“Kami sebenarnya enggak pernah seharusnya kelaparan.”
Kalimat Sasa membuat ruang guru mendadak terasa lebih sempit.
Tidak ada yang bicara.
Aku menatap tiga lembar kupon makan di atas meja. Nama Mila, Rafi, dan Sasa tercetak jelas. Ada nomor siswa, periode berlaku, tanda tangan petugas, bahkan cap sekolah.
Aku mengambil salah satunya.

“Kalau mereka punya kupon ini, kenapa mereka enggak bisa makan?”
Bu Tika menunduk.
Bu Lilis yang sejak tadi terlihat defensif justru menjadi orang pertama yang menjawab.
“Karena kupon itu enggak pernah sampai ke kantin.”
Aku menoleh kepadanya.
“Apa maksudnya?”
“Selama ini saya menerima daftar penerima dari sekolah. Nama tiga anak itu enggak ada.”
Pak Hendro segera menyela.
“Bu Lilis, jangan membuat kesimpulan.”
“Saya enggak bikin kesimpulan, Pak.”
Bu Lilis menarik sebuah map plastik dari tasnya.
“Saya simpan daftar setiap bulan.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar fotokopi.
Aku melihat daftar nama siswa penerima subsidi makan. Ada belasan nama.
Namun Mila, Rafi, dan Sasa memang tidak tercantum.
Aku kembali memandang kupon di meja.
“Kalau begitu, kupon ini dari mana?”
Sasa meremas ujung seragamnya.
“Dari ruang tata usaha.”
“Kamu dapat kapan?”
“Awal semester.”
“Kenapa enggak dipakai?”
Mata Sasa mulai berkaca-kaca.
“Aku pernah coba.”
Ia menatap Bu Lilis.
“Waktu itu Bu Lilis bilang namaku enggak ada.”
Bu Lilis mengangguk pelan.
“Aku pikir kuponnya palsu,” lanjut Sasa. “Besoknya aku tanya ke kantor.”
“Lalu?”
Sasa menoleh ke Pak Hendro.
Wajah wakil kepala sekolah itu berubah.
“Katanya ada kesalahan data.”
“Siapa yang bilang?”
Sasa diam.
Pak Hendro berdiri.
“Sudah. Ini bukan pembicaraan untuk anak-anak.”
Aku ikut berdiri.
“Justru karena menyangkut anak-anak, saya ingin dengar.”
“Bu Rina, jangan memperbesar masalah yang belum jelas.”
Aku menatapnya.
“Anak saya makan seperempat bekalnya selama lima bulan. Tiga anak lain kelaparan padahal mereka punya kupon makan. Menurut Bapak, bagian mana yang belum cukup jelas?”
Pak Hendro tidak menjawab.
Sasa tiba-tiba mengambil kembali tiga kupon itu.
“Aku pulang.”
“Tunggu.”
Aku menghampirinya.
“Kamu tahu Mila dan Rafi dapat kupon juga dari mana?”
Sasa mengangguk.
“Aku yang simpan.”
“Kenapa?”
“Rafi mau buang punya dia. Mila takut ibunya tahu.”
“Kenapa ibunya enggak boleh tahu?”
Bibir Sasa bergetar.
“Karena kalau orang tua datang protes, kami bisa dipindahkan.”
Aku merasa ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
“Dipindahkan ke mana?”
“Sekolah lain.”
Pak Hendro membentak.
“Sasa!”
Anak itu tersentak.
Dan saat itulah Bu Tika berdiri.
“Cukup, Pak.”
Suasana berubah.
Selama pertemuan tadi, Bu Tika hampir selalu bicara hati-hati. Tetapi kali ini suaranya tegas.
“Saya sudah bilang sejak dua bulan lalu masalah ini harus diselesaikan.”
Pak Hendro menatapnya tajam.
“Bu Tika.”
“Saya punya salinan emailnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Bu Tika membuka laptop.
