Semua Orang Mengira Aku Mengejar Idola Kampus, Padahal Aku Digaji Rp45 Juta Sebulan untuk Memasak untuknya

Aku menatap nama yang dicoret tinta hitam itu cukup lama.

Bukan karena sedih.

Aku hanya sedang menghitung.

Hadiah juara kompetisi memasak antarkampus tingkat kota tahun ini adalah Rp75 juta.

Setelah dipotong biaya bahan, transportasi, dan kemungkinan mentraktir teman-teman kalau menang, setidaknya masih tersisa lebih dari Rp60 juta.

Sekarang seseorang baru saja mencoret peluangku mendapatkan Rp60 juta tepat di depan mataku.

Ini bukan lagi masalah cinta.

Ini masalah ekonomi.

Aku mengangkat kepala.

“Siapa yang mencoret namaku?”

Tiara tersenyum. “Bu Yanti.”

“Alasannya?”

“Kamu dianggap tidak mampu bekerja sama dalam tim.”

Aku mengangguk pelan.

“Baik.”

Tiara tampak kecewa melihat reaksiku.

Mungkin dia mengharapkan aku menangis, marah, atau menarik rambutnya seperti adegan sinetron sore.

Sayangnya, aku terlalu miskin untuk membuang energi secara gratis.

Dia mendekat dan merendahkan suaranya.

“Laras, berhentilah mengejar Galang. Kita hidup di dunia yang berbeda.”

Aku menatapnya.

“Kamu benar.”

Wajahnya langsung terlihat puas.

Aku melanjutkan, “Duniaku punya tagihan listrik, uang kuliah, dan harga cabai yang naik terus. Jadi kalau nggak ada urusan lain, aku mau pulang.”

Saat aku keluar dari klinik, Galang sedang berdiri di koridor membawa kantong obat.

Dia melihat Tiara berjalan menjauh, lalu menatapku.

“Dia ngomong apa?”

“Nggak penting.”

“Namamu dicoret dari kompetisi?”

Aku berhenti.

“Kamu dengar?”

“Pintunya nggak kedap suara.”

Aku mengambil obat dari tangannya.

“Terima kasih.”

Galang tidak melepaskan kantong itu.

“Laras.”

“Apa?”

“Kenapa kamu selalu terlihat seperti nggak peduli?”

Aku terdiam beberapa detik.

Karena kalau aku peduli pada semua penghinaan yang kuterima sejak masuk kampus ini, mungkin aku sudah berhenti kuliah sejak semester dua.

Ayahku meninggal tiga tahun lalu.

Dia bukan koki terkenal. Bukan pemilik restoran mewah. Dia hanya memiliki warung kecil di pinggir jalan daerah Lembang.

Dari tangannya aku belajar bahwa makanan tidak harus mahal untuk membuat seseorang merasa pulang.

Setelah ayah meninggal, warung itu tutup karena utang.

Aku kuliah menggunakan beasiswa dan bekerja apa saja yang bisa kulakukan.

Sampai suatu hari Bu Ratna mencicipi masakanku dalam sebuah acara katering.

Seminggu kemudian, beliau menawariku pekerjaan.

Rp45 juta sebulan.

Syaratnya hanya satu.

Mengurus makanan Galang.

Aku langsung menerima sebelum beliau selesai menjelaskan.

Romantisme boleh menunggu.

SPP tidak.

“Aku peduli,” kataku akhirnya. “Aku cuma memilih hal mana yang layak dipedulikan.”

Galang menatapku lama.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya tidak terlihat menyebalkan.

Malam acara ulang tahun kampus tiba.

Gedung utama dipenuhi tamu, alumni, sponsor, dan beberapa food blogger terkenal Bandung.

Aku tidak datang sebagai anggota tim dapur.

Aku datang sebagai mahasiswa biasa.

Tanpa celemek.

Tanpa pisau.

Tanpa tanggung jawab.

Rasanya luar biasa.

Aku bahkan membeli es kopi dan duduk di barisan belakang aula sambil menonton orang lain bekerja.

Di dapur, Tiara memimpin belasan mahasiswa.

Menu utama malam itu adalah sup herbal dengan daging sapi panggang, hidangan yang resep dasarnya berasal dari buku ayahku.

Aku tahu karena Tiara mengambil foto beberapa halaman sebelum buku itu dikunci Bu Yanti.

Aku sebenarnya bisa mempermasalahkannya.

Namun ada satu alasan aku tidak melakukannya.

Tiara hanya memotret halaman resep.

Dia tidak membaca catatan kecil di halaman berikutnya.

Kaldu herbal ayahku menggunakan dua jenis akar kering yang bentuknya hampir sama.

Salah satunya harus direndam terlebih dahulu karena rasa pahitnya sangat kuat.

Aku duduk tenang.

Sampai lima belas menit sebelum makanan disajikan, seorang mahasiswa berlari keluar dari dapur.

Wajahnya pucat.

“Bu Yanti!”

Beberapa orang menoleh.

“Kuahnya pahit banget.”

Bu Yanti langsung berdiri.

Tiara keluar beberapa detik kemudian.

“Bisa diperbaiki.”

“Kita punya seratus delapan puluh porsi!” kata salah satu panitia.

Tiara menggigit bibir.

Food blogger yang diundang sudah mulai melakukan siaran langsung dari aula.

Sponsor duduk di meja depan.

Dan tepat saat suasana mulai kacau, Bu Ratna datang.

Beliau mengenakan setelan krem sederhana.

Galang berjalan di sampingnya.

Begitu melihatku duduk sambil memegang es kopi, Bu Ratna berhenti.

“Laras?”

Aku tersenyum.

“Selamat malam, Bu.”

“Kamu ngapain di sini?”

“Nonton.”

“Kenapa nggak di dapur?”

Aku menunjuk Bu Yanti.

“Saya dilarang masuk.”

Bu Ratna menoleh perlahan.

Aku hampir merasa kasihan pada Bu Yanti.

Hampir.

“Dilarang?”

Bu Yanti segera menghampiri kami.

“Bu Ratna, ada sedikit kesalahpahaman. Untuk acara ini kami memang sudah menunjuk Tiara sebagai koordinator.”

“Lalu Laras?”

“Dia sempat mengganggu proses persiapan.”

Bu Ratna memandang tanganku yang masih diperban tipis.

“Dengan tangannya sampai terluka seperti itu?”

Bu Yanti terdiam.

Tiara buru-buru keluar dari dapur.

“Tante, ini hanya kecelakaan kecil.”

Bu Ratna memandangnya.

“Tante?”

Tiara tersenyum manis. “Saya Tiara. Mama saya pernah bertemu Tante di acara yayasan.”

“Oh.”

Hanya satu kata.

Entah kenapa satu kata itu terdengar lebih menyakitkan daripada penghinaan panjang.

Tiara segera mengubah topik.

“Supnya memang ada sedikit masalah, tapi saya bisa memperbaikinya.”

Bu Ratna menoleh kepadaku.

“Bisa?”

Aku mengangkat bahu.

“Bisa.”

Wajah Tiara langsung berubah.

“Tapi Laras bukan bagian dari tim.”

Bu Ratna menatap jam tangannya.

“Kalau begitu biarkan timmu memperbaikinya.”

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Dari dapur terdengar suara orang berdebat.

Gula sudah ditambahkan.

Garam ditambahkan.

Kaldu baru dicampurkan.

Rasanya justru semakin aneh.

Akhirnya ketua panitia acara datang sendiri kepadaku.

“Laras, tolong.”

Aku melihat Bu Yanti.

Beliau menghindari tatapanku.

“Bukankah saya dilarang masuk dapur praktik?”

Wajahnya memerah.

“Larangan itu saya cabut.”

Aku berdiri.

“Buku resep ayah saya?”

Beliau langsung mengambil kunci.

Begitu buku itu kembali ke tanganku, aku masuk ke dapur.

Panci besar mengepul di tengah ruangan.

Aku mencicipi satu sendok.

Pahit.

Asin.

Manis.

Rasanya seperti seseorang memasukkan seluruh masalah hidupnya ke dalam satu panci.

“Matikan api.”

Tiara berdiri di sudut.

“Aku sudah mencoba memperbaikinya.”

“Aku tahu.”

Aku mengambil beberapa bahan.

“Makanya jadi lebih susah.”

Beberapa mahasiswa menahan tawa.

Aku membuat ekstrak kaldu baru dengan bahan yang masih tersisa, kemudian menyeimbangkan rasa pahit menggunakan sari sayuran panggang dan sedikit asam alami.

Tidak sempurna.

Tapi setelah dua puluh menit, rasanya kembali layak disajikan.

Salah satu mahasiswa mencicipinya.

Matanya membesar.

“Ini enak.”

Tiara mengambil sendok dan mencicipi.

Wajahnya menegang.

Aku melepas celemek.

“Selesai.”

Saat hendak pergi, Tiara tiba-tiba berkata, “Tunggu.”

Semua orang menoleh.

Dia mengangkat buku resep ayahku.

“Kita nggak tahu dia benar-benar membuat resep ini sendiri.”

Aku berhenti.

“Tiara.”

“Buku ini bisa saja bukan milik ayahnya.”

Dia membawa buku itu keluar menuju aula.

Aku mengikuti.

Di depan para tamu, Tiara meminta mikrofon.

“Ada sesuatu yang perlu dijelaskan.”

Ruangan perlahan sunyi.

“Menu malam ini menggunakan resep yang diklaim Laras sebagai resep keluarganya. Tapi tidak ada bukti.”

Dia membuka buku ayahku.

“Bahkan resep di dalamnya terlihat seperti salinan resep restoran.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku mengeras.

Selama ini aku bisa menertawakan gosip.

Aku bisa mengabaikan tuduhan mengejar Galang.

Aku bahkan bisa memaafkan luka di tanganku.

Tapi buku itu berbeda.

Itu adalah satu-satunya benda yang masih menyimpan tulisan tangan ayahku.

Aku berjalan ke depan.

“Berikan.”

Tiara mundur.

“Kalau memang asli, buktikan.”

Sebelum aku menjawab, sebuah suara terdengar dari meja sponsor.

“Saya bisa membuktikannya.”

Semua kepala menoleh.

Bu Ratna berdiri.

Beliau berjalan menuju panggung, mengambil buku itu dari tangan Tiara, lalu membuka halaman pertama.

Di sana ada tulisan kecil yang hampir pudar.

Warung Sari Rasa, 2004.

Bu Ratna mengangkat mikrofon.

“Dua puluh dua tahun lalu, ketika perusahaan keluarga saya belum sebesar sekarang, saya pernah makan di sebuah warung kecil di Lembang.”

Aku membeku.

“Saya sedang hamil dan tidak bisa makan hampir apa pun karena mual parah. Pemilik warung itu memasakkan sup khusus untuk saya.”

Beliau memandangku.

“Namanya Pak Hendra.”

Ayahku.

Aula benar-benar sunyi.

“Bertahun-tahun kemudian saya kembali mencarinya. Warungnya sudah tutup.”

Bu Ratna menarik napas.

“Ketika saya mencicipi masakan Laras untuk pertama kali, saya mengenali rasa itu.”

Aku tidak pernah tahu.

Bu Ratna tidak pernah menceritakannya.

Beliau tersenyum kepadaku.

“Itulah alasan saya mempekerjakan Laras.”

Tiara tiba-tiba berkata, “Mempekerjakan?”

Galang juga menoleh cepat.

“Mempekerjakan?”

Aku menutup mata sebentar.

Nah.

Akhirnya.

Rahasia Rp45 juta itu mati malam ini.

Bu Ratna tampak baru menyadari sesuatu.

“Kamu belum tahu?”

Galang menatapku.

“Tahu apa?”

Ibunya menjawab dengan tenang, “Laras adalah koki pribadimu.”

Keheningan yang terjadi setelah itu luar biasa.

Seseorang di belakang bahkan menjatuhkan sendok.

Galang menatapku seolah seluruh hidupnya baru saja berubah.

“Jadi semua bekal itu…”

“Pekerjaan.”

“Kamu datang tengah malam waktu aku sakit…”

“Lembur.”

“Kamu hafal makanan yang aku suka…”

“Job description.”

Wajah Galang perlahan kehilangan ekspresi.

Aku merasa sedikit bersalah.

Sedikit sekali.

Lalu seseorang dari kelompok mahasiswa berbisik cukup keras.

“Berarti Laras nggak mengejar Galang?”

Temannya menjawab, “Dia mengejar gaji.”

Aku ingin bertepuk tangan.

Bu Ratna mengambil mikrofon lagi.

“Dan mengenai kompetisi memasak antarkampus, saya memang salah satu sponsor.”

Tiara langsung menegakkan tubuh.

“Tante, saya bisa menjelaskan soal daftar peserta.”

“Tidak perlu.”

Bu Ratna menoleh kepada ketua panitia.

“Sponsor tidak menentukan peserta, benar?”

Ketua panitia segera mengangguk.

“Benar, Bu. Seleksi harus berdasarkan penilaian juri independen.”

“Bagus.”

Beliau menyerahkan mikrofon.

“Kalau begitu lakukan seleksi ulang.”

Bu Yanti tampak pucat.

Keesokan harinya, rekaman CCTV dapur diperiksa.

Terlihat jelas Tiara sengaja menghalangi tanganku dengan spatula.

Terlihat juga dia mengambil foto buku resep tanpa izin.

Namaku dikembalikan ke daftar seleksi.

Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.

Kompetisi memasak tingkat kota dimulai.

Tiara tetap ikut karena secara akademis dia memenuhi syarat.

Kami bertemu di babak final.

Tema terakhir sederhana.

Masakan yang mengingatkan pada rumah.

Tiara membuat hidangan mewah dengan teknik modern.

Aku membuat sup bening, ayam panggang, dan sambal tomat.

Menu sederhana yang dulu dijual ayahku.

Ketika juri mengumumkan hasilnya, aku tidak langsung memahami apa yang mereka katakan.

“Juara pertama, Laras Hendra.”

Tanganku gemetar.

Bukan karena piala.

Bukan pula karena tepuk tangan.

Aku melihat hadiah Rp75 juta di layar.

Dalam hati aku langsung menghitung uang semester depan.

Setelah acara, Galang menungguku di luar gedung.

Dia menyodorkan sebuah kotak kecil.

Aku menatap curiga.

“Apa ini?”

“Hadiah.”

“Kalau isinya cincin, aku kembalikan.”

Dia tertawa.

“Kenapa?”

“Hubungan romantis nggak ada BPJS ketenagakerjaannya.”

“Buka dulu.”

Di dalamnya ada sebuah kunci.

Aku mengernyit.

Galang menunjuk ke seberang jalan.

Sebuah ruko kecil berdiri di sana.

Papan di depannya tertutup kain.

Bu Ratna muncul dari belakang kami.

“Buka.”

Aku menarik kain itu.

Tulisan di papan membuat napasku berhenti.

Warung Sari Rasa.

Nama warung ayahku.

Aku menoleh kepada Bu Ratna.

Beliau tersenyum.

“Bukan hadiah.”

Aku langsung lega.

“Ini investasi. Kamu tetap harus mengembalikan modalnya.”

Aku hampir menangis, lalu urung.

“Berapa persen?”

Bu Ratna tertawa.

Galang memegang dahinya.

“Kamu benar-benar nggak bisa romantis sedikit?”

Aku menggenggam buku resep ayahku di dada.

“Bisa.”

Aku memandang papan nama itu lagi.

“Tapi nanti setelah laporan keuangan selesai.”

Enam bulan kemudian, Warung Sari Rasa selalu penuh setiap malam.

Tiara tidak pernah menjadi pacar Galang.

Aku juga tidak.

Setidaknya belum.

Dia masih sering datang, duduk di meja dekat dapur, lalu mengeluh karena telur rebusnya terlalu matang tiga puluh detik.

Bedanya sekarang, aku tidak harus menuruti permintaannya.

Suatu malam dia memanggilku.

“Laras.”

“Apa?”

“Telurnya terlalu matang.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu jangan dimakan.”

Dia terdiam.

Aku berjalan kembali ke dapur.

Beberapa detik kemudian dia berteriak dari meja.

“Aku bayar!”

Aku berhenti.

Perlahan aku berbalik.

“Kenapa nggak bilang dari tadi?”

Seluruh staf dapur tertawa.

Dan saat itu aku akhirnya mengerti sesuatu yang dulu sering dikatakan ayah.

Tidak semua orang yang meremehkan kita harus dilawan.

Tidak semua fitnah harus dijelaskan.

Kadang-kadang kita hanya perlu terus melakukan apa yang kita kuasai sampai kenyataan berbicara lebih keras daripada gosip.

Aku pernah dikira perempuan yang mengejar pewaris keluarga kaya dengan kotak makan.

Pada akhirnya, memang ada sesuatu yang kukejar.

Bukan Galang.

Bukan keluarganya.

Bukan pula kehidupan mewah mereka.

Aku hanya mengejar kehidupan yang sejak dulu ingin dibangun ayah untukku.

Dan ternyata, setelah berputar sejauh itu, jalan tersebut membawaku kembali ke sebuah dapur kecil dengan nama ayah terpampang di depan pintunya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang