Suamiku Diam-Diam Menghabiskan Jamu Nifasku Selama 7 Hari, Lalu Dokter Menemukan Racun yang Seharusnya Masuk ke Tubuhku

“Jamu,” jawabku hampir berbisik.

Dokter yang berdiri di hadapanku langsung mengangkat kepala.

“Jamu apa?”

“Jamu nifas. Ibu mertua saya membuatnya setiap pagi sejak saya pulang dari rumah sakit.”

Bu Ratna yang sejak tadi duduk di sampingku mendadak berdiri.

“Nadira, jangan bicara sembarangan. Itu jamu biasa. Isinya kunyit, temulawak, jahe, daun sirih, sama beberapa akar.”

Dokter menatapnya.

“Yang meminum jamu itu Pak Raka?”

Aku menelan ludah.

“Seharusnya saya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Wajah Bu Ratna perlahan berubah.

“Apa maksudmu?”

Aku memandangnya. “Saya tidak kuat minum karena mual. Jadi setiap Ibu keluar kamar, Raka yang menghabiskannya.”

Bu Ratna seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.

“Berapa kali?”

“Setiap hari.”

“Berapa kali, Nadira?”

“Tujuh.”

Tubuh Bu Ratna langsung limbung hingga tangannya mencengkeram sandaran kursi.

“Tidak mungkin.”

Dokter meminta kami membawa sisa jamu jika masih ada. Untungnya, pagi itu Bu Ratna membuat satu panci kecil dan sisanya masih tersimpan di dapur.

Adik Raka, Dimas, yang baru tiba di rumah sakit langsung pulang mengambilnya.

Sementara itu, Raka dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk observasi.

Aku duduk di lorong dengan pikiran kosong.

Putriku berada di rumah bersama ibuku. Luka operasi terasa berdenyut, tetapi rasa sakit itu seperti menghilang dibandingkan ketakutan yang memenuhi kepalaku.

Kalau Raka tidak meminum jamu itu, akulah yang akan terbaring di dalam sana.

Pikiran itu membuat tengkukku dingin.

Bu Ratna duduk beberapa kursi dariku.

Sejak mengetahui Raka yang menghabiskan jamu, beliau tidak mengatakan apa-apa.

Tangannya terus gemetar.

Sekitar dua jam kemudian Dimas kembali membawa botol berisi sisa rebusan.

Dokter mengirim sampelnya ke laboratorium.

Kami menunggu sampai hampir tengah malam.

Ketika dokter kembali, kali ini ia datang bersama seorang dokter spesialis penyakit dalam.

“Ada sesuatu yang perlu kami jelaskan,” katanya.

Aku langsung berdiri.

“Hasil pemeriksaan awal menemukan kandungan yang tidak semestinya ada dalam ramuan herbal rumahan.”

Bu Ratna menatap dokter tanpa berkedip.

“Zat apa?”

“Belum bisa kami pastikan sumbernya sebelum pemeriksaan toksikologi lengkap selesai. Tetapi ada senyawa yang dalam paparan berulang dapat mengganggu fungsi hati dan menyebabkan mual, lemas, tremor, bahkan penurunan kesadaran.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Apakah itu bisa muncul dari bahan jamu?”

“Dalam konsentrasi seperti ini, kami tidak bisa menganggapnya normal.”

Bu Ratna tiba-tiba berkata keras, “Saya tidak memasukkan racun!”

Beberapa orang di lorong menoleh.

Dokter tetap tenang.

“Saya tidak mengatakan Ibu memasukkannya. Kami hanya menjelaskan hasil pemeriksaan.”

Bu Ratna menutup mulut dengan kedua tangannya.

Aku justru teringat sesuatu.

Setiap pagi Bu Ratna selalu membawa jamu yang sudah siap.

Aku tidak pernah melihat proses pembuatannya.

“Ibu beli bahan-bahannya di mana?”

Bu Ratna menatapku.

“Pasar.”

“Semua?”

Beliau terdiam.

Aku langsung tahu ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Ibu?”

“Ada satu campuran bubuk.”

“Bubuk apa?”

Bu Ratna mengalihkan pandangan.

“Dari seseorang.”

“Siapa?”

