SELAMA 6 TAHUN, SAYA MENGIRIM RATUSAN JUTA RUPIAH DEMI CUCU SETELAH ANAK KANDUNG SAYA MENINGGAL! TAPI SAAT GUCI ABUNYA DIBUKA, RAHASIA MENGERIKAN DI BALIK KEMATIANNYA TERBONGKAR!

“Kakek, jangan kasih uang lagi ke Papa…”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya bahkan setelah Kevin tertidur malam itu. Saya tidak pernah menyangka ucapan seorang anak tujuh tahun akan membuka pintu menuju rahasia yang selama enam tahun terkubur di balik kematian putri saya sendiri.

Dan ketika isi guci yang selama ini saya kira menyimpan abu Indah ternyata hanya pasir, semen kering, dan debu industri, dunia saya benar-benar runtuh.

Belum sempat saya memahami semuanya, telepon dari nomor tak dikenal masuk.

“Bapak… tolong Indah, Pak… Indah dikurung di…”

“Di mana?” teriak saya. “Siapa kamu? Indah ada di mana?”

Suara perempuan itu terdengar terengah-engah.

“Gudang lama di daerah Padalarang. Bekas pabrik tekstil dekat rel kereta. Jangan hubungi Rizky. Kalau dia tahu…”

Terdengar suara pintu dibanting dari ujung telepon.

Perempuan itu tersentak.

Kemudian sambungan terputus.

Saya mencoba menelepon kembali.

Nomornya sudah tidak aktif.

Beberapa menit kemudian Pak Budi tiba. Begitu melihat isi guci di atas meja, wajahnya langsung berubah.

“Jangan sentuh apa pun lagi,” katanya.

Saya menceritakan semuanya, mulai dari ucapan Kevin, hubungan Rizky dengan Sheila, sampai telepon misterius tadi.

Pak Budi tidak langsung menjawab. Ia memotret guci dan isinya, lalu menelepon seseorang yang masih aktif di kepolisian.

“Kita tidak boleh datang ke gudang itu sendirian,” katanya.

“Tapi kalau benar Indah ada di sana, saya sudah membiarkan anak saya menderita selama enam tahun!”

“Justru karena itu kita jangan gegabah.”

Dua jam kemudian kami berangkat menuju Padalarang bersama dua petugas berpakaian sipil.

Gudang itu berada jauh dari permukiman, tersembunyi di balik deretan bangunan industri tua. Gerbang depannya berkarat. Rumput liar tumbuh hampir setinggi lutut.

Dari luar, tempat itu tampak kosong.

Namun ketika kami mendekat, Pak Budi menunjuk tanah.

Ada bekas ban mobil yang masih baru.

Kami masuk melalui pintu samping.

Bau lembap bercampur obat-obatan langsung menusuk hidung.

Di bagian belakang bangunan terdapat lorong sempit yang sama sekali tidak terlihat dari depan. Di ujungnya ada sebuah pintu besi.

Terkunci.

Petugas mendobraknya.

Ketika pintu terbuka, kaki saya hampir kehilangan tenaga.

Seorang perempuan duduk meringkuk di sudut ruangan.

Tubuhnya sangat kurus. Rambutnya panjang dan kusut. Wajahnya pucat. Kedua tangannya memeluk lutut seolah itu satu-satunya cara untuk melindungi dirinya.

“Indah…”

Perempuan itu perlahan mengangkat kepala.

Saya mengenali mata itu.

Mata yang sama yang saya lihat pertama kali ketika dia lahir tiga puluh empat tahun lalu.

“Bapak?”

Suara itu menghancurkan saya.

Saya berlari dan memeluknya.

Indah menangis tanpa suara selama beberapa detik sebelum akhirnya tubuhnya gemetar hebat.

“Bapak datang…”

“Iya, Nak. Bapak datang.”

Saya tidak tahu berapa lama kami berpelukan.

Enam tahun.

Selama enam tahun saya menaruh bunga di depan guci berisi pasir sementara anak saya hidup terkurung hanya puluhan kilometer dari rumah saya.

Indah segera dibawa ke rumah sakit.

Dokter menemukan tanda-tanda kekurangan gizi kronis serta efek penggunaan obat penenang dalam jangka panjang. Kondisinya lemah, tetapi stabil.

Saya duduk di samping tempat tidurnya sampai matahari terbit.

Ketika akhirnya Indah cukup kuat untuk berbicara, kenyataan yang keluar dari mulutnya jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang saya bayangkan.

Enam tahun lalu, Indah mengetahui Rizky berselingkuh dengan Sheila.

Hubungan itu ternyata sudah berlangsung sejak Kevin masih bayi.

“Saya mau cerai,” kata Indah lirih. “Saya juga sudah kumpulkan bukti transfer uang perusahaan yang diselewengkan Rizky.”

Rizky bekerja sebagai direktur keuangan sebuah perusahaan milik keluarga Sheila. Menurut Indah, ia menemukan transaksi mencurigakan bernilai miliaran rupiah.

Indah berniat menyerahkan bukti tersebut kepada polisi.

Namun sebelum sempat melakukannya, Rizky mengajak Indah pergi ke Jakarta dengan alasan ingin memperbaiki pernikahan mereka.

Di perjalanan, Indah diberi minuman.

Setelah itu ia tidak mengingat apa-apa.

Ketika sadar, ia sudah berada di sebuah rumah kosong.

“Kecelakaan itu?” tanya saya.

Indah menggeleng.

“Rekayasa.”

Mobil Indah memang dibakar di Tol Cipularang, tetapi Indah tidak berada di dalamnya.

Rizky memanfaatkan seorang kenalannya untuk memalsukan beberapa dokumen awal. Jenazah yang diklaim sebagai Indah sebenarnya tidak pernah diperlihatkan kepada keluarga. Proses kremasi diatur dengan cepat, kemudian guci palsu diserahkan kepada saya.

“Tapi kenapa kamu tidak dibunuh?”

Indah menutup mata.

“Karena mereka butuh tanda tangan saya.”

Ternyata beberapa aset usaha dan saham warisan dari mendiang ibu saya masih tercatat atas nama Indah. Rizky membutuhkan akses legal untuk menguasainya.

Selama bertahun-tahun, Indah dipaksa menandatangani berbagai dokumen dalam kondisi setengah sadar.

Saya mengepalkan tangan.

“Siapa perempuan yang menelepon Bapak?”

Indah terdiam.

Kemudian menjawab, “Sheila.”

Saya menatapnya tidak percaya.

“Sheila?”

Indah mengangguk.

Ternyata hubungan Sheila dan Rizky tidak sesederhana yang saya bayangkan.

Pada awalnya, Sheila memang ikut membantu Rizky menyembunyikan Indah. Ia percaya Rizky hanya ingin menahan Indah sementara untuk mengambil dokumen bukti penggelapan.

Namun keadaan berubah.

Rizky semakin rakus.

Ia memanfaatkan kematian palsu Indah untuk mengendalikan Kevin dan memeras saya.

Setiap bulan, sebagian besar uang Rp38 juta yang saya kirim tidak pernah digunakan untuk Kevin.

Sekolah internasional yang disebut Rizky ternyata mendapat potongan biaya melalui perusahaan. Tagihan dokter yang dikirim kepada saya banyak yang palsu. Bahkan beberapa liburan yang katanya untuk Kevin ternyata perjalanan Rizky dan Sheila.

“Kalau Sheila ikut terlibat, kenapa sekarang menolongmu?”

Indah menatap jendela.

“Karena Rizky mulai mengancam dia juga.”

Sheila rupanya menyimpan salinan dokumen dan rekaman percakapan mereka sebagai perlindungan. Ketika Rizky mengetahui hal itu, ia mulai mengawasi Sheila.

