“Jangan beri tahu Mara dulu.”
Empat kata itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku berdiri di depan meja samping tempat tidur, menatap layar jam tangan pintar suamiku yang baru saja menyala. Di sana tertulis jadwal pemeriksaan kandungan Bianca, lengkap dengan catatan yang dibuat Adrian sendiri.
Konfirmasi status kehamilan.
Selama beberapa detik, aku berharap telah salah membaca.
Mungkin Bianca hanya meminta bantuan. Mungkin Adrian sekadar mengantarnya ke rumah sakit. Mungkin ada penjelasan masuk akal yang belum kuketahui.
Namun, semakin lama aku menatap layar itu, semakin jelas satu pertanyaan memenuhi kepalaku.
Mengapa suamiku harus menyembunyikan kehamilan perempuan lain dariku?

Namaku Mara Wijaya. Usiaku tiga puluh tahun. Selama dua tahun terakhir, aku percaya telah menikah dengan laki-laki yang baik.
Adrian Pratama tidak pernah memukulku. Dia tidak pernah berteriak atau melarangku bekerja. Setiap bulan, dia mentransfer uang untuk kebutuhan rumah tangga tepat waktu.
Dahulu, kupikir semua itu cukup untuk membuktikan bahwa dia mencintaiku.
Sampai aku menyadari bahwa seorang laki-laki bisa menjadi suami yang tampak bertanggung jawab, tetapi memberikan seluruh perhatian dan kelembutannya kepada perempuan lain.
Malam sebelumnya, kami makan bersama teman-teman di sebuah restoran kawasan SCBD.
Adrian hafal makanan kesukaan Bianca. Dia tahu Bianca sedang diet, tidak menyukai daun ketumbar, dan harus menghindari makanan tertentu.
Namun, ketika aku mengatakan bahwa aku alergi mangga, suamiku justru terlihat terkejut.
Padahal, aku pernah mengalami reaksi alergi berat sebelum kami menikah. Aku bahkan pernah menunjukkan catatan dokter kepadanya.
Sekarang, di hadapanku terdapat bukti bahwa selama empat belas bulan Adrian mencatat siklus menstruasi Bianca dengan teliti.
Bukan hanya itu.
Dia mengetahui jadwal yoga, pola makan, pemeriksaan kesehatan, bahkan kapan Bianca mengalami nyeri haid.
Sementara aku harus membeli obat alergiku sendiri karena tidak ada satu pun di lemari obat rumah kami.
Aku meletakkan jam tangan itu kembali.
Lalu aku masuk ke kamar mandi dan menangis tanpa suara.
Bukan semata-mata karena kemungkinan Adrian berselingkuh.
Melainkan karena selama ini aku telah menghabiskan begitu banyak tenaga untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku dicintai.
Keesokan paginya, Adrian bersiap berangkat kerja seperti biasa.
“Selasa aku mungkin pulang agak malam,” katanya sambil memasang jam tangan.
“Karena pemeriksaan Bianca?”
Tangannya berhenti.
“Dia takut diambil darah. Aku cuma menemani.”
“Pemeriksaan apa?”
“Pemeriksaan kesehatan biasa.”
Aku menatap wajahnya.
“Bukan pemeriksaan kandungan?”
Wajah Adrian langsung pucat.
“Mara, kamu membaca pesan pribadiku?”
“Jawab pertanyaanku.”
Dia menghela napas.
“Bianca terlambat menstruasi. Dia khawatir hamil. Aku cuma membantu.”
“Siapa ayah bayinya?”
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa kamu harus merahasiakannya dariku?”
“Karena aku tahu kamu akan bereaksi seperti ini.”
Kalimat itu membuatku tertawa getir.
Jadi, kesalahannya bukan menyembunyikan sesuatu.
Kesalahannya adalah aku mengetahui rahasianya.
Adrian mengambil tas kerjanya.
“Jangan membuat masalah yang tidak perlu. Bianca sedang stres.”
Pintu apartemen tertutup.
Aku berdiri sendirian di ruang makan, memandangi dua cangkir kopi yang belum disentuh.
Saat itulah aku memutuskan berhenti bertanya kepada orang yang terus berbohong.
Aku membutuhkan kebenaran.
Siang itu, aku menemui Denise di sebuah kafe dekat kantornya.
Denise sudah mengenalku sejak kuliah. Dahulu, dia selalu menjadi orang pertama yang membelaku.
Namun, belakangan ini, setiap kali terjadi masalah antara aku dan Bianca, dia selalu memintaku mengalah.
“Bianca sedang mengalami masa sulit,” katanya setelah mendengar ceritaku.
“Seberapa sulit?”
Denise mengaduk kopinya.
“Aku tidak bisa menceritakan masalah pribadinya.”
“Apakah Adrian ayah bayi itu?”
Sendok di tangannya berdenting mengenai cangkir.
Reaksinya terlalu cepat untuk disebut kebetulan.
“Denise.”
Dia menunduk.
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Tapi kamu mencurigainya?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mara, ada sesuatu yang seharusnya kukatakan sejak lama.”
Jantungku berdebar.
Denise membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.
Foto itu diambil delapan bulan sebelumnya, saat acara ulang tahun Bianca di sebuah vila kawasan Puncak.
Aku tidak menghadiri acara tersebut karena sedang menjaga ibuku yang dirawat di rumah sakit.
Dalam foto itu, Adrian berdiri di belakang Bianca, memeluk pinggangnya.
Wajah mereka begitu dekat.
Namun, bukan foto itu yang paling menyakitkan.
Melainkan keterangan yang ditulis Bianca ketika mengunggahnya ke grup pertemanan mereka.
“Terima kasih sudah selalu menjadi rumah untukku.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
“Kenapa aku tidak pernah melihat foto ini?”
Denise menggigit bibir.
“Karena kamu tidak ada di grup itu.”
Aku mengangkat kepala.
“Ada grup tanpa aku?”
Dia mengangguk pelan.
Grup tersebut beranggotakan Adrian, Bianca, Paolo, Denise, dan beberapa teman mereka.
Namanya Lingkaran Terdekat.
Lucu sekali.
Aku adalah istri Adrian, tetapi ternyata tidak termasuk dalam lingkaran terdekat suamiku.
“Sejak kapan?”
“Hampir setahun.”
Aku merasakan sesuatu runtuh dalam dadaku.
Denise mulai menangis.
“Aku pernah menegur mereka. Adrian bilang Bianca sedang depresi setelah putus dengan pacarnya. Dia meminta kami menjaga perasaannya.”
“Dengan menyembunyikan semuanya dariku?”
Denise tidak menjawab.
Aku berdiri.
“Mara, tunggu.”
Aku berhenti.
“Ada satu hal lagi,” katanya lirih. “Bianca pernah bilang dia tidak ingin merusak rumah tanggamu.”
Aku menoleh.
“Orang yang benar-benar tidak ingin merusak rumah tangga orang lain tidak perlu terus-menerus mengingatkan semua orang tentang niat baiknya.”
Malam itu, aku tidak pulang.
Aku menginap di apartemen Paolo, sahabatku sejak kecil.
Ketika kuceritakan semuanya, Paolo terdiam lama.
“Aku juga bersalah,” katanya akhirnya.
Aku menatapnya.
“Karena mangga itu?”
“Bukan cuma itu.”
Paolo mengusap wajahnya.
“Adrian pernah memintaku mengalihkan perhatianmu ketika Bianca mengadakan acara ulang tahun. Dia bilang sedang menyiapkan kejutan untukmu.”
“Dan kamu percaya?”
“Aku ingin percaya.”
Aku tertawa pahit.
Ternyata selama ini begitu banyak orang memilih mempercayai kebohongan yang nyaman daripada menghadapi kenyataan yang menyakitkan.
Paolo kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Mara, kamu ingat tahun lalu ketika kamu masuk rumah sakit karena demam berdarah?”
Aku mengangguk.
Saat itu, Adrian mengatakan sedang berada di luar kota untuk urusan proyek. Dia baru datang menjengukku dua hari kemudian.
“Pada hari yang sama,” lanjut Paolo, “aku melihat mobil Adrian di parkiran apartemen Bianca.”
Aku tidak menangis lagi.
Air mataku seolah sudah habis.
Keesokan harinya, aku menemui seorang pengacara bernama Ratna Kusuma.
Aku membawa dokumen pernikahan, rekening bersama, serta catatan pembayaran apartemen.
Apartemen kami dibeli menggunakan tabunganku sebelum menikah. Adrian ikut membayar beberapa biaya renovasi, tetapi sertifikatnya tetap atas namaku.
Bu Ratna memeriksa semuanya dengan teliti.
“Kamu tidak perlu memutuskan seluruh masa depanmu hari ini,” katanya. “Tapi mulai sekarang, lindungi dokumen, keuangan, dan keselamatanmu.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, seseorang bertanya apa yang kubutuhkan, bukan apa yang dibutuhkan Bianca.
Hari Selasa akhirnya tiba.
Pukul sembilan pagi, Adrian mengirimiku pesan.
“Aku ada rapat proyek. Jangan tunggu makan siang.”
Aku membaca pesan itu sambil duduk di ruang tunggu Rumah Sakit Siloam Semanggi.
Aku tidak datang untuk membuat keributan.
Aku datang karena ingin mendengar kebenaran langsung dari mulut mereka.
Pukul sembilan lewat dua puluh, Adrian muncul bersama Bianca.
Dia membawakan tas Bianca, sementara tangan satunya memegang botol air mineral.
Ketika Bianca berhenti berjalan, Adrian langsung menunduk dan bertanya apakah dia merasa mual.
Pemandangan sederhana itu menusuk hatiku.
Aku pernah mengalami demam tinggi sampai hampir pingsan di kamar mandi.
Adrian hanya berkata agar aku memesan taksi daring jika ingin pergi ke dokter.
Namun, untuk Bianca, dia bahkan memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi wajahnya.
Aku berdiri ketika mereka mendekat.
“Mara?”
Adrian tampak seperti melihat hantu.
Bianca langsung menggenggam lengannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Adrian.
“Aku ingin tahu hasil pemeriksaan temanmu.”
“Ini bukan urusanmu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu menulis agar aku tidak diberi tahu?”
Bianca mulai menangis.
“Mara, tolong jangan salah paham.”
Aku menatapnya.
“Apakah Adrian ayah bayi itu?”
Dia tidak menjawab.
Adrian melangkah maju.
“Kita bicara di rumah.”
“Jawab sekarang.”
Beberapa orang mulai memperhatikan kami.
Akhirnya Bianca berbisik, “Aku belum tahu pasti.”
Dunia terasa berhenti.
Belum tahu pasti.
Bukan tidak.
Bukan mustahil.
Belum tahu pasti.
Aku menatap Adrian.
“Jadi kalian memang pernah tidur bersama?”
Wajahnya berubah merah.
“Mara, jangan bicara sembarangan di sini.”
“Berapa kali?”
Dia terdiam.
“Berapa kali, Adrian?”
Bianca menangis semakin keras.
Akhirnya Adrian menjawab dengan suara rendah.
“Dua kali.”
Aku memejamkan mata.
“Sejak kapan?”
“Delapan bulan lalu.”
Aku langsung teringat foto ulang tahun Bianca di Puncak.
Teringat malam ketika ibuku terbaring di rumah sakit dan aku menelepon Adrian berkali-kali karena takut kehilangan beliau.
Malam ketika suamiku berkata sedang sibuk mengurus proyek.
Ternyata proyek yang dia urus adalah menghancurkan pernikahannya sendiri.
Aku menarik napas panjang.
“Terima kasih sudah menjawab.”
Lalu aku berbalik.
Adrian mengejarku sampai area dekat lift.
“Mara, dengarkan aku. Itu kesalahan. Aku menyesal.”
Aku berhenti.
“Kesalahan terjadi sekali, Adrian. Tapi kamu menyimpan catatan kesehatan Bianca selama empat belas bulan. Kamu membelikan makanannya, mengingat jadwalnya, mengantarnya ke dokter, dan berbohong kepadaku berkali-kali.”
“Aku masih mencintaimu.”
Aku menatap laki-laki yang pernah kujanjikan akan kucintai seumur hidup.
“Kalau begitu, caramu mencintai sangat menyakitkan.”
Aku masuk ke lift sebelum dia sempat menjawab.
Sore itu, Adrian pulang dan mendapati koper-kopernya sudah tersusun di dekat pintu.
Aku duduk di ruang tamu bersama Bu Ratna.
“Mulai hari ini, kita tinggal terpisah,” kataku.
Adrian memandang koper-koper itu dengan wajah tidak percaya.
“Kamu mau mengusirku?”
“Aku memintamu meninggalkan apartemenku. Kita akan menyelesaikan urusan hukum melalui pengacara.”
“Kamu tega menghancurkan pernikahan kita hanya karena Bianca?”
Aku menatapnya lama.
“Bukan aku yang menghancurkannya.”
Adrian kemudian berlutut.
Dia menangis, meminta maaf, dan berjanji akan memutus hubungan dengan Bianca.
Dua tahun sebelumnya, aku mungkin akan memeluknya.
Namun, kali ini aku hanya merasa lelah.
“Pergilah, Adrian.”
Dia akhirnya mengambil koper-kopernya.
Sebelum keluar, dia menoleh.
“Kalau ternyata Bianca hamil anakku, aku harus bertanggung jawab.”