“Nadira, sekarang bukan waktunya.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

“Suami saya masuk rumah sakit karena minuman yang seharusnya saya minum. Kalau sekarang bukan waktunya, kapan?”

Dimas ikut menatap ibunya.

“Ma, bubuk dari siapa?”

Bu Ratna akhirnya menjawab dengan suara pelan.

“Bu Siska.”

Nama itu terasa familier.

Lalu aku ingat.

Bu Siska adalah tetangga lama keluarga Raka di Depok. Perempuan sekitar lima puluh tahun yang beberapa kali datang ke rumah kami selama kehamilanku.

Setiap datang, ia selalu membawa ramuan.

Katanya resep turun-temurun.

“Dia bilang bubuk itu bagus untuk perempuan habis melahirkan,” kata Bu Ratna. “Katanya supaya darah nifas lancar dan badan cepat pulih.”

“Kenapa Ibu tidak bilang sejak awal?”

“Karena kamu selalu menolak jamu.”

Aku memejamkan mata.

Keesokan harinya, kondisi Raka membaik.

Ia sudah sadar penuh ketika aku masuk ke kamarnya.

Begitu melihatku, ia tersenyum lemah.

“Anak kita?”

“Sama Mama. Aman.”

Raka mengangguk.

Aku duduk di samping tempat tidurnya.

“Kamu tahu jamu itu bermasalah.”

Senyumnya hilang.

“Aku dengar sedikit dari dokter.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa kamu terus minum kalau badanmu sudah mulai nggak enak?”

Raka diam cukup lama.

“Aku pikir cuma kecapekan.”

“Bohong.”

Dia menatapku.

Aku mengenal suamiku delapan tahun. Raka selalu menghindari tatapan mataku ketika menyembunyikan sesuatu.

“Kamu curiga, ya?”

Raka menarik napas.

“Hari kelima.”

Dadaku langsung sesak.

“Apa?”

“Setelah minum, lidahku terasa kebas. Hari sebelumnya nggak begitu.”

“Lalu kenapa kamu minum lagi?”

Jawabannya membuatku membeku.

“Karena aku mau tahu.”

“Tahu apa?”

“Apakah itu kebetulan atau bukan.”

Air mataku langsung jatuh.

“Kamu gila?”

“Mungkin.”

“Kalau kamu mati bagaimana?”

Raka tersenyum tipis.

“Kalau aku berhenti minum, Mama pasti terus memberikannya ke kamu.”

Aku tidak mampu menjawab.

Dia ternyata bukan sekadar membantu menghabiskan jamuku.

Dua hari terakhir, Raka sengaja menjadi tameng.

Sore itu Dimas datang membawa kabar lain.

Ia sudah mendatangi rumah Bu Siska.

Rumahnya kosong.

Tetangga mengatakan Bu Siska pergi sejak pagi setelah menerima telepon dari seseorang.

Namun ada hal yang jauh lebih aneh.

“Mas, Mbak,” kata Dimas sambil menunjukkan ponselnya. “Aku cek kamera CCTV rumah.”

Rumah kami memiliki kamera di teras, garasi, ruang keluarga, dan dapur.

Dimas membuka rekaman lima hari sebelumnya.

Pukul 05.47 pagi.

Bu Ratna terlihat sedang merebus jamu.

Beberapa menit kemudian beliau keluar dari dapur untuk mengangkat cucian.

Seseorang masuk.

Aku menahan napas.

Itu Mbak Yuni.

Asisten rumah tangga kami.

Ia membuka salah satu lemari, mengambil wadah kecil, lalu menuangkan sesuatu ke dalam panci.

Bu Ratna langsung berdiri.

“Tidak mungkin!”

Dimas memutar rekaman hari berikutnya.

Hal yang sama terjadi.

Hari ketujuh juga.

Tanganku mulai gemetar.

Mbak Yuni sudah bekerja di rumah keluarga Raka hampir empat tahun.

Ia bahkan yang membantu menyiapkan kamar bayi.

Polisi akhirnya dilibatkan setelah rumah sakit menyerahkan laporan medis awal.

Ketika polisi mendatangi rumah kami, Mbak Yuni sudah tidak ada.

Kamarnya kosong.

Sebagian pakaiannya hilang.

Namun terburu-buru membuatnya meninggalkan sesuatu.

Sebuah ponsel lama ditemukan di bawah kasur.

Dari sana, semuanya mulai terbuka.

Ada percakapan dengan nomor tanpa nama.

Instruksinya singkat.

Pastikan diminum Nadira.

Tambahkan sedikit saja setiap pagi.

Jangan sampai Ratna tahu.

Setelah tujuh hari, berhenti.

Pesan terakhir dikirim beberapa jam sebelum Raka pingsan.

Kalau Nadira masih sehat, berarti kamu gagal.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Seseorang memang menginginkanku sakit.

Tetapi siapa?

Jawabannya datang dari tempat yang sama sekali tidak kuduga.

Polisi menelusuri transfer uang kepada Mbak Yuni.

Uang itu berasal dari sebuah rekening digital yang terhubung dengan nomor telepon milik Bu Siska.

Namun ketika Bu Siska akhirnya ditemukan dua hari kemudian di sebuah penginapan di Bogor, ia menangis dan mengatakan rekening itu hanya dipinjam.

“Siapa yang meminjam?”

Bu Siska menyebut satu nama.

Aku sampai meminta polisi mengulanginya.

“Maaf, siapa?”

“Melati Prameswari.”

Aku tidak mengenal nama itu.

Tetapi Raka mengenalnya.

Wajah suamiku berubah saat mendengarnya.

Melati adalah mantan kekasih Raka.

Mereka pernah bertunangan sebelum aku mengenal Raka.

Hubungan itu berakhir setelah keluarga Raka mengetahui Melati berkali-kali meminjam uang atas nama Raka.

Aku menatap suamiku.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Karena itu sudah selesai delapan tahun lalu.”

Ternyata belum.

Polisi menemukan bahwa beberapa bulan sebelumnya Melati menghubungi Bu Siska, yang merupakan bibinya sendiri.

Ia mengetahui kehamilanku dari media sosial Bu Ratna.

Tetapi motifnya bukan sekadar kecemburuan lama.

Ada sesuatu yang bahkan Raka tidak ketahui.

Ayah Raka meninggal dua tahun sebelumnya dan meninggalkan sejumlah aset keluarga. Dalam surat wasiatnya terdapat klausul bahwa sebagian saham perusahaan keluarga akan dialihkan kepada cucu pertama setelah lahir.

Putri kami adalah cucu pertama.

Dan selama bertahun-tahun, Melati ternyata masih memiliki hubungan bisnis tersembunyi dengan salah satu kerabat keluarga yang berharap menguasai saham tersebut.

Target sebenarnya bukan membunuhku.

Mereka ingin membuatku sakit cukup parah setelah melahirkan, kemudian menyebarkan bukti seolah aku mengalami gangguan akibat konsumsi obat dan tidak mampu merawat bayi.

Dengan kondisi kesehatanku yang buruk, mereka berharap bisa menekan Raka untuk menyerahkan pengelolaan sementara aset anak kami kepada keluarga.

Rencana itu terdengar gila.

Namun percakapan yang ditemukan polisi menunjukkan semuanya telah disusun selama berbulan-bulan.

Mbak Yuni akhirnya ditangkap di Cirebon.

Dari keterangannya, terungkap satu kenyataan terakhir.

Bubuk dari Bu Siska sebenarnya tidak berbahaya.

Itu memang campuran herbal biasa.

Zat berbahaya ditambahkan secara terpisah oleh Mbak Yuni.

Artinya Bu Ratna tidak pernah berniat menyakitiku.

Hari Raka diperbolehkan pulang, Bu Ratna menungguku di lorong rumah sakit.

Matanya sembap.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Beliau menggenggam kedua tanganku.

“Ibu minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu terlalu percaya bahwa karena dulu Ibu minum jamu setelah melahirkan, kamu juga harus melakukannya. Ibu pikir memaksa itu bentuk perhatian.”

Suaranya pecah.

“Kalau Raka tidak meminumnya…”

Beliau tidak sanggup melanjutkan.

Aku memandang perempuan di depanku.

Selama beberapa hari aku sempat membencinya.

Namun akhirnya aku memahami sesuatu.

Niat baik tanpa menghormati batas orang lain tetap bisa membuka pintu bagi bahaya.

“Ibu,” kataku pelan, “setelah ini, jangan pernah paksa saya minum apa pun lagi.”

Bu Ratna langsung mengangguk sambil menangis.

“Tidak akan.”

Raka pulang seminggu kemudian.

Fungsi hatinya perlahan kembali membaik.

Pada malam pertama di rumah, setelah putri kami tertidur, aku menemukan Raka berdiri di dapur.

Di depannya ada mangkuk keramik yang sama.

Mangkuk jamu.

Aku langsung berhenti.

“Kamu ngapain?”

Raka mengangkat mangkuk itu.

Aku hampir berteriak.

Namun dia berjalan menuju tempat sampah dan menuangkan seluruh isinya.

“Trauma,” katanya.

Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah kantong plastik kecil berisi serbuk kecokelatan.

Aku langsung menegang.

“Apa itu?”

“Ini yang kutemukan di dapur pada hari kelima.”

Aku menatapnya.

“Kamu sudah menemukan itu sebelum pingsan?”

Raka mengangguk.

“Aku lihat Yuni buru-buru keluar dari dapur. Setelah itu aku menemukan sedikit bubuk tercecer di belakang kompor.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Aku belum tahu siapa yang bisa dipercaya.”

Kalimat itu membuat senyumku hilang.

Raka kemudian menyerahkan kantong tersebut kepada polisi sebagai bukti tambahan.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan mengungkap satu detail yang membuatku tidak bisa tidur sepanjang malam.

Bubuk yang ditemukan Raka ternyata berbeda dengan zat yang ada dalam darahnya.

Artinya ada dua bahan asing.

Satu ditambahkan Mbak Yuni.

Satu lagi sudah berada di dalam campuran sebelum jamu sampai ke dapur kami.

Polisi memeriksa kembali seluruh bukti.

Bu Siska kembali diperiksa.

Dan akhirnya diketahui bahwa selama ini ada satu orang lain yang secara rutin mengambil bahan jamu dari rumah Bu Siska sebelum mengantarkannya kepada Bu Ratna.

Orang itu adalah kerabat yang sama yang ingin menguasai saham keluarga.

Melati ternyata hanya bagian dari rencana.

Mbak Yuni juga hanya bagian dari rencana.

Orang yang mengatur semuanya justru seseorang yang setiap minggu datang menjenguk putri kami sambil membawa hadiah dan tersenyum seolah sangat menyayanginya.

Paman Raka sendiri.

Saat polisi membawanya pergi, aku berdiri di balik jendela sambil menggendong putriku.

Bu Ratna menangis di ruang keluarga.

Raka berdiri di sampingku.

Aku menatap bayi kecil yang tertidur damai dalam pelukanku.

Selama ini kami mengira bahaya selalu datang dengan wajah menakutkan.

Ternyata tidak.

Kadang bahaya datang membawa buah tangan.

Memanggil kita keluarga.

Duduk di meja makan yang sama.

Dan bertanya dengan suara penuh perhatian apakah kita sudah minum obat.

Aku menatap Raka.

Tangannya masih menyisakan bekas infus.

“Kenapa kamu sampai mempertaruhkan nyawamu?”

Dia memandang putri kami, lalu kepadaku.

“Aku tidak sedang mempertaruhkan nyawa.”

“Lalu?”

“Aku cuma terlambat sadar bahwa melindungi keluarga bukan berarti menelan racun untuk mereka.”

Aku terdiam.

Raka menggenggam tanganku.

“Melindungi keluarga berarti berani bertanya ketika sesuatu terasa salah.”

Sejak hari itu, tidak ada lagi mangkuk jamu yang diletakkan di meja kamarku.

Dan setiap kali seseorang mengatakan sesuatu pasti aman hanya karena sudah dilakukan turun-temurun, aku selalu teringat tujuh mangkuk kosong di dapur kami.

Tujuh mangkuk yang seharusnya kuminum.

Tujuh mangkuk yang hampir merenggut suamiku.

Namun justru karena tujuh mangkuk itulah, kami akhirnya mengetahui bahwa racun paling berbahaya di rumah kami bukanlah sesuatu yang terasa pahit di lidah.

Melainkan kepercayaan yang diberikan tanpa pernah dipertanyakan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang