“Menikahlah lagi, Nisa.”
Tanganku berhenti saat menuang teh.
Aku menatap Bu Lestari, ibu mertuaku, yang duduk di meja makan rumah kecil kami di Pekalongan. Suaranya pelan, tetapi kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam tepat ke dada.
“Bu?”
Ia menggenggam tanganku.
“Delapan tahun bukan sebentar.”
Aku tahu maksudnya. Semua orang di kampung ini juga tahu. Delapan tahun sejak Arman, suamiku, berangkat bekerja sebagai teknisi mesin di kapal penangkap ikan berbendera asing. Delapan tahun sejak ia terakhir menelepon dari Kaohsiung. Delapan tahun sejak nomor teleponnya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
“Raka sudah lima belas tahun,” lanjut Bu Lestari. “Kamu juga baru tiga puluh enam. Ibu tidak mau kamu menghabiskan hidup menunggu orang yang mungkin…”
Ia berhenti.
Aku menatapnya.
“Sudah meninggal?”
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Nisa…”
Aku berdiri tanpa menjawab.

Bukan karena marah. Aku hanya sudah terlalu lelah mendengar kemungkinan itu.
Selama delapan tahun, aku sudah mendengar semua versi cerita. Ada yang bilang kapal Arman tenggelam. Ada yang bilang ia kabur dengan perempuan lain. Ada yang bilang ia sengaja memutus hubungan karena tidak mau bertanggung jawab.
Aku tidak pernah percaya.
Entah kenapa, hatiku selalu mengatakan bahwa Arman masih hidup.
Aku masuk ke kamar dan membuka lemari tua. Dari bagian paling belakang, aku mengambil sebuah kotak biskuit yang sudah kusimpan bertahun-tahun.
Ketika kembali ke ruang makan, Bu Lestari masih duduk dengan mata merah.
Aku membuka kotak itu.
Lalu meletakkan sebuah kunci kecil di telapak tangannya.
Di kepala kunci itu tergantung pelat aluminium bertuliskan A-317.
“Apa ini?” tanyanya.
“Kunci loker.”
“Loker siapa?”
Aku belum sempat menjawab ketika Raka keluar dari kamar dengan seragam sekolah.
“Bu, dasiku…”
Ia berhenti.
Matanya tertuju pada benda di tangan neneknya.
Wajahnya mendadak pucat.
“Kenapa Nenek pegang itu?”
Aku langsung menoleh.
“Kamu tahu kunci ini?”
Raka diam.
Bu Lestari menatap kami bergantian.
“Nisa, sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?”
Justru aku yang semakin bingung.
Kunci itu baru kutemukan enam hari sebelumnya.
Saat membersihkan gudang, aku menemukan tas ransel lama milik Arman. Tas itu tidak pernah kusentuh sejak ia pergi. Di balik lapisan kain bagian bawah terdapat sebuah kantong kecil yang dijahit dengan tangan.
Di dalamnya hanya ada kunci A-317 dan satu tiket bus yang sudah pudar.
Terminal Tirtonadi Solo.
Tanggal pada tiket itu membuat tengkukku merinding.
Tiket tersebut diterbitkan dua tahun setelah Arman dinyatakan hilang.
Aku tidak memberi tahu siapa pun. Bahkan Bu Lestari.
Aku berniat mencari tahu sendiri.
Namun sekarang, Raka ternyata mengenali kunci itu.
Aku menutup pintu rumah.
“Raka, kamu tahu dari mana?”
“Nggak tahu, Bu.”
“Lihat Ibu.”
Ia menunduk.
“Raka.”
Akhirnya ia mengangkat wajah.
“Dua bulan lalu ada orang datang ke sekolah.”
Dadaku langsung terasa dingin.
“Siapa?”
“Laki-laki.”
“Namanya?”
“Dia nggak bilang.”
“Terus?”
“Dia cuma kasih amplop.”
“Mana?”
Raka berlari ke kamarnya.
Beberapa detik kemudian ia kembali membawa amplop cokelat yang sudah kusut.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat fotokopi kartu loker penitipan barang sebuah terminal di Solo.
Nomor yang tercetak jelas adalah A-317.
Di bawahnya ada tulisan tangan.
Jangan buka sebelum nenekmu sendiri meminta ibumu berhenti menunggu.
Tanganku gemetar.
Bu Lestari menjatuhkan sendok.
“Apa maksudnya?”
Aku menatapnya.
“Itu yang ingin kutanyakan.”
Raka kemudian mengeluarkan sebuah foto dari saku amplop.
Seorang laki-laki berdiri membelakangi kamera di depan sebuah bengkel kapal.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun di pergelangan tangan kirinya ada bekas luka panjang.
Aku langsung mengenalinya.
Arman mendapat luka itu ketika kami masih pacaran. Tangannya terkena seng di bengkel ayahnya. Aku sendiri yang membawanya ke klinik malam itu.
Di belakang foto tertulis tanggal 14 Februari 2024.
Arman hilang sejak 2018.
Berarti enam tahun setelah kami kehilangan kontak, seseorang masih memotretnya.
“Aku mau ke Solo,” kataku.
Bu Lestari langsung berdiri.
“Ibu ikut.”
“Tidak.”
“Nisa…”
“Kalau ini jebakan, Raka harus tetap bersama seseorang.”
Aku mengambil foto, amplop, dan kunci.
Sebelum berangkat, aku memotret semuanya dan mengirim salinannya ke emailku sendiri. Aku juga menghubungi Mira, sepupuku yang bekerja di sebuah kantor hukum.
“Kalau sampai malam aku belum memberi kabar, hubungi aku.”
“Masalah apa?”
“Aku belum tahu.”
Tiga jam kemudian aku tiba di Terminal Tirtonadi.
Petugas penitipan barang memeriksa kunci di tanganku.
“A-317?”
“Iya.”
Ia mengetik sesuatu di komputer, lalu mengernyit.
“Kok aneh…”
“Apa?”
“Loker ini bukan sewa harian.”
“Lalu?”
“Sudah dibayar di muka sampai akhir tahun.”
Jantungku berdegup semakin keras.
“Oleh siapa?”
Petugas itu memutar layar komputer ke arahku.
Sebuah nama muncul.
Raka Pradipta.
Aku langsung menelepon rumah.
Raka mengangkat setelah dering kedua.
“Bu?”
“Kenapa loker ini atas namamu?”
Hening beberapa detik.
“Raka!”
“Aku nggak pernah menyewa loker itu, Bu.”
Aku bisa mendengar kepanikan dari suaranya.
Aku percaya.
Petugas kemudian membuka loker tersebut.
Di dalamnya hanya ada sebuah tas laptop hitam.
Aku membukanya.
Tidak ada uang.
Tidak ada pakaian.
Hanya sebuah ponsel lama, buku tabungan, dan map biru.
Ponselnya mati.
Buku tabungannya atas namaku.
Aku tidak pernah membuka rekening tersebut.
Saldo terakhir yang tercetak adalah Rp486.750.000.
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Lalu aku membuka map biru.
Halaman pertama adalah salinan surat perjanjian kerja Arman.
Halaman kedua berisi daftar pengiriman uang.
Setiap tahun.
Selama delapan tahun.
Arman ternyata terus mengirim uang.
Namun tidak satu rupiah pun pernah masuk ke rekening yang kukenal.
Aku membalik halaman terakhir.
Ada formulir perubahan penerima transfer.
Nama penerima baru adalah Raka Pradipta.
Tanggal perubahan itu tiga bulan setelah Arman menghilang.
Di bawah formulir terdapat sidik jari dan nama saksi.
Lestari Wibowo.
Ibu kandung pekerja.
Lututku terasa lemas.
Aku segera menelepon Bu Lestari.
“Ibu tanda tangan ini?”
Di ujung telepon tidak ada jawaban.
“Ibu!”
Suara napasnya terdengar berat.
“Pulanglah, Nisa.”
“Aku tanya, Ibu tanda tangan atau tidak?”
“Iya.”
Jawaban itu membuat kepalaku berdenyut.
“Kenapa?”
“Ada sesuatu yang tidak bisa Ibu jelaskan lewat telepon.”
“Apa Ibu tahu Arman masih hidup?”
Lama sekali ia tidak menjawab.
Lalu terdengar tangis kecil.
“Ibu tahu.”
Aku menutup mata.
“Sejak kapan?”
“Sejak delapan tahun lalu.”
Dunia seperti berhenti bergerak.
Aku kembali ke Pekalongan malam itu juga.
Begitu sampai rumah, Bu Lestari sudah menunggu di ruang tengah. Raka duduk di sampingnya.
Aku meletakkan map biru di meja.
“Sekarang jelaskan.”
Bu Lestari menatap foto Arman.
“Arman tidak hilang karena kecelakaan.”
“Lalu?”
“Tiga bulan setelah berangkat, kapal tempatnya bekerja terlibat masalah besar. Ada penyelundupan barang ilegal. Beberapa awak kapal ditahan. Arman tahu terlalu banyak.”
“Kenapa dia tidak pulang?”
“Karena ada orang yang mengancamnya.”
Aku terdiam.
“Siapa?”
“Pemilik perusahaan.”
Bu Lestari mengusap wajahnya.
“Arman berhasil melarikan diri. Tapi dia tidak bisa langsung pulang. Dia bilang kalau dia kembali, bukan hanya dirinya yang terancam. Kamu dan Raka juga.”
“Jadi selama ini dia hidup?”
“Iya.”
“Kenapa tidak menghubungiku?”
“Dia pernah.”
Aku menatapnya tajam.
“Pernah?”
Bu Lestari mengangguk.
“Beberapa kali. Tapi selalu melalui Ibu.”
Dadaku terasa sesak.
“Lalu kenapa Ibu tidak pernah memberi tahu?”
“Karena setiap kali dia menghubungi, dia meminta Ibu merahasiakannya.”
“Dan uang itu?”
“Arman mengirim semuanya untuk kalian.”
“Kenapa penerimanya Raka?”
Bu Lestari menunduk.
“Karena dia takut rekening atas namamu dilacak.”
Aku menatap Raka.
Anakku sejak tadi hanya diam.
“Tapi kenapa ada orang datang ke sekolah?”
Raka akhirnya bicara.
“Orang itu bilang Ayah menyuruhku menyimpan amplop.”
“Kenapa kamu tidak bilang kepada Ibu?”
“Aku takut.”
“Apa lagi yang dia katakan?”
Raka mengeluarkan secarik kertas dari saku seragamnya.
“Dia bilang Ayah akan pulang kalau Nenek sudah menyuruh Ibu menikah lagi.”
Aku merasakan tubuhku membeku.
Bu Lestari menangis.
“Itu syarat terakhir dari Arman.”
Aku tidak mengerti.
“Syarat?”
“Ia ingin memastikan bahwa jika suatu hari dia tidak bisa kembali, kamu akan tetap melanjutkan hidup. Dia tidak ingin kamu menunggu selamanya.”
Aku menatap kunci A-317 di meja.
“Lalu kenapa loker itu?”
Bu Lestari menggeleng.
“Itu bukan dari Ibu.”
“Siapa yang membayarnya?”
Sebelum ia menjawab, ponsel lamaku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
“Nisa?”
Aku langsung mengenali suara itu.
Delapan tahun.
Delapan tahun aku menunggu suara tersebut.
“Arman?”
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Lalu suara laki-laki itu terdengar pelan.
“Maaf.”
Air mataku langsung jatuh.
“Kamu di mana?”
“Jangan tanya.”
“Kamu hidup selama ini dan membiarkan aku mengira kamu mati?”
“Aku tahu.”
“Raka tahu?”
“Belum semuanya.”
Aku menggigit bibir.
“Kenapa sekarang?”
“Karena waktuku hampir habis.”
Jantungku berdegup keras.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak bisa pulang sendiri. Orang-orang itu masih mencariku.”
Aku menatap Bu Lestari.
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Besok pagi pergi ke alamat yang ada di buku tabungan. Datang bersama Mira. Jangan bawa siapa pun.”
“Arman…”
“Aku minta satu hal.”
“Apa?”
“Jangan percaya siapa pun yang mengatakan aku sudah meninggal.”
Telepon terputus.
Malam itu aku tidak tidur.
Pagi harinya, aku bersama Mira pergi ke alamat yang tercantum di buku tabungan. Ternyata alamat itu adalah sebuah rumah tua di pinggiran Semarang.
Pintu rumah terbuka.
Di dalam hanya ada satu meja, beberapa dokumen, dan sebuah koper.
Di atas meja terdapat surat.
Untuk Nisa.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Nisa, kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak bisa kembali seperti yang kamu harapkan.
Aku tidak menghilang karena tidak mencintaimu. Justru karena aku terlalu mencintai kalian.
Aku ingin pulang sejak hari pertama. Tetapi setiap kali aku mencoba, selalu ada ancaman baru.
Ada satu hal yang tidak pernah kukatakan kepada siapa pun.
Orang yang paling membantuku selama delapan tahun terakhir bukan teman kapal, bukan polisi, dan bukan orang asing.
Orang itu adalah ibuku.
Aku terdiam.
Mira membaca surat itu dari sampingku.
Di bagian bawah terdapat kalimat terakhir.
Ibu sengaja membuatmu marah kepadanya karena hanya dengan begitu aku bisa memastikan kamu tidak akan berhenti hidup hanya demi menungguku.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari belakang.
Aku berbalik.
Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya lebih kurus dari yang kuingat. Rambutnya sudah dipenuhi uban. Wajahnya tampak jauh lebih tua.
Tetapi bekas luka di tangan kirinya masih sama.
Aku tidak bisa bergerak.
“Arman…”
Ia hanya tersenyum.
“Maaf aku terlambat delapan tahun.”
Aku menangis tanpa suara.
Ia melangkah mendekat, tetapi berhenti beberapa langkah di depanku.
“Aku tidak tahu apakah aku masih pantas pulang sebagai suamimu.”
Aku menggeleng sambil menangis.
“Aku tidak menunggu laki-laki yang sempurna.”
Arman menundukkan kepala.
“Aku cuma menunggu suamiku pulang.”
Di belakang kami, Mira perlahan menutup pintu.
Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, aku melihat Bu Lestari berdiri di luar.
Ia tersenyum sambil menangis.
Saat itu aku baru memahami alasan sebenarnya mengapa selama delapan tahun ia selalu menyuruhku untuk melupakan Arman.
Bukan karena ia tahu anaknya sudah meninggal.
Bukan pula karena ia ingin aku menikah dengan orang lain.
Ia hanya sedang menjalankan janji yang pernah dibuatnya kepada anaknya.
Memastikan aku tetap hidup, sampai hari Arman akhirnya benar-benar bisa pulang.
Dan kunci A-317 yang selama ini kukira sebagai awal dari sebuah misteri ternyata bukan kunci menuju rahasia Arman.
Itu adalah kunci menuju jalan pulangnya.
