Keesokan paginya, pukul 07.12, ponselku bergetar tanpa henti di atas meja dapur.
Aku bahkan belum sempat menghabiskan kopi ketika nama Dinda muncul di layar.
Aku membiarkannya berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setelah itu, pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi.
“Kak Laras, paket postpartum-ku kenapa dibatalkan?”
“Kak, pihak care center bilang refund diajukan oleh pemesan.”
“Aku melahirkan sekitar tiga minggu lagi. Ini serius?”

Aku membaca semuanya tanpa menjawab.
Dari ruang tengah, Rendra masih sibuk mencari kunci mobil. Ia mengenakan kemeja putih, celana bahan gelap, dan ekspresi santai seperti lelaki yang semalam tidak mempermalukan keluarga istrinya di depan belasan orang.
“Lar, lihat kunci mobilku?”
“Di meja dekat televisi.”
Ia mengambilnya, lalu berhenti ketika ponselnya sendiri berdering.
Nama Dinda terpampang di layar.
Rendra mengangkat telepon.
“Halo?”
Aku tidak bisa mendengar suara Dinda dengan jelas, tetapi volumenya cukup keras untuk membuat wajah Rendra berubah.
Ia menoleh kepadaku.
“Apa maksudnya paket Dinda dibatalkan?”
Aku mengaduk kopi.
“Ya, dibatalkan.”
“Kamu yang batalkan?”
“Iya.”
Rendra memutus telepon tanpa pamit.
“Kamu kenapa?”
Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena untuk pertama kalinya aku menyadari betapa terbiasanya lelaki ini menerima segala sesuatu dariku tanpa pernah bertanya dari mana semuanya berasal.
“Aku cuma membatalkan sesuatu yang kubayar dengan uangku sendiri.”
“Itu hadiah untuk Dinda.”
“Benar.”
“Terus kenapa dibatalkan?”
Aku menatapnya.
“Kelahiran adikmu memang ada hubungannya apa denganku?”
Wajah Rendra seketika mengeras.
Kalimatnya sendiri.
Persis seperti yang ia ucapkan kemarin.
Hanya saja sekarang kalimat itu kembali kepadanya.
“Jangan kekanak-kanakan, Laras.”
“Aku tidak sedang kekanak-kanakan.”
“Gara-gara enam ribu enam ratus rupiah kamu bikin masalah sebesar ini?”
Aku meletakkan sendok.
“Jadi kamu sadar jumlah itu memalukan?”
Rendra terdiam.
Hanya beberapa detik, tetapi cukup.
Aku melanjutkan.
“Kalau menurutmu Rp6.600 pantas untuk menyambut kelahiran anak kakakku, kenapa Rp66,8 juta wajib kuberikan untuk adikmu?”
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
“Dinda adikku.”
“Maya kakakku.”
“Dinda keluarga kita.”
Aku menatapnya lama.
“Maya juga keluargaku.”
Rendra mengembuskan napas kasar.
“Kamu selalu begini. Sedikit-sedikit membandingkan keluargaku dengan keluargamu.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
Selama lima tahun menikah, aku membayar sebagian renovasi rumah Bu Ratna ketika atapnya bocor.
Aku membelikan laptop untuk Dinda ketika ia mengambil sertifikasi profesi.
Aku membayar tiket pesawat Bu Ratna dan Pak Surya ketika mereka menghadiri pernikahan sepupu di Makassar.
Setiap Lebaran, aku menyiapkan hampers untuk keluarga besar Rendra.
Ketika ayah Rendra menjalani operasi katarak, aku mengambil cuti tiga hari untuk mengurus administrasi rumah sakit.
Aku melakukannya bukan karena diminta.
Aku melakukannya karena kupikir begitulah keluarga bekerja.
Namun setiap kali keluargaku membutuhkan sedikit penghormatan, Rendra selalu punya alasan.
Terlalu jauh.
Terlalu sibuk.
Tidak perlu berlebihan.
Atau kalimat favoritnya, “Mereka kan masih punya kamu.”