Ia menunjukkan kepadaku beberapa email yang pernah dikirim kepada bagian administrasi sekolah. Subjeknya sederhana.
Evaluasi penerima bantuan makan siswa.
Di dalamnya ada nama Mila, Rafi, dan Sasa.
Email pertama dikirim hampir empat bulan lalu.
Tidak pernah ada jawaban tertulis.
Aku membaca sampai tanganku gemetar.
“Jadi sekolah tahu?”
“Sebagian dari kami tahu,” kata Bu Tika.
“Kenapa tidak ada yang melakukan apa-apa?”
Bu Tika menarik napas panjang.
“Karena program bantuan ini bukan sepenuhnya dikelola sekolah.”
Ternyata setiap bulan ada dana dari sebuah yayasan mitra untuk menyediakan makan siang bagi siswa dari keluarga tertentu.
Sekolah mengajukan nama.
Yayasan mentransfer dana berdasarkan jumlah penerima.
Kantin menyediakan makanan.
Secara teori, sederhana.
Masalahnya ada pada daftar.
“Tahun lalu ada evaluasi,” kata Bu Tika. “Beberapa anak dikeluarkan dari daftar karena dokumen keluarga mereka dianggap tidak lengkap.”
“Termasuk tiga anak ini?”
“Secara administrasi, iya.”
Aku menunjuk kupon.
“Tapi mereka tetap diberi kupon.”
Bu Tika mengangguk.
“Itulah yang aneh.”
Aku menoleh kepada Pak Hendro.
“Dana untuk mereka tetap turun?”
Tidak ada jawaban.
Pertanyaan itu rupanya jauh lebih berbahaya daripada semua pertanyaan sebelumnya.
Bu Lilis perlahan menutup buku utangnya.
“Saya juga baru ngerti sekarang.”
Ia terdengar tidak lagi marah.
Lebih seperti takut.
Selama ini, ia mengira sekolah sekadar terlambat memperbarui daftar. Karena kasihan, beberapa kali ia tetap memberi makan kepada anak-anak itu dan mencatatnya sebagai utang pribadi.
Ketika utangnya semakin besar, ia berhenti.
“Aku enggak bisa terus nombok,” katanya pelan. “Tapi kalau saya tahu sebenarnya ada dana untuk mereka…”
Kalimatnya terputus.
Pak Hendro mengambil mapnya.
“Pertemuan selesai. Saya akan laporkan kepada kepala sekolah.”
Aku tidak bergerak.
“Saya mau ikut.”
“Tidak perlu.”
“Saya orang tua murid.”
“Anak Ibu bukan penerima bantuan.”
Aku hampir menjawab ketika suara kecil terdengar dari pintu.
“Tapi aku yang kasih mereka makan.”
Nara berdiri di sana.
Entah sejak kapan.
Wajahnya tegang.
“Nara?”
“Aku nyari Ibu.”
Ia berjalan mendekat dan menggenggam tanganku.
“Aku enggak mau berhenti bawa roti.”
Pak Hendro menghela napas.
“Nara, kamu anak baik. Tapi sekolah punya aturan.”
“Aturan apa?”
Aku merasakan genggaman Nara semakin kuat.
Pak Hendro mencoba tersenyum.
“Anak-anak tidak boleh membuat kebiasaan membagikan makanan setiap hari karena bisa menimbulkan masalah.”
Nara menatapnya polos.
“Masalah buat siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Dalam perjalanan pulang, Nara duduk di belakang motorku tanpa bicara.
Baru ketika kami sampai rumah, ia bertanya.
“Besok aku masih boleh bawa empat?”
Aku mematikan mesin.
Aku ingin langsung menjawab iya.
Tetapi aku teringat wajah Pak Hendro.
Aku juga teringat bahwa Nara beberapa kali lemas setelah olahraga.
Aku berjongkok di depannya.
“Kamu harus makan cukup.”
“Tapi mereka juga.”
“Ibu tahu.”
“Kalau aku makan dua, berarti cuma dua orang yang dapat.”
Aku tidak punya jawaban yang cukup sederhana untuk anak delapan tahun.
Malam itu Dimas membaca semua foto dokumen yang sempat kuambil.
Ia tidak banyak bicara.
Kemudian ia menunjuk angka kecil di salah satu dokumen.
“Ini jumlah penerima yang diajukan.”
Aku melihatnya.
Empat puluh tujuh siswa.
Lalu kami menghitung nama pada daftar kantin.
Empat puluh dua.
Selisih lima.
Bukan tiga.
Ada dua anak lain.
Keesokan paginya aku tidak membuat satu roti.
Aku membuat empat sandwich kecil.
Ketika Nara melihatnya, matanya membesar.
“Bu…”
“Yang satu buat kamu.”
Aku memasukkan semuanya ke kotak.
“Tiga lainnya juga buat kamu.”
Nara bingung.
Aku tersenyum.
“Kamu yang menentukan mau diapakan.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tersenyum.
Namun masalahnya belum selesai.
Siang itu aku mendapat pesan dari sekolah.
Nara diminta tidak membagikan makanan kepada siswa lain sampai evaluasi selesai.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian Bu Tika menelepon.
“Bu Rina, saya harus jujur. Ada tekanan supaya masalah ini tidak dibawa keluar.”
“Kenapa?”
“Karena yayasan akan melakukan audit kalau ada laporan resmi.”
“Bukankah itu justru bagus?”
Bu Tika diam.
Jawabannya sudah jelas.
Dua hari kemudian, tiga keluarga dipanggil.
Aku baru pertama kali bertemu ibu Mila.
Ia bekerja mencuci pakaian di beberapa rumah dan membesarkan Mila sendirian.
Ayah Rafi bekerja sebagai buruh bongkar muat dan selama beberapa bulan terakhir jarang mendapat pekerjaan.
Sementara Sasa tinggal bersama neneknya.
Ibunya bekerja di luar kota.
Tidak satu pun dari mereka tahu anak mereka pernah mendapat kupon.
Yang paling membuatku terpukul adalah nenek Sasa.
Perempuan tua itu membuka tas kainnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Saya isi semuanya.”
Formulir bantuan.
Fotokopi kartu keluarga.
Surat keterangan penghasilan.
Semua lengkap.
“Katanya kurang dokumen,” kataku.
Nenek Sasa menggeleng.
“Saya sampai datang tiga kali.”
Ruangan mendadak gaduh.
Kepala sekolah yang baru mengetahui keseluruhan masalah meminta semua dokumen diperiksa ulang.
Hari itu juga ditemukan sesuatu.
Lima nama memang hilang dari daftar kantin.
Tetapi lima nama itu tetap tercatat dalam laporan yang dikirim kepada yayasan.
Artinya, di atas kertas, lima anak menerima makanan setiap hari.
Dalam kenyataan, mereka tidak menerima apa pun.
Pak Hendro mengatakan itu mungkin kesalahan administrasi.
Yayasan tidak menerima penjelasan tersebut.
Audit dimulai minggu berikutnya.
Dan hasilnya lebih buruk daripada yang kami bayangkan.
Bukan hanya lima anak.
Selama hampir dua tahun, daftar penerima yang dilaporkan ke yayasan beberapa kali berbeda dengan daftar aktual di kantin.
Ada siswa yang sudah pindah sekolah tetapi masih tercatat menerima makan.
Ada nama ganda.
Ada pula bantuan yang dilaporkan telah diberikan pada hari-hari ketika sekolah sedang libur.
Aku tidak pernah diberi tahu seluruh detail keuangannya.
Tetapi satu hal menjadi jelas.
Seseorang telah memanfaatkan anak-anak yang nyaris tidak punya suara untuk menutupi angka di atas kertas.
Pak Hendro akhirnya dinonaktifkan selama pemeriksaan.
Dua staf administrasi ikut diperiksa.
Anehnya, orang yang paling membuatku merasa bersalah justru Bu Lilis.
Suatu sore ia mendatangiku di depan gerbang.
“Saya mau minta maaf.”
“Kenapa?”
“Saya pernah menyuruh Sasa pergi dari kantin.”
Matanya merah.
“Saya pikir orang tuanya sengaja enggak bayar. Saya kesal karena utangnya sudah banyak.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Ia mengusap matanya.
“Kadang kita merasa sedang memperjuangkan hak kita, sampai enggak sadar orang di depan kita bahkan enggak punya pilihan.”
Seminggu kemudian sekolah membuat sistem baru.
Bantuan makan tidak lagi menggunakan kupon kertas yang bisa hilang atau daftar terpisah.
Setiap penerima tercatat langsung dalam sistem yang bisa diverifikasi wali kelas, kantin, dan orang tua.
Yang lebih penting, sekolah membuat satu aturan sederhana.
Tidak ada anak yang ditolak makan hanya karena persoalan administrasi sedang diperiksa.
Masalah dokumen diselesaikan orang dewasa.
Bukan dibebankan kepada perut anak.
Pada Senin pertama setelah sistem baru berjalan, aku sengaja datang ke sekolah.
Aku berdiri di tempat yang sama seperti pertama kali aku mengikuti Nara.
Di bawah pohon ketapang.
Bel istirahat berbunyi.
Anak-anak keluar.
Aku melihat Rafi berlari menuju kantin.
Mila menyusul.
Sasa berjalan di belakang mereka.
Beberapa menit kemudian mereka kembali membawa makanan masing-masing.
Nara duduk di bangku semen.
Ia membuka kotak bekalnya.
Empat potong roti.
Aku hampir tertawa.
Padahal sekarang ia tidak perlu membaginya.
Rafi duduk di sebelahnya sambil membawa semangkuk soto.
Mila membawa nasi dan telur.
Sasa membawa mi goreng.
Nara mengambil satu potong roti.
Lalu ia mendorong tiga potong lainnya ke tengah.
Aku mengernyit.
Rafi mengambil satu.
Mila mengambil satu.
Sasa mengambil satu.
Sebagai gantinya, Rafi memberikan sepotong telur kepada Nara.
Mila memberikan sedikit kerupuk.
Sasa menyodorkan satu potong buah dari piringnya.
Mereka tertawa.
Empat anak.
Empat makanan berbeda.
Tidak ada yang memberi karena kasihan.
Tidak ada yang menerima karena lapar.
Mereka hanya berbagi.
Aku baru memahami sesuatu yang selama berbulan-bulan sudah dipahami anakku.
Nara tidak pernah memotong rotinya menjadi empat karena ia ingin menjadi penyelamat siapa pun.
Ia melakukannya supaya tidak ada seorang pun di meja itu merasa lebih rendah daripada yang lain.
Sore harinya, saat kami pulang, aku bertanya kepadanya.
“Sekarang teman-temanmu sudah dapat makan. Kenapa rotinya masih harus empat?”
Nara yang duduk di belakangku menjawab tanpa berpikir lama.
“Karena sekarang mereka bisa gantian kasih aku makanan.”
Aku tertawa.
“Jadi bukan sedekah lagi?”
“Dari dulu juga bukan.”
Aku terdiam.
Nara memeluk pinggangku.
“Dari dulu kami cuma makan bareng.”
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Aku menjalankan motor perlahan.
Selama berbulan-bulan, orang-orang dewasa sibuk menentukan siapa yang layak menerima, dokumen siapa yang lengkap, uang siapa yang harus dibayar, dan aturan siapa yang harus ditaati.
Sementara empat anak di bawah pohon ketapang sudah menemukan cara yang jauh lebih sederhana.
Satu roti dibagi empat.
Bukan karena satu anak punya lebih banyak.
Melainkan karena tidak seorang pun seharusnya duduk di sebelah temannya dengan perut kosong.
