“Sayang, lihat!” Lexi berseru manja sambil memeluk tas kulit buaya hijau zamrud itu ke dadanya. “Cantik banget. Ini yang aku mau. Belikan untukku, dong. Please?”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Bukan karena tas itu.
Bukan pula karena pergelangan tanganku masih terasa sakit setelah ia merampasnya.
Aku sedang menatap Gary.
Suamiku selama sebelas tahun itu berdiri hanya beberapa langkah dariku. Kemeja putihnya rapi, jam tangan mahal yang kubelikan tahun lalu melingkar di pergelangan tangannya, dan di wajahnya muncul ekspresi yang sangat kukenal.
Panik.
“Victoria?” katanya pelan.
Lexi menoleh kepadaku, lalu tertawa kecil.
“Kamu kenal ibu ini?”
Ibu ini.
Aku hampir tertawa.
Gary cepat-cepat mendekati Lexi.
“Kenal sedikit. Dia… orang kantor.”
Aku merasakan sesuatu di dalam dadaku runtuh.

Sebelas tahun pernikahan, dan di depan selingkuhannya aku hanya disebut orang kantor.
Lexi mengamatiku dari ujung rambut sampai sandal datarku.
“Oh.”
Nada suaranya berubah meremehkan.
“Pantas.”
Ia mengangkat tas itu.
“Bu, kalau cuma mau lihat-lihat, jangan lama-lama pegang barang seperti ini. Takutnya rusak. Tas begini tidak cocok untuk Ibu.”
Aku tersenyum tipis.
“Menurutmu cocok untukmu?”
“Tentu.”
Lexi memutar tubuh di depan cermin besar butik.
“Gary bilang aku pantas mendapatkan yang terbaik.”
Aku menatap suamiku.
“Gary bilang begitu?”
Wajah Gary semakin pucat.
“Victoria, kita bicara di rumah saja.”
“Kenapa harus di rumah?”
Aku menunjuk Lexi.
“Bukankah dia ingin tas itu?”
Lexi tersenyum puas, seolah mengira aku sedang mengalah.
“Nah, gitu dong. Tahu diri.”
Seorang sales bernama Clara mendekat dengan gugup.
“Maaf, Bu. Tas tersebut memang koleksi khusus. Untuk pembelian diperlukan konfirmasi dari manajer.”
Lexi langsung meraih lengan Gary.
“Sayang, bayar sekarang.”
Gary menelan ludah.
“Berapa?”
Clara menyebut nominalnya.
Dua miliar seratus delapan puluh juta rupiah.
Lexi bahkan tidak berkedip.
Gary justru terlihat seperti baru kehilangan kemampuan bernapas.
Namun harga dirinya lebih besar daripada akal sehatnya.
Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompet.
“Pakai ini.”
Aku mengenali kartu itu.
Kartu tambahan atas rekening pribadiku.
Selama bertahun-tahun, aku memberikannya kepada Gary untuk kebutuhan rumah tangga dan perjalanan bisnis. Limitnya sangat besar karena rekening utamanya terhubung dengan aset pribadiku.
Lexi menatap kartu tersebut dengan mata berbinar.
“Aku bilang juga apa? Gary itu bukan orang sembarangan.”
Gary tersenyum kaku.
Aku berjalan mendekati kasir.
“Sebentar.”
Gary langsung menegang.
Aku mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi perbankan, lalu memblokir kartu tambahan itu.
Setelahnya, aku mengambil kartu tersebut dari tangan Gary.
“Victoria, jangan bikin keributan.”
Aku mengambil gunting kecil yang tersedia di meja pembungkus hadiah.
Krek.
Kartu hitam itu terpotong menjadi dua.
Butik mendadak sunyi.
Lexi menatapku dengan mulut terbuka.
Gary pucat pasi.
“Apa yang kamu lakukan?” bentaknya.
“Memotong kartu kreditku.”
Lexi mengerutkan kening.
“Kartumu?”
Aku menatapnya.
“Ya.”
Kemudian aku menoleh kepada Gary.
“Sekarang belikan dia tas itu dengan uangmu sendiri.”
Rahang Gary mengeras.
“Victoria, cukup.”
“Kenapa? Bukankah kamu bilang dia pantas mendapatkan yang terbaik?”
Lexi mulai gelisah.
“Gary, sebenarnya siapa perempuan ini?”
Gary tidak menjawab.
Aku yang menjawab.
“Aku istrinya.”
Wajah Lexi seketika berubah.
Namun hanya beberapa detik.
Setelah keterkejutannya hilang, ia justru tertawa.
“Oh, jadi ini istrimu?”
Ia menatap pakaianku lagi.
“Gary pernah bilang istrinya cuma perempuan rumahan yang tidak tahu dunia luar.”
Aku mengangguk perlahan.
Menarik.
“Dia juga bilang kalian sudah lama pisah kamar,” lanjut Lexi. “Katanya dia cuma belum bercerai karena kasihan sama kamu.”
Gary berbisik keras.
“Lexi, diam.”
“Kenapa harus diam?”
Lexi semakin emosi.
“Kamu bilang rumah di Pondok Indah itu milikmu. Mobil yang kupakai juga milikmu. Kamu bilang kamu direktur Victoria Realty.”
Aku memandang Gary.
Untuk pertama kalinya, aku merasa pengkhianatan itu bahkan lebih besar daripada perselingkuhan.
Gary bukan hanya mengkhianatiku.
Ia hidup menggunakan identitasku.
Rumah yang disebutnya miliknya kubeli tujuh tahun lalu.
Mobil yang dipakai Lexi ternyata salah satu kendaraan perusahaan.
Dan jabatan Gary?
Ia bukan direktur.
Ia hanya kepala divisi pengadaan.
Aku memang sengaja tidak pernah mencampuri pekerjaannya secara langsung karena ingin ia membangun karier dengan kemampuannya sendiri.
Ternyata selama ini ia membangun citra dengan namaku.
Pintu ruang VIP terbuka.
Seorang pria berjas hitam keluar tergesa-gesa.
“Bu Victoria?”
Itu Adrian, manajer butik.
Ia menghampiriku dan sedikit membungkuk.
“Maaf sekali membuat Ibu menunggu. Kami sudah menyiapkan sertifikat koleksinya.”
Lexi membeku.
Gary memejamkan mata.
Adrian melanjutkan, “Seperti permintaan kantor Ibu minggu lalu, tas ini memang kami tahan khusus sampai Ibu datang melihatnya langsung.”
Aku melirik Lexi.
“Katanya tadi tidak cocok untukku.”
Adrian terlihat bingung.
Lexi buru-buru meletakkan tas itu di meja.
“Aku tidak tahu siapa dia.”
“Aku sudah bilang namaku Victoria.”
“Victoria banyak!”
Aku tersenyum.
“Benar.”
Lalu aku menghadap Adrian.
“Pak Adrian, tas itu saya ambil.”
“Baik, Bu.”
“Dan dua orang ini tidak bersamaku.”
Gary langsung maju.
“Victoria!”
Aku mengangkat tangan.
“Jangan sentuh aku.”
Nada suaraku membuatnya berhenti.
Gary menurunkan suaranya.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan bayar tas kekasihmu dulu.”
“Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang.”
Lexi menatapnya tajam.
“Katamu limit kartumu sepuluh miliar.”
“Itu bukan kartuku.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Lexi menatap kartu yang sudah terpotong di meja.
“Jadi semua yang kamu bilang selama ini bohong?”
Gary kehilangan kesabaran.
“Bukan sekarang waktunya membahas itu!”
“Lalu kapan?”
Aku menatap Adrian.
“Panggil keamanan.”
Dua petugas keamanan datang beberapa saat kemudian.
Gary benar-benar kehilangan kendali.
“Kamu mau mempermalukan suamimu sendiri di depan orang?”
Aku tertawa kecil.
“Kamu mempermalukan dirimu sendiri ketika membawa selingkuhan ke butik dan mencoba membelikan tas dua miliar dengan uang istrimu.”
Beberapa pengunjung mulai memperhatikan.
Gary mendekat dan berbisik, “Kalau kamu membuat skandal, reputasi perusahaan juga kena.”
Itulah ancaman yang salah.
Karena selama ini Gary selalu berpikir aku mempertahankan pernikahan demi citra.
“Ada satu hal yang belum kamu pahami tentangku.”
Aku menatap matanya.
“Aku bisa kehilangan suami. Tapi aku tidak akan kehilangan harga diriku.”
Aku meminta petugas keamanan mengantar mereka keluar.
Lexi masih berteriak kepada Gary di pintu.
“Kamu bilang perusahaan itu punya kamu!”
Gary membentaknya balik.
“Diam!”
Mereka pergi dengan semua kemewahan palsu yang akhirnya runtuh hanya karena satu kartu terpotong.
Aku kira semuanya selesai.
Ternyata belum.
Malam itu aku pulang lebih awal.
Gary baru tiba hampir tengah malam.
Begitu pintu terbuka, ia langsung berkata, “Aku khilaf.”
Aku duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka.
“Berapa lama?”
Gary terdiam.
“Victoria…”
“Berapa lama kamu bersama Lexi?”
“Delapan bulan.”
Aku memutar laptop ke arahnya.
Di layar ada laporan audit internal.
“Dua tahun.”
Wajahnya langsung berubah.
Aku tidak pulang untuk menangis.
Setelah kejadian di butik, aku meminta kepala audit memeriksa seluruh transaksi yang pernah disetujui Gary.
Hasil awalnya mengejutkan.
Selama hampir dua tahun, Gary menggunakan vendor fiktif untuk mengalihkan uang perusahaan.
Jumlah sementara mencapai Rp18,7 miliar.
Sebagian uang itu dipakai menyewa apartemen mewah untuk Lexi, membeli mobil, perhiasan, liburan ke luar negeri, bahkan membayar operasi kecantikannya.
“Ini salah paham,” kata Gary.
“Perusahaan vendor bernama GNL Procurement.”
Aku menatapnya.
“GNL. Gary and Lexi.”
Gary tidak menjawab.
“Romantis sekali.”
Ia tiba-tiba berlutut.
“Vic, dengarkan aku. Aku bisa kembalikan semuanya.”
“Dengan uang siapa?”
Ia terdiam.
“Uangku lagi?”
Gary mulai menangis.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, aku melihatnya benar-benar takut.
“Aku cuma ingin dihargai.”
Kalimat itu membuatku terpaku.
“Apa?”
“Kamu selalu lebih sukses. Semua orang tahu aku suami Victoria Santoso. Tidak pernah ada yang melihatku sebagai Gary.”
Aku memandang laki-laki yang pernah kucintai itu.
Dulu, ketika kami menikah, Gary tidak punya apa-apa.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Aku membiayai kuliah lanjutannya.
Aku memberinya pekerjaan ketika perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.
Aku bahkan sengaja tidak menjadikannya direktur agar orang tidak menganggap ia mendapat jabatan karena menikah denganku.
Kupikir aku sedang menjaga harga dirinya.
Ternyata ia menganggap keberhasilanku sebagai penghinaan.
“Jadi kamu mencuri dariku agar merasa menjadi laki-laki?”
“Aku tidak mencuri.”
“Delapan belas miliar.”
“Aku akan mengembalikannya.”
Aku menutup laptop.
“Besok pengacara akan menghubungimu.”
Gary berdiri.
“Kamu mau cerai?”
“Bukan cuma cerai.”
Aku menatapnya.
“Aku juga akan melaporkan hasil audit ke polisi.”
Wajahnya kehilangan warna.
“Kamu mau memasukkan suamimu sendiri ke penjara?”
“Tidak.”
Aku berdiri.
“Kamu sendiri yang memilih jalan menuju ke sana.”
Keesokan paginya, cerita menjadi lebih rumit.
Lexi datang ke kantorku.
Tanpa riasan tebal. Tanpa pakaian mahal.
Ia membawa sebuah flashdisk.
“Aku mau bicara.”
Aku hampir menyuruh keamanan mengusirnya, tetapi sesuatu di wajahnya membuatku berubah pikiran.
Lexi duduk di hadapanku.
“Aku memang tahu Gary sudah menikah.”
Aku tidak bereaksi.
“Tapi aku tidak tahu siapa istrinya. Dia bilang istrinya tinggal di luar kota dan kalian hanya menikah di atas kertas.”
“Kenapa kamu datang?”
Lexi meletakkan flashdisk di meja.
“Karena dia juga menipuku.”
Di dalam flashdisk terdapat percakapan, bukti transfer, dan rekaman suara.
Namun ada satu dokumen yang membuat darahku dingin.
Gary berencana memindahkan saham perusahaan menggunakan tanda tanganku yang dipalsukan.
