Panggilan itu tersambung setelah tiga nada.
“Halo?”
Begitu mendengar suara di seberang, pertahanan Marianna yang sejak tadi ia bangun nyaris runtuh.
“Pak Adrian, ini saya.”
Hening beberapa detik.
“Marianna?”
“Iya.”
“Kamu menelepon hampir jam sebelas malam. Ada apa?”
Marianna menatap pintu kamar yang terkunci. Dari luar terdengar suara Teresa mengomel tentang lantai yang belum dipel dan Rodrigo memindahkan perabot dengan kasar.
“Saya mau menerima tawaran Bapak.”
Kali ini Adrian yang terdiam.
Tiga bulan sebelumnya, dr. Adrian Lim, direktur keperawatan sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, pernah menawarkan posisi kepala perawat unit kardiologi kepada Marianna. Mereka bertemu saat Adrian menghadiri konferensi medis di Manila.
Gajinya hampir dua kali lipat dari penghasilan Marianna sekarang. Rumah sakit bahkan bersedia membantu proses relokasi dan menyediakan tempat tinggal sementara.
Marianna menolaknya.

Rodrigo tidak mau pindah.
Katanya karier seninya sedang “berada di titik penting”.
Marianna percaya.
Sekarang ia merasa bodoh karena pernah mempercayainya.
“Kamu yakin?” tanya Adrian.
“Sangat yakin.”
“Kapan bisa mulai?”
“Secepatnya.”
Setelah menutup telepon, Marianna membuka aplikasi perbankan.
Ia menatap saldo rekeningnya.
Jumlahnya tidak besar. Sebagian besar tabungannya sudah dipisahkan untuk operasi ibunya.
Namun cukup untuk satu hal.
Pergi.
Marianna membuka lemari dan mengeluarkan koper kecil.
Ia hanya memasukkan pakaian kerja, beberapa baju, dokumen, ijazah, paspor, serta kotak kecil berisi foto ibunya.
Ketukan keras terdengar.
“Marianna!” teriak Rodrigo. “Jangan kekanak-kanakan. Keluar dan selesaikan pekerjaanmu!”
Marianna tetap melipat pakaian.
“Marianna!”
Ia membuka pintu.
Rodrigo berdiri di sana bersama Teresa.
“Apa-apaan ini?” Rodrigo menunjuk koper.
“Aku pergi.”
Teresa tertawa.
“Mau mengancam kami?”
“Tidak.”
Marianna mengambil tasnya.
“Kalau mengancam, aku akan menunggu kalian menghentikanku.”
Ia melewati mereka.
Rodrigo meraih lengannya.
“Kamu mau ke mana malam-malam begini?”
Marianna menatap tangan suaminya sampai Rodrigo melepaskannya.
“Ke tempat orang tidak membuang makananku setelah aku bekerja dua belas jam.”
Rodrigo mendengus.
“Hanya gara-gara sup?”
Kalimat itu membuat Marianna berhenti.
Ia berbalik.
“Bukan karena sup.”
Suaranya begitu tenang sampai Teresa pun tidak menyela.
“Karena selama dua tahun aku membayar rumah ini sendirian. Karena aku membayar listrik sementara kamu membeli kanvas. Karena aku menunda membeli sepatu kerja meskipun solnya sudah rusak supaya kamu bisa ikut pameran. Karena ibuku menunggu operasi jantung, tetapi aku masih membayar cicilan laptopmu.”
Rodrigo memalingkan wajah.
Marianna melanjutkan.
“Dan malam ini, setelah aku bekerja dua belas jam, kalian sengaja mengacak-acak rumah lalu menyuruhku membersihkannya sebelum boleh makan.”
Teresa mencibir.
“Begitulah tugas istri.”
“Kalau begitu, mulai malam ini saya berhenti menjadi istri yang kalian maksud.”
Marianna pergi.
Ia menginap di rumah rekan kerjanya, Liza.
Pagi berikutnya, ketika bangun setelah tidur hanya empat jam, ponselnya penuh pesan.
Rodrigo meminta maaf.
Lima menit kemudian, ia menyalahkan Marianna.
Sepuluh menit setelah itu, ia mengatakan Teresa menangis.
Kemudian ia mengancam akan membuang buku-buku Marianna.
Pesan terakhir berbunyi, “Kalau kamu tidak pulang hari ini, jangan pulang selamanya.”
Marianna membaca pesan itu dua kali.
Lalu membalas singkat.
“Baik.”
Setelah itu ia memblokir nomor Rodrigo.
Namun masalah sesungguhnya baru dimulai.
Tiga hari kemudian, Marianna menerima telepon dari bank.
