri.
Beberapa jam kemudian, Carlo menelepon menggunakan nomor baru.
Aku mengangkatnya.
“Mara, kamu puas sekarang?”
Aku memandang laut dari balkon vila.
“Puas tentang apa?”
“Trisha dipermalukan di depan semua orang karena kamu. Dia menangis sepanjang pagi.”
“Kalau begitu, seharusnya kamu menghibur istrimu.”
Carlo terdiam.
“Kami mengadakan resepsi itu hanya untuk menyelamatkan nama keluarga. Kamu tahu aku sebenarnya mencintaimu.”
Aku memejamkan mata.
Dulu, kalimat itu cukup untuk membuatku memaafkan apa pun.
Sekarang, aku hanya merasa lelah.
“Carlo, jangan menghubungiku lagi.”
“Tunggu. Kamu belum tahu semuanya.”
“Apa lagi?”
Dia menarik napas.
“Perusahaan ayahmu sedang diperiksa bank. Kalau kerja sama kami batal, keluargamu bisa kehilangan segalanya.”
“Kalau begitu, bicaralah dengan ayahku.”
“Mara, kamu harus kembali. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.”
Aku memutuskan panggilan.
Namun, kalimat terakhir Carlo terus terngiang.
Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.
Mengapa?
Jawabannya datang dua hari kemudian.
Seorang pengacara bernama Adrian Prasetyo menghubungiku. Dia adalah mantan penasihat hukum perusahaan keluarga kami.
“Nona Mara, saya perlu bertemu. Ada dokumen yang seharusnya Anda lihat sejak lama.”
Kami bertemu di sebuah kafe di Denpasar.
Adrian meletakkan sebuah map di hadapanku.
“Apakah Anda masih ingat perusahaan Arunika Capital?”
Aku mengangguk.
Itu perusahaan investasi kecil yang kudirikan bersama mendiang kakekku ketika masih kuliah. Setelah beliau meninggal, aku menyerahkan pengelolaan operasionalnya kepada tim profesional karena harus membantu bisnis keluarga.
“Arunika Capital sekarang menjadi salah satu kreditur terbesar Reyes Group,” jelas Adrian.
Aku mengerutkan kening.
“Bagaimana mungkin?”
Dia menunjukkan dokumen pengalihan piutang.
Tiga tahun sebelumnya, ketika perusahaan Ayah hampir gagal membayar pinjaman, Arunika Capital membeli sebagian besar tagihan utang dari beberapa lembaga pembiayaan.
Aku memang pernah menyetujui strategi investasi pada sektor distribusi, tetapi laporan yang kuterima menggunakan nama perusahaan peminjam melalui kode portofolio.
Aku tidak pernah mengetahui bahwa perusahaan itu milik ayahku sendiri.
“Siapa yang menyembunyikan identitas peminjam?”
“Direktur investasi lama Anda. Kami menemukan korespondensi yang menunjukkan bahwa ia bekerja sama dengan Jomar.”
Tanganku mengepal.
“Berapa nilai piutangnya?”
“Empat puluh dua miliar rupiah, belum termasuk bunga.”
Aku menatap angka itu lama sekali.
Adrian melanjutkan.
“Dan ada masalah yang lebih serius. Keluarga Lim ingin mengambil alih hak penagihan tersebut melalui perusahaan perantara.”
“Bagaimana caranya?”
“Mereka berencana meminta Anda menandatangani sejumlah dokumen setelah menikah. Dokumen itu akan memberi Carlo kewenangan mengelola saham dan aset investasi tertentu milik Anda.”
Aku teringat sesuatu.
Seminggu sebelum pernikahan, Carlo pernah menyodorkan beberapa lembar dokumen.
Dia menyebutnya pengaturan aset keluarga.
Aku menolak menandatanganinya sebelum pengacaraku memeriksa isinya.
Carlo marah selama dua hari.
Saat itu aku mengira dia hanya tersinggung karena merasa tidak dipercaya.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
“Jadi, pernikahan ini bukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan Ayah?”
Adrian mengangguk.
“Keluarga Lim juga ingin mendapatkan kendali atas aset Anda.”
Aku merasa seolah baru saja terbangun dari mimpi panjang.
“Apakah Ayah tahu?”
“Kami belum memiliki bukti bahwa beliau mengetahui seluruh rencananya. Tetapi Jomar jelas terlibat.”
Aku meminta Adrian menyiapkan audit menyeluruh.
Selama seminggu berikutnya, aku bekerja dari Bali bersama tim hukum dan keuangan.
Hasilnya lebih buruk daripada dugaanku.
Jomar ternyata telah menyetujui sejumlah transaksi dengan perusahaan milik kerabat Carlo. Beberapa pembayaran dilakukan untuk jasa konsultasi yang tidak memiliki bukti pekerjaan.
Sementara itu, Bea tercatat menerima transfer dalam jumlah besar dari salah satu perusahaan perantara tersebut.
Aku tidak langsung menuduh siapa pun.
Aku meminta seluruh bukti diverifikasi.
Lalu aku kembali ke Jakarta.
Bukan untuk merebut Carlo.
Bukan untuk membalas Trisha.
Aku kembali untuk mengambil alih hidupku.
Pertemuan keluarga berlangsung di ruang rapat Reyes Group.
Ayah, Ibu, Jomar, Bea, Carlo, Trisha, dan beberapa penasihat perusahaan sudah duduk ketika aku masuk bersama Adrian.
Carlo langsung berdiri.
“Mara, akhirnya kamu sadar.”
Aku tidak menjawab.
Aku duduk di ujung meja.
Adrian membagikan dokumen kepada semua orang.
“Apa ini?” tanya Ayah.
“Laporan audit awal dan pemberitahuan resmi dari Arunika Capital,” jawabku.
Jomar mendadak pucat.
Carlo membaca halaman pertama, lalu menatapku tajam.
“Kamu tidak punya hak ikut campur dalam urusan ini.”
Aku tersenyum.
“Carlo, kamu rupanya belum membaca halaman kedua.”
Dia membalik kertas.
Wajahnya berubah.
“Arunika Capital adalah milikku,” kataku. “Dan perusahaan itu memegang sebagian besar piutang yang sedang kalian coba ambil alih.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ayah menatapku dengan mata membesar.
“Sejak kapan?”
“Sejak Kakek membantuku mendirikannya.”
Carlo menggeleng.
“Tidak mungkin. Kamu selama ini bahkan tidak bekerja.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak bekerja di perusahaanmu. Itu dua hal berbeda.”
Trisha mendengus.
“Jadi sekarang kamu mau menggunakan uang untuk menghancurkan suamiku?”
Aku menoleh kepadanya.
“Tidak, Trisha. Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi orang yang menggunakan namaku tanpa izin.”
Adrian kemudian menjelaskan temuan audit.
Transfer mencurigakan.
Kontrak konsultasi fiktif yang diduga digunakan untuk mengalihkan dana.
Rencana pemberian kuasa atas asetku.
Dan korespondensi antara Jomar dengan perwakilan keluarga Lim.
Jomar membanting meja.
“Semua itu dilakukan demi menyelamatkan perusahaan!”
“Kalau begitu, kenapa kamu menyembunyikannya dari Ayah?” tanyaku.
Ayah perlahan menoleh kepada putranya.
“Jomar?”
Kakakku tidak menjawab.
Bea tiba-tiba berdiri.
“Aku tidak tahu apa-apa! Aku cuma diminta menerima uang!”
Semua mata tertuju kepadanya.
Aku mengeluarkan satu lembar dokumen terakhir.
“Transfer itu masuk ke rekeningmu tiga kali, Bea. Kamu juga mengirimkan salinan dokumen investasiku kepada Carlo.”
Bea mulai menangis.
“Jomar bilang semuanya akan baik-baik saja kalau Kak Mara menikah!”
Aku menatap Carlo.
Dia tidak lagi terlihat percaya diri.
“Kamu merencanakan semua ini?”
Carlo mengusap wajahnya.
“Mara, dengarkan dulu. Aku memang ingin melindungi perusahaan keluargamu.”
“Dengan mengambil kendali atas asetku?”
“Aku tidak berniat merugikanmu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Dia terdiam.
Aku mengeluarkan satu foto dari tas.
Foto akta perkawinannya dengan Trisha.
“Dan kenapa kamu menikah dengannya sehari sebelum pernikahan kita?”
Trisha langsung menyela.
“Karena Carlo mencintaiku!”
Carlo menoleh dengan terkejut.
“Trisha, diam!”
Namun, perempuan itu sudah kehilangan kendali.
“Enam tahun aku menunggu dia memilihku! Aku yang selalu ada ketika kalian bertengkar. Aku yang membantunya ketika bisnisnya bermasalah!”
Air matanya mengalir.
“Dia bilang setelah urusan penggabungan perusahaan selesai, dia akan menyelesaikan hubungannya denganmu!”
Aku menatap Carlo.
Akhirnya, kebenaran keluar dari mulut orang yang paling ingin menyembunyikannya.
Carlo menunduk.
“Aku memang mengatakan itu,” gumamnya. “Tapi semuanya menjadi kacau ketika Trisha mendesak agar kami menikah lebih dulu.”
Aku merasa dadaku sakit.
Bukan karena masih mencintainya.
Melainkan karena menyadari betapa lama aku mempercayai seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar memilihku.
“Jadi, kalian menikah bukan karena mabuk?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengangguk perlahan.
“Terima kasih. Itu saja yang ingin kudengar.”
Adrian menutup mapnya.
“Perlu saya tegaskan, audit ini masih harus dilanjutkan. Setiap dugaan penyalahgunaan dana akan ditangani melalui proses hukum. Kami juga telah membekukan kewenangan pengelolaan investasi yang sebelumnya diberikan kepada pihak terkait.”
Ayah memegang kepalanya.
“Bagaimana nasib perusahaan kita?”
Aku menatapnya.
“Aku sudah menyiapkan rencana restrukturisasi utang. Perusahaan masih bisa diselamatkan, asalkan seluruh transaksi dibuka dan pengelolaannya diperbaiki.”
Jomar mendongak.
“Kamu mau mengambil alih perusahaan?”
“Tidak. Aku ingin perusahaan dikelola secara profesional, bukan berdasarkan siapa yang paling tua atau paling pandai memanipulasi keluarga.”
Ayah menangis untuk pertama kalinya di hadapanku.
“Mara, Ayah salah.”
Aku menatap lelaki yang selama hidupku selalu berusaha kubanggakan.
“Ayah boleh meminta maaf. Tapi Ayah juga harus bertanggung jawab.”
Aku berdiri.
Pertemuan selesai.
Carlo mengejarku sampai lorong.
“Mara!”
Aku berhenti.
Dia berdiri beberapa langkah di belakangku dengan mata merah.
“Enam tahun kita bersama. Apa semuanya benar-benar tidak berarti?”
Aku menatapnya lama.
“Berarti, Carlo. Enam tahun itu mengajariku banyak hal.”
Dia mendekat.
“Kalau begitu, beri aku kesempatan.”
Aku menggeleng.
“Justru karena enam tahun itu berarti, aku tidak akan membuang satu hari lagi untuk mengulangi kesalahan yang sama.”
Tiga bulan kemudian, restrukturisasi Reyes Group mulai berjalan. Jomar mengundurkan diri dari jajaran direksi sambil menjalani pemeriksaan terkait transaksi perusahaan.
Kerja sama dengan keluarga Lim dibatalkan.
Aku kembali memimpin pengembangan Arunika Capital dan membuka kantor baru di Jakarta.
Hubunganku dengan orang tuaku belum sepenuhnya pulih, tetapi kami mulai belajar berbicara tanpa ancaman dan tuntutan.
Suatu sore, sebuah paket tiba di kantorku.
Pengirimnya Trisha.
Di dalamnya terdapat undangan resepsi pernikahan yang dulu seharusnya menjadi milikku.
Pada bagian belakang undangan, dia menulis dengan tangan.
Aku pikir setelah berhasil menikah dengan Carlo, aku akan bahagia. Ternyata aku hanya mendapatkan lelaki yang selalu takut kehilangan uang dan kekuasaan. Sekarang aku mengerti kenapa kamu memilih pergi.
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu menyimpannya ke dalam laci.
Beberapa menit kemudian, sekretarisku masuk.
“Bu Mara, ada seseorang yang ingin bertemu. Namanya Carlo Lim.”
Aku memandang keluar jendela.
Langit Jakarta sedang cerah setelah hujan.
“Tanyakan keperluannya.”
Sekretarisku kembali beberapa saat kemudian.
“Katanya dia ingin meminta maaf. Dia juga membawa bunga.”
Aku tersenyum kecil.
“Tolong sampaikan bahwa permintaan maafnya sudah kuterima. Tapi aku tidak ingin bertemu.”
Setelah sekretarisku pergi, aku membuka laptop.
Ada sebuah pesan baru dari universitas di Singapura.
Permohonanku untuk mengikuti program pendidikan eksekutif selama enam bulan telah diterima.
Aku menatap surat penerimaan itu dengan mata berkaca-kaca.
Enam tahun lalu, aku pernah mendapatkan kesempatan serupa.
Namun, Carlo memintaku menolak karena katanya kami harus mempersiapkan masa depan bersama.
Aku menurutinya.
Sekarang, untuk pertama kalinya, aku tidak perlu meminta izin kepada siapa pun.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Adrian.
“Tolong atur jadwal pekerjaanku. Aku akan berangkat bulan depan.”
Dia tertawa.
“Akhirnya Anda mengambil cuti juga.”
Aku ikut tertawa.
Setelah panggilan berakhir, aku membuka laci dan melihat undangan pernikahan yang dikirim Trisha.
Dulu, aku mengira hari pernikahanku akan menjadi hari paling bahagia dalam hidupku.
Ternyata, hari paling membahagiakan justru datang ketika aku berani meninggalkan pernikahan itu.
Aku tidak mendapatkan suami yang kuimpikan.
Aku kehilangan beberapa orang yang pernah kuanggap keluarga.
Namun, aku menemukan kembali seseorang yang jauh lebih lama kuabaikan.
Diriku sendiri.
Dan kali ini, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya lagi.