Jika berhasil, ia bisa menguasai sebagian aset Victoria Realty melalui perusahaan cangkang.
Lexi ternyata tanpa sengaja menemukan dokumen itu ketika mencari tiket perjalanan di laptop Gary.
“Kenapa memberikannya kepadaku?”
Lexi tersenyum pahit.
“Karena tadi malam dia datang ke apartemen dan menyalahkanku atas semuanya. Dia bilang kalau aku tidak memaksa beli tas itu, kamu tidak akan curiga.”
Ia tertawa kecil, tetapi matanya berkaca-kaca.
“Lucu, ya? Tas dua miliar itu ternyata menyelamatkan perusahaanmu.”
Aku menatapnya lama.
“Aku tidak memaafkanmu.”
“Aku juga tidak meminta.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Lexi bukan sebagai perempuan yang merampas suamiku.
Ia tetap bersalah karena menjalin hubungan dengan pria beristri.
Namun Gary telah membohongi kami dengan cara yang berbeda.
Aku menyerahkan flashdisk itu kepada tim hukum.
Tiga minggu kemudian, Gary resmi diberhentikan.
Kasus penggelapan dan pemalsuan dokumen masuk ke proses hukum.
Aset-aset yang dibeli menggunakan uang perusahaan dibekukan.
Apartemen Lexi disita karena ternyata dibeli menggunakan dana hasil penggelapan.
Mobilnya juga ditarik.
Perceraian kami berjalan jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.
Gary mencoba meminta mediasi berkali-kali.
Aku menolak.
Enam bulan kemudian, aku kembali ke Maison De Luxe.
Adrian menyambutku.
“Bu Victoria, tasnya masih terawat?”
Aku tersenyum.
Tas hijau zamrud itu memang kubeli hari itu.
Namun aku tidak pernah memakainya.
“Ada.”
Aku menyerahkan sebuah kotak kepadanya.
“Tapi saya ingin menjualnya kembali melalui lelang amal.”
Adrian terkejut.
“Yakin, Bu?”
“Sangat yakin.”
Hasil penjualannya kemudian kusumbangkan untuk program bantuan hukum dan pelatihan kerja bagi perempuan korban kekerasan finansial dalam rumah tangga.
Tas itu akhirnya terjual Rp2,6 miliar.
Lebih mahal daripada harga belinya.
Beberapa hari setelah lelang, sebuah amplop tiba di kantorku.
Pengirimnya Lexi.
Di dalamnya hanya ada selembar kartu.
Aku sudah mulai bekerja lagi. Kali ini dengan uangku sendiri. Terima kasih karena hari itu kamu tidak menghancurkanku ketika sebenarnya kamu bisa.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu menyimpan kartu tersebut di laci.
Bukan karena kami menjadi teman.
Kami tidak pernah menjadi teman.
Namun hidup kadang memiliki cara aneh untuk mempertemukan dua perempuan yang mengira mereka sedang memperebutkan seorang laki-laki, padahal sebenarnya keduanya sedang dibohongi oleh orang yang sama.
Setahun kemudian, aku berdiri di depan cermin sebelum menghadiri pembukaan proyek baru Victoria Realty.
Aku mengenakan gaun linen sederhana.
Sandal datar.
Hampir persis seperti hari ketika Lexi merampas tas itu dari tanganku.
Asistenku bertanya, “Bu Victoria tidak mau pakai tas branded malam ini?”
Aku mengambil tas kulit lokal sederhana dari meja.
“Yang ini cukup.”
Ia tersenyum.
Aku juga tersenyum.
Dulu aku berpikir barang mahal menunjukkan seberapa jauh seseorang telah berhasil.
Gary mengajariku sesuatu yang berbeda.
Orang bisa memakai jam ratusan juta tetapi hidup dari kebohongan.
Orang bisa membawa tas miliaran tetapi tidak memiliki apa pun yang benar-benar menjadi miliknya.
Dan seorang perempuan bisa datang dengan gaun linen sederhana, lalu tetap menjadi orang paling berkuasa di ruangan itu.
Bukan karena rekening banknya.
Bukan karena jabatannya.
Melainkan karena ketika seseorang mencoba merampas harga dirinya, ia tahu kapan harus berhenti membayar harga untuk mempertahankan orang yang tidak lagi pantas dipertahankan.