Aku mengangguk.
“Tentu. Seorang anak tidak boleh menanggung kesalahan orang tuanya.”
Dia tampak lega.
Namun, aku melanjutkan.
“Tapi tanggung jawabmu kepada anak itu tidak mengharuskanku tetap menjadi istrimu.”
Pintu tertutup.
Untuk pertama kalinya, apartemen itu terasa benar-benar sunyi.
Tiga minggu kemudian, Bianca menghubungiku.
Dia meminta bertemu.
Awalnya aku menolak, tetapi kemudian dia mengirimkan pesan yang membuatku berubah pikiran.
“Ada sesuatu tentang Adrian yang harus kamu ketahui.”
Kami bertemu di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.
Bianca terlihat pucat. Matanya sembap.
Dia langsung meletakkan amplop di atas meja.
“Hasil pemeriksaan kehamilanku.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Aku tidak membutuhkan itu.”
“Kehamilanku tidak berlanjut,” katanya pelan. “Dokter memastikan aku mengalami keguguran dini.”
Aku terdiam.
Meski semua yang dilakukannya menyakitiku, aku tidak merasa senang mendengar kabar itu.
“Aku turut berduka,” kataku.
Bianca mulai menangis.
“Aku tahu kamu membenciku.”
“Aku tidak datang untuk membicarakan perasaanku terhadapmu.”
Dia mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen lain.
Itu adalah salinan tagihan kartu kredit dan bukti transfer.
Nama Adrian tercantum di sana.
Ada pembayaran sewa apartemen Bianca, cicilan mobil, biaya liburan, hingga pembelian perhiasan.
Jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.
“Aku baru tahu sebagian uang itu berasal dari rekening bersama kalian,” kata Bianca.
Aku membeku.
Rekening tersebut seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan tabungan masa depan kami.
Selama ini Adrian selalu mengatakan bahwa pengeluaran meningkat karena biaya proyek dan renovasi.
“Kenapa kamu memberitahuku sekarang?”
Bianca menunduk.
“Karena setelah kamu pergi, Adrian menyalahkanku atas semuanya. Dia bilang aku yang mengejarnya. Dia bahkan meminta aku mengatakan kepada teman-teman bahwa kami tidak pernah berhubungan.”
Aku menatap perempuan di hadapanku.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Bianca bukan sebagai perempuan yang selalu mendapatkan perhatian suamiku, melainkan seseorang yang juga telah memilih mempercayai kebohongannya.
Tetapi itu tidak menghapus tanggung jawabnya.
“Kamu tahu dia sudah menikah,” kataku.
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap melakukannya.”
Air matanya jatuh.
“Iya.”
Aku mengambil salinan dokumen itu.
“Terima kasih sudah memberikan bukti ini. Tapi jangan menganggap pertemuan kita sebagai permintaan maaf yang sudah kuterima.”
Bianca mengangguk tanpa membantah.
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Aku menjalani proses perceraian, memeriksa aliran dana bersama pengacara, dan berusaha membangun kembali rutinitas yang selama ini selalu kuatur mengikuti jadwal Adrian.
Ada malam ketika aku merindukan suara langkahnya.
Ada pagi ketika tanganku hampir otomatis menyiapkan dua cangkir kopi.
Namun, setiap kali keraguan datang, aku mengingat satu hal.
Aku tidak meninggalkan pernikahan yang bahagia.
Aku meninggalkan pernikahan yang selama ini hanya terlihat bahagia karena aku tidak mengetahui kebenarannya.
Enam bulan setelah perpisahan kami, perceraian akhirnya selesai.
Adrian beberapa kali mencoba menghubungiku.
Aku hanya membalas pesan yang berkaitan dengan penyelesaian kewajiban keuangan.
Suatu sore, sebuah paket tiba di apartemenku.
Pengirimnya Adrian.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak obat kecil, beberapa lembar catatan, dan surat.
Aku membuka surat itu.
“Mara, aku akhirnya membaca kembali semua pesan lama kita. Ternyata kamu pernah memberitahuku tentang alergi mangga setidaknya lima kali. Aku juga menemukan foto ketika kamu dirawat di rumah sakit sebelum kita menikah. Aku ada di sana, duduk di samping tempat tidurmu. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana aku bisa melupakan sesuatu yang begitu penting.”
Tanganku sedikit gemetar.
Aku melanjutkan membaca.
“Aku selalu mengatakan bahwa aku hanya membantu Bianca karena dia membutuhkan seseorang. Sekarang aku sadar, aku menikmati perasaan dibutuhkan olehnya. Aku ingin menjadi orang yang paling penting dalam hidupnya, sampai lupa bahwa ada seseorang di rumah yang seharusnya tidak perlu memohon untuk diperhatikan.”
Di bagian akhir, Adrian menulis bahwa dia tidak meminta kesempatan kedua.
Dia hanya ingin aku tahu bahwa akhirnya dia memahami kesalahannya.
Aku melipat surat itu.
Kemudian aku membuka kotak obat.
Di dalamnya ada obat alergi dan sebuah kartu kecil bertuliskan namaku.
Untuk Mara.
Aku memandang kotak itu lama sekali.
Dahulu, mungkin aku akan menangis bahagia karena akhirnya Adrian mengingat alergiku.
Sekarang, aku hanya merasa sedih karena dia membutuhkan kehancuran sebuah pernikahan untuk mempelajari sesuatu yang seharusnya dia ketahui sejak awal.
Aku menyimpan surat itu bersama dokumen perceraian.
Kotak obatnya tidak kugunakan.
Obat untuk keadaan daruratku sudah tersedia, sesuai anjuran dokter, dan aku tidak lagi menggantungkan keselamatanku pada ingatan orang lain.
Setahun kemudian, aku merayakan ulang tahunku yang ketiga puluh dua bersama beberapa teman dekat.
Paolo datang membawa kue cokelat.
Denise membawa bunga dan sebuah kartu permintaan maaf yang ditulis tangan.
Hubungan kami tidak langsung kembali seperti dahulu. Kepercayaan membutuhkan waktu untuk dibangun.
Namun, setidaknya sekarang kami belajar berbicara jujur, bahkan ketika kebenaran terasa tidak nyaman.
Ketika pelayan datang membawa daftar menu, Paolo bertanya, “Mara, kamu mau pesan apa?”
Aku tersenyum.
Pertanyaan sederhana itu terasa begitu asing sekaligus menyenangkan.
Aku membuka menu dan memilih sendiri makananku.
Tidak ada yang mengambil daftar menu dari tanganku.
Tidak ada yang memutuskan bahwa pesananku tidak penting.
Ketika makanan penutup tiba, pelayan membawa sepiring buah.
Ada potongan mangga di salah satu sisinya.
Aku hendak meminta agar piring itu dijauhkan, tetapi Paolo lebih dulu memanggil pelayan.
“Maaf, teman saya alergi mangga. Bisa tolong ganti dengan hidangan yang disiapkan terpisah dan tidak bersentuhan dengan mangga?”
Pelayan mengangguk dan membawa piring itu kembali.
Aku menatap Paolo.
Dia mengangkat bahu.
“Aku ingat sekarang.”
Aku tersenyum kecil.
Bukan karena tindakan itu luar biasa.
Justru karena seharusnya hal seperti itu tidak pernah menjadi sesuatu yang luar biasa.
Malam itu, ketika pulang ke apartemen, aku membuka kulkas.
Tidak ada yoghurt rendah lemak milik Bianca.
Tidak ada stroberi yang dibeli khusus untuk perempuan lain.
Di rak tengah tersimpan pangsit segar yang kubeli sore tadi, semangkuk sup kesukaanku, dan sepotong kue ulang tahun.
Semua itu milikku.
Aku menghangatkan sup, duduk di meja makan, lalu menikmati makan malam dalam keheningan.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Adrian.
“Selamat ulang tahun, Mara. Semoga kamu bahagia.”
Aku membacanya sekali.
Kemudian membalas singkat.
“Terima kasih. Aku sudah bahagia.”
Aku meletakkan ponsel dan kembali menikmati makananku.
Dua tahun lalu, aku mengira cinta berarti memiliki seseorang yang selalu berada di sampingku.
Sekarang aku memahami bahwa kehadiran fisik tidak selalu berarti kepedulian.
Seseorang bisa tidur di sebelahmu setiap malam, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikanmu.
Sebaliknya, seseorang yang sungguh peduli tidak perlu menghafal seluruh hidupmu untuk membuktikan cintanya.
Dia hanya perlu mendengarkan ketika kamu berbicara.
Mengingat ketika sesuatu membahayakanmu.
Dan tidak membuatmu merasa bersalah karena memiliki kebutuhan sendiri.
Aku pernah menjadi perempuan yang menunggu suaminya mengingat bahwa mangga bisa membahayakan nyawaku.
Kini aku menjadi perempuan yang tidak lagi menunggu siapa pun untuk menganggap hidupnya berharga.
Dan ternyata, itulah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kuberikan kepada diriku sendiri.
