SEORANG PENJAHIT SEPATU MEMBELAH SOL ANAKKU DAN MENEMUKAN BENDA ASING—MALAMNYA, AKU MELIHAT ORANG YANG PALING KUPERCAYA MASUK RUMAHKU TANPA KUNCI.

“Bu, sepatu ini jangan dibawa pulang dulu.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah malam semakin larut.

Aku berdiri di balik dinding ruang keluarga, menatap layar CCTV yang menampilkan Riska berjalan masuk ke rumahku dengan tenang, seolah-olah rumah itu masih menjadi rumahnya.

Padahal aku tidak pernah memberinya izin datang malam itu.

Lebih buruk lagi, dia tidak datang dengan tangan kosong.

Map cokelat bertuliskan nama Danu masih berada di tangannya.

“DANU PRADIPTA — BRANKAS 318.”

Aku memperbesar tampilan CCTV.

Riska berhenti di depan pintu kamar kerja almarhum suamiku.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Kunci.

Bukan kunci rumah.

Kunci kecil berwarna perak.

Dadaku terasa sesak.

Selama dua tahun sejak Danu meninggal, aku hampir tidak pernah membuka kamar kerjanya. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena setiap benda di sana terasa seperti bagian dari hidup yang sudah tidak mungkin kembali.

Danu selalu menyimpan dokumen penting di sana.

Aku tahu ada brankas kecil di balik rak buku.

Tetapi aku tidak pernah tahu angka 318 pada map itu merujuk pada apa.

Aku segera menelepon Pak Seno.

“Pak, Riska masuk ke kamar kerja Danu.”

“Jangan keluar dari tempat Ibu sekarang.”

“Tapi dia—”

“Jangan konfrontasi.”

Aku menggigit bibir.

“Pak, bagaimana kalau dia mengambil sesuatu?”

“Kami sedang menuju ke sana.”

Aku mematikan suara televisi dan membawa Bian ke kamar.

“Bian, dengarkan Ibu. Apa pun yang terjadi, jangan keluar kamar sebelum Ibu bilang.”

“Kenapa, Bu?”

“Ibu sedang ada urusan.”

Wajahnya terlihat takut.

Aku memeluknya.

“Tidak apa-apa. Ibu di sini.”

Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar kerja terbuka terdengar dari ujung lorong.

Lalu langkah kaki.

Pelan.

Teratur.

Semakin mendekat.

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

Namun langkah itu berhenti.

Tidak ada suara lagi.

Aku menatap CCTV.

Riska tidak lagi berada di kamar kerja.

Kamera depan menunjukkan halaman kosong.

Aku bingung.

Ke mana dia pergi?

Kemudian terdengar bunyi kecil dari arah dapur.

Klik.

Aku menahan napas.

Pintu samping terbuka.

Riska keluar dari rumah.

Ia bahkan tidak membawa map cokelat itu lagi.

Aku menunggu beberapa detik sebelum memberanikan diri keluar kamar.

Map tersebut tergeletak di meja makan.

Sengaja ditinggalkan?

Atau terjatuh?

Aku mendekatinya.

Tanganku gemetar ketika membuka lembar pertama.

Isinya bukan dokumen rumah.

Bukan surat asuransi.

Bukan pula catatan utang.

Hanya satu lembar kertas dengan tulisan tangan Danu.

Rani,

kalau kamu membaca ini, berarti sesuatu yang selama ini kutakutkan mungkin sudah terjadi.

Jangan percaya siapa pun yang mengatakan kecelakaan itu murni kecelakaan.

Aku membeku.

Jantungku seperti berhenti.

Kertas itu hampir terlepas dari tanganku.

Di bawah kalimat tersebut ada sebuah angka.

  1. 318.

Dan satu kalimat terakhir.

Kunci pertama ada di tempat yang tidak pernah kamu curigai.

Aku membaca surat itu berkali-kali.

Tiba-tiba suara mobil terdengar dari depan rumah.

Polisi datang.

Pak Seno masuk bersama dua orang petugas.

“Riska sudah pergi?”

Aku mengangguk.

“Dia meninggalkan ini.”

Aku menyerahkan surat tersebut.

Pak Seno membacanya dengan wajah serius.

“Bu Rani, selama ini apakah Ibu pernah diberi tahu bahwa suami Ibu punya brankas?”

“Tidak. Saya bahkan baru tahu malam ini.”

“Dan nomor 318?”

Aku menggeleng.

Pak Seno menatap teknisi keamanan yang datang bersamanya.

“Periksa kamar kerja.”

Kami masuk bersama.

Kamar itu masih sama seperti ketika Danu meninggal.

Meja kayu.

Rak buku.

Foto pernikahan kami.

Dan sebuah jam tangan tua miliknya yang tidak pernah sanggup kubuang.

Teknisi mulai memeriksa rak.

Tidak ada apa-apa.

Sampai ia menarik buku tebal dari barisan paling bawah.

Rak itu bergeser beberapa sentimeter.

Di belakangnya terdapat kotak logam kecil.

Tidak ada lubang kunci.

Hanya keypad dengan tiga angka.

  1. 318.

Aku menatap Pak Seno.

Ia mengangguk.

“Coba.”

Tanganku gemetar ketika menekan angka tersebut.

Bip.

Kotak terbuka.

Di dalamnya hanya ada sebuah flash drive, foto lama, dan kartu nama seorang pengacara.

Pak Seno mengambil foto itu.

Wajahku langsung pucat.

Itu foto Danu bersama seorang pria yang tidak kukenal.

Di belakang foto tertulis tanggal.

Tiga hari sebelum kecelakaan.

“Siapa pria ini?” tanya Pak Seno.

Aku menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Aku mengambil flash drive.

Namun sebelum sempat menyerahkannya kepada Pak Seno, ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Bu Rani?”

Suara laki-laki.

Serak.

“Siapa?”

“Kalau Ibu sudah menemukan brankas 318, berarti Riska gagal mengambil semuanya.”

Aku menatap Pak Seno.

“Siapa Anda?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Kemudian suara itu berkata,

“Danu tidak meninggal karena rem blong.”

Sambungan terputus.

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Seno segera meminta tim teknis memeriksa flash drive tanpa membukanya di perangkat pribadi.

Aku duduk di kursi Danu.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, aku mulai mempertanyakan seluruh kisah kematiannya.

Selama ini semua orang mengatakan Danu mengalami kecelakaan karena kehilangan kendali di jalan tol.

Polisi.

Asuransi.

Bahkan keluarga.

Aku percaya.

Karena lebih mudah percaya bahwa suamiku meninggal karena kecelakaan daripada menerima kemungkinan bahwa seseorang menginginkannya mati.

Keesokan paginya, hasil pemeriksaan awal flash drive membuat semuanya semakin rumit.

Ada puluhan file.

Laporan transaksi.

Foto kendaraan.

Salinan sertifikat tanah.

Dan rekaman percakapan.

Salah satu file memiliki tanggal tepat dua hari sebelum Danu meninggal.

Ketika rekaman diputar, suara Danu terdengar.

“Aku sudah menemukan siapa yang memindahkan uang itu.”

Suara lain menjawab.

“Kalau begitu jangan bawa masalah ini ke polisi.”

“Aku tidak takut.”

“Danu, kamu punya keluarga.”

Rekaman berhenti.

Aku menutup mulut.

Suara kedua terdengar sangat familiar.

Pak Seno memutar bagian tersebut sekali lagi.

Aku langsung mengenalinya.

Riska.

Aku menatap layar.

“Dia tahu.”

“Bisa jadi,” kata Pak Seno. “Tapi kita belum bisa menyimpulkan dia terlibat dalam kematian suami Ibu hanya dari rekaman ini.”

Aku mengangguk.

Namun ada satu hal yang tidak bisa kuabaikan.

Riska sudah tahu tentang brankas.

Ia memiliki akses rumah.

Ia memasang atau mengetahui perangkat pelacak.

Ia masuk ke rumah tanpa izin.

Dan sekarang kami menemukan percakapan rahasia antara dirinya dan Danu sebelum kecelakaan.

Hari berikutnya, polisi menemukan identitas mobil Toyota hitam dengan pelat sebagian 417 KJ.

Pemiliknya bernama Arif Santoso.

Mantan karyawan perusahaan tempat Danu bekerja.

Ketika diperiksa, Arif mengaku memang pernah bertemu Riska.

Namun ia mengatakan pertemuan itu hanya untuk menyerahkan dokumen.

“Dokumen apa?”

“Dokumen milik Pak Danu.”

“Kenapa diberikan kepada Riska?”

Arif menunduk.

“Karena saya diminta Pak Danu.”

Pak Seno terdiam.

Aku merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.

“Kalau begitu, kenapa Anda tidak menyerahkannya langsung kepada saya?”

Arif menatapku.

“Karena Pak Danu bilang istrinya belum boleh tahu.”

Dadaku terasa sakit.

“Apa maksudnya?”

Arif tidak menjawab.

Ia hanya menyerahkan sebuah amplop kepada Pak Seno.

Di dalamnya terdapat salinan rekening bank atas nama Danu.

Ada transaksi besar yang dilakukan beberapa minggu sebelum kecelakaan.

Uangnya tidak masuk ke rekening Riska.

Tidak pula ke rekening Arif.

Uang itu masuk ke rekening atas namaku.

Aku merasa dunia berhenti berputar.

“Ini bukan saya.”

Pak Seno menatapku.

“Saya percaya Ibu. Tapi secara administratif, transaksi ini tercatat menggunakan rekening Ibu.”

Aku menggeleng berkali-kali.

“Aku tidak pernah menerima uang itu.”

Kemudian aku teringat sesuatu.

Dua tahun lalu, tepat setelah Danu meninggal, Riska membantuku mengurus dokumen asuransi dan beberapa urusan bank.

Dia pernah meminta kartu identitasku.

Katanya untuk mempercepat administrasi.

Saat itu aku tidak berpikir buruk.

Tiba-tiba semuanya terasa seperti potongan puzzle yang selama ini sengaja disebarkan.

Benda di sepatu Bian.

Akses CCTV.

Kunci cadangan.

Transaksi rekening.

Brankas.

Kecelakaan Danu.

Dan Riska.

Malam itu, aku menerima pesan.

Hanya satu kalimat.

Kamu harus tahu kenapa Danu menyembunyikan semuanya darimu.

Pesan berikutnya berisi alamat sebuah gudang tua di pinggiran Malang.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Pak Seno.

“Kami akan datang bersama Ibu.”

Di gudang itu, kami menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

Sebuah mobil tua.

Mobil Danu.

Selama ini aku mengira mobil tersebut sudah dihancurkan setelah kecelakaan.

Ternyata tidak.

Mobil itu disimpan di gudang milik perusahaan lama Danu.

Bagian depannya rusak parah.

Namun teknisi menemukan sesuatu di ruang mesin.

Selang rem telah dipotong dan disambungkan kembali.

Bukan kerusakan akibat kecelakaan.

Seseorang telah menyentuhnya sebelum mobil digunakan.

Aku menutup mata.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Danu benar.

Kecelakaan itu bukan kecelakaan.

Tetapi pertanyaan terbesar justru belum terjawab.

Siapa yang melakukannya?

Malamnya, polisi menangkap Riska ketika ia mencoba meninggalkan kota.

Saat diperiksa, ia akhirnya mengaku memasang alat pelacak di sepatu Bian.

Namun ia bersikeras bahwa ia tidak membunuh Danu.

“Aku hanya ingin melindungi Rani.”

Aku menatapnya dari balik kaca ruang pemeriksaan.

“Melindungi aku?”

Riska menangis.

“Danu menemukan bahwa ada orang di perusahaan yang menggelapkan uang. Dia ingin melaporkannya.”

“Lalu kenapa kau menghalanginya?”

“Aku tidak menghalanginya.”

“Rekamanmu mengatakan sebaliknya.”

Riska menunduk.

“Aku tahu ada orang yang mengawasinya. Aku mencoba membuat Danu berhenti menyelidiki.”

“Dan malam kecelakaan?”

“Aku terlambat.”

Aku menatap wajahnya.

“Siapa pelakunya?”

Riska mengangkat mata.

“Aku tidak tahu.”

Aku hampir tidak percaya.

Namun kemudian ia berkata,

“Orang yang paling dekat dengan Danu.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

“Siapa?”

Riska menggeleng.

“Bukan aku.”

Pak Seno masuk membawa sebuah berkas.

“Bu Rani, kami menemukan sidik jari pada modul CCTV dan perangkat pelacak.”

Ia meletakkan foto di meja.

Sidik jari itu bukan milik Riska.

Bukan milik Arif.

Dan bukan milik siapa pun dari perusahaan Danu.

Itu milikku.

Aku terdiam.

Pak Seno kemudian berkata pelan,

“Awalnya kami mengira ini berarti Ibu terlibat. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”

“Apa?”

“Sidik jari itu berasal dari benda yang sudah disentuh Ibu sebelum perangkat tersebut dipasang.”

Aku mengernyit.

“Mustahil.”

Pak Seno mengeluarkan satu foto terakhir.

Foto Danu.

Di sampingnya ada seorang pria.

Pria yang sama dari foto di brankas.

Aku menatap wajahnya.

Lalu seluruh tubuhku membeku.

Aku mengenalnya.

Dia adalah saudara laki-laki Danu yang selama ini kukira tinggal di Surabaya dan tidak pernah terlibat dalam urusan keluarga.

Namun ternyata ada satu hal yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Pria itu bukan saudara Danu.

Dia adalah ayah kandung Bian.

Danu pernah mengetahuinya.

Dan selama dua tahun terakhir, semua orang ternyata berusaha menyembunyikan satu rahasia yang jauh lebih besar daripada kematian Danu.

Ketika aku pulang malam itu, aku berdiri lama di depan kamar Bian.

Anakku sedang tidur.

Aku memandang wajahnya dan akhirnya mengerti mengapa seseorang memasang pelacak di sepatunya.

Bukan untuk mengetahui ke mana Bian pergi.

Tetapi untuk memastikan seseorang tidak membawanya pergi.

Di atas meja ruang keluarga, ponselku bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor yang sama seperti malam sebelumnya.

Aku tahu kamu sudah menemukan kebenarannya.

Tapi kamu belum menemukan alasan Danu merahasiakan siapa ayah Bian.

Aku belum sempat membalas.

Pesan kedua masuk.

Kalau ingin Bian tetap aman, jangan percaya siapa pun.

Bahkan polisi.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu dari luar rumah terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Berhenti tepat di depan pintu.

Seseorang mengetuk tiga kali.

Aku tidak bergerak.

Ketukan itu terdengar lagi.

Kemudian sebuah suara yang sangat kukenal berbisik dari balik pintu.

“Rani, buka. Ini aku.”

Suara Danu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang