Pada malam ketujuh pernikahan kami, aku menemukan darah mengalir dari telinga suamiku.
Saat itu hujan turun begitu deras di lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah. Angin mengguncang jendela rumah kayu kami, sementara Mateo duduk membungkuk di depan tungku, memegangi sisi kanan kepalanya.
Aku baru selesai mencuci piring ketika melihat tetesan merah jatuh ke lantai.
“Mas Mateo!”
Dia tidak menoleh.
Aku berlari menghampirinya. Ketika kusentuh bahunya, tubuhnya tersentak hebat. Wajahnya pucat, napasnya memburu, dan kedua tangannya gemetar.
Dari telinga kanannya, sesuatu yang berwarna hitam tampak menyembul di antara darah yang mulai mengering.
Aku belum tahu bahwa benda kecil itulah yang kelak membuat seluruh penduduk desa terdiam, menyeret seorang tokoh paling dihormati ke penjara, dan mengungkap alasan sebenarnya mengapa aku dinikahkan dengan pria yang mereka juluki Si Tuli Gila.
Namaku Elena. Usiaku dua puluh enam tahun.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa menjadi bahan tertawaan orang-orang di Desa Kaliputih, sebuah desa pertanian di lereng Gunung Sumbing.
Tubuhku besar. Pipiku bulat. Lenganku tidak sekurus perempuan-perempuan yang sering dipuji cantik oleh tetangga.
Ibuku selalu mengatakan bahwa kecantikan tidak menentukan nilai seseorang. Namun setelah beliau meninggal tiga tahun lalu, tidak ada lagi yang membelaku ketika ayah dan kakakku mulai memperlakukanku seperti beban.

Ayahku, Darsono, dahulu seorang petani yang cukup berhasil. Kami memiliki sebidang kebun kentang dan rumah sederhana peninggalan kakek.
Semuanya berubah ketika kakakku, Renato, mulai berjudi daring.
Awalnya dia hanya meminjam beberapa juta rupiah. Kemudian belasan juta. Hingga akhirnya utangnya mencapai delapan puluh juta rupiah.
Ayah menjaminkan tanah kami kepada Pak Surya, seorang pengusaha hasil pertanian yang juga dikenal sebagai pemberi pinjaman paling berpengaruh di kecamatan.
Ketika batas pembayaran tiba, Pak Surya menawarkan penyelesaian yang tidak pernah kubayangkan.
Aku harus menikah dengan Mateo.
“Dia punya tanah luas, tapi tidak punya keluarga. Orang seperti itu butuh istri yang mau mengurus rumah,” kata ayah.
“Kenapa harus aku?”
Ayah menggebrak meja.
“Karena kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan keluarga ini!”
Renato hanya tertawa dari kursinya.
“Syukuri saja, Len. Mana ada laki-laki mau menikahimu kalau bukan karena terpaksa?”
Aku menangis semalaman.
Bukan karena Mateo miskin atau tuli, melainkan karena ayahku menganggap hidupku dapat ditukar dengan selembar surat pelunasan utang.
Pernikahan kami berlangsung sederhana di kantor urusan agama.
Mateo berusia empat puluh tahun. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, dan kulitnya gelap terbakar matahari.
Dia hampir tidak berbicara. Setiap kali seseorang menyapanya, dia hanya menunduk atau mengeluarkan buku catatan kecil.
Penduduk desa menyebutnya Si Tuli Gila.
Konon, tujuh tahun sebelumnya, Mateo pernah mengamuk di gudang milik Pak Surya. Dia menghancurkan beberapa karung pupuk, memukul seorang mandor, lalu menghilang selama berbulan-bulan.
Ketika kembali, dia sudah kehilangan pendengaran.
Tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Pada malam pertama, aku duduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar.
Mateo mengambil buku catatannya dan menulis.
“Kamu boleh tidur di kamar. Aku tidur di ruang depan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Dia kemudian menambahkan kalimat lain.
“Aku tahu kamu tidak memilih pernikahan ini. Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun.”
Mataku langsung panas.
Selama bertahun-tahun, tidak ada laki-laki yang pernah memperlakukanku dengan kelembutan seperti itu.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesunyian.
Mateo bangun sebelum matahari terbit untuk mengurus kebun kubis, kentang, dan wortel di belakang rumah.
Aku memasak, membersihkan rumah, dan sesekali membantunya memilah hasil panen.
Dia selalu memastikan aku makan lebih dahulu.
Ketika hujan turun, dia meletakkan jaket tebal di dekat kursiku.
Ketika kakiku terluka karena terpeleset di kebun, dia membersihkan lukanya dengan hati-hati.
Dan setiap kali aku mencoba mengangkat karung yang terlalu berat, dia segera mengambilnya sambil menggeleng.
Suatu sore, aku menulis di bukunya.
“Kenapa Mas mau menikah denganku?”
Dia membaca pertanyaanku cukup lama.
Kemudian menulis jawaban yang membuat dadaku sesak.
“Karena aku tahu bagaimana rasanya ketika orang lain memutuskan bahwa hidup kita tidak berharga.”
Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi dia menutup buku itu.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan kebiasaannya.
Setiap malam, tepat sebelum tidur, Mateo selalu memeriksa jendela dan mengunci pintu dua kali.
Dia tidak pernah mau melewati jalan menuju gudang tua milik Pak Surya.
Dan setiap kali melihat mobil pikap hitam milik Renato, wajahnya berubah tegang.
Pernah suatu malam aku terbangun karena mendengar suara benda jatuh.
Mateo sedang duduk di lantai dapur, memegangi telinganya sambil meringis.
Ketika aku mendekat, dia buru-buru berdiri.
“Mas sakit?” tanyaku sambil menunjukkan tulisan di ponsel.
Dia menggeleng.
Namun di atas lantai terdapat sehelai kapas bernoda darah.
Aku mendesaknya agar mau diperiksa ke dokter.
Dia hanya menulis satu kalimat.
“Jangan percaya orang-orang yang dikirim Surya.”
Aku tidak mengerti.
Sampai malam ketujuh itu tiba.
Ketika menemukan darah mengalir dari telinganya, aku segera mengambil kotak P3K.
Mateo berusaha menjauh, tetapi tubuhnya terlalu lemah.
Aku menyalakan lampu dan memeriksa telinga kanannya.
Ada sesuatu yang aneh.
Bukan sekadar kotoran telinga atau luka biasa.
Di dekat lubang telinganya terlihat ujung benda hitam yang sangat kecil, tertutup kerak darah.
Aku pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama ketika bekerja di sebuah klinik di Temanggung. Karena itu, aku tahu benda asing yang tertanam di telinga tidak boleh dicabut sembarangan.
Aku mengambil ponsel dan mengetik.
“Mas harus ke rumah sakit sekarang.”
Mateo membaca tulisan itu.
Untuk pertama kalinya, dia mencengkeram tanganku begitu kuat hingga aku terkejut.
Matanya membelalak ketakutan.
Dia menggeleng berkali-kali.
Kemudian mengambil buku catatannya dengan tangan gemetar.
“Kalau mereka tahu benda itu masih ada, kita berdua akan dibunuh.”
Aku merasakan darahku seolah berhenti mengalir.
“Siapa mereka?”
Mateo menatapku lama.
Lalu menulis sebuah nama.
“Surya.”
Malam itu juga aku memesan mobil dari seorang pengemudi yang biasa mengantar sayuran ke kota.
Aku tidak membawa Mateo ke puskesmas desa. Aku membawanya ke rumah sakit di Magelang, tempat seorang teman lamaku bekerja sebagai perawat.
Dokter THT yang memeriksanya bernama dr. Rendra.
Setelah pemeriksaan awal, dokter menemukan jaringan parut lama, peradangan, dan benda asing kecil yang tertanam dekat liang telinga kanan.
Pemeriksaan pencitraan dilakukan untuk memastikan letaknya sebelum tindakan pengangkatan.
Aku menunggu hampir dua jam di luar ruang tindakan.
Ketika dokter akhirnya keluar, wajahnya terlihat serius.
“Bu Elena, benda ini sudah cukup lama berada di telinga suami Ibu. Kami berhasil mengangkatnya, tetapi perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan seluruh kondisinya.”
Dia menunjukkan sebuah wadah medis transparan.
Di dalamnya terdapat benda hitam sebesar biji beras, dengan potongan logam tipis di salah satu ujungnya.
“Apa itu, Dok?”
“Kami belum bisa memastikan. Bentuknya menyerupai komponen elektronik kecil yang rusak. Sebaiknya jangan disentuh. Kalau ada dugaan tindak pidana, benda ini perlu diserahkan melalui prosedur yang benar.”
Aku menatap benda itu dengan jantung berdebar.
Ketika Mateo sadar, aku memperlihatkan foto benda tersebut.
Dia menangis.
Tangisnya begitu menyayat hati hingga aku tidak sanggup menahan air mata.
Dengan tangan lemah, dia meminta buku catatannya.
“Aku kira benda itu sudah hancur tujuh tahun lalu.”
Aku duduk di samping ranjangnya.
“Mas, ceritakan semuanya.”
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, Mateo menulis selama hampir satu jam.
Tujuh tahun sebelumnya, dia bukan petani miskin yang hidup menyendiri.
Dia bekerja sebagai teknisi peralatan elektronik di sebuah perusahaan distribusi hasil pertanian milik Pak Surya.
Tugasnya memasang kamera pengawas, memperbaiki komputer, dan mengelola sistem pencatatan gudang.
Suatu malam, dia menemukan kejanggalan dalam laporan pembelian pupuk bersubsidi.
Jumlah pupuk yang tercatat masuk jauh lebih besar daripada yang benar-benar diterima petani.
Ada pula transaksi atas nama kelompok tani yang ternyata sudah lama tidak aktif.
Mateo mulai menyimpan salinan dokumen karena curiga terjadi penggelapan.
Namun sebelum dia sempat melaporkannya, seseorang mengetahui penyelidikannya.
Pada malam kejadian, dia dipanggil ke gudang dengan alasan ada kerusakan sistem keamanan.
Di sana, Pak Surya dan dua orang anak buahnya sudah menunggu.
Mereka menuduh Mateo mencuri uang perusahaan.
Ketika dia menolak menandatangani surat pengakuan, mereka memukulinya.
Salah seorang anak buah Surya menghantam sisi kepalanya dengan batang besi.
Mateo kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, dia berada di sebuah bangunan kosong dengan telinga berdarah dan kepala terasa seperti pecah.
Beberapa hari kemudian, dia mulai kehilangan pendengaran.
Orang-orang yang memeriksanya saat itu mengatakan kerusakannya kemungkinan permanen.
“Kenapa Mas tidak melapor?” tulisku.
Mateo mengambil pensil.
“Aku pernah mencoba.”
Dia berhenti sebentar.
“Petugas yang menerima laporanku justru menelepon Surya di depanku.”
Aku merinding.
“Setelah itu mereka datang lagi. Mereka bilang kalau aku tidak diam, adik perempuanku akan mengalami hal yang sama.”
Aku terkejut.
“Mas punya adik?”
Mateo mengangguk.
Namanya Rina.
Tujuh tahun lalu, Rina masih kuliah di Semarang.
Mateo mengirimnya pergi ke luar kota dan memutus hampir semua hubungan dengan orang-orang di desa untuk melindunginya.
Sejak itu dia memilih tinggal di kebun peninggalan orang tuanya.
Aku memegang tangannya.
“Terus, benda di telinga itu apa?”
Mateo menatap wadah medis di meja.
Kemudian menulis sesuatu yang membuatku terpaku.
“Bagian dari alat perekam yang kupakai malam itu.”
Ternyata sebelum pergi ke gudang, Mateo telah membawa perangkat perekam mini untuk mendokumentasikan percakapannya dengan Surya.
Perangkat itu terpasang pada penyangga kecil di dekat telinga dan terhubung ke telepon genggamnya.
Ketika kepalanya dipukul, perangkat tersebut pecah. Sebagian komponennya tertanam akibat benturan.
Telepon genggamnya dirampas.
Mateo mengira seluruh rekamannya telah hilang.
Namun dia masih menyimpan satu rahasia.
Sebelum kejadian, perangkat tersebut diatur untuk menyinkronkan berkas suara ke penyimpanan daring.
Dia tidak pernah berani membukanya lagi.
“Kenapa sekarang Mas mau menceritakan semua ini?”
Tangannya bergetar ketika menulis jawaban.
“Karena Surya mengirimmu ke rumahku bukan tanpa alasan.”
Aku membeku.
“Apa maksudnya?”
Mateo menunjukkan selembar kertas yang sudah kusut dari dalam dompetnya.
Itu adalah salinan perjanjian yang dibuat ayahku dan Pak Surya sebelum pernikahan.
Aku membaca setiap kalimatnya.
Utang delapan puluh juta rupiah dinyatakan lunas setelah pernikahan dilaksanakan.
Namun terdapat satu ketentuan tambahan yang tidak pernah diberitahukan kepadaku.
Apabila Mateo meninggal tanpa ahli waris yang diakui atau tidak mampu mengurus tanahnya, pihak yang ditunjuk dalam dokumen berhak mengajukan pengalihan pengelolaan kebun dengan persetujuan wali keluarga.
Nama yang tercantum sebagai calon pengelola adalah Renato Darsono.
Kakakku sendiri.
Aku merasa mual.
“Ini tidak masuk akal. Aku bahkan tidak pernah menyetujui perjanjian ini!”
Mateo mengangguk.
Dia menulis bahwa perjanjian itu belum tentu sah secara hukum, tetapi Surya menggunakan dokumen tersebut untuk menekan dan menakut-nakuti orang.
Aku mulai memahami semuanya.
Surya ingin menguasai kebun Mateo.
Tanah itu berada di jalur yang sedang diincar untuk pembangunan gudang pendingin dan akses distribusi hasil pertanian.
Nilainya jauh lebih besar daripada delapan puluh juta rupiah.
Pernikahan kami hanyalah salah satu bagian dari rencana tersebut.
Jika aku bisa dibujuk menandatangani surat pengalihan, Surya akan mendapatkan tanah tanpa harus berhadapan langsung dengan Mateo.
Dan jika Mateo dianggap tidak cakap mengurus hartanya, mereka akan berusaha menggunakan keadaan itu untuk mengambil alih kendali.
Aku menatap suamiku.
“Mas tahu semua ini sebelum menikahiku?”
Dia mengangguk perlahan.
“Kenapa Mas tetap setuju?”
Air matanya jatuh ke atas buku.
“Karena aku mendengar mereka membicarakanmu sebelum aku kehilangan seluruh pendengaranku.”
Aku menunggu dia melanjutkan.
“Renato bilang kalau aku menolak, mereka akan mengirim kamu bekerja untuk membayar utang di tempat yang tidak kamu kenal.”
Aku menutup mulut.
Mateo menulis kalimat terakhir.
“Aku tidak tahu cara menyelamatkan diriku sendiri. Tapi aku masih bisa memberimu rumah yang aman.”
Malam itu aku memeluknya untuk pertama kali.
Dia menangis di bahuku seperti anak kecil.
Dan aku sadar bahwa pria yang dianggap tidak berguna oleh seluruh desa telah mempertaruhkan keselamatannya demi melindungi perempuan yang bahkan belum dikenalnya.
Keesokan harinya, aku menghubungi Rina.
Mateo memberiku nomor telepon adiknya yang kini bekerja sebagai analis keuangan di Semarang.
Rina datang bersama seorang pengacara bernama Dimas.
Ketika melihat kakaknya terbaring di rumah sakit, dia langsung menangis.
“Aku sudah berkali-kali minta Mas pindah dari desa itu,” katanya.
Mateo hanya tersenyum lemah.
Dimas memeriksa dokumen utang dan perjanjian pengalihan kebun.
Menurutnya, ada banyak kejanggalan yang dapat menjadi dasar untuk menggugat dan melaporkan dugaan pemalsuan maupun pemaksaan.
Namun kami masih membutuhkan bukti yang lebih kuat.
Rina kemudian membantu mengakses akun penyimpanan daring lama milik Mateo.
Akun itu masih ada.
Setelah beberapa kali mencoba memulihkan akses, kami menemukan folder berisi rekaman suara dari tujuh tahun lalu.
Sebagian berkas rusak.
Namun satu rekaman berdurasi sebelas menit masih dapat diputar.
Suara pertama yang terdengar adalah suara Pak Surya.
“Kalau petani tahu jumlah pupuk yang kita alihkan, habis kita semua.”
Kemudian terdengar suara Mateo yang lebih muda.
“Saya punya salinan laporan. Saya akan menyerahkannya kepada pihak berwenang.”
Seseorang tertawa.
Lalu terdengar kalimat yang membuat seluruh tubuhku dingin.
“Kalau begitu, pastikan dia tidak bisa mendengar apa pun lagi.”
Setelah itu terdengar suara benturan keras.
Rekaman terputus beberapa detik kemudian.
Rina menangis tersedu-sedu.
Aku memegang tangan Mateo.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Ketika Dimas memeriksa catatan transaksi dalam berkas lama tersebut, dia menemukan nama Darsono.
Ayahku.
Ternyata ayah pernah menjadi perantara distribusi pupuk untuk perusahaan Surya.
Dia menerima pembayaran untuk mencatat pengiriman yang tidak pernah sampai ke kelompok tani.
Ketika penyimpangan itu mulai diselidiki, Surya memegang bukti keterlibatan ayah.
Utang delapan puluh juta rupiah yang selama ini disebut akibat perjudian Renato ternyata juga digunakan sebagai alat untuk menekan keluarga kami.
Ayah tidak sekadar menjualku demi melunasi utang.
Dia menjadikanku bagian dari kesepakatan untuk menutupi kesalahannya sendiri.
Aku tidak bisa tidur selama dua malam setelah mengetahui kenyataan itu.
Dimas akhirnya membantu kami membuat laporan resmi ke kepolisian tingkat kabupaten, disertai rekaman, dokumen transaksi, keterangan Mateo, serta hasil pemeriksaan medis.
Kami tidak langsung mengumumkannya kepada siapa pun.
Namun tiga hari kemudian, Renato datang ke rumah sakit.
Dia berdiri di depan kamar Mateo sambil tersenyum mengejek.
“Wah, sekarang si tuli dibawa berobat juga?”
Aku menghadangnya.
“Mau apa kamu?”
Renato mengeluarkan map cokelat.
“Pak Surya cuma minta tanda tanganmu. Setelah itu kalian bisa hidup tenang.”
Aku membuka map tersebut.
Isinya surat persetujuan pengalihan pengelolaan kebun.
Aku menatap kakakku.
“Kamu tahu apa yang dilakukan Surya kepada Mateo tujuh tahun lalu?”
Wajah Renato berubah.
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu semuanya.”
Untuk pertama kalinya, kakakku terlihat ketakutan.
Dia mendekat dan berbisik.
“Elena, jangan cari masalah. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Aku tahu. Dan kali ini aku tidak akan diam.”
Renato pergi dengan wajah pucat.
Dua minggu kemudian, Desa Kaliputih mengadakan pertemuan terbuka di balai desa untuk membahas rencana pembangunan gudang pendingin.
Pak Surya datang dengan pakaian rapi dan senyum penuh percaya diri.
Ayah serta Renato duduk di barisan depan.
Mereka tidak mengetahui bahwa penyidik telah memulai pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan dokumen perusahaan.
Aku datang bersama Mateo, Rina, Dimas, dan beberapa petani yang pernah mengalami kerugian.
Begitu kami masuk, bisik-bisik langsung terdengar.
“Itu Elena, kan?”
“Masih saja sama si tuli gila.”
“Katanya suaminya sakit parah.”
Aku menggenggam tangan Mateo.
Dia membalas genggamanku.
Ketika Pak Surya melihat kami, senyumnya menghilang.
“Ada keperluan apa kalian datang ke sini?” tanyanya.
Aku berdiri.
“Saya ingin menanyakan satu hal tentang kejadian tujuh tahun lalu.”
Ruangan mendadak hening.
Pak Surya tertawa pendek.
“Masalah lama apa lagi?”
Aku mengeluarkan foto benda hitam kecil yang diangkat dokter dari telinga Mateo.
“Pak Surya mengenali benda ini?”
Wajahnya langsung berubah.
Aku melanjutkan.
“Benda ini adalah bagian dari alat perekam yang pecah ketika suami saya diserang di gudang perusahaan Bapak.”
Beberapa orang mulai saling memandang.
“Jangan sembarangan menuduh!” bentak Surya.
Aku tidak mundur.
“Rekamannya masih ada.”
Dimas kemudian menjelaskan bahwa berkas asli telah diserahkan kepada penyidik dan sedang diperiksa keasliannya.
Dengan izin pihak yang hadir, dia memutar salinan bagian rekaman yang relevan.
Suara Pak Surya terdengar jelas dari pengeras suara.
Kemudian terdengar ancaman terhadap Mateo.
Lalu benturan keras.
Tidak seorang pun berbicara.
Seorang petani tua di barisan belakang perlahan berdiri.
“Saya ingat malam itu,” katanya dengan suara bergetar.
“Besok paginya, gudang ditutup. Kami diberi tahu Mateo mengamuk karena ketahuan mencuri.”
Petani lain ikut berdiri.
“Saya juga pernah kehilangan jatah pupuk. Katanya sudah dikirim, padahal tidak pernah sampai.”
Satu demi satu orang mulai bersuara.
Pak Surya mencoba meninggalkan ruangan.
Namun dua petugas yang telah berkoordinasi dengan penyidik menghampirinya untuk meminta keterangannya lebih lanjut.
Aku melihat ayahku menunduk.
Renato mundur ke dekat pintu.
Saat itulah Mateo menarik ujung bajuku.
Dia mengeluarkan buku catatan kecilnya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Dia menulis sebuah kalimat, lalu menyerahkannya kepadaku.
Aku membacanya keras-keras di hadapan semua orang.
“Saya tidak pernah gila. Saya hanya kehilangan kemampuan mendengar setelah mencoba mengatakan kebenaran.”
Suasana balai desa menjadi begitu sunyi hingga suara hujan di luar terdengar jelas.
Tidak ada lagi yang tertawa.
Tidak ada lagi yang mengejek tubuhku.
Tidak ada lagi yang memanggil Mateo dengan julukan kejam itu.
Beberapa bulan berikutnya, penyelidikan berkembang.
Dokumen perusahaan, kesaksian mantan pegawai, dan catatan distribusi memperkuat dugaan penyimpangan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Pak Surya dan sejumlah orang yang terlibat akhirnya diproses secara hukum.
Ayahku juga harus mempertanggungjawabkan perannya.
Sementara itu, pengalihan kebun yang direncanakan Surya berhasil kami hentikan melalui bantuan hukum.
Suatu sore, ayah datang ke rumah kami.
Tubuhnya tampak lebih kurus.
Dia berdiri di depan pagar sambil membawa kantong berisi buah jeruk.
“Elena,” panggilnya pelan.
Aku keluar, tetapi tidak mengundangnya masuk.
Ayah menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Bapak minta maaf.”
Aku diam.
“Bapak tahu Bapak sudah menghancurkan hidupmu.”
Aku memandang pria yang dahulu selalu kutakuti itu.
“Dulu aku cuma ingin Bapak menganggapku anak, bukan barang yang bisa ditukar dengan uang.”
Ayah mulai menangis.
“Apa kamu bisa memaafkan Bapak?”
Aku menarik napas panjang.
“Mungkin suatu hari nanti. Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali membiarkan Bapak mengatur hidupku.”
Ayah mengangguk dan pergi tanpa banyak bicara.
Aku tidak mengejarnya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bersalah karena memilih diriku sendiri.
Setahun setelah pernikahan kami, kehidupan di rumah pegunungan itu berubah.
Mateo menjalani rehabilitasi dan pemeriksaan pendengaran lanjutan. Kerusakan yang dialaminya tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, tetapi alat bantu dengar membuatnya mampu menangkap sebagian suara.
Kami juga belajar bahasa isyarat bersama.
Rina sering datang membawa keponakannya, dan kebun kami semakin ramai oleh tawa anak-anak.
Aku mulai membuat usaha kecil menjual keripik kentang dan sayuran kemasan dari hasil panen kami.
Awalnya hanya beberapa pesanan dari tetangga.
Kemudian pesanan datang dari Temanggung, Magelang, bahkan Semarang.
Suatu hari, seorang perempuan yang dahulu mengejek tubuhku datang membeli keripik.
Dia tersenyum canggung.
“Elena, kamu sekarang kelihatan bahagia sekali.”
Aku tersenyum.
“Memang.”
“Suamimu baik sekali, ya?”
Aku menoleh ke arah Mateo yang sedang menyusun kotak pesanan.
“Dia selalu baik. Hanya saja dulu tidak banyak orang mau melihatnya.”
Perempuan itu terdiam.
Malam harinya, setelah semua pekerjaan selesai, Mateo mengajakku duduk di beranda.
Kabut turun perlahan di antara pohon pinus.
Dia mengeluarkan buku catatan kecil yang sama seperti pada malam pertama pernikahan kami.
Halaman-halamannya sudah lusuh.
Di halaman terakhir, dia menulis sesuatu.
“Aku ingin bertanya satu hal.”
Aku tersenyum.
“Apa, Mas?”
Dia menatapku lama, lalu melanjutkan tulisannya.
“Dulu kita menikah karena keputusan orang lain. Sekarang, kalau kamu diberi kesempatan memilih lagi, apakah kamu masih mau menjadi istriku?”
Aku merasakan mataku panas.
Selama setahun terakhir, Mateo tidak pernah sekalipun menuntut cintaku.
Dia tidak pernah menganggap kebaikannya sebagai utang yang harus kubayar.
Dia memberiku ruang untuk tumbuh, bekerja, marah, menangis, dan menentukan masa depanku sendiri.
Aku mengambil pensil dari tangannya.
Lalu menulis jawaban di bawah pertanyaannya.
“Aku tidak akan memilih pernikahan yang dulu. Tapi aku akan memilih menikah denganmu hari ini.”
Mateo membaca kalimat itu berulang kali.
Air mata mengalir di pipinya.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaket.
Di dalamnya terdapat cincin perak sederhana.
Dia berdiri, lalu berlutut dengan canggung di hadapanku.
Aku tertawa sambil menangis.
“Mas, bangun. Lututmu nanti sakit.”
Mateo menggeleng.
Dengan suara yang masih terbata-bata karena sudah lama jarang berbicara, dia mengucapkan kalimat yang tak akan pernah kulupakan.
“Elena, maukah kamu menikah denganku sekali lagi?”
Aku mengangguk berkali-kali.
“Mau, Mas. Aku mau.”
Dia memasangkan cincin itu ke jariku.
Untuk pertama kalinya, aku mencium suamiku bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta.
Beberapa minggu kemudian, kami mengadakan perayaan kecil di halaman rumah.
Tidak ada dekorasi mahal.
Tidak ada tamu penting.
Hanya keluarga yang menyayangi kami, beberapa sahabat, dan tetangga yang benar-benar ingin merayakan kebahagiaan kami.
Aku mengenakan gaun putih sederhana yang kujahit sendiri.
Gaun itu pas di tubuhku.
Aku tidak berusaha menyembunyikan lengan besarku atau mengecilkan pinggangku.
Ketika berdiri di hadapan Mateo, aku melihat matanya berkaca-kaca.
Rina tertawa sambil berkata, “Mas, jangan menangis terus. Nanti Elena ikut menangis!”
Semua orang tertawa.
Mateo menggenggam kedua tanganku.
Lalu, dengan bantuan bahasa isyarat yang telah kami pelajari bersama, dia menyampaikan sesuatu.
Aku menerjemahkannya untuk para tamu.
“Dulu aku mengira hidupku sudah selesai ketika kehilangan pendengaran. Aku menjauh dari semua orang karena takut mereka menyakitiku lagi. Lalu Elena datang. Dia tidak memperlakukanku sebagai orang rusak. Dia mendengarkanku, bahkan ketika aku tidak mampu mendengar suaranya.”
Air mataku jatuh.
Mateo melanjutkan dengan gerakan tangan yang perlahan.
“Orang-orang bilang aku menyelamatkannya dari keluarganya. Tapi sebenarnya, dialah yang mengembalikan keberanianku untuk hidup.”
Aku memeluknya erat.
Di tengah tepuk tangan para tamu, aku teringat hari pertama kami menikah.
Hari ketika orang-orang menertawakan perempuan bertubuh besar yang dianggap tidak berharga dan laki-laki tuli yang dianggap gila.
Mereka mengira kami adalah dua manusia gagal yang pantas dipertemukan karena tidak ada orang lain yang menginginkan kami.
Namun mereka salah.
Sangat salah.
Karena pada akhirnya, bukan tubuhku yang menentukan apakah aku layak dicintai.
Bukan pula pendengaran Mateo yang menentukan apakah dia layak dihormati.
Dan benda kecil yang dikeluarkan dari telinganya bukanlah keajaiban yang tiba-tiba mengubah hidup kami.
Benda itu hanya membuka pintu menuju kebenaran yang selama bertahun-tahun dikubur oleh ketakutan.
Keberanian untuk melewati pintu itulah yang menyelamatkan kami.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Mateo meletakkan buku catatan lama kami di dalam laci.
Aku bertanya mengapa dia tidak lagi membawanya ke mana-mana.
Dia tersenyum dan menjawab dengan bahasa isyarat.
“Karena sekarang aku tidak takut lagi kalau suaraku tidak didengar.”
Aku menggenggam tangannya.
Kemudian menjawab dengan gerakan yang sama.
“Aku akan selalu mendengarkanmu.”
Mateo mencium keningku.
Dan di rumah kecil yang dahulu terasa begitu sunyi itu, aku akhirnya memahami sesuatu.
Cinta sejati tidak selalu datang melalui kata-kata manis, penampilan sempurna, atau pernikahan yang dirayakan dengan meriah.
Kadang cinta datang dalam bentuk seorang pria pendiam yang memberikan kamar terbaik kepada perempuan asing, lalu memilih tidur di ruang depan agar perempuan itu merasa aman.
Kadang cinta tumbuh dari sepiring nasi hangat, jaket yang disiapkan ketika hujan, dan tangan yang tetap menggenggam meskipun seluruh dunia memandang rendah.
Aku pernah dijadikan pembayaran utang oleh ayahku sendiri.
Tetapi aku bukan utang.
Aku bukan beban.
Aku bukan barang yang bisa diperjualbelikan.
Aku adalah Elena.
Seorang perempuan yang akhirnya menemukan keberanian untuk menentukan hidupnya sendiri.
Dan lelaki yang dahulu dijuluki Si Tuli Gila itu bukanlah hukuman atas segala kekuranganku.
Dia adalah manusia yang mengajariku bahwa seseorang tidak perlu menjadi sempurna untuk pantas mendapatkan cinta.
Sebab orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan membuat kita merasa harus berubah menjadi orang lain agar layak berada di sisinya.
