SEORANG AYAH TUNGGAL HANYA MASUK KE TOILET KANTOR UNTUK MENCARI PUTRI KECILNYA YANG TERSASAR.

Namaku Damar.

Empat tahun lalu, istriku meninggal karena kanker.

Sejak hari itu, hidupku seolah menyusut menjadi dua hal saja. Bekerja sekeras mungkin, lalu pulang untuk membesarkan satu-satunya alasan aku masih mampu bangun setiap pagi, putriku, Naya.

Usianya baru lima tahun.

Naya punya rambut hitam sebahu, mata besar yang selalu penuh rasa ingin tahu, dan kebiasaan bertanya tentang apa saja.

Kenapa awan bisa bergerak.

Kenapa orang dewasa suka minum kopi pahit.

Kenapa Mama tinggal di langit tapi tidak pernah menelepon.

Pertanyaan terakhir itu selalu membuatku kehilangan jawaban.

Biasanya Naya tinggal bersama pengasuh. Namun pagi itu Mbak Wati tiba-tiba demam tinggi. Aku tidak punya keluarga dekat di Jakarta yang bisa dimintai bantuan.

Jadi aku membawanya ke kantor.

Bukan pertama kali.

Teman-teman sekantor sudah mengenalnya.

Naya akan duduk di sofa ruang tunggu, menggambar, makan biskuit, lalu berkeliling menyapa semua orang seperti sedang melakukan inspeksi.

Semua orang menyayanginya.

Hampir semua.

Satu-satunya orang yang selalu terlihat terganggu setiap kali Naya datang adalah direktur kami.

Selena Wijaya.

Usianya sekitar tiga puluh lima tahun.

Cantik, cerdas, kaya, dan terkenal sangat dingin.

Di belakang punggungnya, kami memanggilnya Ratu Batu.

Selena tidak pernah bercanda.

Tidak pernah ikut makan siang bersama karyawan.

Tidak pernah menghadiri ulang tahun staf.

Bahkan ketika seorang karyawan perempuan menangis karena ibunya meninggal, Selena hanya berdiri di samping mejanya dan berkata datar, “Ambil cuti tiga hari. Pastikan pekerjaanmu dialihkan dengan benar.”

Orang-orang menganggapnya tidak punya hati.

Aku termasuk salah satunya.

Hari itu perusahaan sedang mengadakan rapat evaluasi tahunan.

Semua kepala divisi hadir.

Aku bekerja di bagian keuangan sehingga tidak mungkin meninggalkan kantor.

Sebelum masuk ruang rapat, aku berjongkok di depan Naya.

“Ayah rapat sebentar. Jangan ke mana-mana, ya.”

Naya mengangguk sambil menggambar seekor kelinci dengan tiga telinga.

“Aku di sini.”

“Kalau mau ke toilet?”

“Panggil Tante Rina.”

“Pintar.”

Aku mencium keningnya lalu masuk ke ruang rapat.

Lima belas menit kemudian, ponselku bergetar.

Pesan dari Rina.

Mas Damar, Naya enggak ada di ruang tunggu.

Darahku langsung terasa dingin.

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser keras.

Semua orang menoleh.

Selena yang sedang menjelaskan grafik penjualan berhenti bicara.

“Ada masalah?”

“Anak saya hilang.”

Aku bahkan tidak menunggu izinnya.

Aku keluar dari ruang rapat.

Rina sudah berdiri panik di lorong.

“Tadi aku cuma ke pantry sebentar. Waktu balik, Naya sudah enggak ada.”

Kami membagi arah.

Aku mencari ke pantry, ruang arsip, ruang istirahat, bahkan tangga darurat.

“Naya!”

Tidak ada jawaban.

Saat melewati ujung koridor lantai eksekutif, aku melihat pintu toilet wanita sedikit terbuka.

Aku berhenti.

Seharusnya aku tidak masuk.

Namun kemudian terdengar suara seperti benda jatuh.

Diikuti suara napas seseorang yang tergesa.

Aku mengetuk.

“Permisi. Naya?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi.

“Naya, kamu di dalam?”

Kemudian aku mendengar suara kecil putriku.

“Ayah?”

Tanpa berpikir panjang aku mendorong pintu.

“Naya?”

Ia berdiri dekat wastafel paling ujung.

Tetapi bukan Naya yang membuatku membeku.

Di depan wastafel berdiri Selena.

Wajahnya pucat.

Blazernya sudah dilepas.

Kemeja putihnya ternoda merah di bagian lengan.

Dan kedua tangannya dipenuhi darah.

Selena sedang mencuci darah itu dengan terburu-buru.

Aku terdiam.

Selena menatapku melalui cermin.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan di matanya.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Takut.

“Naya,” kataku perlahan, “kemari.”

Naya berlari ke arahku.

Aku langsung memeluknya.

“Ayah, Tante Selena tangannya luka.”

Aku melihat kedua tangan Selena.

Tidak ada luka.

Darah itu bukan darahnya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

Selena mematikan keran.

“Bawa anakmu keluar.”

“Darah siapa itu?”

Tatapannya berubah keras.

“Itu bukan urusanmu.”

Aku hendak membalas ketika sebuah amplop putih jatuh dari sela bingkai cermin di belakang wastafel.

Selena langsung bergerak mengambilnya.

Namun aku lebih dekat.

Aku memungut amplop tersebut.

“Berikan.”

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi seperti seorang direktur memerintah karyawan.

Seperti seseorang yang memohon.

Aku menatap amplop itu.

Di bagian depan tertulis satu nama.

Untuk Selena.

Tulisan tangannya tidak rapi.

Di sudut amplop terdapat bercak darah.

“Damar.”

Aku menatapnya.

“Berikan surat itu.”

“Darah siapa?”

Selena diam.

Aku membuka surat.

Ia mencoba merebutnya.

Aku mundur.

“Jangan!”

Suara Selena pecah.

Naya memeluk kakiku.

Aku membaca cepat.

Surat itu hanya beberapa paragraf.

Isinya ditulis oleh seorang pria bernama Adrian.

Ia meminta maaf.

Mengaku telah mengikuti Selena selama berbulan-bulan.

Mengaku sengaja merusak rem mobilnya beberapa minggu sebelumnya.

Mengaku malam itu datang ke kantor untuk memaksa Selena menandatangani dokumen pengalihan saham.

Lalu di bagian bawah…

ada satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku kaku.

Jika sesuatu terjadi padaku malam ini, jangan percaya siapa pun di perusahaan, terutama ayahmu sendiri.

Aku mengangkat kepala.

Selena menatapku tanpa suara.

“Ayah Anda?”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar.

Selena langsung merebut surat itu.

“Keluar sekarang.”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kalau kamu ingin putrimu tetap aman, jangan tanyakan apa pun.”

Aku menatap Naya.

Kalimat itu membuat amarahku naik.

“Jangan libatkan anak saya.”

“Justru karena anakmu sudah melihat terlalu banyak.”

Pintu toilet terbuka.

Seorang pria tua berdiri di sana.

Rambutnya memutih, jasnya mahal, wajahnya sangat tenang.

Aku mengenalnya.

Leonard Wijaya.

Pendiri perusahaan.

Ayah Selena.

Ia tersenyum tipis.

“Damar. Sedang apa kamu di toilet wanita?”

Sebelum aku sempat menjawab, Selena berkata, “Naya tersesat. Aku menemukannya.”

Leonard melihat tangan Selena yang masih basah.

Lalu darah di wastafel.

Ekspresinya tidak berubah.

“Hm.”

Hanya itu.

Leonard berjalan mendekati putrinya.

“Kamu baik-baik saja?”

Selena mengangguk.

Aku melihat tangannya mengepal.

Leonard kemudian menatapku.

“Kembali bekerja.”

Nada suaranya lembut.

Namun entah mengapa aku merasa sedang diancam.

Aku membawa Naya keluar.

Sepanjang sore, aku tidak bisa fokus.

Kalimat dalam surat itu terus terngiang.

Jangan percaya siapa pun di perusahaan, terutama ayahmu sendiri.

Sekitar pukul tujuh malam, sebagian besar karyawan sudah pulang.

Aku bersiap membawa Naya pulang ketika Rina mendekat.

“Mas Damar.”

“Hm?”

“Tadi ada polisi datang.”

Aku menoleh.

“Polisi?”

“Iya. Katanya ada pria ditemukan terluka di basement.”

Jantungku berdegup keras.

“Siapa?”

Rina menurunkan suaranya.

“Katanya namanya Adrian.”

Aku langsung memandang pintu ruangan Selena.

Kosong.

Aku membawa Naya ke parkiran.

Namun ketika kami sampai dekat mobil, seorang pria berseragam keamanan menghampiri.

“Pak Damar?”

“Iya.”

“Ibu Selena minta Anda menunggu.”

“Di mana?”

“Basement dua.”

Aku menatap Naya.

Instingku berkata jangan turun.

Namun rasa ingin tahuku lebih kuat.

Aku menggendong Naya dan masuk lift.

Saat pintu lift terbuka di basement dua, suasananya sepi.

Selena berdiri di dekat mobil hitamnya.

Kini ia mengenakan jaket panjang.

Darah di tangannya sudah hilang.

“Apa yang terjadi pada Adrian?” tanyaku.

Selena tidak menjawab.

“Apa Anda melukainya?”

“Tidak.”

“Lalu darah itu?”

Selena menatap Naya.

Kemudian kepadaku.

“Adrian datang ke kantor.”

Ia menarik napas.

“Dia menyerangku.”

Aku terdiam.

“Aku melawan. Dia jatuh dan kepalanya terbentur meja.”

“Kenapa Anda menyembunyikan suratnya?”

“Karena surat itu bukan pengakuan. Itu umpan.”

Selena mengeluarkan amplop tadi.

“Adrian bekerja untuk ayahku.”

Aku tidak langsung percaya.

“Kenapa dia menulis jangan percaya ayah Anda?”

“Karena dia ingin aku berpikir ayahku akan membunuhnya. Padahal sebenarnya ayahku ingin tahu apakah aku masih menyimpan bukti.”

“Bukti apa?”

Selena tertawa kecil.

Namun tidak ada kegembiraan di sana.

“Dua belas tahun lalu, ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil.”

Aku menelan ludah.

“Polisi bilang remnya rusak.”

“Seperti mobil Anda?”

Selena mengangguk.

“Aku baru tahu enam bulan lalu bahwa rem mobil ibuku sengaja dirusak.”

“Siapa?”

“Ayahku.”

Aku merasa merinding.

“Kenapa?”

“Karena ibuku ingin melaporkan penggelapan dana perusahaan.”

Selena menunjukkan sesuatu dari ponselnya.

Rekaman transfer.

Nama perusahaan.

Nominal miliaran rupiah.

Dan nama Leonard Wijaya muncul berulang kali.

“Ayahku membangun perusahaan ini dengan uang kotor. Ibuku mengetahuinya.”

Aku memandang Naya yang mulai mengantuk dalam pelukanku.

“Kenapa Anda tidak lapor polisi?”

“Karena orang pertama yang aku percaya ternyata bekerja untuk ayahku.”

“Adrian?”

Selena mengangguk.

Aku mulai memahami.

Semua sikap dinginnya.

Semua jarak yang ia buat.

Mungkin bukan karena ia tidak punya hati.

Mungkin karena ia tidak percaya siapa pun.

“Kenapa Anda memberitahu saya?”

Selena menatap Naya.

“Karena anakmu mengambil sesuatu tadi.”

Aku melihat Naya.

“Naya?”

Naya membuka tas kecilnya.

“Aku pikir ini flashdisk Ayah.”

Ia mengeluarkan benda hitam kecil.

Wajah Selena langsung berubah.

“Itu milik Adrian.”

Aku mengambilnya.

“Apa isinya?”

“Bukti terakhir.”

Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari belakang.

Pelan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kami menoleh.

Leonard berdiri beberapa meter dari kami.

Dua pria berbadan besar di belakangnya.

“Bagus sekali,” katanya.

“Jadi akhirnya ketemu juga.”

Selena berdiri di depan kami.

“Ayah.”

Leonard menghela napas.

“Sejak kecil kamu selalu terlalu penasaran.”

“Seperti Mama?”

Ekspresi Leonard membeku.

Selena menatapnya lurus.

“Adrian sudah bicara.”

Leonard tersenyum.

“Adrian tidak akan bicara lagi.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

Selena langsung mengeluarkan ponsel.

Namun salah satu pria di belakang Leonard bergerak maju.

Aku menarik Naya ke belakangku.

Leonard mengangkat tangan.

“Tenang.”

Ia menatapku.

“Damar, aku tidak punya masalah denganmu.”

“Bagus.”

“Berikan flashdisk itu.”

Aku menggenggamnya lebih erat.

“Lalu?”

“Kamu pulang. Besok bonusmu naik.”

Aku hampir tertawa.

“Kalau saya menolak?”

Leonard melihat Naya.

Tatapan itu membuat seluruh tubuhku menegang.

“Jangan.”

Suaraku berubah.

“Jangan lihat anak saya seperti itu.”

Leonard tersenyum.

“Kamu ayah yang baik. Karena itu kamu harus tahu kapan harus berhenti mencampuri urusan orang lain.”

Naya tiba-tiba menarik bajuku.

“Ayah.”

Aku menunduk.

“Apa?”

“Flashdisknya bukan yang itu.”

Semua orang diam.

Aku menatap tanganku.

Naya membuka kantong jaketnya.

Ia mengeluarkan flashdisk lain.

“Yang asli ini. Yang tadi punya Ayah.”

Aku hampir tidak percaya.

Selena menatap Naya.

Leonard kehilangan senyumnya.

Aku langsung memahami peluang kecil itu.

Aku melempar flashdisk palsu ke arah sisi lain basement.

Salah satu pria Leonard refleks mengejarnya.

Selena menarik tanganku.

“Lari!”

Kami berlari menuju tangga darurat.

Naya menangis dalam gendonganku.

Suara langkah mengejar dari belakang.

Kami naik satu lantai.

Dua lantai.

Selena menekan nomor seseorang.

“Angkat. Tolong angkat.”

Seseorang menjawab.

Selena berkata cepat, “Sekarang.”

Kami keluar di lobi.

Pintu utama terbuka.

Tiga mobil polisi berhenti.

Beberapa petugas masuk.

Leonard yang muncul beberapa detik kemudian langsung berhenti.

Wajahnya berubah.

Selena berdiri di sampingku.

“Kamu sudah menghubungi polisi?”

“Bukan polisi.”

Ia menatap petugas yang berjalan masuk bersama seorang pria berkacamata.

“KPK.”

Leonard pucat.

Pria berkacamata itu menunjukkan surat.

“Leonard Wijaya, kami memiliki surat perintah pemeriksaan dan penyitaan.”

Leonard menatap Selena.

“Kamu menjebakku.”

Selena menggeleng.

“Tidak, Yah.”

Suaranya bergetar.

“Aku hanya berhenti melindungimu.”

Malam itu berlangsung sangat panjang.

Kami dimintai keterangan.

Flashdisk Adrian ternyata berisi salinan transaksi, rekaman percakapan, dokumen perusahaan, dan sebuah rekaman suara lama.

Rekaman suara ibu Selena.

Bukti bahwa ia pernah diancam Leonard beberapa hari sebelum kecelakaan.

Adrian selamat.

Lukanya tidak separah yang kami takutkan.

Dan beberapa hari kemudian, setelah mendapatkan perlindungan hukum, ia memilih memberikan kesaksian.

Kasus itu menjadi besar.

Leonard ditahan.

Beberapa eksekutif lain ikut diperiksa.

Selena mengundurkan diri sementara selama proses investigasi.

Aku pikir setelah semua selesai, hidup kami akan kembali normal.

Aku salah.

Dua minggu kemudian Selena datang ke meja kerjaku.

Tidak dengan blazer mahal.

Tidak dengan sepatu hak tinggi.

Ia mengenakan kemeja sederhana dan celana hitam.

Di tangannya ada dua kotak es krim.

“Naya ada?”

Aku menunjuk sofa.

Naya sedang menggambar.

Begitu melihat Selena, ia langsung berlari.

“Tante Selena!”

Selena berjongkok.

“Aku bawa cokelat.”

Naya tertawa.

Aku memperhatikan mereka.

Aneh.

Wanita yang selama bertahun-tahun kami anggap tidak punya hati justru terlihat sangat berbeda ketika tidak sedang bersembunyi di balik dindingnya.

Sebelum pergi, Selena berdiri di sampingku.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena hari itu kamu tidak pura-pura tidak melihat.”

Aku tersenyum tipis.

“Saya sebenarnya sangat ingin pura-pura.”

Selena tertawa.

Itu pertama kalinya aku mendengar ia tertawa.

“Kenapa tidak?”

Aku menatap Naya.

“Karena sejak jadi ayah, saya sadar satu hal.”

“Apa?”

“Anak-anak akan belajar dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.”

Selena diam.

Aku melanjutkan.

“Kalau hari itu saya memilih diam karena takut, mungkin suatu hari Naya juga akan belajar diam ketika melihat sesuatu yang salah.”

Selena menatap putriku.

Kemudian ia berkata pelan, “Ibumu pasti bangga.”

Aku tidak menjawab.

Dadaku terasa sesak.

Sudah lama sekali seseorang tidak mengatakan itu.

Naya tiba-tiba berlari menghampiri sambil membawa gambar.

“Ayah, lihat.”

Dalam gambar itu ada tiga orang.

Aku.

Naya.

Dan seorang perempuan berambut panjang.

Aku menelan ludah.

“Ini siapa?”

Naya menunjuk perempuan itu.

“Tante Selena.”

Selena membeku.

“Kenapa aku ada di situ?”

Naya menjawab polos.

“Karena Tante sekarang sudah bisa senyum.”

Selena menutup mulut.

Matanya memerah.

Untuk pertama kalinya aku melihat Ratu Batu menangis.

Dan yang lebih mengejutkan…

ia tidak menghapus air matanya.

Ia membiarkannya jatuh.

Mungkin karena akhirnya ia sadar bahwa air mata memang tidak selalu menyelesaikan masalah.

Tetapi kadang-kadang…

air mata adalah tanda bahwa seseorang masih punya hati setelah bertahun-tahun dipaksa hidup seolah-olah tidak memilikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang