Jangan.
Aku ingin berteriak ketika jemari Adrian menyentuh ujung kain putih itu.
Jangan buka.
Bukan karena aku takut dia melihat wajahku yang sudah pucat atau luka-luka akibat jatuh dari rooftop. Bukan pula karena aku takut tubuhku dibedah oleh tangan laki-laki yang paling kucintai.
Aku hanya takut dia menemukan rahasia yang selama empat bulan kusimpan.
Anak kami.
Namun tanganku menembus lengannya begitu saja.
Aku sudah mati.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan.
Adrian menarik kain putih itu perlahan.
Wajahku terlihat.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, gerakannya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Begitu singkat hingga mungkin tak seorang pun menyadarinya.
Tapi aku mengenalnya.
Aku melihat jari telunjuknya sedikit menegang.
Aku melihat dadanya berhenti naik turun.
Aku melihat sorot matanya berubah ketika memandang bekas luka kecil di daguku, luka yang kudapat tiga tahun lalu karena terjatuh saat kami berlibur ke Bandung.
Dulu dia sendiri yang menjahitnya.
Saat itu aku menangis bukan karena sakit, tetapi karena takut bekas lukanya jelek.
Adrian tertawa sambil mencium keningku.
“Aku dokter terbaik yang bisa kamu dapatkan gratis seumur hidup.”
Ingatan itu membuatku ingin menangis.
Sayangnya, roh ternyata tidak punya air mata.
“Mulai,” katanya akhirnya.
Suaranya serak.
Pak Bima memandangnya lama, tetapi tidak berkata apa-apa.
Pemeriksaan dimulai dari bagian luar.
Adrian mencatat setiap luka dengan teliti.
Memar di bahu.
Luka di lengan.
Retakan tulang akibat benturan.
Kemudian dia berhenti di pergelangan tangan kananku.
Ada bekas kemerahan.
Adrian mengernyit.
“Ini bukan akibat jatuh.”
Pak Bima mendekat.
“Bekas cengkeraman?”
“Ya.”
Adrian memotret bagian itu.
Tatapannya berubah tajam.
“Dia sempat berkelahi dengan seseorang sebelum jatuh.”
Aku menatapnya.
Benar.
Aku berkelahi.
Perempuan yang mendorongku bernama Nadine.
Dokter magang yang selama ini selalu dianggap Adrian hanya sebagai junior yang rajin.
Perempuan yang berkali-kali kukatakan kepadanya terlalu terobsesi.
Sore itu Nadine mengirim pesan menggunakan nomor tak dikenal.
Dia mengatakan memiliki bukti bahwa Adrian berselingkuh.
Aku tahu seharusnya aku tidak datang.
Namun kebodohanku membawaku ke rooftop gedung parkir rumah sakit.
Nadine sudah menungguku.
Dia tersenyum ketika melihat perutku.
“Kamu hamil?”
Aku mundur refleks.
Saat itulah wajahnya berubah.
Dia mencengkeram tanganku.
“Kenapa harus kamu yang mendapatkan semuanya?”
Aku berusaha melepaskan diri.
“Nadine, kamu gila!”
“Aku mencintainya jauh sebelum kamu!”
“Kamu bahkan tidak mengenalnya!”
Aku masih ingat tatapan matanya.
Kosong sekaligus penuh kebencian.
Kemudian dia mendorongku.
Saat tubuhku kehilangan pijakan, kedua tanganku spontan melindungi perut.
Aku bahkan tidak sempat berteriak.
Kini satu-satunya orang yang bisa mengungkap semuanya adalah Adrian.
Namun dia bahkan belum tahu bahwa perempuan yang selama ini dianggapnya terlalu emosional ternyata benar.
Pemeriksaan berlanjut.
Sampai akhirnya tangan Adrian bergerak menuju bagian perutku.
Aku panik.
“Jangan…”
Tentu saja tak ada yang mendengarnya.
Pisau bedah berhenti beberapa sentimeter dari kulit.
Adrian tiba-tiba mengernyit.
“Bima.”
“Apa?”
“Perutnya.”
Pak Bima menatap.
Wajahnya perlahan berubah.
Adrian meletakkan pisau.
Dia melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Beberapa detik kemudian ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Seorang dokter muda di belakang bahkan menutup mulutnya.
Adrian tidak bergerak.
Pak Bima berbisik, “Ya Tuhan…”
Adrian masih menatap hasil pemeriksaan.
Aku melihat matanya.
Untuk pertama kalinya, logika yang selalu menjadi bentengnya runtuh.
“Empat bulan,” gumam Pak Bima.
Adrian menoleh sangat pelan.
“Apa?”
“Usia kehamilannya kira-kira enam belas minggu.”
Tangannya jatuh ke sisi meja.
Aku belum pernah melihat Adrian seperti itu.
Bahkan ketika ibunya meninggal tiga tahun lalu, dia masih mampu berdiri tegak dan mengurus semua prosedur pemakaman.
Namun sekarang lututnya seperti kehilangan tenaga.
Dia mundur satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Punggungnya menghantam meja instrumen.
Baki logam jatuh.
Suara dentingannya memecah kesunyian.
Semua orang terdiam.
“Alya hamil?”
Tak ada lagi suara dokter forensik terkenal itu.
Yang terdengar hanya suara seorang suami.
Pak Bima menunduk.
“Sepertinya dia belum sempat memberitahumu.”
Adrian menatap wajahku.
Lama sekali.
Kemudian sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi.
Tangannya gemetar.
“Alya…”
Dia menyebut namaku seperti seseorang yang baru memahami arti kehilangan.
“Alya, kenapa kamu tidak bilang?”
Aku berdiri tepat di hadapannya.
“Aku mau bilang besok.”
Besok adalah ulang tahun pernikahan kami.
Di rumah, di dalam laci meja kerjaku, ada sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat hasil USG, sepasang kaus kaki bayi berwarna putih, dan kartu bertuliskan, Selamat ulang tahun pernikahan, Ayah.
Aku sudah membayangkan wajahnya ratusan kali.
Kupikir dia akan terkejut.
Mungkin memelukku.
Mungkin menangis diam-diam karena Adrian selalu terlalu gengsi untuk menangis.
Aku tidak pernah membayangkan dia akan mengetahuinya di ruang autopsi.
Pak Bima menyentuh bahunya.
“Adrian, kita bisa berhenti. Aku akan mengambil alih.”
“Tidak.”
Adrian menarik napas panjang.
Saat kembali menatapku, matanya merah.
“Aku harus tahu siapa yang melakukan ini.”
Pemeriksaan dilanjutkan.
Kali ini setiap gerakannya terasa berbeda.
Bukan lagi dingin.
Melainkan penuh kemarahan yang dipaksa tetap terkendali.
Beberapa jam kemudian, Adrian menemukan sesuatu.
Di bawah kuku tangan kiriku terdapat serpihan jaringan kulit.
“Bima, kirim untuk pemeriksaan DNA.”
Pak Bima mengangguk.
Adrian kemudian memeriksa barang-barang yang ditemukan bersamaku.
Ponselku rusak akibat benturan.
Namun kartu memorinya masih bisa diselamatkan.
Malam itu, Adrian tidak pulang.
Dia duduk di laboratorium sampai hampir pukul tiga pagi.
Aku tetap berada di sampingnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat suamiku membuka seluruh percakapan kami.
Pesanku tentang Nadine.
Peringatanku.
Pertengkaran kami.
“Aku tidak nyaman dia mengirimimu pesan jam dua pagi.”
“Alya, dia residen. Ada kasus yang harus dibahas.”
“Dia mengirim foto makan malamnya kepadamu.”
“Jangan mencari masalah yang tidak ada.”
Adrian berhenti membaca.
Tangannya mengepal.
Kemudian sebuah pesan masuk dari bagian digital forensik.
Mereka berhasil memulihkan sebagian rekaman suara dari ponselku.
Adrian memasang earphone.
Suara angin terdengar.
Kemudian suara Nadine.
“Kenapa harus kamu yang mendapatkan semuanya?”
Wajah Adrian membeku.
Lalu suaraku terdengar.
“Nadine, lepaskan tanganku!”
Beberapa detik kemudian terdengar teriakan pendek dan suara benturan.
Rekaman berhenti.
Adrian tidak bergerak.
Aku melihat sesuatu pecah di dalam dirinya.
Pagi berikutnya, hasil DNA keluar.
Jaringan di bawah kukuku cocok dengan DNA Nadine yang ditemukan dari sampel medis rumah sakit.
Polisi langsung bergerak.
Namun Nadine menghilang.
Apartemennya kosong.
Ponselnya mati.
Rekaman CCTV menunjukkan dia meninggalkan Jakarta menggunakan mobil sewaan beberapa jam setelah kematianku.
Adrian berdiri di depan papan bukti bersama penyidik.
“Dia kemungkinan menuju Jawa Barat,” kata salah seorang polisi.
Adrian tiba-tiba berkata, “Bukan.”
Semua orang menoleh.
“Dia akan kembali.”
“Kenapa?”
Adrian memandang fotoku.
“Karena dia tidak membunuh Alya hanya karena membencinya.”
Dia berhenti.
“Dia membunuh Alya karena menginginkan hidupnya.”
Malam itu Adrian pulang ke rumah untuk pertama kalinya.
Rumah kami gelap.
Aku mengikutinya.
Dia masuk ke kamar, membuka lemari, lalu duduk di sisi ranjang.
Di sana masih ada baju tidurku.
Parfumku.
Buku yang belum selesai kubaca.
Adrian mengambil bantal dan menekannya ke wajah.
Bahu laki-laki itu akhirnya bergetar.
“Aku minta maaf.”
Aku duduk di sampingnya meski tubuh kami tak mungkin lagi bersentuhan.
“Aku seharusnya percaya padamu.”
Kemudian dia melihat kalender di meja.
Tanggal itu dilingkari merah.
Ulang tahun pernikahan kami.
Adrian membuka laci.
Dia menemukan kotak kecil itu.
Tangannya langsung gemetar.
Ketika membuka kotaknya, hasil USG jatuh ke lantai.
Dia mengambilnya.
Di balik foto itu aku menulis sesuatu.
Aku bahkan sudah lupa.
Kalau bayi kita perempuan, aku ingin matanya seperti kamu. Kalau laki-laki, semoga sifat keras kepalanya jangan seperti kamu.
Adrian tertawa kecil.
Tapi tawanya berubah menjadi tangisan.
Untuk pertama kalinya selama mengenalnya, aku melihat dia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Lalu bel rumah berbunyi.
Adrian mengangkat kepala.
Aku ikut menoleh.
Jantung yang sudah tak kumiliki seolah kembali berdetak.
Di depan pintu berdiri Nadine.
Rambutnya berantakan.
Matanya sembap.
“Aku takut,” katanya ketika Adrian membuka pintu.
“Aku dengar polisi mencariku.”
Adrian hanya menatapnya.
Nadine menangis.
“Aku tidak membunuh Alya. Aku melihat seseorang mendorongnya. Aku takut mereka akan menyalahkanku.”
Dia mencoba memeluk Adrian.
Adrian tidak bergerak.
“Masuk.”
Aku langsung memahami rencananya.
Polisi pasti sudah menunggu.
Nadine masuk.
Matanya menyapu rumahku seperti seseorang yang sejak lama membayangkan tinggal di sana.
Kemudian pandangannya berhenti pada hasil USG di atas meja.
Wajahnya berubah.
“Hamil?”
Adrian berdiri di belakangnya.
“Kamu tidak tahu?”
Nadine perlahan berbalik.
“Aku…”
“Kamu melihat perutnya di rooftop.”
Nadine membeku.
Kesalahan kecil.
Tapi cukup.
Karena polisi tidak pernah mengumumkan lokasi pasti pertengkaran kami.
Adrian mendekatinya.
“Bagaimana kamu tahu Alya berada di rooftop?”
Nadine pucat.
“Aku cuma menebak.”
“Bagaimana kamu tahu dia hamil?”
“Aku…”
Adrian menatapnya dengan mata yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Darah dan jaringan kulitmu ada di bawah kuku istriku.”
Nadine mundur.
“Adrian, dengarkan aku.”
“Aku sudah terlalu lama mendengarkan orang yang salah.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Nadine mulai menangis histeris.
“Aku melakukan semuanya karena mencintaimu!”
“Cinta?”
Adrian tersenyum getir.
“Kamu membunuh istri dan anakku lalu menyebutnya cinta?”
Nadine tiba-tiba meraih gunting dari meja.
Namun sebelum sempat melakukan apa pun, polisi menerobos masuk.
Dia ditangkap.
Saat dibawa keluar, Nadine masih berteriak memanggil nama Adrian.
Namun Adrian tidak menoleh sedikit pun.
Beberapa bulan kemudian, kasusku selesai.
Nadine dijatuhi hukuman berat setelah bukti forensik, rekaman suara, CCTV, dan pengakuannya saling menguatkan.
Namaku perlahan menghilang dari berita.
Orang-orang kembali menjalani hidup mereka.
Hanya Adrian yang seperti berhenti pada hari kematianku.
Suatu sore dia datang ke makamku membawa bunga.
Di samping namaku, dia memasang sebuah plakat kecil.
Untuk Alya dan anak kami yang belum sempat melihat dunia.
Adrian duduk lama.
“Aku dulu berpikir mencintai seseorang berarti melindunginya dengan fakta dan logika.”
Dia tersenyum pahit.
“Ternyata mendengarkan juga bagian dari cinta.”
Aku berdiri di belakangnya.
Untuk pertama kalinya sejak meninggal, tubuhku terasa semakin ringan.
Seolah ada sesuatu yang akhirnya mengizinkanku pergi.
Adrian mengeluarkan foto USG dari dompetnya.
“Aku tidak tahu kamu laki-laki atau perempuan,” bisiknya. “Tapi Ayah minta maaf karena terlambat mengenalmu.”
Cahaya hangat perlahan memenuhi pandanganku.
Aku mengira semuanya sudah selesai.
Namun tepat sebelum aku menghilang, seorang perempuan tua berhenti di dekat makam.
Dia adalah ibuku.
Ibu menyerahkan sebuah amplop kepada Adrian.
“Alya menitipkan ini kepada saya dua minggu sebelum meninggal. Katanya diberikan kalau sesuatu terjadi padanya.”
Adrian membukanya.
Aku terkejut.
Aku ingat surat itu.
Kutulis setelah pertengkaran terbesar kami tentang Nadine.
Adrian membaca kalimat terakhir dengan tangan gemetar.
Jika suatu hari aku pergi lebih dulu, jangan habiskan hidupmu untuk membuktikan bahwa kamu mencintaiku setelah aku tiada. Percayalah kepada orang yang kamu cintai ketika mereka masih ada di hadapanmu.
Adrian menutup mata.
Air matanya jatuh ke atas kertas.
Dan pada saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Keadilan memang membutuhkan bukti.
Ilmu pengetahuan membutuhkan kepastian.
Namun cinta tidak selalu datang membawa hasil laboratorium, rekaman kamera, atau laporan forensik.
Kadang-kadang cinta hanya meminta kita berhenti sejenak, mendengarkan, dan mempercayai orang yang berdiri di hadapan kita sebelum semuanya terlambat.
Aku memandang Adrian untuk terakhir kalinya.
Kemudian, dari suatu tempat yang tak dapat kulihat, kurasakan sebuah tangan kecil menggenggam jemariku.
Aku menunduk.
Tak ada siapa-siapa.
Tetapi aku tahu siapa yang sedang menungguku.
Aku tersenyum.
Kali ini tanpa rasa takut.
Lalu aku pergi bersama anak kami, sementara Adrian tetap duduk di depan makam, memegang surat yang akhirnya memberinya kebenaran paling penting dalam hidupnya.
Kebenaran yang tidak pernah bisa ditemukan oleh pisau bedah.