Perempuan itulah yang diam-diam memastikan Indah tetap mendapatkan makanan dan obat selama beberapa tahun terakhir.

Dia bukan orang baik.

Tapi mungkin rasa bersalah akhirnya membuatnya sadar.

Siang itu polisi bergerak.

Rizky ditangkap ketika hendak meninggalkan rumahnya di Menteng.

Di dalam SUV miliknya ditemukan dua koper berisi uang tunai, paspor, dan tiket penerbangan ke luar negeri untuk keberangkatan malam itu.

Rupanya dia sudah tahu sesuatu terbongkar.

Sheila menyerahkan diri beberapa jam kemudian.

Bukti yang diserahkannya membuat kasus itu semakin terang.

Namun masih ada satu hal yang tidak saya mengerti.

Kevin.

Kalau Indah dikurung sejak enam tahun lalu, bagaimana kehidupan Kevin sebenarnya?

Saya segera menjemput cucu saya.

Ketika melihat ibunya di rumah sakit, Kevin berdiri membeku di ambang pintu.

Indah menutup mulut sambil menangis.

“Kevin…”

Anak itu mundur selangkah.

Dia tidak mengenali ibunya.

Bagaimana mungkin?

Terakhir kali Kevin melihat Indah, usianya belum genap satu tahun.

Indah membuka kedua tangannya.

“Mama nggak akan paksa Kevin ingat. Mama cuma ingin kamu tahu… Mama tidak pernah meninggalkan kamu.”

Kevin menatap saya.

“Kakek… itu Mama?”

Saya mengangguk dengan mata basah.

Perlahan Kevin mendekat.

Indah tidak bergerak.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Kevin tiba-tiba memeluknya.

Tangisan Indah pecah.

Saya berpaling karena tidak sanggup melihatnya tanpa ikut menangis.

Saya pikir semua penderitaan kami berakhir hari itu.

Ternyata belum.

Tiga hari kemudian Pak Budi datang membawa sebuah map.

“Ada sesuatu yang harus Bapak lihat.”

Di dalamnya terdapat laporan lama kecelakaan enam tahun lalu.

Salah satu petugas menemukan kejanggalan besar.

Mobil yang terbakar memang terdaftar atas nama Indah.

Tetapi di lokasi kecelakaan ditemukan sisa jasad manusia.

Saya menatap Pak Budi.

“Kalau Indah masih hidup… jasad siapa itu?”

Itulah pertanyaan yang membuat penyelidikan dibuka kembali.

Pemeriksaan forensik terhadap bukti lama akhirnya menghasilkan identitas.

Dan ketika nama itu disampaikan kepada saya, seluruh tubuh saya menggigil.

Siti.

Istri saya.

“Tidak mungkin!”

Saya berdiri sampai kursi terjatuh.

“Siti meninggal delapan bulan setelah kecelakaan Indah! Saya sendiri yang menguburkannya!”

Pak Budi meletakkan foto di depan saya.

“Jenazah yang Bapak makamkan delapan bulan kemudian memang seorang perempuan. Tapi tidak pernah dilakukan pemeriksaan DNA karena saat itu kematiannya dianggap akibat serangan jantung.”

Kepala saya berputar.

Makam Siti akhirnya dibongkar atas izin keluarga.

Hasil pemeriksaan membuat kasus itu berubah total.

Perempuan yang selama ini terkubur di makam istri saya bukan Siti.

Saya hampir pingsan ketika mendengarnya.

Lalu siapa dia?

Jawabannya datang dari Sheila.

Enam tahun lalu, Siti ternyata mengetahui Indah masih hidup hanya beberapa hari setelah kecelakaan palsu itu.

Sebagai seorang ibu, ia tidak percaya putrinya meninggal tanpa boleh melihat jenazahnya.

Diam-diam Siti menyelidiki Rizky.

Dan dia menemukan gudang pertama tempat Indah disekap.

Rizky memergokinya.

Dalam kepanikan, Siti mencoba kabur menggunakan mobil Indah yang saat itu dipakai untuk memindahkan barang-barang pribadi putrinya.

Rizky mengejarnya.

Terjadi pertengkaran di dalam mobil.

Mobil kehilangan kendali.

Siti meninggal dalam kecelakaan yang sebenarnya.

Rizky panik.

Namun kemudian ia melihat kesempatan.

Ia membakar mobil itu dan menjadikan jasad Siti sebagai bukti kematian Indah.

“Lalu siapa perempuan yang saya kuburkan delapan bulan kemudian?” tanya saya dengan suara hampir tidak terdengar.

Sheila menangis ketika menjawabnya di ruang pemeriksaan.

“Ibu saya.”

Saya terpaku.

Ibu Sheila meninggal sendirian akibat serangan jantung pada periode yang hampir sama. Rizky menukar identitas keduanya melalui dokumen yang telah dimanipulasi agar kematian Siti seolah terjadi delapan bulan kemudian.

Semua dilakukan untuk mempertahankan cerita bahwa Indah sudah meninggal.

Untuk pertama kalinya saya memahami betapa besar kebohongan yang telah dibangun Rizky.

Satu kebohongan membutuhkan kebohongan lain.

Kemudian kebohongan berikutnya.

Sampai kehidupan banyak orang berubah menjadi kuburan rahasia.

Berbulan-bulan kemudian, proses hukum berjalan.

Rizky didakwa atas serangkaian tindak pidana, mulai dari penculikan, penyekapan, pemalsuan dokumen, penipuan, penggelapan, hingga keterlibatannya dalam kematian Siti.

Sheila juga harus mempertanggungjawabkan perannya. Fakta bahwa ia akhirnya membantu menyelamatkan Indah tidak menghapus keterlibatannya selama bertahun-tahun.

Saya tidak pernah lagi melihat uang ratusan juta yang telah saya kirimkan kepada Rizky sebagai kehilangan terbesar.

Uang bisa dicari kembali.

Enam tahun kehidupan Indah tidak bisa.

Masa kecil Kevin bersama ibunya tidak bisa.

Dan Siti tidak akan pernah pulang.

Setahun setelah Indah ditemukan, kami berdiri di pemakaman keluarga.

Jenazah Siti akhirnya dimakamkan kembali dengan namanya sendiri.

Indah menggenggam tangan Kevin.

Saya meletakkan bunga di atas makam istri saya.

“Maaf, Bu,” bisik saya. “Enam tahun saya bahkan tidak tahu di mana kamu berada.”

Angin sore berembus pelan.

Kevin kemudian menarik tangan saya.

“Kakek?”

“Iya?”

“Sekarang kita pulang sama-sama, kan?”

Saya menatap Indah.

Putri saya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Saya menggenggam tangan Kevin, sementara Indah menggenggam tangannya yang lain.

“Iya,” jawab saya. “Mulai sekarang tidak ada lagi yang pulang sendirian.”

Saat kami meninggalkan makam, saya akhirnya memahami sesuatu.

Selama enam tahun saya mengira tugas seorang ayah adalah memberikan sebanyak mungkin agar anak dan cucunya tidak kekurangan.

Ternyata saya keliru.

Kasih sayang bukan hanya tentang memberi.

Kadang-kadang kasih sayang berarti berani bertanya ketika sesuatu terasa salah, berani mencari kebenaran meskipun menyakitkan, dan tidak menyerahkan kepercayaan kepada seseorang hanya karena dia menyebut dirinya keluarga.

Kalau saja Kevin tidak mengatakan satu kalimat sederhana sore itu, mungkin sampai hari ini saya masih mentransfer uang kepada Rizky.

Mungkin saya masih berbicara kepada guci berisi pasir setiap malam.

Dan mungkin Indah masih duduk sendirian di balik pintu besi, menunggu seorang ayah yang mengira putrinya telah lama menjadi abu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang