Saat Aditya membatalkan perjalanan perayaan sepuluh tahun pernikahan mereka, Kirana tidak berteriak.
Ia juga tidak menangis.
Kirana hanya duduk diam di meja makan apartemen mereka di Jakarta Selatan, memandangi semangkuk soto yang mulai dingin dan brosur hotel di Labuan Bajo yang tergeletak di samping tangannya.
Empat tahun.
Selama empat tahun mereka menabung untuk perjalanan itu.

Kirana mengambil jadwal lembur di apotek rumah sakit, menyimpan hampir seluruh bonus tahunannya, bahkan beberapa kali menolak membeli barang yang sebenarnya ia inginkan.
Ia selalu berpikir semua pengorbanan itu akan terasa sepadan ketika akhirnya mereka bisa merayakan sepuluh tahun pernikahan tanpa pekerjaan, tanpa telepon kantor, dan terutama tanpa campur tangan Bu Ratna.
Namun malam itu, semuanya berakhir hanya dengan satu kalimat.
“Ibu sangat membutuhkanku.”
Kirana mengangkat pandangan.
“Pipa airnya bocor lagi, atau Ibu cuma ingin dapur baru seperti yang ada di majalah?”
Aditya mengernyit.
“Jangan sinis. Dapur Ibu sudah tua dan tidak layak.”
“Berapa?”
Aditya terdiam sesaat.
“Dua ratus delapan puluh juta.”
Tangan Kirana berhenti di atas meja.
“Dari mana uangnya?”
Aditya menatapnya lurus.
“Tabungan kita.”
“Tidak.”
Jawaban Kirana pendek, tetapi tegas.
Anehnya, Aditya justru tersenyum.
“Aku tidak sedang meminta izinmu. Kontrak dengan kontraktornya sudah kutandatangani kemarin.”
Ada sesuatu yang patah di dalam dada Kirana saat itu.
Bukan karena perjalanan yang batal.
Bukan pula semata-mata karena uang.
Melainkan karena laki-laki yang selama sepuluh tahun disebutnya suami baru saja menunjukkan bahwa dalam pernikahan mereka, suara Kirana ternyata tidak pernah benar-benar dianggap setara.
Kirana menatap wajah Aditya lama sekali.
Lalu ia tersenyum tipis.
“Baiklah. Silakan renovasi dapur ibumu.”
Aditya tampak terkejut.
Namun hanya beberapa detik.
Setelah itu wajahnya berubah lega. Ia mungkin mengira Kirana akhirnya menyerah.
Yang tidak diketahui Aditya adalah tiga minggu sebelumnya Kirana menerima telepon dari Pak Hendra, notaris yang sudah lama menangani urusan hukum keluarga pamannya.
Telepon itu awalnya membicarakan dokumen warisan ayah Kirana.
Namun sebelum menutup pembicaraan, Pak Hendra menyebut sebuah alamat yang membuat Kirana terdiam.
Rumah Bu Ratna di Menteng.
Ternyata sembilan bulan sebelumnya Bu Ratna diam-diam menjual rumah itu.
Pembelinya adalah Baskoro, paman kandung Kirana.
Om Baskoro membeli properti tersebut sebagai investasi tanpa mengetahui bahwa penjualnya adalah ibu mertua keponakannya. Transaksi dilakukan melalui perusahaan pengelola aset.
Dalam perjanjian penjualan, Bu Ratna mendapat hak tinggal seumur hidup.
Ia boleh tinggal di rumah tersebut sampai meninggal dunia.
Namun ada syarat tegas.
Tidak boleh melakukan perubahan struktural, membongkar dinding utama, mengubah instalasi permanen, atau melakukan renovasi besar tanpa persetujuan tertulis pemilik.
Ketika Kirana mendengar rencana renovasi dapur, ia sebenarnya bisa menghentikannya.
Tetapi sesuatu membuatnya memilih diam.
Selama bertahun-tahun ia selalu menjadi orang yang memperingatkan.
Jangan keluarkan uang sebanyak itu.
Jangan langsung percaya.
Jangan mengambil keputusan tanpa berdiskusi.
Dan setiap kali semuanya berakhir buruk, Kirana pula yang diminta membereskan akibatnya.
Kali ini ia ingin Aditya menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Tiga hari kemudian, Rp280 juta keluar dari rekening bersama mereka.
Kirana memandangi notifikasi transfer di ponselnya tanpa ekspresi.
Saldo yang dikumpulkannya selama empat tahun hampir habis.
Tidak lama kemudian Bu Ratna mengunggah foto di media sosial.
Ia berpose di depan kabinet dapur lama sambil tersenyum lebar.
“Inilah bukti bakti anak laki-laki yang sesungguhnya kepada ibunya. Orang tua tidak akan pernah rugi membesarkan anak yang tahu membalas budi.”
Di bawahnya ada kalimat lain.
“Bukan seperti orang tertentu yang menghitung setiap rupiah untuk keluarga.”
Kirana tahu kalimat itu ditujukan kepadanya.
Aditya bahkan menyukai unggahan tersebut.
Kirana hanya mengambil tangkapan layar.
Hari demi hari, rumah Menteng itu berubah menjadi proyek besar.
Kabinet dibongkar.
Lantai dihancurkan.
Instalasi listrik dicabut.
Kemudian kontraktor menyampaikan bahwa konsep dapur terbuka yang diinginkan Bu Ratna mengharuskan sebuah dinding besar dibongkar.
Aditya menyetujuinya.
Bu Ratna bahkan meminta pulau dapur marmer impor dan lemari khusus.
Biaya membengkak.
Dua ratus delapan puluh juta ternyata tidak cukup.
Aditya mengambil lagi Rp45 juta dari dana darurat.
Kali ini ia tidak memberi tahu Kirana.
Namun Kirana mengetahuinya dari mutasi rekening.
Ia tetap diam.
Sampai Sabtu pagi, Aditya menelepon dengan suara penuh semangat.
“Kirana, cepat datang ke rumah Ibu. Kamu harus lihat. Dindingnya sudah dibongkar. Dapurnya bakal keren banget.”
Ketika Kirana tiba, bagian belakang rumah itu nyaris tidak bisa dikenali.
Dinding telah jebol.
Kabel listrik bergelantungan.
Pipa air terpotong.
Ubin berserakan.
Debu memenuhi udara.
Bu Ratna berdiri di tengah puing-puing mengenakan kacamata hitam besar, seolah sedang mengawasi pembangunan vila mewah.
Begitu melihat Kirana, ia tersenyum puas.
“Kamu lihat? Ini baru namanya anak berbakti. Kalau menunggu persetujuan orang pelit, mungkin sampai saya mati dapur ini tidak akan berubah.”
Aditya tertawa kecil.
Kirana tidak membalas.
Ia perlahan melepaskan genggaman tangan suaminya.
Lalu bertanya,
“Sebelum kalian menghabiskan lebih dari tiga ratus juta dan menghancurkan seluruh area ini, ada yang sempat memeriksa siapa pemilik sah rumah ini?”
Senyum Bu Ratna langsung menghilang.
“Apa maksudmu?”
Sebelum Kirana menjawab, terdengar suara berat dari pintu depan.
“Saya pemilik sah rumah ini.”
Semua orang menoleh.
Baskoro berjalan masuk bersama Pak Hendra dan seorang petugas pengadilan yang membawa kamera.
Wajah Aditya langsung pucat.
Bu Ratna bahkan mundur selangkah.
“Baskoro?”
Om Baskoro tidak menjawab sapaan itu.
Ia berjalan ke area dapur dan memandang kerusakan di sekelilingnya.
Pak Hendra membuka map.
“Ibu Ratna, berdasarkan akta jual beli sembilan bulan lalu, kepemilikan rumah ini sudah berpindah secara sah kepada Bapak Baskoro melalui perusahaan pengelola asetnya.”
Bu Ratna mulai panik.
“Tapi saya punya hak tinggal seumur hidup!”
“Benar.”
Pak Hendra mengangguk.
“Namun hak tinggal bukan hak untuk merusak atau mengubah struktur bangunan.”
Ia mengeluarkan salinan kontrak.
“Pasal tujuh. Setiap perubahan struktural wajib mendapat persetujuan tertulis pemilik. Pembongkaran dinding utama merupakan pelanggaran material.”
Aditya menoleh tajam kepada ibunya.
“Ibu bilang rumah ini masih milik Ibu.”
Bu Ratna langsung membalas,
“Secara moral memang rumah Ibu!”
“Secara moral tidak sama dengan secara hukum,” kata Pak Hendra tenang.
Kontraktor yang sejak tadi berdiri di pojok mulai terlihat gelisah.
“Pak, kami tidak tahu soal kepemilikan ini. Kami mendapat persetujuan dari Ibu Ratna dan Pak Aditya.”
Petugas pengadilan mulai memotret kerusakan.
Setiap retakan.
Setiap kabel.
Setiap bagian lantai yang dibongkar.
Aditya mendekati Kirana.
“Kamu sudah tahu?”
Kirana menatapnya.
“Tiga minggu.”
Wajah Aditya berubah merah.
“Tiga minggu? Kamu tahu selama ini dan kamu diam saja?”
“Ya.”
“Kamu sengaja membiarkan uang kita habis?”
Kirana tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Uang kita?”
Aditya terdiam.
“Kamu menandatangani kontrak tanpa bicara denganku. Kamu mengambil uang tanpa izinku. Bahkan dana darurat empat puluh lima juta kamu ambil diam-diam.”
Aditya membeku.
“Dari mana kamu tahu?”
“Karena aku masih bisa membaca rekeningku sendiri.”
Bu Ratna mendekat.
“Kirana, jangan mempermalukan suamimu di depan orang.”
Untuk pertama kalinya Kirana menatap ibu mertuanya tanpa sedikit pun rasa takut.
“Bu, selama sepuluh tahun saya diam supaya keluarga ini tetap tenang. Tapi rupanya setiap kali saya diam, Ibu menganggap saya lemah.”
Bu Ratna hendak menjawab, tetapi Om Baskoro memotong.
“Masalah keluarga nanti. Sekarang kita selesaikan masalah rumah.”
Ia menyerahkan dokumen kepada Pak Hendra.
“Saya meminta bangunan dikembalikan ke kondisi sesuai perjanjian.”
Aditya terkejut.
“Artinya?”
“Semua kerusakan harus diperbaiki.”
“Siapa yang membayar?”
Om Baskoro menatapnya.
“Pihak yang melakukan perubahan tanpa izin.”
Wajah Aditya benar-benar kehilangan warna.
Perkiraan awal biaya pemulihan struktur mencapai hampir Rp190 juta.
Belum termasuk kerugian akibat instalasi yang rusak.
Bu Ratna langsung duduk.
“Dari mana kita dapat uang sebanyak itu?”
Aditya menoleh kepada Kirana.
Tatapan yang sangat dikenalnya.
Tatapan yang selama bertahun-tahun selalu muncul ketika masalah keluarga Aditya membutuhkan penyelamat.
“Kirana…”
“Jangan.”
Hanya satu kata.
Aditya terdiam.
Malam itu mereka pulang tanpa berbicara.
Begitu masuk apartemen, Aditya melempar kunci mobil ke meja.
“Kamu puas sekarang?”
Kirana meletakkan tasnya.
“Tidak.”
“Kamu mempermalukan Ibu.”
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Justru itu! Kamu tahu semuanya tapi membiarkan ini terjadi.”
Kirana menatap suaminya.
“Aku sudah mengatakan tidak sejak awal.”
Aditya kehilangan kata-kata.
“Aku istrimu, Dit. Bukan petugas yang bertugas menyelamatkanmu setiap kali kamu mengabaikan pendapatku.”
Aditya menunduk.
Untuk sesaat, Kirana melihat laki-laki yang dulu dinikahinya.
Namun kemudian ponsel Aditya berbunyi.
Nama Bu Ratna muncul.
Aditya langsung mengangkatnya.
“Iya, Bu?”
Kirana tersenyum pahit.
Bahkan setelah semuanya terjadi, prioritas itu tidak berubah.
Malam itu Kirana masuk kamar dan mengeluarkan sebuah amplop dari laci.
Aditya melihatnya.
“Apa itu?”
Kirana menyerahkannya.
Dokumen permohonan pemisahan harta yang telah ia konsultasikan dengan pengacara dua minggu sebelumnya.
Aditya menatapnya tak percaya.
“Kamu mau cerai karena dapur?”
Kirana menggeleng.
“Bukan karena dapur.”
Ia duduk di tepi tempat tidur.
“Karena sepuluh tahun aku selalu berada di urutan kedua dalam pernikahanku sendiri.”
Aditya tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, masalah menjadi semakin rumit.
Kontraktor menuntut pembayaran sisa proyek.
Om Baskoro menuntut pemulihan bangunan.
Aditya terpaksa menjual mobilnya.
Bu Ratna, yang selama ini selalu mengaku tidak memiliki uang, tiba-tiba menawarkan membayar sebagian biaya.
Dari rekening pribadinya.
Rp300 juta.
Aditya terpaku ketika melihat bukti transfer.
“Ibu punya uang sebanyak ini?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Aditya kemudian menemukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Saat menjual rumah sembilan bulan sebelumnya, Bu Ratna menerima hampir Rp11 miliar.
Sebagian besar uang itu disimpan dalam deposito dan investasi atas namanya sendiri.
Ia sama sekali tidak membutuhkan Rp280 juta dari Aditya.
Ia hanya ingin anaknya yang membayar.
“Kenapa, Bu?”
Suara Aditya bergetar.
“Kenapa Ibu membiarkan aku mengambil tabungan pernikahanku kalau Ibu punya miliaran?”
Bu Ratna terdiam cukup lama.
Kemudian menjawab,
“Karena Ibu ingin tahu kamu masih memilih Ibu atau istrimu.”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diri Aditya.
Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa selama bertahun-tahun dirinya bukan hanya anak berbakti.
Ia telah menjadi alat dalam persaingan yang bahkan tidak pernah Kirana ikuti.
Dua minggu kemudian, Aditya datang menemui Kirana di sebuah kedai kopi dekat rumah sakit.
Ia terlihat jauh lebih kurus.
“Aku sudah mengembalikan sebagian uangmu.”
Kirana membuka aplikasi bank.
Rp160 juta masuk.
“Aku jual mobil dan beberapa investasi.”
Kirana mengangguk.
“Terima kasih.”
“Aku juga akan mengembalikan sisanya.”
Mereka terdiam.
“Aku bicara dengan Ibu,” kata Aditya.
Kirana tidak bertanya apa hasilnya.
“Aku pindahkan Ibu sementara ke apartemen sewaan sampai rumah selesai diperbaiki. Tapi setelah itu, aku tidak akan lagi membiarkan Ibu ikut campur dalam keuanganku.”
Kirana tersenyum tipis.
“Bagus.”
Aditya menatapnya penuh harap.
“Berarti masih ada kesempatan buat kita?”
Kirana memandang laki-laki yang telah menemaninya sepuluh tahun.
Anehnya, ia tidak lagi marah.
Yang tersisa hanya kelelahan dan kejelasan.
“Perubahanmu bagus, Dit. Tapi jangan berubah supaya aku kembali.”
Aditya menelan ludah.
“Berubahlah karena kamu akhirnya mengerti bahwa mencintai orang tua tidak berarti menyerahkan seluruh hidupmu kepada mereka.”
Mata Aditya memerah.
“Kirana…”
“Aku sudah terlalu lama menunggu kamu memilih pernikahan kita tanpa harus membenci ibumu.”
Kirana berdiri.
Sebelum pergi, ia meletakkan sesuatu di meja.
Brosur Labuan Bajo yang dulu tergeletak di meja makan mereka.
Aditya menatapnya.
Tiga bulan kemudian, Kirana akhirnya berdiri di sebuah dermaga di Labuan Bajo.
Sendirian.
Angin laut menerpa rambutnya sementara matahari perlahan turun di balik perbukitan.
Perjalanan itu tidak seperti yang pernah ia bayangkan.
Tidak ada Aditya.
Tidak ada makan malam perayaan sepuluh tahun pernikahan.
Tidak ada foto pasangan di depan laut.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kirana tidak merasa sedang kehilangan sesuatu.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari Pak Hendra.
Renovasi pemulihan rumah Menteng sudah selesai.
Seluruh biaya telah dibayar Bu Ratna.
Di bawah pesan itu ada satu kalimat tambahan.
Om Baskoro memutuskan menjual rumah tersebut setelah hak tinggal Bu Ratna berakhir kelak, dan sebagian hasilnya akan dimasukkan ke yayasan perlindungan perempuan yang sedang ia dirikan.
Kirana tersenyum.
Ia mematikan layar ponselnya.
Di kejauhan, laut memantulkan warna keemasan.
Empat tahun ia menabung untuk perjalanan impian bersama suaminya.
Sepuluh tahun ia berusaha mempertahankan sebuah pernikahan.
Tetapi baru setelah kehilangan keduanya, Kirana memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.
Kadang-kadang, kehancuran bukanlah akhir dari sebuah rumah.
Kadang-kadang, seperti dapur Bu Ratna yang dibongkar sampai ke dinding dan lantainya, sesuatu memang harus dihancurkan terlebih dahulu agar semua orang akhirnya bisa melihat fondasi sebenarnya.
Dan fondasi pernikahan Kirana ternyata tidak runtuh pada hari dinding dapur itu dijebol.
Fondasi itu sudah retak bertahun-tahun sebelumnya.
Hari itu hanya menjadi saat ketika Kirana akhirnya berhenti menutupinya.