Pukul delapan pagi, Bu Ratna menelepon.
Aku mengangkatnya.
“Laras, Mama mau tanya baik-baik.”
Nada suaranya memang terdengar lembut, tetapi aku sudah hafal apa yang biasanya datang setelah kalimat itu.
“Kenapa paket Dinda dibatalkan?”
“Karena saya berubah pikiran, Ma.”
“Berubah pikiran bagaimana? Dinda sudah cerita ke teman-temannya. Dia sudah pilih kamar, menu, bahkan jadwal konsultasi laktasi.”
“Itu sebabnya sebaiknya Dinda segera mencari tempat lain.”
Suara Bu Ratna meninggi.
“Kamu tahu Dinda sebentar lagi melahirkan!”
“Saya tahu.”
“Kalau tahu, kenapa kamu tega?”
Aku memejamkan mata.
Kata itu lagi.
Tega.
Kemarin, ketika Maya dipermalukan, tidak ada seorang pun dari keluarga Rendra yang menggunakan kata itu.
“Ma, uangnya akan dikembalikan penuh.”
“Ini bukan soal uang!”
Aku tersenyum tipis.
Akhirnya.
“Kalau bukan soal uang, berarti tidak ada masalah.”
Telepon mendadak sunyi.
Bu Ratna tampaknya baru menyadari jebakan dari kalimatnya sendiri.
Sebelum ia menjawab, terdengar suara Dinda menangis di belakang.
“Kak Laras benci aku, ya?”
Aku menghela napas.
Dinda sebenarnya tidak pernah jahat kepadaku. Ia hanya terlalu lama hidup dalam keluarga yang menganggap pemberianku sebagai sesuatu yang otomatis.
“Din, aku tidak membencimu.”
“Terus kenapa dibatalkan?”
“Karena aku baru sadar aku selama ini terlalu banyak mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan tanggung jawabku.”
“Tapi Kakak sudah janji.”
“Aku memang pernah berjanji. Dan aku minta maaf karena membatalkannya. Tapi keputusan ini tetap.”
Bu Ratna merebut telepon.
“Laras, Mama tidak menyangka kamu bisa sependendam ini.”
Aku belum sempat menjawab ketika Rendra mengambil ponsel dari tanganku.
“Sudah, Ma. Nanti aku urus.”
Ia mematikan telepon lalu menatapku.
“Malam ini kita ke rumah Mama.”
“Untuk apa?”
“Bicara.”
“Kalau tujuannya memaksaku membayar lagi, tidak perlu.”
Rendra tertawa pendek.
“Kamu pikir semua ini tentang uang?”
Aku berdiri.
“Tidak. Semua ini tentang rasa hormat.”
Malam itu kami tetap datang.
Bu Ratna sudah menunggu di ruang keluarga bersama Pak Surya, Dinda, dan suaminya, Kevin.
Di atas meja ada teh yang tidak disentuh siapa pun.
Begitu aku duduk, Bu Ratna langsung membuka pembicaraan.
“Dalam keluarga, kita tidak boleh hitung-hitungan.”
Aku mengangguk.
“Setuju.”
“Kalau setuju, aktifkan lagi paket Dinda.”
Aku menatapnya.
“Ma, kalau dalam keluarga tidak boleh hitung-hitungan, kenapa kemarin Rendra sengaja mentransfer Rp6.600 untuk anak Maya?”
Bu Ratna terdiam.
Rendra langsung menyela.
“Aku sudah bilang, itu uangku. Aku bebas kasih berapa.”
“Dan Rp66,8 juta itu uangku.”
“Laras!”
“Aku juga bebas memutuskan.”
Pak Surya akhirnya bersuara.
“Sudahlah. Jangan diperpanjang. Rendra, kemarin memang kamu keterlaluan.”
Semua orang menoleh.
Bu Ratna tampak paling terkejut.
“Papa kok malah membela dia?”
“Saya tidak membela siapa-siapa. Saya cuma bilang yang benar.”