Ada transaksi sebesar 180.000 peso dari rekening tabungan bersama miliknya dan Rodrigo.
Hampir seluruh uang di rekening itu hilang.
Marianna membeku.
Uang tersebut bukan tabungan biasa.
Itu dana operasi ibunya.
Ia langsung pergi ke bank.
Petugas menunjukkan dokumen transaksi yang dilakukan langsung di cabang.
Penariknya Rodrigo.
Sebagai pemegang rekening bersama, secara administratif ia memang memiliki akses.
Marianna meneleponnya dari nomor Liza.
Rodrigo mengangkat.
“Kembalikan uang Mama.”
“Jadi sekarang kamu mau bicara?”
“Rodrigo, kembalikan uang itu.”
“Aku suamimu. Itu uang kita.”
“Itu untuk operasi jantung Mama.”
“Dan aku juga punya kebutuhan.”
Marianna mencengkeram ponsel.
“Kebutuhan apa?”
Rodrigo diam sesaat.
Kemudian menjawab, “Aku mendapat kesempatan pameran di Singapura.”
Marianna merasa darahnya berhenti mengalir.
“Kamu mengambil uang operasi ibuku untuk pameran?”
“Jangan dramatis. Kalau pameranku berhasil, uang itu bisa kembali berkali-kali lipat.”
“Transfer kembali hari ini.”
“Pulang dulu. Kita bicarakan sebagai suami istri.”
Marianna menutup telepon.
Ia tidak pulang.
Ia menemui pengacara.
Di situlah ia menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Selama memeriksa dokumen keuangan rumah tangganya, pengacara menemukan tiga pinjaman daring atas nama Marianna.
Totalnya hampir 300.000 peso.
Marianna tidak pernah mengajukan satu pun.
Alamatnya benar.
Nomor identitasnya benar.
Bahkan foto kartu identitas yang digunakan juga miliknya.
Tetapi alamat surel dan nomor telepon terdaftar adalah milik Rodrigo.
Marianna tiba-tiba teringat.
Setahun sebelumnya Rodrigo pernah meminta foto identitasnya.
Katanya untuk mendaftarkan dirinya sebagai pasangan dalam asuransi.
Ternyata bukan.
Marianna duduk di kantor pengacara hampir satu jam tanpa berkata-kata.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa dirinya bukan hanya hidup bersama suami yang malas.
Ia hidup bersama seseorang yang secara perlahan menggunakan dirinya sebagai sumber uang.
Ia membuat laporan resmi.
Ia menghubungi bank dan perusahaan pinjaman.
Lalu mengajukan pemisahan hukum.
Ketika surat pengacara tiba di apartemen, Rodrigo panik.
Ia datang ke klinik.
Di depan pintu masuk, ia menunggu Marianna selesai bekerja.
“Kita perlu bicara.”
Marianna melewatinya.
Rodrigo mengikuti.
“Aku sudah mengembalikan sebagian uang.”
“Sebagian?”
“Aku sudah membayar deposit pameran.”
Marianna berhenti.
“Batalkan.”
“Aku tidak bisa.”
“Kalau begitu jual lukisanmu.”
Rodrigo tertawa pahit.
“Kamu tahu tidak ada yang membelinya.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rodrigo sendiri mengakui kenyataan yang selama ini ia hindari.
Marianna menatapnya.
“Lalu kenapa aku harus membayar harga dari kegagalan yang tidak mau kamu akui?”
Wajah Rodrigo berubah.
“Aku suamimu.”
“Dulu.”
“Marianna.”
“Aku tidak meninggalkanmu karena kamu belum berhasil menjadi seniman. Aku meninggalkanmu karena kamu menjadikan kegagalanmu alasan untuk menghancurkan hidupku.”
Rodrigo tidak mampu menjawab.
Dua minggu kemudian, keadaan ibunya memburuk.
Dokter mengatakan operasi tidak bisa ditunda terlalu lama.
Dana Marianna belum kembali seluruhnya.
Ia menjual perhiasan pernikahannya.
Cincin.
Kalung pemberian Rodrigo.
Bahkan gelang emas yang diberikan Teresa pada hari pernikahan.
Jumlahnya masih kurang.
Marianna duduk di lorong rumah sakit sambil memandangi tagihan ketika seorang perawat memanggilnya.
“Bu Marianna, administrasi operasi ibu Anda sudah selesai.”
Marianna mengangkat kepala.
“Apa?”
“Sudah lunas.”
“Itu tidak mungkin.”
Petugas administrasi menunjukkan bukti pembayaran.
Seseorang telah mentransfer seluruh kekurangannya.
Nama pengirim membuat Marianna terpaku.
Teresa Villanueva.
Ibu mertuanya.
Marianna langsung menelepon.
Teresa menjawab setelah beberapa kali dering.
“Mama?”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Teresa tidak terdengar angkuh.
“Operasi ibumu lebih penting.”
Marianna tidak tahu harus berkata apa.
“Dari mana uangnya?”
Teresa terdiam.
“Aku menjual tanah peninggalan suamiku.”
“Mama, kenapa?”
Suara perempuan itu bergetar.
“Karena aku baru tahu soal pinjaman atas namamu.”
Marianna memejamkan mata.
“Rodrigo bilang semua uang itu kamu setujui. Dia bilang kamu terlalu sibuk bekerja dan menyuruh dia mengurus keuangan.”
Teresa mulai menangis.
“Aku percaya anakku.”
Marianna tidak menjawab.
“Dan malam itu…” Teresa menarik napas panjang. “Aku juga percaya ketika dia bilang kamu sengaja mempermalukannya. Katanya kamu selalu menyebut dia pengangguran dan tidak berguna.”
Marianna teringat sup yang dibuang ke wastafel.
“Aku tidak pernah mengatakan itu.”
“Aku tahu sekarang.”
Teresa terisak.
“Aku membesarkan anak yang tidak pernah belajar menerima kegagalan. Setiap kali dia jatuh, aku menyalahkan orang lain. Gurunya. Temannya. Bosnya. Lalu istrinya.”
Kalimat berikutnya hampir seperti bisikan.
“Mungkin aku yang mengajarinya menjadi seperti itu.”
Marianna menangis untuk pertama kalinya sejak meninggalkan apartemen.
Bukan karena ia memaafkan Teresa.
Belum.
Namun karena perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi musuhnya akhirnya berani melihat kebenaran tentang anaknya sendiri.
Operasi ibunya berhasil.
Sebulan kemudian, Marianna pindah ke Jakarta dan mulai bekerja di rumah sakit baru.
Ia tinggal di apartemen kecil dekat tempat kerjanya.
Tidak mewah.
Hanya ada satu kamar, meja makan kecil, rak buku, dan jendela yang menghadap deretan gedung.
Tetapi tempat itu miliknya.
Tidak ada yang mengatur kapan ia boleh makan.
Tidak ada yang menggunakan uangnya tanpa izin.
Tidak ada yang membuatnya merasa bersalah karena lelah.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore, setelah menyelesaikan shift, Marianna menerima paket dari Manila.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat satu lukisan.
Ia langsung mengenali gaya sapuan kuas Rodrigo.
Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan berseragam perawat duduk sendirian di meja dapur.
Di depannya ada semangkuk sup.
Di belakangnya terlihat sebuah pintu terbuka.
Cahaya terang masuk dari luar.
Judul lukisan tertulis kecil di bagian belakang.
“Pintu yang Tidak Pernah Kututup.”
Ada surat pendek.
Rodrigo menulis bahwa proses hukum atas pinjaman masih berjalan. Ia menjual semua perlengkapan studionya untuk mengembalikan sebagian uang. Ia bekerja sebagai ilustrator di sebuah percetakan dan mengikuti konseling.
Ia tidak meminta Marianna kembali.
Ia hanya meminta maaf.
Kalimat terakhirnya berbunyi, “Aku baru mengerti bahwa mencintai seseorang bukan berarti berhak hidup dari pengorbanannya.”
Marianna membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian melipatnya.
Ia tidak membalas.
Beberapa luka memang bisa dimaafkan tanpa harus memberi orang yang melukaimu kesempatan kedua.
Malam itu Marianna pulang setelah shift sebelas jam.
Tubuhnya lelah.
Ia membuka kulkas dan menemukan sup yang dimasaknya kemarin.
Ia menghangatkannya.
Menuangkannya ke mangkuk.
Lalu duduk di dekat jendela.
Jakarta di bawah sana masih sibuk. Lampu kendaraan bergerak seperti aliran cahaya di antara gedung-gedung.
Marianna mengambil sendok pertama.
Tidak ada yang menyuruhnya membersihkan lantai.
Tidak ada yang mengatakan ia belum pantas makan.
Tidak ada yang merebut mangkuk dari tangannya.
Ia tersenyum kecil.
Dulu ia mengira malam ketika Rodrigo membuang supnya adalah salah satu malam terburuk dalam hidupnya.
Ternyata ia salah.
Semangkuk sup itu bukan akhir dari rumah tangganya.
Itu adalah awal dari saat Marianna akhirnya menyadari bahwa sebuah rumah tidak ditentukan oleh siapa yang tinggal di dalamnya.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu meminta izin untuk merasa aman.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Marianna akhirnya pulang ke rumah.