Pak Surya menatap putranya.
“Enam ribu enam ratus itu bukan hadiah. Itu penghinaan.”
Rendra berdiri.
“Papa tidak tahu masalahnya.”
“Masalah apa?”
Untuk pertama kalinya malam itu, Rendra kehilangan kata-kata.
Aku justru penasaran.
“Ya. Masalah apa, Ren?”
Rendra menatapku, lalu membuang muka.
Bu Ratna tiba-tiba berkata, “Sudahlah, tidak perlu dibahas.”
Nada suaranya terlalu cepat.
Aku langsung menangkap sesuatu.
“Apa yang tidak perlu dibahas?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menatap satu per satu wajah mereka.
Dinda terlihat bingung.
Kevin menunduk.
Pak Surya mengernyit.
Hanya Bu Ratna dan Rendra yang tampak seperti menyembunyikan sesuatu.
“Ren?”
Rendra mengepalkan tangan.
“Maya pernah mempermalukan Mama.”
Aku terdiam.
“Kapan?”
“Tiga tahun lalu.”
Aku benar-benar tidak tahu apa yang ia maksud.
Rendra melanjutkan.
“Waktu ulang tahun Mama. Maya bilang tas yang Mama pakai palsu.”
Aku mengingat malam itu.
Kemudian semuanya kembali.
Tas bermerek yang Bu Ratna banggakan di depan keluarga ternyata dibeli dari seorang penjual daring. Maya, yang kebetulan bekerja di perusahaan distribusi produk fesyen, hanya berkata pelan kepadaku bahwa nomor seri tas tersebut tidak sesuai.
Maya bahkan tidak pernah mengatakannya di depan Bu Ratna.
Aku yang bodoh justru menceritakannya kepada Rendra di rumah.
“Jadi kamu menyimpan dendam tiga tahun hanya karena itu?”
“Mama dengar dari kamu setelahnya!”
Aku menoleh kepada Bu Ratna.
Ia tidak menyangkal.
Tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih buruk.
Transfer Rp6.600 itu bukan karena Rendra pelit.
Bukan karena salah pencet.
Itu memang sengaja dilakukan untuk mempermalukan Maya.
“Dan kamu memilih acara kelahiran anaknya untuk membalas?”
Rendra diam.
Aku merasakan sesuatu di dalam diriku runtuh.
Anehnya, aku tidak menangis.
Aku justru merasa sangat tenang.
“Baik.”
Aku mengambil tas.
“Pulang.”
Rendra mengejarku hingga halaman.
“Laras, jangan lebay.”
Aku berhenti.
“Besok aku akan transfer Rp6.600 ke rekening Dinda.”
“Apa?”
“Hadiah kelahiran.”
Wajahnya memerah.
“Jangan berani.”
Aku menatap matanya.
“Kenapa? Angka enam bagus, kan? Doanya supaya rezeki lancar.”
Untuk pertama kalinya, Rendra tidak punya jawaban.
Aku pulang sendirian malam itu.
Tiga hari berikutnya, aku tinggal di rumah orang tuaku.
Rendra mengirim puluhan pesan.
Awalnya marah.
Lalu menyalahkan Maya.
Kemudian menyalahkanku.
Setelah itu ia berubah lembut.
“Aku cuma emosi.”
“Kita sudah lima tahun menikah.”
“Jangan rusak rumah tangga karena masalah kecil.”
Masalah kecil.
Dua kata itulah yang akhirnya membuatku menghubungi seorang pengacara.
Bukan untuk langsung bercerai.
Aku hanya ingin memahami posisiku.
Dan di situlah aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Selama lima tahun, rekening bersama kami hampir selalu kuisi lebih banyak daripada Rendra. Kami menggunakannya untuk cicilan rumah, kendaraan, kebutuhan rumah tangga, dan investasi.
Namun enam bulan terakhir, ada transfer rutin dari rekening bersama ke sebuah rekening yang tidak kukenal.
Rp15 juta.
Rp20 juta.
Rp12 juta.
Totalnya Rp184 juta.
Aku meminta mutasi lengkap.
Nama penerima membuat tanganku dingin.
Ratna Kusumawati.
Ibu Rendra.
Aku menelepon Rendra.
“Kenapa ada Rp184 juta dari rekening kita ditransfer ke Mama?”
Sunyi.
“Ren?”
“Itu pinjaman.”
“Pinjaman untuk apa?”
“Mama butuh modal.”
“Modal apa?”
“Usaha.”
“Usaha apa?”
Ia tidak menjawab.
Aku kemudian menelepon Pak Surya.
Lima belas menit kemudian, rahasia itu terbuka.
Bu Ratna ternyata berinvestasi dalam sebuah bisnis katering milik temannya. Rendra diam-diam mengambil uang dari rekening bersama untuk membantu ibunya.
Dan sebagian besar dana di rekening itu berasal dari bonus serta pendapatanku.
Aku duduk di ruang makan rumah orang tuaku dengan tangan dingin.
Tiba-tiba Rp6.600 itu terlihat sangat ironis.
Lelaki yang berkata kelahiran keponakanku tidak ada hubungannya dengan dirinya ternyata merasa tabunganku memiliki hubungan langsung dengan bisnis ibunya.
Malam itu Rendra datang.
Ia berdiri di depan rumah orang tuaku hampir satu jam sebelum akhirnya kubiarkan masuk.
“Aku akan kembalikan.”
“Kapan?”
“Bertahap.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Kalau kubilang, kamu pasti keberatan.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu tahu itu salah.”
Rendra mengusap wajah.
“Aku cuma ingin membantu Mama.”
“Dengan uang kita.”
“Kita suami istri.”
“Benar. Justru karena itu kamu seharusnya bicara denganku.”
Ia mulai menangis.
Selama lima tahun, baru kali itu aku melihat Rendra menangis.
Namun anehnya, hatiku tidak lagi langsung luluh.
“Aku salah,” katanya. “Aku akui.”
Aku mengangguk.
“Bukan cuma soal uang, Ren.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu belum tahu.”
Aku mengambil ponsel dan membuka tangkapan layar transfer Rp6.600.
“Kamu sengaja mempermalukan kakakku karena dendam tiga tahun. Kamu membiarkan ibumu ikut menertawakan keluargaku. Kamu mengambil uang tanpa izinku. Dan setiap kali aku membantu keluargamu, kalian menganggapnya kewajiban.”
Rendra menunduk.
“Lalu ketika aku berhenti memberi, tiba-tiba aku disebut pendendam.”
Ia tidak menjawab.
Aku meletakkan ponsel.
“Aku tidak akan mengajukan cerai hari ini.”
Rendra langsung mengangkat kepala.
Ada harapan di matanya.
“Tapi aku juga tidak pulang hari ini.”
Harapan itu menghilang.
Aku meminta tiga hal.
Uang Rp184 juta harus dikembalikan ke rekening bersama.
Seluruh akses finansial kami harus transparan.
Dan Rendra harus datang sendiri ke rumah Maya untuk meminta maaf.
Bukan lewat WhatsApp.
Bukan transfer.
Bukan bunga.
Datang sendiri.
Dua minggu kemudian, Rendra berdiri di depan rumah Maya.
Tanpa Bu Ratna.
Tanpa aku.
Ia membawa sebuah amplop.
Maya membuka pintu.
Aku sengaja menunggu di dalam mobil bersama Ayah.
Dari kejauhan kulihat Rendra membungkukkan kepala.
Mereka berbicara hampir dua puluh menit.
Kemudian Maya menyerahkan kembali amplop itu.
Ketika Rendra kembali ke mobil, matanya merah.
“Maya tidak mau uangnya.”
Aku tidak terkejut.
“Apa katanya?”
Rendra menatap lurus ke depan.
“Katanya anaknya tidak membutuhkan uang dariku. Dia cuma ingin anaknya tumbuh di keluarga yang tidak mengukur harga diri seseorang dari siapa yang lebih kaya.”
Aku diam.
Beberapa bulan kemudian, Dinda melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat.
Ia tidak jadi tinggal di postpartum care center premium.
Sebagai gantinya, Kevin mengambil cuti dua minggu dan mereka menyewa perawat harian.
Aku tetap datang ke rumah sakit.
Aku membawa bunga, pakaian bayi, dan sebuah amplop.
Dinda membuka amplop itu sambil tertawa gugup.
Di dalamnya ada bukti transfer.
Rp6.600.
Wajah Rendra langsung berubah.
Namun di bawah bukti transfer itu ada satu lembar lagi.
Bukti pembukaan deposito pendidikan atas nama putra Dinda.
Rp20 juta.
Dinda menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Kak…”
Aku menggenggam tangannya.
“Rp6.600 itu untuk mengingatkan kita pada satu hal.”
“Apa?”
“Bahwa jumlah uang tidak pernah menentukan seberapa besar seseorang menyayangi keluarga. Tapi cara kita memberi bisa menunjukkan seberapa besar kita menghormati mereka.”
Aku menunjuk lembar deposito.
“Yang ini untuk keponakanku. Bukan untuk membayar gengsi siapa pun.”
Dinda memelukku.
Di belakangnya, Bu Ratna berdiri diam.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Beberapa saat kemudian, ia berjalan mendekat.
Aku mengira ia akan marah.
Sebaliknya, perempuan yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah meminta maaf itu menundukkan kepala.
“Laras.”
Aku menatapnya.
“Mama salah.”
Hanya dua kata.
Tidak dramatis.
Tidak menghapus apa pun.
Namun cukup untuk menjadi permulaan.
Aku dan Rendra akhirnya tetap menjalani pernikahan kami, tetapi bukan dengan aturan lama.
Rekening kami dipisahkan.
Pengeluaran bersama dibicarakan.
Bantuan kepada keluarga masing-masing harus disepakati.
Dan yang paling penting, tidak ada lagi istilah keluargamu dan keluargaku ketika berbicara tentang penghormatan.
Setahun kemudian, saat ulang tahun pertama putri Maya, seluruh keluarga kembali berkumpul.
Ketika acara hampir selesai, Rendra mendekati Maya sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Ini buat keponakanku.”
Maya tersenyum curiga.
“Berapa?”
Semua orang mendadak diam.
Rendra tertawa malu.
“Bukan enam ribu enam ratus.”
Maya akhirnya tertawa.
Bahkan Ayah ikut tertawa.
Rendra membuka kotak itu.
Di dalamnya bukan uang atau perhiasan.
Melainkan sebuah buku tabungan pendidikan yang ia isi setiap bulan sejak hari dirinya meminta maaf.
Maya terdiam.
“Kenapa?”
Rendra menatap bayi kecil yang sedang tertidur dalam pelukan Arif.
“Karena dulu aku pikir menjadi keluarga berarti membela orang yang sedarah denganku.”
Ia kemudian menoleh kepadaku.
“Sekarang aku tahu, menjadi keluarga berarti tahu kapan harus membela mereka dan kapan harus mengingatkan mereka bahwa mereka salah.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya menggenggam tangannya.
Rp6.600 pernah membuat rumah tangga kami nyaris runtuh.
Bukan karena nilainya.
Melainkan karena di balik angka kecil itu tersembunyi dendam, kesombongan, dan ketidakadilan yang selama bertahun-tahun kami pura-pura tidak lihat.
Sementara Rp66,8 juta yang kubatalkan justru mengajarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
Bahwa kebaikan tanpa batas sering kali tidak dianggap sebagai kebaikan.
Ia perlahan berubah menjadi kewajiban di mata orang yang terbiasa menerimanya.
Dan terkadang, untuk mengajarkan seseorang menghargai apa yang kita berikan, kita tidak perlu memberi lebih banyak.
Kita hanya perlu berani berhenti memberi.
